Reiz And Rin

Reiz And Rin
Ada apa dengan Reiz?


__ADS_3

"Daddy sudah menyerahkan kasus ini ke polisi. Biar saja polisi yang mengurusnya."


"Sebaiknya sekarang kau istirahat saja. Dan kalian berdua kembalilah ke tempat kalian masing-masing." Tuan Mark menutup pembicaraan, pria paruh baya itu bangkit dari duduknya di iringi ketiga pria muda tersebut.


"Dad, lebih baik aku ke kantor saja, aku sudah tidak apa-apa. Lagipula di kantor sedang banyak pekerjaan." Ucap Reiz.


"Daddy tidak mengizinkanmu ke kantor hari ini. Kau istirahat saja. Biar urusan kantor, Tomi yang mengurusnya." Tegas Tuan Mark.


"Baik, Dad." Reiz menghela nafas panjang. Sementara kedua 'Kakak'nya terlihat menahan tawa.


* * * * *


Edra kembali ke mansionnya karena ia cuti hari ini. Di bukanya pintu kamarnya, nampak Gwen sedang berdiri di depan jendela dengan tatapan kosongnya.


"Gwen, maafkan aku." Ucap Edra seraya memeluk Gwen dari belakang.


"Maaf untuk apa?" Tanya Gwen, pandangannya masih menatap keluar jendela.


"Maaf karena aku, pernikahan kita jadi kacau semalam." Edra mengeratkan pelukannya, menghirup aroma dari tubuh istrinya.


"Bukan salahmu. Aku sendiri tak habis pikir kenapa Ayahku sendiri mau membunuhku, padahal aku ini anak kandungnya?" Lirih Gwen.


"Gwen, tenanglah. Semua sudah baik-baik saja sekarang..." Edra mengecup pucuk kepala istrinya, memberi ketenangan pada wanita itu.


"Bagaimana keadaan Reiz? Apa dia baik-baik saja?"


"Ya, dia baik-baik saja."


"Aku belum sempat berterima kasih padanya. Dia sudah menyelamatkan kita."


"Kita bisa menemuinya nanti." Edra mengecup pipi istrinya. Gwen melepaskan pelukan Edra, membalikkan tubuhnya, mereka berdiri berhadapan.


"Apa kau menyesal menikah denganku?" Tanya Gwen menatap dalam mata Edra.


"Menyesal?" Kedua alis pria itu bertaut.


"Ya menyesal, aku adalah mantan narapidana. Sudah membunuh calon anak dari adikmu sendiri. Bahkan Ayahku sendiri mengatakan kalau aku ini pembawa sial." Ucap Gwen, nafasnya terasa sesak mengingat semuanya yang terjadi dalam hidupnya. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, dan ayahnya yang kurang memberinya perhatian apalagi setelah menikah dengan ibunya Rin, ayahnya sudah tak peduli lagi padanya.

__ADS_1


"Gwen, kau tahu? Menikah denganmu adalah impianku sejak dulu. Dan aku tidak pernah peduli apa yang terjadi denganmu, bukankah kau tahu apa saja yang sudah aku lakukan demi untuk mendapatkan mu?"


Jemari Edra menyentuh pipi wanita itu, membuat mereka saling menatap. Entah siapa yang memulai keduanya larut dalam ciuman yang semakin lama semakin dalam.


******


Dua bulan berlalu, semua sudah berjalan normal kembali. Albert Rivers di jatuhi hukuman yang setimpal dengan pasal pembunuhan berencana. Pada awalnya Gwen dan Rin merasa sedih karena melihat Ayah mereka berada di dalam penjara, tapi itulah hukuman yang harus di terimanya.


Edra dan Gwen sudah mulai menata masa depan mereka, merencanakan apa saja yang akan di lakukan nanti bersama keluarga kecilnya.


Gwen merasa sangat bahagia, setiap hari Edra selalu menghujani nya dengan cinta dan kasih sayang. Perlahan perasaannya pada Reiz pun mulai hilang.


Hidupnya kini hanya untuk Edra, suami yang sangat mencintainya. Tak jarang mereka berdua berkunjung ke mansion Anderson, dan mereka berenam melakukan kencan bersama.


Tak ada lagi rasa cemburu buta yang di rasakan oleh Gwen ketika melihat Reiz dan Rin bersama. Justru sekarang ia merasa ikut bahagia ketika melihat adiknya bahagia.


*


Mansion Anderson


"Reiz, bangun sudah pagi." Rin mengguncang pelan tubuh suaminya.


"Aku masih mengantuk..." Gumamnya dengan suara serak.


"Tapi ini sudah pagi, apa kau tidak bekerja?" Rin mengusap rambut Reiz hingga kedua mata suaminya terbuka sempurna.


"Berikan aku satu ciuman." Ucapnya sambil menunjuk pipi kanannya.


"No, kau belum mandi Reiz." Rin menegakan badannya menjauhi suaminya.


"Pelit." Seru Reiz sambil memajukan bibirnya beberapa centi, membuat sang istri terbahak. Kenapa suaminya jadi menggemaskan sekali? Kemana Reiz yang dulu dingin dan datar?


"Bangun dan mandi dulu ya, setelah itu aku beri." Rin seperti membujuk anak kecil saja. Ia mengedipkan satu matanya. Reiz pun menurut, pria itu mendudukkan tubuhnya. Entah kenapa sudah beberapa hari ini ia merasa malas sekali untuk bangun pagi. Baru saja duduk, tiba-tiba Reiz merasakan sakit pada kepalanya.


"Reiz, kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Rin yang khawatir melihat Reiz meringis sambil memijat keningnya dan wajahnya terlihat begitu pucat.


"Pusing sedikit." Jawabnya. Mendadak Reiz merasa sangat mual, ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Reiz memuntahkan seluruh isi perutnya di sana. Rin segera menyusulnya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rin sambil memijat leher belakangnya. Reiz hanya menggeleng, kemudian ia mencuci mulutnya dan membasuh wajahnya. Menatap pantulan dirinya di cermin. Belakangan ini Reiz selalu merasa pusing jika bangun tidur, tapi mual dan muntah baru ia rasakan sekarang.


"Apa kita ke dokter saja?" Tanya Rin, terlihat jelas raut khawatir di wajahnya.


"Aku baik-baik saja."Jawab Reiz pelan, ia kembali ke tempat tidurnya. Tubuhnya seakan lemas tak bertenaga.


"Aku buatkan minuman hangat ya?"


"Tidak perlu, duduklah di sini." Reiz menepuk tempat kosong di sampingnya. Rin menurut. Lelaki itu kemudian meletakan kepalanya di atas pangkuan sang istri. Rin memijat lembut kening Reiz, terasa amat nyaman bagi pria itu.


"Apa kau yakin tidak apa-apa?" Tanyanya lagi.


"Tidak Rin, aku baik-baik saja. Biarkan seperti ini sebentar." Reiz memejamkan matanya, menikmati pijatan sang istri.


Sudah sekitar sepuluh menit mereka berada dalam posisi seperti itu. Reiz merasa mulai membaik, tangan Rin masih setia memijat keningnya.


Reiz meraih salah satu tangan Rin dan menciumnya.


"Jangan nakal Reiz." Rin menatap tajam suaminya, yang di balas senyum seringai oleh Reiz, segera ia menundukkan tubuh Rin dan melahap bibir istrinya.


"Ck...Ck...Ck.... Kami sudah menunggu kalian untuk sarapan, ternyata kalian malah asyik bermesraan di sini." Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Tania berdiri di depan pintu yang memang terbuka sebagian. Reiz dan Rin segera melepas pagutannya.


"Kenapa Nona menganggu saja?" Gerutu Reiz beranjak bangun dari tidurnya.


"Mommy menyuruhku memanggil kalian untuk sarapan. Sebaiknya bermesraannya di tunda dulu, okay?" Terdengar tawa dari Tania yang sudah beranjak dari sana.


"Aku mandi dulu."


"Mau ku mandikan?" Tanya Rin dengan tatapan nakalnya. Reiz hanya menggelengkan kepalanya. Kalau Rin memandikannya yang ada sampai dua jam mereka berdua tak akan selesai mandi.


* * * * *


"Pagi Mom, pagi Dad..." Sapa Reiz dan Rin.


"Pagi sayang."


"Kenapa kalian berdua lama sekali? Aku sudah lapar." Celetuk Tomi.

__ADS_1


"Kakakku, kau kan bisa makan terlebih dahulu?" Jawab Reiz dengan datarnya.


"Hah, ternyata kedatarannya masih ada. Ku kira sudah habis." Sindir Tomi yang mendapat tatapan tajam dari Reiz.


__ADS_2