Reiz And Rin

Reiz And Rin
Ada apa dengan istrimu?


__ADS_3

"Aku tidak..." Ucapan Rin terhenti karena Reiz telah lebih dulu membungkam bibirnya dengan kecupan. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


Selimut tebal membalut tubuh polos keduanya. Seperti biasa, Reiz memeluk Rin dari belakang setelah keduanya selesai memadu kasih.


"Bagaimana dengannya? Apa junior kita baik-baik saja?" Tanya Reiz sambil mengusap lembut perut Rin yang sudah nampak sedikit membuncit.


"Ya, dia baik-baik saja." Jawab Rin.


"Kira-kira dia lelaki atau perempuan ya?" Tanya Reiz lagi.


"Kau maunya apa?" Rin balik bertanya.


"Apa saja, yang penting wajahnya mirip denganku." Jawab Reiz sekenanya. Rin membalikkan badan, menatap tajam pada suaminya.


"Aku yang mengandung dan melahirkannya, tentu saja harus mirip denganku." Protes Rin tak terima.


"Tapi benihnya berasal dariku. Jadi pasti mirip denganku." Reiz tak mau kalah.


"Aku tidak mau anakku seperti mu." Tukas Rin.


"Memangnya aku kenapa?" Reiz menautkan kedua alisnya.


"Kau kaku dan datar, aku tak mau anakku sepertimu." Jawab Rin.


"Kau juga cuma bicara satu atau dua kata saja, aku tak mau anakku seperti itu. Aku ingin anakku banyak bicara supaya dia bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan." Sambungnya, membuat wajah Reiz seketika berubah.


"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku." Ucap Reiz dengan datarnya, lalu memejamkan matanya.


"Hahaha..." Tawa Rin pecah seketika melihat suaminya yang merajuk.


"Lihat? Aku benar kan?" Tanya Rin di sela tawanya.


"Berisik." Ketus Reiz masih dengan mata terpejam.


* * *


Malam harinya.


"Wah... Makanannya nampak lezat..." Gwen memandang berbagai hidangan yang terhidang di atas meja yang begitu menggugah selera.


"Makanlah yang banyak Kak Gwen. Tak perlu malu." Rin mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi, Reiz duduk di sebelahnya.


"Tentu saja." Jawab Gwen.


Semua orang mengambil porsi makanannya masing-masing. Tania diam, ia memperhatikan Reiz yang nampak sedang memotong-motong makanannya.


"Reiz, makananmu sepertinya enak?" Tanya Tania. Menghentikan gerakan tangan Reiz yang baru saja hendak menyuapkan sepotong daging steak ke mulutnya.


"Baby, kau ingin makanan seperti punya Reiz? Biar aku pesankan." Ujar Tomi.


"Tidak, tidak, aku... Aku ingin makanan yang punya Reiz saja." Tolak Tania. Tomi dan Reiz saling melirik.

__ADS_1


"Nona, sebaiknya pesan yang baru saja. Steak ini sudah ku potong-potong." Reiz menunjukkan piringnya, nampak daging yang memang sudah terpotong.


"Tapi, tapi aku ingin yang ada di piring mu." Ucap Tania dengan suara yang terdengar bergetar. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca.


"Baby, kau kenapa?" Tanya Tomi heran, istrinya sudah hampir menangis.


"Aku ingin makanan itu!" Seru Tania sambil menunjuk piring milik Reiz. Membuat orang-orang di meja makan itu terkejut.


"Reiz, sudah berikan saja." Ucap Rin, ia mengambil alih piring Reiz dan memberikannya pada Tania.


"Tapi..." Reiz hendak protes.


"Terima kasih, Reiz. Terima kasih Rinata." Tania tersenyum lebar. Dengan cepat Tania menyambarnya. Reiz hanya menatap datar makanan yang kini di tengah di nikmati Tania.


"Aku pesankan yang baru ya?" Rin bangun dari kursinya.


"Tidak perlu, biar aku sendiri saja." Cegah Reiz.


Sementara Edra dan Gwen hanya menjadi penonton saja, sambil menikmati makanannya masing-masing.


Setelah makan malam para pria menikmati angin malam bersama. Sedangkan istri mereka berada di kamar Gwen.


"Ada apa dengan istrimu?" Reiz membuka pembicaraan. Ketiganya sedang duduk di pinggir pantai.


"Aku juga tak tahu. Baru pertama kali aku melihatnya seperti itu." Jawab Tomi sambil mengangkat bahunya.


"Mungkin Tania memang sedang ingin makan steak." Sambung Edra.


"Belakangan ini Tania sering melamun." Ucap Tomi.


"Melamun?" Tanya Edra.


"Ya, Tania merasa sedih karena ia belum juga hamil. Apalagi melihat Rinata dan Gwen yang sudah hamil." Tomi membuang nafas berat.


"Kalau istrimu sedih, kau seharusnya menghiburnya." Ujar Edra.


"Aku selalu melakukannya, tapi tetap saja Tania selalu merasa sedih jika mengingat hal itu."


"Bersabarlah, kalau sudah waktunya pasti Tuhan akan memberikan kepercayaan itu pada kalian." Reiz menepuk bahu Tomi, memberi semangat.


"Makanya, jangan terlalu sering membuatnya, jadinya malah tidak jadi." Celetuk Edra.


"Hei, akhir-akhir ini kami jarang melakukannya. Tania lebih banyak menolak ketika aku memintanya." Wajah Tomi mendadak sedih. Tapi Edra malah tertawa.


"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya tomi, menatap tajam pada Edra.


"Memangnya kenapa? Apa aku tak boleh tertawa?" Edra balik bertanya.


"Aku sedang sedih, jangan tertawa." Seru Tomi.


"Aku baru tahu, ternyata kau bisa sedih juga." Ucap Edra sarkastik. Keduanya saling menatap tajam.

__ADS_1


"Hei, kenapa kalian berdua malah ribut?" Reiz yang duduk di antara mereka berdua, kini menjadi penengah.


"Dia yang lebih dulu mentertawakan aku." Tomi menunjuk Edra.


"Kau yang aneh, melarang orang untuk tertawa." Edra tak mau kalah.


"Tapi aku sedang sedih, kau seharusnya menghiburku." Balas Tomi.


"Sebenarnya yang sedih itu, kau atau istrimu?" Tanya Edra membuat Tomi emosi.


"Edra...." Geram Tomi. Lelaki itu bangkit dari duduknya. Kemudian mendorong Edra, keduanya jatuh dan berguling di atas pasir pantai. Reiz hanya menatap datar kedua kakaknya, tanpa berniat memisahkan mereka berdua.


"Kenapa kau begitu menyebalkan?" Seru Tomi.


"Kau yang menyebalkan." Balas Edra. Keduanya masih terduduk di atas pasir dengan baju yang sudah berantakan dan berpasir.


Reiz beranjak bangun dan berlalu begitu saja meninggalkan dua orang itu.


"Hei Reiz, kau mau kemana?" Seru Tomi.


"Kamar, kalian lanjutkan saja kegiatan kalian berdua." Reiz meneruskan langkahnya.


"Kau itu seharusnya memisahkan kami, bukan malah meninggalkan kami." Seru Tomi lagi. Reiz menghentikan langkahnya, menatap datar pada meraka.


"Aku malas." Jawabnya singkat. Tanpa di duga Tomi malah menarik lengan Reiz dan keduanya terjatuh.


"Apa yang kau lakukan?'' Protes Reiz.


"Kalau pakaian kami penuh pasir, kau juga harus sama."


Reiz membelalakkan matanya, di lihatnya Edra yang sudah datang mendekat.


* * * * *


Sementara itu di kamar Gwen, mereka bertiga sedang menonton film drama romantis bersama. Sambil menikmati cemilan. Kedua ibu hamil itu tak berhenti mengunyah sejak tadi.


"Kalian lihat itu, pemeran pria nya sangat romantis. Memperlakukan wanitanya dengan sangat manis." Ujar Rin sambil menyuapkan popcorn ke dalam mulutnya.


"Ya kau benar, dan untungnya suamiku juga seperti itu." Jawab Gwen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar besar itu.


"Ya, suamiku juga sama." Tambah Tania. Rin menautkan kedua alisnya.


"Kenapa kalian malah bawa-bawa suami?" Tanya Rin .


"Karena suami kami romantis." Jawab Tania dan Gwen bersamaan. Rin hanya menatap datar keduanya.


"Hei lihat, sepertinya tatapan datar Reiz sudah menular pada Rin." Ucap Tania.


"Ya, kau benar." Timpal Gwen.


"Kalian menyebalkan." Rin mengerucutkan bibirnya. Tania dan Gwen malah tertawa melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2