
"Ya, karena belakangan ini sikapmu berubah padaku. Aku fikir kau bosan padaku, jadi aku ingin memberi kejutan untukmu. Tapi nyatanya malah aku yang dapat kejutan." Ucap Tomi, lelaki itu tertawa.
"Maaf Tom, kalau sikapku padamu berubah. Dokter bilang mungkin itu pengaruh hormon." Tania merasa bersalah.
"Seharusnya aku yang minta maaf." Tomi meraih Tania ke dalam pelukannya.
"Aku tak bisa menyadari kalau istri ku tengah hamil. Aku malah berfikir yang tidak-tidak. Aku bahkan berfikir kalau kau mulai tertarik pada Reiz, karena selera mu yang mendadak sama dengan Reiz." Tomi mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali. Tapi Tania malah mendorong pelan tubuh suaminya.
"Kau bilang apa?" Tanya Tania, kedua alisnya saling bertaut.
"Aku..." Tomi menyadari sepertinya ia salah bicara.
"Bisa-bisanya kau meragukan ku, Tom! Kau bahkan berfikir aku menyukai Reiz!" Seru Tania. Tomi menelan salivanya, istrinya nampak menyeramkan.
"Baby, maksudku..." Tomi tergagap.
"Kau tidur di sofa!" Seru Tania lagi sambil menunjuk sofa yang ada di kamar mereka.
"Baby, jangan begitu. Aku tidak biasa tidur di sofa." Tomi mencoba membujuk, tapi sepertinya itu tidak akan berpengaruh.
"Tidur di sofa atau tidur di luar?" Tanya Tania sambil bertolak pinggang, jangan lupa tatapan matanya yang seakan mau menelan Tomi hidup-hidup.
"Di sofa saja, Baby. Jangan di luar." Takut-takut Tomi menjawab.
"Ya sudah, sana." Tania melenggang santai ke tempat tidurnya. Sedangkan Tomi melangkah dengan malas ke arah sofa.
"Ternyata benar kata Reiz, Tania akan marah jika tahu aku berfikiran seperti itu." Tomi membuang nafas berat sambil membaringkan tubuhnya di sofa itu.
Tiga bulan berlalu...
Kandungan Rin dan Gwen sudah menginjak usia 7 bulan, sedangkan Tania 4 bulan. Ketiga ibu hamil itu tak jarang menghabiskan waktu bersama dengan berbelanja. Gwen dan Rin sudah mulai mempersiapkan kebutuhan untuk bayi mereka.
Para suami mereka pun semakin semangat bekerja demi istri dan calon anaknya. Walaupun kenyataannnya mereka sudah kaya raya.
Dan akhirnya syndron kehamilan simpatik yang di derita Reiz sudah mulai menghilang, kini giliran Rin yang manja padanya. Dan klai ini tentu dengan senang hati Reiz menuruti semua keinginan Rin.
*****
Anderson Grup
Reiz membaca email yang baru masuk, email laporan dari salah satu cabang perusahaan di luar kota.
"Bagaimana bisa?" Reiz mengulang membaca email itu kembali.
"Ada apa Reiz?" Tanya Tomi.
"Ada masalah di salah satu cabang perusahaan kita di luar kota." Jawab Reiz.
"Masalah? Masalah apa?"
__ADS_1
"Para karyawan di sana menuntut untuk naik gaji."
"Naik gaji? Apa tidak salah?" Tomi mengerutkan keningnya. Setahunya gaji di setiap perusahaan Anderson selalu yang tertinggi di banding yang lainnya walaupun perusahaan itu ada di luar kota sekalipun.
"Tidak Tuan. Sepertinya ada oknum yang sengaja mengurangi gaji karyawan."
"Apa? Berani sekali dia." Geram Tomi.
"Sepertinya besok aku harus ke sana. Aku akan mengeceknya sendiri." Ucap Reiz.
"Kau mau keluar kota?" Tanya Tomi.
"Ya. Aku harus mengurus ini." Jawab Reiz.
*
"Siapa yang berani berbuat seperti ini?" Tanya Tuan Mark begitu selesai membaca laporan yang di berikan Reiz. Lelaki paruh baya itu terlihat kesal.
Mereka bertiga kini sudah berada di ruang kerja Tuan Mark.
"Aku sudah mendapat informasi tentang siapa yang melakukan itu, Dad. Dan aku akan segera mengurusnya." Reiz kembali merapikan berkas-berkas itu.
"Jadi kau besok akan pergi?" Tanya Tuan Mark pada Reiz.
"Ya Dad, seperti biasa. Aku yang pergi dan Tomi yang mengurus perusahaan di sini." Jawab Reiz, sebagai penanggung jawab perusahaan itu sudah biasa Reiz mengurus masalah yang terjadi di perusahaan itu.
"Hati-hati lah Reiz. Apa kau akan membawa beberapa orang dari sini?" Tanya Tuan Mark lagi.
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa yang terjadi segera hubungi Daddy atau Tomi."
"Tentu, Dad."
"Apa kau sudah bilang pada Rinata?" Tanya Tomi.
"Belum." Jawab Reiz.
"Apa Rinata akan mengizinkanmu pergi?" Tanya Tomi ragu, setahunya kini Rin sedang manja terhadap asistennya tersebut.
"Rinata pasti mengizinkanku. Ini tak akan memakan waktu lama, mungkin sekitar tiga hari." Jawab Reiz.
"Kau kan tahu sendiri, istrimu sedang manja belakangan ini." Ujar Tomi lagi.
"Tapi ku yakin Rinata akan mengerti."
"Ya sudah, sebaiknya kita makan malam dulu. Ini sudah waktunya makan malam." Tuan mark menutup pembicaraan.
"Iya, Dad." Jawab Reiz dan Tomi serentak.
*
__ADS_1
Selesai makan malam para suami istri itu kembali ke kamar masing-masing.
"Rinata, besok aku akan pergi." Ucap Reiz begitu memasuki kamar mereka.
"Pergi? Pergi ke mana?" Tanya Rin.
"Salah satu cabang perusahaan yang di luar kota sedang mengalami masalah. Dan aku harus ke sana untuk menyelesaikannya." Reiz menjelaskan.
"Apa akan lama?" Wajah Rin berubah sendu.
"Hei, jangan pasang wajah sedih seperti itu. Ini tidak akan lama, mungkin sekitar tiga hari."
"Tiga hari? Kenapa lama sekali?" Rin menggerutu. Reiz memeluknya dari belakang.
"Rinata, aku hanya akan pergi selama tiga hari." Reiz mengecup singkat tengkuk istrinya.
"Tapi aku tak bisa tidur tanpa dirimu." Ucap Rin manja. Reiz mengeratkan pelukannya.
"Hanya tiga hari. Kalau bisa, aku akan pulang lebih cepat."
Rin membalikkan badannya, keduanya saling memandang. Dan wajah yang perlahan mendekat. Kedua bibir itu menyatu dengan lembut.
Reiz dan Rin melepas tautan bibir mereka. Reiz menatap sang istri yang semakin hari semakin berisi saja apalagi perutnya yang makin membulat. Membuat Rin nampak semakin menggemaskan.
"Kau tahu, semakin hari kau semakin cantik saja." Reiz menyentuh lembut pipi chubby Rin. Namun, bukannya senang mendapat pujian, Rin malah menatap suaminya dengan heran.
"Kau sedang memuji atau merayuku?" Tanya Rin.
"Aku bukan perayu." Jawab Reiz. Tapi kemudian Rin malah tertawa.
"Kau tahu, kau sama sekali tak pandai merayu..." Ucap Rin di antara tawanya.
"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Reiz dengan datarnya.
Buyar sudah momen mesra di antara mereka.
"Sudah ku bilang, aku bukan perayu. Jadi wajar jika aku tak pandai dalam merayu wanita." Reiz terlihat kesal, ia memilih membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Aku tahu kau bukan perayu. Tapi justru itu yang membuat aku suka padamu." Kini giliran Rin yang memeluknya dari belakang.
"Kau tahu Reiz, wajah datar mu itu yang membuatku tergila-gila padamu. Apalagi tatapan dingin mu, yang selalu membuatku membeku. Aku mencintaimu, sangat."
Rin menghujani bahu Reiz dengan kecupannya. Reiz membalikkan badannya.
"Kenapa kau begitu menyebalkan?" Tanya Reiz. Tapi kemudian ia menghujani wajah Rin dengan kecupan lembut.
"Besok kau akan pergi selama tiga hari, jadi... Ayo kita habiskan malam ini bersama." Ucap Rin dengan tatapan nakalnya.
Sudah mau masuk konflik akhir ya...
__ADS_1
Oh ya, kalian mau Sad Ending atau Happy Ending nih...??
Tapi kayaknya kalau Sad Ending lebih di kenang para readers deh 😉