
Reiz menghempaskan tubuhnya di sofa, hari ini sangat melelahkan bagi dirinya. Pekerjaaan yang menumpuk, belum lagi masalah Rinata dan juga sekarang di tambah dengan Gwen.
Reiz mengadahkan kepalanya ke atas, sambil memejamkan mata,
"Rinata...." Lirihnya.
Sudah dua minggu ia tak melihat istrinya. Wanita yang selama ini tak di pedulikannya, malah jadi wanita yang sangat di rindukannya. Mencoba menyangkal perasaannya sendiri, malah membuat dirinya tersiksa.
Ternyata benar, kita baru akan menyadari betapa pentingnya kehadiran seseorang saat kita kehilangannya.
Ingin sekali ia pergi menemui Rin, melihat bagaimana keadaan istrinya itu, tapi perkataan Tomi seakan menahannya. Bagaimana kalau Rin tak ingin lagi bertemu dengannya? Bagaimana kalau Rin ternyata malah membencinya?
"Bodoh kau Reiz." Makinya pada diri sendiri. Reiz mengusap wajahnya kasar, ia bangkit dari duduknya, mungkin mandi bisa mendinginkan pikirannya.
* * *
Pagi harinya
Suara dering ponsel terdengar begitu mengganggu. Dengan malas Reiz meraih ponselnya.
"Adikku sayang, kau dimana?" Tanya Tomi begitu panggilannya terhubung.
"Tentu saja di apartemen. Ada apa Tuan meneleponku sepagi ini?" Jawab Reiz datar.
"Apa tidak boleh seorang kakak menelepon adiknya sendiri?" Tanya Tomi dengan nada suara yang sangat menyebalkan bagi Reiz.
"Kalau tidak ada yang penting, aku matikan."
"Reiz, kau ini kenapa masih saja kaku begitu?"
"Aku masih mengantuk, Tuan."
"Aku sudah menemukan Gwen."
"Gwen sudah ketemu? Dimana dia sekarang?" Tanya Reiz cepat, rasa kantuknya hilang begitu saja.
"Aku akan kirimkan alamatnya. Kita bertemu disana."
"Okay."
__ADS_1
Mereka berdua memutuskan panggilannya.
Setelah tiga hari mencari, akhirnya anak buah Tomi berhasil menemukan keberadaan Gwen.
* * * * *
Seorang wanita berambut blonde nampak tertidur di atas lantai sebuah ruangan kosong. Perlahan mata wanita itu terbuka, ia terkejut.
"Dimana ini?" Gumamnya saat menyadari dirinya berada di tempat yang asing. Wanita itu bangkit dari tidurnya, posisinya masih terduduk di atas lantai. Memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
Mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya, seingatnya tadi ia sedang tidur di kamarnya. Tapi kenapa tiba-tiba ia jadi berada di tempat asing seperti ini?
"Gwen Caroline, bagaimana? Apa tidurmu nyenyak?"
Gwen menoleh mendengar suara yang tak asing baginya.
"Tomi? Reiz?" Ia nampak terkejut melihat dua pria itu berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Wah Gwen, ternyata kau masih mengingatku? Ku kira dalam pikiranmu hanya ada Reiz saja." Tanya Tomi dengan senyum mengembang, sementara Reiz malah menatapnya dengan tajam.
"Ada apa ini? Kenapa kalian membawaku kesini?" Gwen bangun dari duduknya, berdiri di hadapan kedua lelaki itu.
"Rinata? Apa maksudmu Reiz?" Gwen terlihat bingung.
"Tidak perlu berpura-pura Gwen, kami tahu apa yang sudah kau lakukan pada Rinata." Ucap Tomi santai.
"Apa sebenarnya maksud kalian? Rinata? Siapa Rinata?" Tanya Gwen lagi.
"Gwen Caroline!" Bentak Reiz membuat Gwen terjingkat kaget.
"Reiz, kau membentakku?" Mata Gwen nampak berkaca-kaca, ia memegang kedua lengan Reiz.
"Lepaskan! Jangan pernah berani menyentuhku!" Reiz menyentak kasar tangan Gwen, hingga wanita mundur beberapa langkah. Sementara Tomi hanya berdiri saja sebagai penonton.
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh menyentuhmu?! Sementara Rinata bisa dengan bebas menyentuhmu, bahkan ia hamil anakmu!!" Teriak Gwen. Secara tak sadar ia mengakui perbuatannya sendiri. Sementara Reiz hanya menatapnya dengan tajam.
"Karena Rinata istriku." Jawab Reiz dengan penuh penekanan.
"Aku yang selama ini mencintaimu, tapi kau tak pernah mau melihatku sama sekali! Sedangkan Rinata, dengan mudahnya dia bisa menikah denganmu dan hamil anakmu!" Seru Gwen.
__ADS_1
"Dan kau pikir aku akan diam saja melihat itu semua?" Gwen tersenyum sinis. Reiz menatapnya dengan tatapan membunuh, tapi pria itu mencoba menekan amarahnya.
"Kau tahu? Rinata adalah adik tiriku, dia sudah merebut kasih sayang ayahku, tapi aku mencoba untuk tidak mempedulikannya. Dan sekarang ia malah merebut pria yang sudah lama aku cintai, dan kali ini aku tidak akan tinggal diam!" Gwen membalas tatapan Reiz, ada perasaan terluka dan juga kecewa di sana.
"Ayahku menikah dengan ibunya enam tahun yang lalu, dan sejak itu ayahku tak pernah lagi peduli terhadapku. Ia lebih menyayangi Rinata di banding aku, anak kandungnya sendiri." Lirih Gwen sambil menunjuk dirinya sendiri. Tatapannya masih tak beralih dari Reiz. Kedua pria itu masih diam, mereka menjadi pendengar yang baik untuk Gwen.
"Dan kau, begitu mudahnya menerima Rinata. Tapi tidak denganku?!" Sambungnya dengan air matanya yang sudah mengalir.
"Apa kau tahu, kalau ayahmu sudah menjual Rinata hanya demi melunasi hutangnya?" Tanya Reiz datar.
"A... Apa?" Tanya Gwen seakan tak percaya.
"Ya, Albert Rivers menjual Rinata hanya demi melunasi hutangnya. Dan selama ini ayahmu hanya berpura-pura baik saja di depan Rinata. Asal kau tahu itu Gwen." Jelas Reiz, wanita itu nampak mematung mendengarnya.
"Itu tidak mungkin, aku tahu betul bagaimana ayahku menyayanginya. Bahkan aku sampai tak di pedulikannya lagi." Sangkal Gwen.
"Terserah padamu mau percaya atau tidak. Tapi itulah kenyataannya." Ucap Reiz dengan tatapan yang masih saja datar.
"Gwen Caroline, bagaimanapun kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Tomi membuka suara, membuat Gwen mengalihkan pandangannya.
"Kami sudah punya bukti tentang kecelakaan itu." Lanjut Tomi.
"Bukti? Bukti apa?" Tanya Gwen.
"Rekaman cctv di tempat kejadian. Dan juga keterangan beberapa orang saksi yang melihat kau memang sengaja menabrak Rinata Andara." Jelas Tomi panjang kali lebar.
Gwen membeku, ia tak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Yang ada di pikirannya kala itu hanya ingin membuat Rin merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan orang yang ia sayangi.
Sebenarnya hubungan Gwen dan Rin baik-baik saja, walaupun mereka tak begitu dekat. Gwen pun tak peduli saat ayahnya tak lagi mempedulikannya karena lebih menyayangi Rin. Ia pun sudah memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal sendiri. Tapi pada saat Gwen mengetahui kalau Rin ternyata sudah menikah Reiz, dirinya tak bisa menerima itu.
Gwen sudah lama mencintai Reiz, bahkan rela melakukan apa saja demi bisa dekat dengan Reiz. Tapi lelaki itu bahkan tak pernah melihatnya sama sekali.
Sedangkan Rin dengan mudahnya gadis itu masuk kedalam kehidupan Reiz, dan menikah dengan lelaki itu. Tanpa ia tahu apa yang sudah di alami Rin sebelumnya.
Gwen yang waktu itu tak sengaja mendengar perdebatan antara Edra dan Reiz di rumah sakit, seketika langsung mencari tahu tentang wanita yang sudah 'merebut' Reiz darinya.
Gwen yang sudah menduga kalau Rinata adik tirinya yang sudah menikah dengan Reiz, langsung gelap mata. Dan nekat mencelakainya begitu ada kesempatan saat melihat Rinata menyebrang jalan seorang diri.
**********
__ADS_1