
Hati Gwen terasa sakit melihatnya, ia sudah tidak mungkin lagi bisa meraih pria yang sudah lama dicintainya itu.
Dan Edra, pria itu sempat terkejut saat Reiz menyebutnya 'Kakak'.
"Kami permisi." Reiz menarik tangan Rin sebelum wanita itu sempat mengucapkan apapun.
"Reiz..." Gwen menatap nanar punggung lelaki itu sebelum hilang dari pandangannya.
* * * * *
"Reiz, kau tak pergi ke kantor?" Tanya Rin. Reiz hanya menggeleng, ia menatap keluar jendela kamarnya.Tadi setelah dari kantor polisi mereka berdua kembali ke mansion Anderson.
"Kau masih marah padaku?" Tanya Rin lagi.
"Untuk apa aku marah padamu?" Reiz balik bertanya.
"Kau benar, kau pasti menyesal menikah dengan laki-laki sepertiku." Sambungnya.
"Reiz bukan itu maksudku, aku..." Rin mencoba menjelaskan, tapi belum sempat ia bicara Reiz sudah lebih dulu memeluknya.
"Maaf..." Lirih Reiz.
"Maaf untuk apa?" Tanya Rin masih dalam pelukan Reiz.
"Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu." Reiz mengeratkan pelukannya.
"Reiz?" Rin menatap Reiz penuh tanya setelah pelukan keduanya terlepas.
"Kau tau, aku begitu iri dengan Tomi dan Kak Edra." Reiz menjeda ucapannya sementara Rin masih menatapnya penuh tanya.
"Mereka berdua memperlakukan wanita yang mereka cintai dengan begitu baik, bahkan Kak Edra rela berlutut dan memohon demi Gwen. Sementara aku, aku hanya bisa menyakitimu di awal pernikahan kita..."
"Reiz..." Rin menggenggam erat tangan Reiz sambil menggeleng pelan, matanya nampak berkaca-kaca.
"Kenapa aku malah menyakitimu hanya karena masa laluku?"
"Reiz, semuanya sudah berlalu. Bukankah kita akan memulai semuanya dari awal lagi?"
"Kau adalah suami terbaik untukku, aku mencintaimu. Dan maaf untuk perkataanku semalam..." Jemari Rin mengusap pelan rahang pria itu, sampai akhirnya keduanya larut dalam ciuman yang dalam, sedalam cinta mereka berdua.
**********
"Edra bisa kau jelaskan padaku, kenapa kau meminta Reiz untuk membebaskanku?" Tanya Gwen. Mereka berdua sedang duduk di sebuah rumah makan.
__ADS_1
"Karena aku tak bisa melihat kau berada di dalam penjara." Jawab Edra menatap intens pada Gwen.
"Maksudmu?" Gwen tak mengerti.
"Kau tahu, sudah lama aku mencari dirimu. Aku bahkan melibatkan ayahmu, tapi tetap saja aku tak berhasil menemukanmu." Ujar Edra.
"Untuk apa kau mencari diriku?" Tanya Gwen lagi.
"Karena kau adalah wanita yang ku cintai." Jawab Edra membuat gadis itu tersentak.
"Aku mencintaimu Gwen." Ucapnya menatap dalam Gwen.
"Kau adalah wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Tapi aku tak pernah berani untuk mengatakan perasaanku padamu. Apalagi saat tahu kalau kau ternyata mencintai Reiz, adikku."
"Reiz adikmu?" Tanya Gwen setelah beberapa saat terdiam.
"Ya, Reiz adalah adik tiriku."
"Tadinya aku sempat berfikir untuk melepasmu, tapi ternyata Reiz tak mencintaimu."
Raut wajah Gwen terlihat sedih mendengar ucapan Edra.
"Jadi aku putuskan untuk kembali mengejarmu. Tapi tiba-tiba saja kau menghilang, aku hampir saja putus asa untuk mencari keberadaanmu. Akhirnya aku melibatkan ayahmu, Albert Rivers. Aku membuatnya sengaja terlibat hutang denganku. Dan berharap kalau Albert akan menyerahkanmu padaku sebagai penebus hutangnya. Tapi nyatanya aku salah, ia malah menyerahkan Rinata padaku." Cerita Edra.
"Jadi benar, ayahku telah menjual Rinata padamu?" Tanya Gwen.
"Ya, bisa di katakan seperti itu." Gwen terdiam, ia teringat ucap Reiz beberapa waktu lalu.
"Tapi percayalah, aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu. Aku ingin memilikimu..." Edra menggenggam tangan Gwen, tak ada penolakan dari gadis itu.
"Kenapa kau mencintaiku?" Tanya Gwen pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Entahlah, aku hanya tahu kalau aku mencintaimu..." Edra mengeratkan genggamannya.
"Aku tak pantas untukmu. Aku wanita jahat, aku sudah membunuh calon anak dari adikku. Dan aku juga hampir membunuh adikku sendiri..." Lirih Gwen.
"Gwen, kau melakukan semua itu karena cemburu bukan? Tapi sekarang kau tahu kalau Reiz dan Rinata saling mencintai, apa kau akan tetap mengejar Reiz?"
Gwen menggeleng, ia sudah tidak ada harapan. Mana mungkin ia mengejar Reiz lagi.
"Lalu apa salahnya kau memulai hidup baru, bersamaku?" Tanya Edra penuh harap.
"Gwen, beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku padamu. Kau tak perlu membalas cintaku, kau hanya cukup berada di sampingku dan menerima semua cintaku untukmu..." Ucap Edra dengan tulus.
__ADS_1
Gwen terdiam, nafasnya tercekat. Tak pernah ia tahu kalau ada seseorang yang mencintainya begitu besar.
"Aku tak pantas untukmu, kau terlalu baik untukku..." Gwen mencoba melepas genggaman tangan Edra, tapi Edra tak membiarkannya.
"Sudah lama aku mencarimu untuk mengatakan semua ini. Dan kau sekarang sudah di hadapanku, jadi jangan pernah berfikir kalau aku akan melepaskanmu." Ucap Edra penuh penekanan. Terlihat kebingungan di mata Gwen.
"Bagaimana dengan keluargamu? Mereka pasti akan malu jika kau memilih wanita mantan narapidana sepertiku..." Tanya Gwen kemudian.
"Aku sudah mengatakan semua tentangmu pada keluargaku." Jawab Edra dengan santai nya.
Gwen kembali tersentak.
"Kau..." Gadis itu tak bisa berkata-kata.
"Sebelum aku menemui Reiz untuk memintanya untuk mencabut laporannya, aku lebih dulu bicara pada keluargaku. Dan kedua orang tuaku tak masalah dengan stastusmu, asalkan kau mau minta maaf pada Rinata dan Reiz juga pada keluarga Anderson." Jelas Edra.
"Apa mereka bisa memaafkanku? Aku terlalu jahat..." Tatapan Gwen terlihat putus asa.
"Aku yakin mereka akan memaafkanmu, mereka semua orang baik." Edra menjeda ucapannya.
"Aku akan menemanimu..." Sambungnya. Gwen hanya tersenyum kecil mendengarnya.
"Jadi bagaimana? Apa kau mau menerima cintaku?" Tanya Edra, pandangannya tak lepas dari wanita yang duduk di hadapannya itu.
Gwen terdiam sejenak, sampai akhirnya ia mengangguk pelan. Belum pernah ia merasakan di cintai sebelumnya. Selama ini ia hanya sibuk mengejar cinta Reiz, tanpa tahu ada seseorang yang benar-benar tulus mencintainya tanpa memandang siapa dirinya.
Senyum Edra terbit, menatap Gwen penuh cinta. Penantiannya selama ini tak sia-sia. Wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya bahkan saat pertama kali melihatnya kini akan menjadi miliknya.
************
Gwen terlihat gugup begitu melangkah memasuki mansion William.
"Tenanglah Gwen." Bisik Edra, ia menggenggam erat tangan Gwen yang terasa begitu dingin.
"Aku takut..."
"Orang tuaku tak akan memakanmu." Edra tersenyum tipis.
"Mom, Dad..." Sapa Edra, Tuan Drake dan istrinya sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.
"Jadi ini calon menantu Mommy?" Tanya Nyonya Eliza begitu Edra dan Gwen sampai di hadapannya.
"Perkenalkan Nyonya, nama saya Gwen Caroline." Ucap Gwen dengan sopan.
__ADS_1
"Jangan panggil Nyonya sayang, panggil Mommy. Bukankah sebentar lagi kalian akan menikah?" Tanya Eliza membuat kedua pipi Gwen merona, tanpa segan Nyonya Eliza menarik Gwen ke dalam pelukannya. Gwen begitu meresapi pelukan hangat itu, sudah lama ia tak merasakan pelukan seorang ibu.