Reiz And Rin

Reiz And Rin
Suamiku tak peduli


__ADS_3

"Tak perlu kesana, kita makan di restoran seafood di sekitar sini saja." Rin masih berharap Reiz mau menemaninya.


"Tidak ada restoran seafood di sini, kalaupun ada itu letaknya di jalan walter. Jaraknya satu jam dari sini." Jelas Reiz.


"Tak apa. Kita ke sana saja." Rin menatap Reiz penuh harap. Sementara Reiz hanya menatapnya dengan datar.


"Tak bisa, aku sibuk lagi pula ini sudah malam." Reiz kembali fokus pada laptopnya.


"Kalau besok?" Tanya Rin yang masih mengharap.


"Besok aku kerja, apa kau lupa?" Reiz balik bertanya. Rin menatap kecewa pada Reiz, lelaki itu benar-benar tak peduli padanya.


Rin beranjak bangun dari duduknya,  melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Reiz, sama sekali tak peduli padaku. Selama aku hamil ia bahkan tak pernah sekalipun menanyakan keadaanku. Bukankah wanita hamil wajar meminta? Dan ini untuk pertama kalinya aku meminta padanya saat aku hamil. Aku hanya ingin makan seafood berdua dengannya. Tapi ia sama sekali tak peduli....


Bukankah seharusnya aku sadar diri? Aku memang tak berarti untuknya, ia mau menikah denganku juga itu sebuah keberuntungan bagiku.


Tapi aku sedang mengandung anaknya, tak bisakah ia sedikit memberi perhatian terhadap anaknya?" Lirih Rin dalam hati, dalam diam ia menangis. Terdengar isak tangis lirih di balik selimut itu.


Reiz memandang istrinya dari jauh, ia bisa mendengar suara tangis yang pelan itu di balik selimut. Reiz menghela nafas panjang, ia tak tega melihat sang istri menangis tapi ia juga tak ingin terlibat perasaan dengan Rin.


Reiz menutup laptopnya saat pekerjaannya sudah selesai. Sekarang sudah tengah malam, isak tangis Rin pun sudah tak terdengar. Sepertinya perempuan itu sudah tertidur.


Reiz mendudukkan tubuhnya di samping Rin, selimut yang membalut tubuh Rin nampak tersingkap. Terlihat jelas mata sembab perempuan itu.


"Maafkan aku...." Ucapnya pelan.


********


"Reiz? Reiz? Reiz!" Suara Tomi mengejutkan Reiz yang melamun di meja kerjanya.


"Tuan, jangan berteriak. Aku tidak tuli." Ucap Reiz dengan tatapan tajamnya.


"Hah, tidak tuli? Aku sudah memanggilmu lebih dari sepuluh kali, tapi kau diam saja." Tomi menghampiri meja Reiz.

__ADS_1


"Kau kenapa lagi?" Tanyanya. Reiz hanya menggeleng.


"Ck, Reiz semenjak punya istri kau jadi sering melamun." Tomi berdecak.


"Ada apa adikku sayang?" Tomi membelai rambut hitam Reiz. Reiz segera menepisnya.


"Singkirkan tanganmu, Tuan! Itu menggelikan!" Serunya.


"Hei adik, kau tak boleh galak-galak dengan kakakmu ini. Apa kau ingin aku pecat sebagai adikku?" Goda Tomi.


"Sebaiknya Tuan selesaikan saja pekerjaan Tuan." Jawabnya datar.


"Apa yang harus aku selesaikan? Kau belum memberi file apapun padaku." Tomi menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap asistennya itu, Reiz menautkan alisnya. Berfikir sejenak. Memang benar ia belum memberi file apapun pada Tomi.


"Sebentar, aku selesaikan dulu." Jawabnya kembali fokus pada laptopnya. Tomi hanya menggelengakan kepalanya.


"Ada apa?" Tanya Tomi lagi. Reiz kembali menatap Tomi. Bos nya itu memang sangat peduli padanya walaupun menyebalkan. Sambil menghela nafas ia berkata.


"Rinata, dia memintaku menemaninya ke restoran seafood."


"Pada awalnya Rin memintaku menemaninya ke Anderson Land untuk makan seafood. Tapi aku menolaknya, lalu ia memintaku menemaninya ke restoran seafood di jalan walter." Jawab Reiz.


"Oh maksudmu Rinata sedang ngidam makan seafood?"


"Ngidam? Apa itu?" Tanya Reiz yang membuat Tomi tercengang.


"Kau tak tahu mengidam itu apa?" Tanya Tomi. Reiz hanya menggeleng. Membuat Tomi menepuk dahinya sendiri.


"Astaga Reiz, kau sudah mau menjadi ayah tapi tak tahu apa itu ngidam?" Tomi menggelengkan kepalanya.


"Wanita hamil biasanya menginginkan sesuatu, kadang yang wajar kadang juga di luar nalar. Dan itu biasanya adalah keinginan dari bayi yang di kandungnya. Itu yang di namakan ngidam. Dan kadang mengidam itu tak bisa di tahan, jadi sebagai suami kita harus selalu siap siaga untuk memberikan apa yang diinginkan istri kita yang sedang hamil. Dan juga perasaan wanita hamil itu sangat sensitif, kalau kita tak bisa atau tak mau menuruti keinginan ngidamnya ia bisa marah atau bahkan menangis histeris." Jelas Tomi panjang kali lebar.


"Rinata pasti sedih, seharusnya kau tidak menolaknya keinginannya." Sambung Tomi.


Reiz tertegun mendengar penjelasan Tomi. Semalam ia begitu saja menolak keinginan Rin, hingga membuat wanita itu menangis. Padahal itu pertama kalinya Rin meminta sesuatu padanya. Walaupun pagi harinya Rin terlihat biasa saja, Rin selalu tersenyum meskipun matanya terlihat sembab.

__ADS_1


"Reiz, seandainya yang ngidam seperti itu Tania aku akan mengajaknya pergi ke Anderson Land saat itu juga. Bahkan kalau perlu, aku akan mengajaknya keliling dunia untuk menikmati berbagai jenis seafood dari berbagai negara." Tomi melangkahkan kaki kembali ke mejanya meninggalkan Reiz yang terdiam.


Suara pesan masuk mengalihkan pandangan Reiz, ia segera membacanya. Pesan dari Rin ternyata.


"Reiz, aku minta maaf soal semalam. Tak seharusnya aku memaksamu untuk menemaniku. Sekarang aku sedang di restroran seafood di jalan walter. Dan sekali lagi aku minta maaf karena sudah pergi tanpa meminta izin dulu padamu." Tulis Rin dalam pesannya.


Reiz kembali meletakan ponselnya di atas meja, tanpa membalas pesannya. Rin ternyata benar-benar menginginkan makanan seafood, ia bahkan sampai nekat pergi sendiri.


Dan seharusnya ia yang minta maaf karena tak mau menemani Rin, kenapa jadi Rin yang minta maaf padanya?


**********


Satu jam berlalu, Reiz tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Ia terus saja memikirkan Rin. Merasa bersalah pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Reiz meraih kembali ponselnya, mencoba menghubungi Rin.


Sudah dua kali Reiz mencoba menghubungi Rin tapi tak di angkat, membuat pria itu semakin khawatir. Dan itu tak luput dari perhatian Tomi


"Ada apa, Reiz?" Tanyanya.


"Rinata pergi ke restoran seafood sendiri."


"Maksudmu, restoran yang di jalan walter?" Tanya Tomi lagi, Reiz menganggukkan kepalanya.


"Kau lihatkan, apa kataku? Keinginan ngidam wanita hamil itu kadang tak bisa di tahan. Rinata pasti sangat menginginkannya, makanya dia nekat pergi sendiri."


"Sebaiknya kau jemput istrimu sekarang." Lanjut Tomi.


"Aku ingin menanyakan keberadaannya, ini sudah satu jam sejak Rinata memberitahuku. Tapi Rinata tak mengangkat teleponku." Jelas Reiz.


"Rinata pasti marah padamu." Ledek Tomi.


"Marah? Kalau marah ia tak akan memberitahuku ia pergi ke restoran itu." Balas Reiz. Lelaki itu bangkit dari duduknya, sambil terus mencoba menghubungi istrinya. Dan akhirnya panggilan itu terhubung.


"Halo Rin, kau dimana?" Tanya Reiz cepat.


"Apa anda keluarga pemilik ponsel ini?" Suara asing terdengar menjawab panggilan itu membuat Reiz mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Siapa ini? Aku suami pemilik ponsel ini." Jawab Reiz, perasaannya semakin tak tenang.


__ADS_2