Reiz And Rin

Reiz And Rin
Suamiku baik-baik saja kan?


__ADS_3

Panggilan itu terputus. Kata terakhir yang Reiz ucapkan, entah mengapa Rin malah sedih mendengarnya.


"Rin, kau kenapa?" Tanya Tania yang melihat mata Rin nampak berkaca-kaca.


"Aku tidak apa-apa." Rin menepiskan senyumnya. Namun hatinya tak dapat berbohong, ia takut terjadi sesuatu terhadap Reiz.


* * * * *


Reiz mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sudah setengah perjalanan sekarang. Jalanan nampak sepi, padahal ini belum tengah malam.


Pikiran Reiz seakan terpecah. Beberapa jam yang lalu Albert meneleponnya, dan mengatakan bahwa ia akan membunuh Rin. Reiz sangat murka saat mendengarnya. Namun belum sempat Reiz membalas ucapannya, Albert sudah lebih dulu mengakhiri panggilannya.


Walaupun Reiz yakin Rin akan baik-baik saja. Tapi tetap saja ia merasa tak tenang sebelum bertemu dengan istrinya. Maka dari itu Reiz memutuskan untuk pulang hari ini juga. Namun ia tak mengatakan hal ini pada Rin, karena tak ingin membuat istrinya bertambah khawatir.


Tiba di salah satu tikungan ada sebuah mobil yang mengikutinya.


Reiz melirik kaca spionnya, ia sudah menyadari kalau mobil yang berada di belakang tengah mengikutinya. Reiz meraih ponselnya, menghubungi seseorang.


Suara dering ponsel mengalihkan pandangan Tomi yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Reiz?" Gumam Tomi saat melihat nama Reiz di layar ponselnya. Tomi segera mengangkat panggilan itu.


"Halo Tuan Tomi."


"Reiz, ada apa kau meneleponku?" Tanya Tomi.


"Beberapa jam yang lalu Albert meneleponku." Ucap Reiz membuat Tomi terkejut.


"Albert meneleponmu? Mau apa dia?" Tanya Tomi cepat.


"Dia mengatakan padaku, kalau ia akan membunuh Rinata." Jawab Reiz.


"Apa?!" Tomi tersentak.


"Sekarang aku dalam perjalanan pulang. Tolong jaga Rinata. Pastikan Albert tak menelepon dan mengganggunya lagi."


"Baiklah. Tunggu, kau sudah dalam perjalanan pulang? Kau di mana sekarang?" Tanya Tomi lagi.


"Mungkin sekitar satu jam lagi aku sampai."


"Reiz, kau berhati-hati lah di jalan."


"Kau tahu, sepertinya ada mobil yang mengikutiku." Ucap Reiz dengan datarnya. Tomi melebarkan matanya,


"Kau di mana sekarang?" Tanya Tomi khawatir.


"Aku..."


DORR. DORR


Terdengar dua kali suara tembakan dan di akhir suara dentuman yang sangat keras.


"Reiz? Reiz? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"


"Reiz?!" Wajah Tomi memucat saat Reiz tak lagi menjawab panggilannya. Sesuatu pasti sudah terjadi pada adiknya itu.


"Tomi, ada apa?" Tanya Tania yang baru saja masuk kamar.


"Baby, sepertinya terjadi sesuatu pada Reiz." Ucap Tomi.


"Maksudmu?"


"Aku akan menemui Daddy dan Mommy dulu. Kau tunggulah di sini."


*


Tok.Tok.Tok


"Mom, Dad." Panggil Tomi dari balik pintu kamar orang tuanya.

__ADS_1


"Tomi ada apa?" Tanya Ny. Tyas yang membuka pintu.


"Reiz..." Ucap Tomi, wajahnya terlihat panik.


"Reiz kenapa, Tom?" Tanya Tuan Mark.


"Sepertinya terjadi sesuatu pada Reiz. Tadi dia meneleponku, dia bilang sudah dalam perjalan pulang. Namun tiba-tiba ada suara tembakan dan dentuman yang sangat keras." Tomi menjelaskan.


"Apa?!"


*


Rinata memutar-mutar ponselnya, sedari tadi pikirannya tak dapat tenang memikirkan suaminya.


"Daddy, pasti baik-baik saja kan sayang?" Rin mengusap perut buncitnya, seolah mengajak anaknya bicara.


"Ya, Daddy akan baik-baik saja." Rin mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tiba-tiba ponselnya berdering, nomor asing tertera di sana. Jantung Rin berdetak kencang, pasti Albert yang menghubunginya. Walaupun begitu, Rin tetap mengangkat panggilan itu.


"Halo Rinata." Sapa Albert begitu panggilannya terhubung.


"Ada apa kau menelepon ku lagi?" Tanya Rin yang terdengar datar.


"Apa tidak boleh seorang ayah menelepon anaknya sendiri?"


"Katakan apa maumu?!" Seru Rin.


"Aku hanya ingin memberi tahumu sesuatu." Albert menjeda ucapannya sejenak. Sementara Rin diam saja.


"Kau masih ingat kecelakaan beberapa waktu lalu yang menewaskan ibumu? Dan sebentar lagi suamimu juga akan mengalami hal yang sama." Ucap Albert dengan seringainya.


"Apa maksudmu?!" Seru Rin lagi.


"Kau tahu, aku yang sudah merencanakan kecelakaan yang menewaskan ibumu."


DEG


Rin mematung, ucapan Albert bagai petir di siang bolong. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana kecelakaan yang menewaskan ibunya itu.


"Ya, aku adalah pembunuh ibumu. Dan sekarang, aku juga sudah merencanakan kecelakaan yang akan terjadi pada suamimu. Mungkin sebentar lagi kau akan menerima kabar buruk itu." Albert mengakhiri panggilannya.


"Halo? Halo?!" Rin menatap layar ponsel yang sudah mati itu. Jadi ternyata Albert adalah dalang di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya?


Rin menggeleng pelan, dengan cepat ia menghubungi Reiz. Namun sayang panggilan itu tak kunjung terhubung.


"Reiz..." Pikiran buruk seketika terlintas di fikirannya.


Rin berlari keluar kamar sambil berteriak.


"Mommy..." Di lihatnya kedua mertuanya dan juga Tomi sedang berdiri dengan wajah yang panik.


"Mommy..." Panggil Rin.


"Rin..." Ny. Tyas dan yang lainnya terkejut Rin sudah ada di belakang mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Rin.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Tomi.


"Jangan bohong padaku, baru saja Albert menelepon ku dan mengatakan..." Ucap Rin terputus.


"Apa yang Albert katakan?" Tanya Tuan Mark.


"Dia..." Ucapan Rin kembali terputus, ia kembali ingat pada Reiz.


"Reiz, Reiz baik-baik saja kan?" Tanya Rin kemudian. Tapi semuanya terdiam.


"Mommy kenapa diam? Suamiku baik-baik saja kan?" Tanya Rin, suaranya sudah bergetar menahan tangis.


"Rinata, sepertinya terjadi sesuatu pada Reiz." Jawab Tomi.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Reiz?" Air mata Rin sudah tidak bisa di tahan lagi, mengalir begitu saja di pipinya.


"Rin, Reiz baru saja menelepon ku, tapi tiba-tiba saja ada suara tembakan. Dan setelah itu teleponnya terputus." Tomi mencoba menjelaskan.


"Apa?!" Wajah Rin memucat, kakinya seketika terasa lemas.


"Rinata, tenanglah...." Ny. Tyas merangkulnya, dan mendudukkan menantunya di sofa.


"Mom, Reiz tidak apa-apa kan? Suamiku baik-baik saja kan?"


"Tenang sayang, kami sedang mencari keberadaan Reiz." Ny. Tyas mencoba menenangkannya, walau dirinya sendiri juga mencemaskan keadaan Reiz.


"Bagaimana aku bisa tenang, Mom? Aku tidak tahu bagaimana keadaan suamiku." Lirih Rin.


"Reiz pasti baik-baik saja."


"Aku sedang melacak keberadaan mobil Reiz. Tunggulah sebentar."


Beberapa menit kemudian...


"Aku sudah menemukan posisi terakhir mobil Reiz."


"Di mana?" Tanya Rin dengan cepat.


"Jaraknya lumayan jauh. Aku, aku akan mencoba menelepon rumah sakit di sekitar sana." Jawab Tomi.


"Rumah sakit?" Rin menggeleng pelan.


"Rinata tenanglah." Sedari tadi Ny. Tyas tak henti-hentinya berusaha menenangkan menantunya yang terus menangis.


"Bagaimana, Tom?" Tanya Rin lagi.


"Reiz ada di salah satu rumah sakit. Aku sudah dapat alamatnya." Jawab Tomi.


"Ayo kita ke sana." Rin hendak bangun dari duduknya tapi Tomi mencegahnya.


"Rinata, sebaiknya kau di sini saja. Jarak rumah sakitnya lumayan jauh."


"Tidak, aku mau. Aku ingin melihat keadaan suamiku." Rin bersikeras.


"Rinata, sebaiknya kau istirahat saja. Ini sudah malam. Besok baru kau temui Reiz. Pikirkan kandunganmu." Ucap Tomi lagi.


"Aku tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan suamiku!" Seru Rin.


Tuan Mark dan Ny. Tyas menatap Tomi dan Rin bergantian.


"Sudah Tom, biarkan Rinata ikut." Tuan Mark membuka suara.


* * * * *


Doa-doa sedari tadi tak henti-hentinya di rapalkan Rin selama dalam perjalanan.


"Ya Tuhan, semoga suamiku baik-baik saja. Semoga suamiku baik-baik saja..." Ucap Rin yang terus berulang.


Satu jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah sakit. Setelah bertanya kepada petugas, akhirnya mereka sampai di depan ruangan tempat Reiz sedang di tangani.


Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, nampak seorang dokter pria paruh baya di sana.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Rin cepat. Dokter itu menggeleng pelan.


"Dokter, suami saya baik-baik saja kan?"


"Pasien mengalami luka-luka yang cukup parah. Benturan keras di kepalanya dan itu menyebabkan trauma otak yang cukup parah. Dan juga kedua kakinya mengalami keretakkan akibat terjepit badan mobil, di tambah dua luka tembak di bahunya yang menyebabkan pasien kehilangan banyak darah."


Rin seketika lemas mendengar penjelasaan dokter.


"Tapi suami saya masih bisa di selamatkan kan, dok?"


"Sebaiknya kita banyak berdoa saja, semoga pasien bisa bertahan. Saya permisi." Dokter itu undur diri.

__ADS_1


"Reiz... Reiz...." Rin merasa sekelilingnya tiba-tiba gelap.


__ADS_2