Reiz And Rin

Reiz And Rin
Cokelat


__ADS_3

"Hei, sejak kapan kau suka mi goreng?" Tanya Tomi penasaran. Ia duduk bergabung dengan pasangan suami istri itu, di ikuti Tania.


"Sejak saat ini." Jawab Reiz singkat. Ia membuka tempat makan itu, tercium aroma mi goreng yang sangat menggoda. Sedangkan Tomi dan Tania hanya menatapnya heran.


"Kau tahu Reiz, kau sangat aneh hari ini." Celetuk Tomi.


"Dan Tuan selalu aneh setiap hari." Balas Reiz, ia mulai menyantap makanannya.


* * * * *


"Reiz..." De*sah nafas Rin terdengar begitu menggoda. Rin memejamkan matanya, menikmati sentuhan Reiz yang sungguh memabukkan baginya. Setelah makan siang tadi, Reiz menariknya ke dalam kamar yang ada di ruangan itu.


"Sssttt, nikmati saja..." Reiz meneruskan aksinya, menghujani tubuh polos itu dengan kecupan dan sentuhannya.


Rin tak dapat berkata apa-apa lagi, hanya tangannya meremas sprei untuk menyalurkan rasa kenikmatan yang di rasakannya. Perlakuan Reiz membuatnya seakan melayang ke surga dunia.


Sedangkan Tomi dan Tania juga tak mau kalah, mereka melakukan hal yang sama. Karena di ruangan itu ada dua kamar yang memang di sediakan untuk Tomi dan Reiz beristirahat.


Tomi dan Tania nampak masih mengatur nafasnya setelah pertempuran panas mereka.


"Tom..."


"Kenapa, Baby?" Tomi memeluk erat tubuh Tania.


"Kenapa aku belum hamil ya?"


"Sabarlah, Baby. Mungkin belum saatnya." Tomi mengusap perut datar istrinya.


"Tapi Mommy dan Daddy ingin secepatnya memilki cucu." Tatapan Tania terlihat sendu.


"Kita kan sudah berusaha, tinggal menunggu hasilnya saja." Tomi membelai lembut rambut istrinya.


"Atau kau mau kita usaha lagi?" Sambungnya. Seringai miring nampak di sudut bibir Tomi yang seketika mendapat tepukan di lengannya.


"Ck, sebentar lagi waktu istirahat habis. Apa kau mau di pecat oleh asistenmu sendiri?"


"Hah, dia juga sedang melakukan hal yang sama dengan kita. Ayolah, sekali lagi saja." Tomi sudah berada di atas tubuh Tania. Tapi tiba-tiba,


Tok. Tok. Tok.


"Tuan, waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi." Suara datar Reiz terdengar di balik pintu.


"Kau dengar? Asistenmu sudah memanggil." Ujar Tania.


"Kenapa dia menyebalkan sekali?" Tomi menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Aku mendengarmu, Tuan." Suara datar Reiz menjawab.


"Sudahlah Tom, sebaiknya kau cepat mandi. Kalau tidak, Reiz akan benar-benar memecatmu."


"Ya, ya, aku mandi." Tomi bangkit dari atas tubuh Tania dan menuju kamar mandi.


* * * * *

__ADS_1


Tomi dan Tania tercengang begitu keluar ruangan, nampak di sana Rin sedang duduk di atas pangkuan Reiz yang tengah duduk di kursinya.


Sedangkan kedua orang itu nampaknya tak peduli, dan memilih fokus pada layar komputer di depannya.


"Sejak kapan asistenmu berubah seperti itu?" Bisik Tania.


"Entahlah." Tomi mengangkat bahunya.


Tania melangkah mendekati Rin.


"Ehm, Rin. Apa kau mau pulang sekarang?" Tanyanya.


"Rin akan menemaniku di sini. Kalau Nona Tania mau pulang, silahkan saja." Jawab Reiz tanpa mengalihkan pandangannya, sedangkan Rin hanya tersenyum kikuk.


"Kenapa kau malah mengusir istriku?" Tomi melayangkan protes.


"Aku tak mengusirnya. Aku hanya mengatakan, kalau Nona Tania mau pulang, silahkan saja." Reiz mengulang perkataannya membuat Tomi membuang nafas kasar. Kenapa hari ini asistennya aneh sekali?


"Baby, kau di sini saja. Temani aku bekerja." Ujar Tomi pada istrinya.


"Emmm... Okay." Tania memilih untuk duduk di sofa tamu.


* * * * *


Mansion Anderson.


Heningnya malam menyelimuti mansion mewah itu, hampir semua penghuninya sudah terlelap. Tapi tidak dengan Reiz, sedari tadi ia tak dapat memejamkan matanya.


Padahal hari ini hari yang melelahkan baginya. Tapi tetap saja matanya tidak dapat terpejam. Rasanya ia menginginkan sesuatu.


"Hem..."


"Kau sudah tidur?" Reiz membelai wajah istrinya, mata Rin perlahan terbuka.


"Tadi sudah, kenapa Reiz?" Jawabnya dengan suara yang terdengar serak.


"Aku ingin cokelat..." Ucap Reiz, Rin berusaha mengumpulkan kesadarannya.


"Apa Reiz?" Rin menautkan kedua alisnya, apa dirinya salah dengar?


"Aku ingin cokelat." Reiz mengulang perkataannya.


"Cokelat?" Rin melirik jam weker di atas nakas, sudah pukul 2 malam.


"Iya, cokelat. Apa di kulkas bawah ada?"


"Reiz, sekarang sudah jam 2 malam."


"Lalu?"


"Kau ingin makan cokelat jam 2 malam?" Tanya Rin heran.


"Aku mual Rinata, aku ingin cokelat." Reiz memaksa.

__ADS_1


"Kau mual lagi?" Rin bangkit dari tidurnya, duduk di tengah ranjang. Dengan tangannya yang masih memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Iya, dan aku ingin cokelat untuk menghilangkan mualnya."


"Ya sudah, aku ambilkan." Baru saja Rin akan turun dari tempat tidur tapi Reiz mencegahnya.


"Biar aku saja. Aku hanya tanya, apa di kulkas bawah ada stok cokelat?" Rin terlihat berfikir sejenak.


"Sepertinya ada." Jawabnya.


"Ya sudah aku ambil sendiri. Kau tidur lagi saja."


Reiz bangun dari tidurnya, tidak lupa ia mengenakan dulu pakaiannya yang berserakan di bawah lantai. Sementara Rin hanya menatap heran suaminya.


"Makan cokelat jam 2 malam?" Benak Rin bertanya-tanya.


Reiz melangkah menuruni tangga berjalan ke arah dapur. Keadaan di sana sudah nampak sepi dan gelap. Begitu ia sampai di sana, terdengar suara-suara aneh.


Reiz mengerutkan keningnya, mencari ke sumber suara.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara datar Reiz mengejutkan dua insan yang sedang bercumbu di balik lemari es itu. Untungnya pakaian mereka masih utuh.


"Reiz!" Pekik Tomi dan Tania secara bersamaan.


"Apa kalian tidak punya kamar sampai harus melakukannya di dapur seperti ini?" Tanyanya lagi.


"Kenapa kau ada di sini? Mengganggu saja." Gerutu Tomi.


"Kami sedang ingin merasakan sensasi yang berbeda, maka dari itu kami melakukannya di sini. Tapi kau malah datang mengganggu." Sambung Tomi dengan kesal.


Sementara Reiz hanya menatap keduanya dengan datar seperti biasa. Ia kemudian teringat tujuan awalnya.


"Apa yang kau cari?" Tanya Tania ketika melihat Reiz seperti mencari sesuatu di dalam lemari es empat pintu itu.


"Aku sudah menemukannya." Jawab Reiz, menunjukkan sebatang cokelat yang di berhasil di temukannya.


"Cokelat?" Tanya Tomi dan Tania bersamaan. Reiz melirik kedua orang itu secara bergantian.


"Kalian silahkan lanjutkan lagi kegiatan kalian yang tadi." Reiz berlalu begitu saja meninggalkan Tomi dan Tania.


"Tom, sebenarnya ada apa dengan Reiz? Kenapa dia aneh sekali?"


"Entahlah." Tomi mengangkat bahunya.


"Apa kita akan melanjutkan yang tadi?" Tanya Tomi.


"Ck, kita lanjutkan di kamar saja." Tania berdecak.


"Aku sudah tak berselera melakukannya di sini." Lanjutnya.


"Ya sudah kalau begitu, kita lanjutkan di kamar saja." Tomi menarik kembali istrinya ke dalam kamar mereka.


Reiz kembali ke kamarnya di lihatnya Rin yang duduk bersandar di tempat tidur.

__ADS_1


"Apa kau sudah menemukan cokelatnya?" Tanya Rin begitu suaminya masuk ke dalam kamar.


"Sudah." Reiz menunjukkan sebatang cokelat yang di bawanya.


__ADS_2