Reiz And Rin

Reiz And Rin
Kekasih Reiz?


__ADS_3

Belum sempat Reiz menjawab, Tuan Mark sudah memotong ucapannya. Reiz membulatkan matanya, bagaimana bisa ia menikahi Rin dalam waktu satu minggu ini.


"Dad..." Lidah Reiz mendadak kelu melihat tatapan tajam Tuan Mark.


"Apa kau berani menolak keinginan kami, Reiz?" Tanya Tuan Mark, dan jangan lupa tatapan tajam masih ia arahkan pada Reiz. Membuat pria itu menunduk tak berani menatapnya. Tuan Mark memang terkenal tegas pada anak-anaknya.


Tomi yang duduk tak jauh darinya hanya bisa menahan tawanya melihat sang asisten tak berkutik. Ternyata tak sia-sia ia menghasut dan membujuk kedua orang tuanya. Bahkan sampai rela menunda bulan madunya demi sang asisten.


*********


Sementara itu di apartemen Reiz. Rin sedang bersih-bersih, tadinya ia ingin tidur tapi matanya tidak bisa di pejamkan. Akhirnya Rin memutuskan untuk bersih-bersih saja, setidaknya kalau pria dingin itu pulang tidak melihatnya sedang bermalas-malasan.


Ting Tong.


Terdengar suara bel di depan pintu, Rin menautkan alisnya. Siapa yang datang? Tidak mungkin Reiz bukan? Pria itu pasti akan langsung masuk jika sudah pulang, lagi pula Reiz baru pergi beberapa menit yang lalu.


Rin membuka pintu, di sana nampak seorang wanita berpakaian modis sedang berdiri dengan senyumnya yang sangat manis. Walaupun Rin seorang wanita, ia akui wanita yang berdiri di hadapannya sangatlah cantik.


"Apa Reiz Anderson ada?" Tanya wanita itu, begitu lemah lembut ucapannya.


"Emm... Nona mencari Tuan Reiz? Tapi Tuan Reiz tidak ada, Nona." Jawab Rin. Ia memandangi wanita di hadapannya dari atas ke bawah. Dalam benaknya bertanya-tanya siapa wanita ini? Apa mungkin kekasih Reiz? Pantas saja Reiz tak pernah mau melihatnya, ternyata levelnya setinggi ini.


"Oh ya? Kalau boleh tau, Reiz pergi kemana?" Tanya wanita itu lagi.


"Tuan Reiz pulang ke rumahnya, Nona." Jawab Rin. Wanita itu terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


"Boleh aku masuk? Aku ingin menunggu Reiz di dalam." Rin tampak berfikir sejenak, sampai akhirnya mengizinkan wanita itu masuk.


"Silahkan masuk, Nona." Wanita itu berjalan dengan anggunnya. Rin menatap kagum pada wanita itu, sudah cantik pakaiannya pun sangat modis. Sangat jauh bila di bandingkan dirinya.


"Silahkan duduk, Nona. Nona mau minum apa?"


"Tidak perlu. Aku sudah minum tadi." Wanita itu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Sementara Rin masih berdiri di hadapannya.


"Nona, apa Nona tidak apa-apa jika menunggu lama? Karena saya tidak tahu kapan Tuan Reiz kembali." Tanya Rin dengan sedikit canggung.


"Tidak apa-apa lagi pula aku sudah sering kesini untuk menunggu Reiz. Dulu aku tau password apartemen ini, jadi aku bisa masuk kapan saja. Tapi sepertinya Reiz telah mengganti password nya." Terang wanita itu membuat Rin menelan saliva nya.


"Sudah sering kesini dan ia juga tau password nya, tidak salah lagi wanita ini pasti kekasih Reiz." Batin Rin.


"Kau kemari lah, duduk disini." Wanita itu menepuk sisi kosong sebelahnya. Rin menurutinya, Rin duduk di sampingnya walaupun sedikit canggung.


" Em... Ngomong-ngomong kau siapanya Reiz? Kenapa bisa ada di sini? Setahuku Reiz tak pernah mengizinkan orang asing berada di apartemennya?" Wanita cantik itu bertanya.

__ADS_1


"Aku... Aku asisten rumah tangga di sini, Nona." Jawab Rin apa adanya.


"Asisten rumah tangga?" Ulangnya.


"Iya, Nona."


"Oh ya, siapa namamu? Dari tadi aku terus bertanya, tapi malah lupa menanyakan namamu." Wanita cantik itu tertawa kecil.


"Nama saya Rinata, Nona." Rin mengulurkan tangannya. Wanita itu pun menyambutnya.


"Namaku Tania, senang berkenalan denganmu Rinata." Tania tersenyum, menambah kadar kecantikannya.


"Sudah cantik, ramah dan tidak sombong. Sungguh nyaris sempurna." Batin Rin.


"Maaf Nona, kalau boleh tau Nona siapanya Tuan Reiz?" Rin memberikan diri untuk bertanya.


"Jangan panggil aku Nona, Panggil Tania saja." Ujarnya.


"Aku itu..." Belum sempat Tania melanjutkan perkataannya, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Sebentar ya, Rin." Rin mengangguk, Tania mengangkat ponselnya.


"Iya, hallo sayang..." Jawab Tania pada panggilannya.


"Iya, aku sudah sampai. Oh begitu? Baiklah, kami akan ke sana sekarang." Tania menutup panggilannya.


"Rinata, kau ikut aku ya?" Pinta Tania.


"Ikut kemana?" Tanya Rin heran.


"Nanti kau juga akan tahu." Tania bangkit dari duduknya.


"Tapi Nona, aku harus meminta izin Tuan Reiz dulu. Kalau tidak, nanti Tuan Reiz akan marah." Rin mencoba menolak.


"Ck, Reiz tak akan marah." Tania berdecak.


"Sudah cepat ikut aku." Tania menarik tangan Rin, membuat Rin bangun duduknya.


"Tapi Nona, aku..."


"Ayo cepat..." Tania terus menarik Rin, mau tak mau Rin mengikutinya.


***********

__ADS_1


"Nona sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Rin untuk kedua kalinya. Kini mereka berdua sudah berada di mobil yang Tania kendarai sendiri.


Tania menoleh, ia tersenyum.


"Nanti kau juga akan tahu, Rin." Jawab Tania yang membuat Rin gelisah. Ia takut Reiz akan marah nanti karena sudah pergi tanpa izinnya.


"Rinata, kau tenang saja. Aku bukan mau menculik mu." Tania tertawa kecil.


"Bukan begitu Nona, aku hanya takut Tuan Reiz marah karena aku sudah pergi tanpa izinnya." Rin menghela nafas panjang.


"Kau ini takut sekali pada Reiz."


"Tentu saja Nona, Tuan Reiz adalah majikan ku. Dan juga Tuan Reiz sangat galak." Cicit Rin yang membuat tawa Tania pecah seketika.


"Hahaha... Jadi Reiz galak padamu ya?'' Tanya Tania dengan sisa tawanya. Rin hanya mengangguk.


"Kau tenang saja Rin, setelah ini Reiz tak akan galak lagi padamu." Ujar Tania yang membuat Rin mengerutkan keningnya.


"Maksudnya, Nona?''


"Kau akan tahu nanti." Jawab Tania dengan senyum misteriusnya.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah mansion mewah.


"Ayo, Rin." Ajak Tania sambil membuka pintu  mobil mewahnya. Rin hanya menurutinya. Rin begitu terpana melihat bangunan mewah di depannya.


"Mansion siapa ini, Nona?" Tanya Rin.


"Kau akan tahu nanti, ayo kita masuk." Tania menarik tangan Rin, mereka berdua melangkah memasuki mansion.


"Selamat datang Nona Tania dan Nona Rinata." Sapa seorang pelayan yang menyambut mereka. Tania dan Rin tersenyum, tapi Rin merasa heran dari mana pelayan itu tahu namanya.


"Terima kasih, Bi. Dimana yang lain?" Tanya Tania.


"Ada di ruang tamu, Nona." Jawab pelayan itu.


"Mari saya antar." Tania dan Rin mengikuti pelayan tersebut.


"Permisi, Nona Tania dan Nona Rinata sudah datang." Ucap pelayan itu pada orang-orang yang sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius di ruang tamu.


"Silahkan Nona, saya permisi dulu." Pamit pelayan itu, Tania mengangguk.


"Hai semuanya..." Sapa Tania.

__ADS_1


"Hai Mom, Dad...." Tania berpelukan singkat dengan Nyonya Tyas sementara Tuan Mark tersenyum mengangguk.


__ADS_2