Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku hanya iri


__ADS_3

"Oh, iya. Aku lupa, aku mau membeli makanan untuk Reiz sebentar. Kak Edra, Kak Gwen aku titip suamiku dulu ya?"


"Aku bukan anak kecil yang harus di titipkan." Jawab Reiz.


"Tapi sekarang kau manja seperti anak kecil." Ujar Rin.


"Kau mau membeli makanan?" Tanya Edra.


"Iya Kak Edra. Reiz tidak mau makan makanan rumah sakit." Jawab Rin sambil menunjuk semangkuk bubur yang masih utuh itu.


"Makanan itu membuatku mual." Timpal Reiz.


"Biar aku saja yang beli, kau di sini saja." Edra menawarkan diri.


"Bolehkah?" Tanya Rin.


"Tentu saja. Reiz, kau ingin makan apa?" Tanya Edra, Reiz terlihat berfikir sejenak.


"Aku ingin salad buah." Jawabnya kemudian.


"Salad buah? Ya sudah aku belikan."


"Terima kasih Kak Edra." Ucap Rin dan Reiz bersamaan.


* * * * *


Mansion Anderson


Dua bulan berlalu...


Tania Sharen, wanita cantik berusia dua puluh lima tahun itu terlihat berdiri melamun di balkon kamarnya. Tatapannya kosong.


Belakangan ini, dirinya lebih sering melamun. Memikirkan dirinya yang tak kunjung hamil. Sedangkan Rin sudah dua kali hamil dan Gwen yang belum lama menikah dengan Edra juga sudah hamil.


Bagaimana kalau keluarga Anderson kecewa padanya? Dan Tomi meninggalkan? Pikiran buruk itu selalu terlintas di benaknya.


Sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya, menyadarkannya dari lamunan.


"Baby, ada apa dengamu? Kenapa belakangan ini kau sering sekali melamun?" Tanya Tomi sambil menyandarkan dagunya di bahu sang istri.


Tania hanya menggeleng pelan.


"Baby?"


"Aku tidak apa-apa, Tom." Jawabnya.


"Jangan bohong padaku." Tomi melepaskan pelukannya, memutar tubuh Tania menghadap ke arahnya.


"Kenapa?"


"Aku... Aku hanya iri pada Rinata dan juga Gwen." Lirih Tania. Tomi menghela napas panjang, ia sudah tahu maksud istrinya.


"Baby, bukankah sudah ku katakan jangan pikirkan tentang hal itu?'' Tomi menyelipkan beberapa anak rambut Tania.


"Aku hanya iri saja. Bahkan Gwen yang belum lama menikah dengan Edra sudah hamil. Sedangkan aku?" Tatapan Tania terlihat sendu.


"Tania..."

__ADS_1


"Aku... Aku hanya takut mengecewakan Mommy dan Daddy. Dan juga dirimu. Bagaimana kalau nyatanya aku tidak bisa hamil?" Tanya Tania yang terdengar putus asa.


"Tania, kenapa kau malah berfikiran seperti itu?" Tomi memegang wajah Tania dengan sebelah tangannya.


"Aku hanya takut saja." Tania menepis pelan tangan Tomi di wajahnya. Maju selangkah membelakangi suaminya.


"Aku takut kau kecewa padaku, dan akhirnya kau meninggalkan ku." Lanjutnya.


"Hei, buang jauh-jauh pikiran itu. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku meninggalkan mu." Tomi kembali memeluknya dari belakang.


"Walaupun aku belum bisa mengandung anakmu?" Tania menatap kosong ke depan.


"Tania, mau kau cepat hamil atau tidak. Ataupun kau sama sekali tidak bisa hamil sekalipun, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Tomi mengeratkan pelukannya.


"Karena aku sangat mencintaimu. Kau istriku, satu-satunya wanita yang mampu menaklukkan hatiku."


Tomi mengecup pucuk kepala Tania berkali-kali.


"Sudah, jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Sebaiknya sekarang kita bersiap, besok pagi kita harus berangkat."


Tania menghembusakan nafas berat, sambil tersenyum tipis.


"Ya kau benar, aku bahkan belum menyiapkan apapun. Apa yang ingin kau bawa?" Tanya Tania.


"Kita berkemas bersama saja." Jawab Tomi.


* * * * *


Anderson Land


"Akhirnya aku bisa kemari lagi..." Rin terlihat begitu gembira bisa menginjakkan kakinya kembali di Anderson Land.


Kemarin Tuan Mark dan Nyonya Tyas meminta para anak-anak mereka untuk berlibur. Dan dengan senang hati mereka menurutinya.


"Rin, ayo kita ke kamar." Ajak Reiz.


"Kita baru sampai, tapi kau sudah mau ke kamar saja." Celetuk Tomi.


"Kepalaku pusing, Tuan." Jawab Reiz singkat.


"Jangan panggil aku Tuan." Protes Tomi.


"Karena kau menyebalkan." Balas Reiz.


"Kenapa kau selalu mengganggu adikku?" Edra membela Reiz. Edra dan Gwen ikut serta dengan mereka.


"Sudah Reiz, sebaiknya kau istirahat saja. Jangan dengarkan dia." Sambungnya.


"Iya, Kak."


Tomi menatap sinis pada kakak beradik itu. Ketiganya selalu saja ribut jika bertemu. Atau lebih tepatnya Tomi yang selalu memancing keributan di antara mereka.


"Jangan menatapku seperti itu." Tukas Edra.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan." Sinis Tomi. Sedangkan para istri mereka hanya bisa membuang nafas berat melihat perdebatan suami mereka yang tak penting itu.


Selama perjalanan tadi Reiz menahan pusing dan mual yang kembali melandanya.

__ADS_1


Padahal usia kandungan Rin sudah jalan empat bulan, tapi sindrom kehamilan simpatik yang di alami Reiz belum juga berkurang apalagi hilang.


Untungnya Rin selalu bersabar untuk melayaninya. Reiz yang dingin kini berubah menjadi suami yang sangat manja.


*


Reiz langsung masuk ke kamar mandi begitu sampai di kamar mereka.


"Reiz, kau mual lagi?" Tanya Rin sambil memijat leher belakang suaminya.


Reiz memejamkan matanya sejenak, melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat.


"Istirahatlah." Ucap Rin. Reiz hanya mengangguk pelan. Berjalan menuju tempat tidur.


"Kemari lah, temani aku." Reiz menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Rin membaringkan tubuhnya di samping Reiz. Reiz memeluknya erat, sambil menenggelamkan wajahnya di dada istrinya. Rin mengusap lembut rambut Reiz. Tak perlu menunggu lama, pria itu tertidur.


Rin merenganggkan pelukannya. Di pandanginya wajah Reiz.


"Sudah tidur?" Rin mengecup singkat kening suaminya. Memorinya berputar, mengingat masa lalu.


"Dulu kita pernah dalam posisi seperti ini di kamar ini. Tapi kau dulu masih begitu dingin padaku. Dan sekarang, semuanya telah berubah. Kita telah saling mencintai dan kau menjadi sangat manja."


Rin tersenyum, kembali ia mengecup singkat kening dan pindah pada bibir suaminya.


"Nyonya Rinata, jangan menggodaku. Aku mengantuk." Terdengar gumaman dari bibir itu. Rin membulatkan matanya.


"Aku tidak menggodamu." Sangkal Rin.


"Lalu kenapa kau menciumku?" Tanya Reiz masih dengan mata tertutup.


"Eh itu..."


"Kalau kau menginginkannya, katakan saja." Sela Reiz. Terselip senyum miring di bibirnya.


"Hei, aku tak seperti itu." Sangkal Rin lagi.


"Benarkah? Ya sudah kalau begitu, temani aku tidur dan jangan kemana-mana." Reiz mengeratkan pelukannya.


"Iya, Tuan Frozen." Jawab Rin.


"Jangan memanggil ku seperti itu."


"Tapi panggilan itu cocok denganmu." Rin tertawa kecil. Reiz membuka matanya, di lihatnya Rin yang masih tertawa. Dengan cepat ia membalikkan badannya. Posisinya kini di atas Rin.


"Reiz..." Tawa Rin terhenti.


"Sudah ku bilang jangan memanggilku Tuan Frozen, tapi kau malah tertawa." Ucap Reiz dengan datarnya.


"Aku akan menghukum mu untuk itu." Seringai tipis itu nampak di bibir Reiz.


"Reiz, kau bilang tadi mengantuk?"


"Ya itu tadi. Sekarang sudah tidak lagi karena kau mengganggu ku."


"Aku tidak..." Ucapan Rin terhenti karena Reiz telah lebih dulu membungkam bibirnya dengan kecupan. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2