Reiz And Rin

Reiz And Rin
Bulan madu


__ADS_3

Sementara Rin hanya menundukkan wajahnya yang merona. Kenapa juga malah membahas hal seperti ini di meja makan?


"Dad..." belum sempat Reiz menjawab, Tomi sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Pasti lancar Dad, lihat saja Rinata sampai kesulitan berjalan seperti itu." Jawab Tomi di iringi tawanya yang sangat menyebalkan. Reiz melirik tajam kearah Tomi.


"Itu baru anakku." Ujar Tuan Mark dengan bangga.


"Reiz ternyata kau pria normal. Apa kau tau? Aku sempat berfikir kalau kau tidak normal, karena kau tak pernah mau dekat dengan wanita." Tawa Tania seketika pecah. Reiz hanya menatap pasangan suami istri itu dengan datarnya. Kenapa mereka berdua selalu saja menyebalkan?


"Sudah-sudah, jangan di bahas terus. Kasihan Reiz dan Rin. Lihat itu wajah Rin sudah memerah begitu, ayo kita lanjutkan sarapannya." Nyonya Tyas mencoba menengahi.


**********


"Setelah ini kalian bersiap-siap." Ucap Tuan Mark ketika selesai sarapan, mereka masih berkumpul di meja makan.


"Bersiap-siap kemana Dad?" Tanya Reiz


"Tentu saja berbulan madu." Sambar Tomi.


"Bulan madu?" Reiz mengerutkan keningnya.


"Ya bulan madu, kalian kan baru menikah. Dan Tomi juga ingin melanjutkan kembali bulan madunya yang tertunda." Jelas Tuan Mark.


"Itu tidak perlu, Dad." Tolak Reiz.


"Tidak perlu? Reiz kau baru saja menikah jadi sebaiknya kau menghabiskan waktu mu untuk istrimu dulu."


"Tapi Dad, jika aku dan Tuan Tomi pergi bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Reiz yang sebenarnya enggan untuk pergi.


"Reiz, lupakanlah sejenak tentang perusahaan. Kau baru saja menikah, luangkan waktu untukmu dan istrimu dulu." Jawab Nyonya Tyas sambil tersenyum kearah Rin yang sedari hanya diam menyimak percakapan meraka.


"Tapi..." Reiz masih berusaha untuk menolak.


"Reiz, perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena kalian tinggal selama dua minggu. Lagi pula ada Mommy dan Daddy yang akan mengurusnya selama kalian pergi." Jawab Nyonya Tyas lagi.

__ADS_1


"Mommy dan Daddy?" Tanya Reiz lagi.


"Ya Reiz. Mommy dan Daddy yang akan mengurusnya. Jadi kau nikmatilah waktu liburanmu dengan istrimu. Lagi pula selama ini kau jarang sekali mengambil cuti atau liburan. Kalian akan berangkat jam 10 nanti, Daddy sudah menyiapkan pesawatnya." Ucap Tuan Mark yang tak terbantahkan lagi oleh Reiz.


Reiz membuang nafas berat, ia sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya liburan. Selama ini juga ia sudah sering keluar negri ataupun keluar kota untuk menangani perusahaan. Jadi untuk apa liburan? Bagi Reiz, liburan tak ada artinya, hanya membuang-buang waktu saja.


"Sudahlah Reiz tak perlu cemberut begitu." Ujar Tania yang melihat Reiz terdiam. Sementara itu Rin hanya menundukan wajahnya, pikirannya berkecamuk. Apa Reiz tak ingin pergi dan menghabiskan waktu berdua dengannya?


Rin menghembuskan nafas pelan, seandainya ia berani menolak permintaan Tuan Mark dan Nyonya Tyas ia pasti juga akan menolaknya. Apa gunanya pergi berbulan madu tapi suaminya tak menginginkannya?


**********


Mereka berenam tiba di bandara pribadi milik keluarga Anderson. Rin begitu terpana, melihat ada beberapa pesawat pribadi yang terparkir di sana. Sekaya apa sebenarnya keluarga Anderson? Sepertinya harta mereka tak akan ada habisnya.


Tapi rasanya itu semua tak penting bagi Rin, karena yang ia butuhkan hanya Reiz untuk selalu ada di sampingnya.


"Kalian hati-hati di jalan." Tuan Mark dan Nyonya Tyas mengantar kepergian kedua anak mereka beserta istrinya.


"Ingat, Mommy ingin secepatnya kalian memberi kabar bahagia untuk kami." Ujar Nyonya Tyas.


"Berusaha untuk apa?" Reiz mengerutkan keningnya, tak mengerti arah pembicaraan mereka, membuat Tomi menepuk dahinya sendiri.


"Tentu saja membuat anak, Reiz." Jawab Tomi.


"Kau pikir kita berbulan madu untuk apa kalau tidak untuk membuat anak? Mommy dan Daddy kan ingin secepatnya memiliki cucu dari kita." Sambungnya dengan kata-kata tanpa saringan.


Reiz membulatkan matanya, mendengar jawaban frontal Tomi. Sementara Tania hanya menahan tawanya dan Rin menundukkan wajahnya yang merona.


"Sudah-sudah sebaiknya kalian segera berangkat." Nyonya Tyas kembali menengahi perdebatan kecil itu.


"Bye Mom, bye Dad...'' Ucap Reiz, Rin, Tomi dan Tania serempak.


"Bye.... Hati-hati di jalan." Tuan Mark dan istrinya melambaikan tangan melepas kepergian anak-anak mereka.


"Hm... Anak-anak kita akan berbulan madu, apa sebaiknya kita berbulan madu juga?" Goda Tuan Mark pada istrinya.

__ADS_1


"Jangan genit, ingat umur sayang...." Nyonya Tyas tersenyum menggeleng.


"Walaupun aku sudah berumur tapi aku masih sanggup bermain lama, sayang." Jawab Tuan Mark membuat Nyonya Tyas tertawa.


"Oke kita buktikan, kita kembali ke hotel sekarang." Nyonya Tyas mengedipkan sebelah matanya.


"Siap... Aku juga butuh asupan sebelum kembali ke perusahaan besok." Lalu keduanya pun tertawa.


Beginilah Tuan Mark dan Nyonya Tyas jika sedang tidak bersama dengan anak-anak mereka. Selalu menggoda satu sama lain, dan mereka akan berubah tegas jika di depan Tomi dan Reiz.


**********


Di dalam pesawat, Rin duduk berhadapan dengan Reiz sementara Tania duduk berhadapan dengan Tomi. Mereka duduk bersebrangan.


"Pemandangannya indah sekali..." Ucap Rin. Reiz yang ada di depannya hanya diam saja sambil memandang keluar jendela seperti Rin.


"Baby, kemarilah." Pinta Tomi kepada istrinya. Dengan senang hati Tania menurutinya. Ia duduk di pangkuan Tomi dan mengalungkan tangannya ke leher Tomi, dan Tomi mendaratkan wajahnya di dada Tania.


"I love you." Ucap Tomi sambil terus menenggelamkan wajahnya.


"I love you too." Balas Tania seraya mengecup kening Tomi.


Rin tercengang melihat adegan romantis di depannya. Reiz yang melilhat istrinya terdiam, mengikuti arah pandangannya.


Di lihatnya Tomi dan Tania sedang berpelukan mesra, Reiz segera membuang pandangannya ke arah jendela. Rin pun melakukan hal yang sama.


"Bisa-bisanya mereka beradegan mesra seperti itu di depan Rin." Batin Reiz. Mungkin sudah biasa bagi Reiz melihat adegan mesra seperti itu, tapi Rin? Bukankah Rin anggota baru keluarga mereka? Apa yang ada di pikiran Rin nanti?


"Hei kalian, apa kalian tak ingin seperti kami juga?" Suara Tomi memecah keheningan antara Rin dan Reiz. Keduanya menoleh ke arah Tomi.


"Reiz, kau jangan terlalu dingin pada istrimu." Sambung Tania yang masih duduk di pangkuan Tomi.


"Baby, Reiz mungkin hanya akan panas jika di tempat tidur bersama Rin." Ucapan Tomi membuat Rin tersedak udara, panas bagaimana? Semalam bahkan Reiz melakukannya dengan kaku dan bahkan hampir berhenti di tengah jalan. Sedangkan Reiz hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan bosnya itu.


********

__ADS_1


Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama tiga jam pesawat mereka mendarat di tempat tujuan. Lagi-lagi Rin di buat terpana. Sebuah pulau pribadi milik Anderson Grup lengkap dengan landasan pribadi dan juga beberapa resort.


__ADS_2