
"Mommy dan Daddy baik, sayang. Reiz, Daddy ingin bicara denganmu." Nyonya Tyas memberikan ponselnya pada suaminya yang duduk di sampingnya.
"Reiz, bisa kau pulang sekarang?" Tanya Tuan Mark.
"Ada apa Dad? Apa ada masalah?" Reiz balik bertanya.
"Tidak Reiz, Daddy dan Mommy merindukanmu. Pulanglah sekarang." Jawab Tuan Mark.
"Baiklah Dad, aku pulang sekarang."
"Okay, hati-hati di jalan boy." Tuan Mark menutup panggilannya.
"Bagaimana sayang? Apa Reiz bersedia pulang sekarang?" Tanya Nyonya Tyas pada suaminya.
"Tentu saja sayang, memangnya kapan Reiz pernah tidak menuruti kita?" Jawabnya membuat sang istri tersenyum. Tuan Mark menghela nafas panjang.
"Semoga saja dengan begini Reiz mau berubah." Ujarnya.
"Iya, semoga saja."
*
Reiz keluar dari kamarnya, bermaksud menemui Rin.
"Rin, aku mau pergi." Ucapnya pada Rin yang tengah bersiap untuk memasak.
"Tuan mau pergi kemana? Apa Tuan akan makan siang di sini?" Tanya Rin.
"Aku akan pulang ke rumahku." Jelas Reiz.
"Pulang ke rumah?" Rin mengerutkan dahinya.
"Ya. Aku pergi dulu, jaga rumah baik-baik." Ucap Reiz seraya pergi meninggalkan Rin yang berdiri terdiam di dapur.
"Padahal aku mau masak menu spesial, tapi Tuan Reiz malah pergi..." Rin menghela nafas berat, tadinya dia sudah semangat ingin masak untuk Reiz tapi Reiz malah pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Ternyata Tuan Reiz masih punya keluarga, aku kira dia hanya sendiri seperti aku. Pasti menyenangkan kalau masih punya keluarga seperti itu..." Rin melangkahkan kakinya, meninggalkan dapur. Semangatnya untuk memasak hilang begitu saja.
Lebih baik ia tidur saja, Reiz juga pasti lama kembalinya. Atau Reiz akan menginap? Ck, kenapa ia tak menanyakan hal itu tadi.
**********
Dalam waktu dua puluh menit Reiz sudah sampai di rumahnya.
"Reiz, my boy... Mommy sangat merindukanmu sayang..." Sambut Nyonya Tyas begitu melihat Reiz memasuki rumahnya, ia langsung memeluk Reiz.
"Miss you too, Mom..." Reiz membalas pelukan Mommy nya.
"Miss you Dad..." Reiz melepaskan pelukannya pada Nyonya Tyas, dan berganti memeluk Tuan Mark.
"Kau darimana saja Reiz? Sejak selesai pernikahan Tomi, kau belum pulang kemari?" Tanya Tuan Mark. Memang semenjak pernikahan Tomi yang di adakan dua minggu yang lalu Reiz belum sempat pulang ke rumahnya, setelah selesai mengantarkan Tomi dan istrinya pergi berbulan madu. Biasanya ia akan pulang seminggu sekali.
"Maaf, Dad... Aku benar-benar sibuk di kantor." Reiz melepaskan pelukannya.
"Jangan terlalu memforsir tenaga mu, Reiz. Nanti kau sakit." Ujar Nyonya Tyas begitu perhatian.
"Ayo kita duduk dulu.'' Ajak Nyonya Tyas, Reiz duduk di samping Nyonya Tyas dan Tuan Mark mengambil tempat duduknya sendiri.
''Jadi kapan kalian akan menikah?'' Tanya Tuan Mark tiba-tiba.
''Siapa yang akan menikah, Dad?'' Reiz balik bertanya.
''Tentu saja kau, Reiz." Jawab Tuan Mark.
"Aku? Maksud Daddy?" Reiz tak mengerti kemana arah pembicaraan Tuan Mark.
"Kau dengan Rinata Andara, Reiz." Jawab Tuan Mark lagi.
"Rinata Andara?" Reiz mengerutkan keningnya, ia masih belum mengerti.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kau tidak mau bertanggung jawab pada Rinata, padahal kalian sudah tinggal bersama selama satu minggu ini." Jelas Nyonya Tyas yang membuat Reiz terlonjak kaget.
Reiz membulatkan matanya, dari mana Tuan Mark dan Nyonya Tyas tahu tentang Rin? Pasti Tomi sudah mengadu yang tidak-tidak pada orang yang sudah ia anggap seperti ayah dan ibu kandungnya sendiri itu.
"Mom, Rinata cuma gadis yang tak sengaja ku tolong. Dan ia tinggal di tempatku karena ia memaksa ingin bekerja padaku sebagai balas budi karena aku telah menolongnya." Reiz mencoba menjelaskan. Tapi sepertinya Tuan Mark dan Nyonya Tyas tidak bisa menerima alasannya, terlihat dari raut wajah keduanya.
"Reiz, tega sekali kau menyuruh calon menantu Mommy bekerja." Suara Nyonya Tyas sudah naik satu oktaf, membuat Reiz menelan saliva nya. Tuan Mark hanya menggelengkan kepala dengan tatapan mengintimidasinya.
"Mom, aku tak menyuruhnya. Itu kemauan dia sendiri." Reiz memijat pelipisnya, ia pusing sendiri. Entah apa yang sebenarnya sudah Tomi katakan pada orang tuanya.
"Mom, Reiz sedang melatih calon istrinya. Jadi ia meminta Rinata bekerja di apartemennya, dan juga itu sebagai alasan supaya Reiz bisa tinggal bersama Rinata." Terdengar suara dari arah belakang, mata Reiz melebar ketika melihat Tomi yang entah datang dari mana tiba-tiba ikut bergabung bersama mereka. Bukankah bosnya itu masih bulan madu bersama Tania? Kenapa bisa ada di sini?
''Tuan Tomi, sedang apa anda di sini? Bukankah anda sedang berbulan madu dengan Nona Tania?" Tanya Reiz yang selalu menggunakan bahasa formal dengan Tomi.
"Jangan panggil aku Tuan." Sergah Tomi.
"Apa kau tahu?" Aku sengaja pulang lebih cepat demi ingin melihat calon istrimu." Jawab Tomi dengan antusias. Sedangkan Reiz malah mengusap wajahnya kasar, benar-benar frustasi mempunyai Bos seperti Tomi.
"Mom, Dad. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Rinata." Reiz kembali mencoba menjelaskan.
"Cih, orang tuaku selalu dipanggil Mommy dan Daddy. Tapi aku selalu dipanggil tuan." Tomi mencibir. Entah sudah berapa ribu kali ia meminta Reiz memanggilnya dengan sebutan nama saja. Tapi Reiz selalu menolak, dengan alasan kalau ia adalah atasannya.
Tuan Mark dan Nyonya Tyas adalah orang tua kandung Tomi, sedangkan Reiz adalah anak angkat mereka. Tapi Tuan Mark dan Nyonya Tyas tidak pernah membedakan kasih sayang antara keduanya.
Apalagi Reiz adalah anak rajin dan pekerja keras, membuat mereka sangat menyayangi Reiz. Begitu pun Tomi yang sangat menyayangi Reiz, dan menganggap Reiz seperti adik kandungnya sendiri.
Baik Reiz maupun Tomi tidak pernah iri saat orang tua mereka membela salah satu dari mereka ketika terlibat perdebatan kecil.
Reiz dan Tomi tumbuh bersama, usia mereka hanya terpaut dua bulan saja. Sekolah, kuliah dan sekarang mereka bekerja bersama. Tomi menjadi direktur utama sedangkan Reiz menjadi asistennya.
Tadinya jabatan Dirut akan di serahkan pada Reiz, karena cara kerja Reiz lebih baik daripada Tomi. Tapi Reiz menolaknya, dan mengatakan kalau Tomi lebih berhak. Tomi bersedia menerima jabatan itu dengan syarat Reiz yang menjadi asisten sekaligus wakilnya. Dan mau tak mau Reiz menerimanya, bahkan ruang kerja mereka menjadi satu karena permintaan Tomi.
"Reiz, kau harus tetap menikahi Rinata." Tekan Nyonya Tyas. Reiz menatapnya dengan tatapan memelas.
"Mom, aku...."
__ADS_1
"Seminggu lagi pernikahan kalian akan di laksanakan."
Belum sempat Reiz menjawab, Tuan Mark sudah memotong ucapannya. Reiz membulatkan matanya, bagaimana bisa ia menikahi Rin dalam waktu satu minggu ini.