
Reiz mencoba mengatur nafasnya yang memburu, kenangan pahit itu selalu menghantuinya. Kenangan itu juga yang merubah seorang Rexy William yang manja menjadi Reiz Anderson yang dingin.
Reiz tak ingin jatuh cinta dan membuat wanita jatuh cinta padanya, karena baginya cinta hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan juga orang lain. Tanpa ia sadari justru sikap dinginnya malah lebih menyakiti Rinata, istrinya sendiri.
Tuan Drake bangkit dari duduknya, ia pindah duduk di samping Reiz.
"Rexy... " Tuan Drake merangkul bahu putranya.
"Rexy, Daddy sangat menyayangimu Nak. Maafkan Daddy yang malah memberi luka terdalam untuk mu."
Mereka berdua terdiam beberapa saat, Tuan Drake tahu, saat ini yang di butuhkan Reiz adalah tempat bersandar. Tak bisa di pungkiri Reiz juga merasa nyaman dalam rangkulan ayahnya.
Reiz mengusap pelan wajahnya, ia sudah lebih tenang sekarang.
"Pergilah Tuan..." Lirih Reiz. Tuan Drake melepas rangkulannya.
"Rexy, Daddy akan selalu ada untukmu... Kau jangan pernah merasa sendiri." Ucapnya seraya menepuk bahu Reiz memberi putranya itu semangat.
Tuan Drake bangkit duduknya dalam hati ia tersenyum, setidaknya Reiz sudah bisa menerima dirinya walaupun hanya sebentar. Selama ini ia hanya bisa melihat Reiz dari kejauhan, karena Reiz selalu menolak keberadaannya.
**********
Perusahaan Anderson Grup
"Selamat pagi, adikku tersayang." Sapa Tomi begitu Reiz memasuki ruangannya.
"Tuan sudah datang?" Tanya Reiz heran. Karena selama ini dirinya yang selalu datang lebih dulu di banding Tomi.
"Tentu saja, aku kan Bos yang rajin." Jawab Tomi sombong. Reiz hanya menggeleng.
"Reiz, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Tomi berjalan menuju sofa diikuti Reiz.
"Ada apa? Apa soal rapat kita hari ini?" Reiz mendudukkan tubuhnya di sebrang Tomi.
"Tidak ada rapat hari ini." Tukas Tomi.
Reiz mengerutkan keningnya, bukankah Tomi bilang kemarin ada rapat.
"Tuan berbohong?" Reiz menatap tajam pada Tomi.
"Aku tidak berbohong. Hari ini memang ada rapat, tapi hanya di antara kita berdua saja."
"Maksudnya?" Reiz masih tak mengerti apa yang sebenarnya maksud Tomi.
"Begini Reiz," Raut wajah Tomi berubah serius.
"Beberapa hari yang lalu aku mencoba menyelidiki kecelakaan yang menimpa Rinata. Aku sudah meminta keterangan dari beberapa saksi dan juga mengecek cctv di tempat kejadian. Dan dapat di simpulkan kalau kecelakaan yang di alami Rinata ada unsur kesengajaan." Jelas Tomi.
"Maksud Tuan? Ada seseorang yang mau mencelakai Rinata, begitu?'' Tanya Reiz dengan nada terkejut.
__ADS_1
"Ya, pada awalnya aku juga mengira kalau ini murni kecelakaan tapi setelah di selidiki ternyata memang ada orang yang memang sengaja mau mencelakai Rinata."
Tomi kemudian menyerahkan beberapa lembar foto pada Reiz.
"Dia yang melakukannya. Apa kau ingat siapa dia?" Tanya Tomi menatap Reiz dengan serius.
Reiz mengambil salah satu foto, di pandanginya wanita yang ada di foto itu.
"Sepertinya aku pernah melihatnya."
"Kau tidak ingat siapa dia?" Tanya Tomi, Reiz menggeleng, sepertinya ia lupa siapa perempuan dalam foto itu.
"Dia Gwen." Ucap Tomi. Reiz membulatkan matanya.
"Gwen Caroline?" Tanya Reiz ketika mengingat seseorang dalam foto itu.
"Ya, Gwen Caroline. Wanita yang tergila-gila padamu saat zaman kita kuliah dulu."
"Tapi bukankah Gwen dulu menghilang begitu saja saat semester akhir? Kenapa dia tiba-tiba muncul kembali?"
Seingat Reiz, dulu seorang Gwen Caroline memang sangat tergila-gila padanya. Dulu wanita itu rela melakukan apapun hanya untuk bisa bertemu dan dekat dengannya, tapi Reiz tak pernah mempedulikannya sama sekali. Lalu kemudian Gwen tiba-tiba menghilang begitu saja saat akhir semester.
"Aku juga tak tahu soal itu, apa kau tau siapa nama lengkap Gwen?" Tanya Tomi.
"Gwen Caroline." Jawab Reiz. Tomi mengeleng, membuat Reiz mengerutkan keningnya.
"Gwen Caroline Rivers, putri dari Albert Rivers. Kau tentu tahu bukan siapa Albert Rivers?"
"Albert Rivers? Ayah tiri Rinata?"
"Ya, Albert Rivers ayah tiri dari istrimu."
"Itu artinya Rinata dan Gwen adalah saudara tiri? Tapi kenapa Gwen mau mencelakai Rinata?" Reiz menatap Tomi penuh tanya.
"Kalau itu aku tak tahu, mungkin memang ada masalah keluarga antara mereka berdua.... Atau..." Tomi menggantung ucapannya.
"Atau apa?" Reiz menyipitkan matannya.
"Atau Gwen cemburu pada Rinata, karena tahu Rinata adalah istrimu." Lanjut Tomi.
"Tapi sepertinya tidak banyak orang yang tahu tentang pernikahanku dengan Rinata, lagi pula untuk apa Gwen cemburu pada Rinata?" Tanya Reiz.
"Ya karena Gwen menyukaimu, tapi kau malah menikah dengan Rinata."
"Kau ini memang tidak peka." Sambung Tomi.
"Tapi itu kan sudah lama, Tuan."
"Memangnya kenapa kalau sudah lama? Apa kau pikir perasaan seseorang akan dengan mudah hilang begitu saja?"
__ADS_1
"Entahlah. Aku tak tahu." Reiz mengangkat bahunya.
"Ck, Reiz kau ini memang tidak pernah peka jika bicara soal perasaan."
"Sudahlah kenapa jadi membahas perasaan? Apa Tuan tahu di mana keberadaan Gwen?" Reiz mengalihkan pembicaraan.
"Anak buahku sedang mencari keberadaannya, Gwen menghilang usai kejadian itu." Jawab Tomi.
"Aku akan mencarinya sendiri." Reiz bangkit dari duduknya.
"Hei, kau tak bisa pergi begitu saja." Cegah Tomi.
"Apa kau lupa? Kau sudah bolos dua hari, pekerjaanmu sudah menumpuk." Sambungnya sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja kerja Reiz. Reiz menghembuskan nafasnya kasar.
"Sudahlah Reiz, biarkan anak buahku yang mencarinya."
Reiz kembali ke tempat duduknya.
"Oh iya, apa kau tahu kalau Rinata sudah sadar?"
"Apa? Rinata sudah sadar? Benarkah?" Tanya Reiz dengan binar di matanya.
"Ya, semalam Rinata sudah sadar."
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"
Tomi menggeleng, wajahnya mendadak sedih.
"Rinata mengalami syok saat tahu kandungannya tidak bisa di selamatkan."
Reiz terdiam, matanya terasa memanas.
"Semua salahku." Pria itu mengusap kasar wajahnya.
"Aku ingin bertemu dengannya." Reiz kembali bangkit dari duduknya.
"Kau tak bisa menemuinya." Ucapan Tomi kembali menghentikan langkah Reiz.
"Tapi aku ingin bertemu dengannya!" Seru Reiz.
"Apa kau tidak tahu bagaimana kacaunya perasaanku? Istriku koma, dan aku tak bisa menemaninya sama sekali? Dan sekarang setelah ia sadar aku juga di larang untuk bertemu dengannya?!" Sambungnya dengan emosi yang terlihat jelas.
"Reiz, kami melarangmu karena Rinata tak ingin bertemu siapa pun saat ini. Terutama denganmu! Dia masih trauma. Rinata hanya ingin sendiri." Tomi mencoba menjelaskan walaupun kata-katanya sedikit kejam.
Reiz memejamkan matanya, mencoba meredakan emosinya. Wajar jika Rin trauma dan tak ingin bertemu dengannya, semua yang terjadi karena kesalahannya.
"Tenanglah dulu. Sebaiknya kita fokus dulu dengan Gwen. Setelah masalah Gwen selesai, baru kau menemui Rinata."
Reiz menghembuskan nafas kasar, benar kata Tomi sebaiknya ia mengurus masalahnya dengan Gwen terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sudah sana kembali ke meja mu. Selesaikan pekerjaanmu yang menumpuk itu."
******