Reiz And Rin

Reiz And Rin
Hamil?


__ADS_3

Edra duduk di depan ruangan tempat Rin di rawat. Tadi saat di pemakaman tanpa sengaja ia melihat Rin yang hampir terjatuh, Edra segera menolongnya. Dan ternyata Rin pingsan, akhirnya Edra memutuskan membawa Rin ke rumah sakit terdekat.


Pandangan Edra lurus ke depan, ia teringat ucapan dokter tadi.


"Selamat Tuan, istri anda sedang hamil. Usia kandungannya lima minggu. Saya harap anda bisa lebih memperhatikan istri anda, karena usia kandungannya yang masih sangat rentan." Jelas dokter tersebut yang mengira Edra adalah suami dari Rin.


Edra hanya mematung mendengar penjelasan dokter.


Rinata hamil? Siapa yang menghamilinya? Ia memang sempat akan melakukan hal itu pada Rinata, tapi tidak jadi karena gadis itu berhasil melarikan diri karena di tolong oleh Rexy. Dan itu sudah beberapa bulan yang lalu.


Rexy? Apa mungkin ia yang menghamili Rinata?


Ketika sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponsel di dalam tas Rin berdering, di sana tertulis nama Reiz Anderson. Karena Rin yang masih belum sadarkan diri akhirnya Edra yang mengangkat panggilan itu.


Setelah memutus panggilan Reiz, tak lama kemudian Rin tersadar. Perempuan itu nampak mengerjapkan-ngerjapkan  matanya.


Rin terkejut melihat Edra yang duduk di samping tempat tidurnya. Ia segera mendudukkan dirinya, tak bisa di pungkiri ia masih takut jika melihat Edra.


"Kau? Kau mau apa? Di mana aku? Kenapa kau bisa bersamaku?" Ucap Rin dengan suara tertahan. Matanya terlihat berkaca-kaca, ia benar-benar takut terhadap Edra.


"Rinata, kau tenanglah. Aku tak ada maksud jahat padamu. Kau tadi pingsan di pemakaman, aku membawamu kemari. Sekarang kau di rumah sakit." Jelas Edra. Rin masih tampak ketakutan.


"Sebaiknya kau tenangkan dirimu, itu tak baik untuk kandunganmu."


"Apa maksudmu?" Rin memberanikan diri menatap Edra.


"Dokter bilang kau sedang hamil. Kau tunggulah di sini, Reiz sebentar lagi akan datang menjemputmu." Ucap Edra sambil melangkahkan kaki meninggalkan Rin yang diam mematung.


"Hamil? Aku hamil?" Rin seakan tak percaya. Entah harus senang atau sedih Rin tak tahu. Senang karena dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, Daddy Mark dan Mommy Tyas juga pasti akan senang jika mengetahui kehamilannya.


Sedih mengingat sifat dingin Reiz, apa Reiz akan berubah jika tau dirinya hamil? Tapi sepertinya Reiz tak menginginkan anak darinya, mengingat jawaban Reiz waktu itu mengenai bagaimana jika dirinya hamil nanti.


**********


Tak memerlukan waktu lama Reiz tiba di rumah sakit yang di beritahukan Edra. Ia segera menuju kamar Rin setelah sebelumnya bertanya pada petugas di lobby tadi.

__ADS_1


Edra bangun dari duduknya setelah melihat Reiz berjalan mendekat.


"Apa kabar Tuan Rexy William?" Sapa Edra begitu Reiz sampai di hadapannya.


"Tak perlu berbasa-basi Tuan Edra. Mana Rinata? Apa yang kau lakukan padanya hingga ia bisa berada di sini?" Tanya Reiz dengan nada dinginnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan pada Rinata?" Edra balik bertanya membuat Reiz mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?"


"Aku tadi bertemu tanpa sengaja dengannya di pemakaman. Rinata tiba-tiba pingsan jadi aku membawanya kemari." Sambungnya.


"Pingsan?"


"Ya, Rinata tadi tak sadarkan diri, dan kau tahu apa yang dokter katakan? Rinata hamil." Jawab Edra penuh penekanan.


Reiz membulatkan matanya mendengar ucapan Edra.


"Hamil?" Lirih Reiz.


"Apa ini alasan kau menolong Rinata? Berpura-pura baik tapi malah menjadikannya sebagai pemuas nafsumu? Bukankah itu artinya kau sama saja denganku Tuan Rexy?" Edra mengangkat salah satu sudut bibirnya, tersenyum miring. Mata Reiz berkilat marah mendengar ucapan Edra.


"Jaga bicaramu Tuan Edra! Rinata adalah istriku! Aku sudah menikah dengannya!" Bentak Reiz.


"Kau sudah menikah dengan Rinata?" Kini gantian Edra yang terkejut.


"Ya, aku sudah menikah dengannya lebih dari dua bulan yang lalu. Jadi ku harap kau bisa menjaga ucapanmu, Tuan Edra. Terima kasih telah menolong istriku, kau bisa pergi dari sini." Ucap Reiz dengan dinginnya.


"Kau sudah menikah, tapi tak memberitahu ayahmu?" Edra kembali bertanya.


"Dia bukan ayahku lagi. Sebaiknya kau segera pergi dari sini." Reiz menatap dingin pada Edra. Edra menatap sejenak pada Reiz sebelum akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan Reiz.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka berdua.


"Jadi Reiz sudah menikah? Istrinya bernama Rinata? Nama yang tidak asing, dan sekarang wanita itu sedang hamil? Sungguh menarik, bagaimana kalau aku membuat dia merasakan apa yang ku rasakan selama ini?" Seringai misterius nampak di sudut bibinya.

__ADS_1


**********


"Reiz..." Ucap Rin begitu melihat Reiz masuk kedalam ruangannya. Rin menundukkan wajahnya melihat tatapan dingin dari suaminya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya pria itu dengan datarnya.


"Aku... Aku baik-baik saja Reiz." Jawabnya takut. Apa Reiz marah padanya karena telah pergi tanpa meminta izin padanya lebih dulu?


Reiz mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berada di samping Rin.


"Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau ke pergi pemakaman?" Tanya Reiz, lagi-lagi dengan nada datarnya.


"Aku lupa..." Rin memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap Reiz. Di lihatnya lelaki itu masih menatapnya dengan tatapan dinginnya yang membuat Rin seakan membeku.


"Lupa? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Sudah pasti aku yang akan di salahkan oleh Mommy dan Daddy."


Rin yang awalnya merasa senang karena berfikir Reiz mengkhawatirkannya mendadak kecewa.


"Aku pikir Reiz mengkhawatirkanku, tapi ternyata aku salah. Reiz hanya takut di salahkan oleh keluarganya jika terjadi apa-apa denganku." Batin Rin.


"Edra bilang kau hamil? Apa itu benar?" Tanya Reiz lagi.


"Aku tak tahu, aku belum bertemu dokter."


Terdengar Reiz menghela nafas berat, sekarang Rin merasa yakin kalau Reiz tak menginginkan kehamilannya.


**********


Kini keduanya sedang dalam perjalanan pulang, seperti biasa perjalanan mereka di isi dengan kebisuan.


Sebelum pulang tadi, Rin memeriksakan dirinya kembali. Dan benar ternyata kalau ia sedang mengandung. Reiz yang berada di sisinya hanya diam saja, pandangan terfokus pada layar monitor di depannya yang memperlihatkan gambar kantung janin anaknya tanpa berkomentar apapun.


Keduanya masih membisu bahkan sampai tiba di kamar apartemen mereka. Reiz berjalan ke kamar mandi tanpa mengucapkan apapun. Rin menatap punggung lelaki itu dengan tatapan sendu.


"Seorang suami biasanya akan gembira menyambut kehamilan istrinya, tapi kenapa Reiz diam saja? Bukannya ucapan selamat, pelukan, dan kecupan mesra yang ku dapat. Tapi malah tatapan dingin yang ku terima." Lirih Rin dalam hati, mencoba menahan air mata yang siap untuk mengalir.

__ADS_1


Reiz menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi, pikirannya kacau memikirkan sang istri yang tengah hamil.


__ADS_2