Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku benci Daddy


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit.


"Sayang, Mommy senang sekali kau sudah sadar." Ujar Nyonya Tyas kini berada di rumah sakit menemani Rin.


"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" Lanjutnya seraya mengusap pelan rambut menantunya.


"Aku baik-baik saja, Mom..." Jawab Rin yang masih terlihat lemah.


"Ada apa sayang?" Tanya Nyonya Tyas yang melihat kesedihan di matanya.


"Mom, maafkan aku... Aku tak bisa menjaga calon cucu Mom...." Lirih Rin.


"Sayang, jangan pikirkan soal itu. Kau sudah sadar dari koma pun, kami sudah sangat senang." Nyonya Tyas meraih Rin dalam pelukannya. Sesaat kemudian terdengar isakan dari Rin.


"Andai saja aku tak egois waktu itu, mungkin aku tak akan kehilangannya." Lirih Rin dalam tangisnya.


"Sayang, tenanglah. Semua ini bukan salahmu, semuanya sudah takdir." Nyonya Tyas mencoba menghibur, walaupun sebenarnya ia juga sedih kehilangan calon cucu pertamanya.


"Jangan menangis lagi." Nyonya Tyas menghapus air mata Rin yang mengalir.


"Mom, dimana Reiz?" Tanya Rin sesaat setelah melerai pelukannya.


"Reiz masih di kantor, sayang."


"Apa Reiz tak pernah kemari, Mom?" Tanya Rin. Raut wajah Nyonya Tyas seketika terlihat bingung.


"Itu..."


"Tak apa Mom, tak perlu di jawab. Aku sudah tahu." Rin tersenyum pahit.


"Rinata, setelah keadaanmu membaik, kau tinggal bersama Mommy saja ya." Nyonya Tyas menggenggam tangannya, seolah memberi semangat.


"Jangan pikirkan Reiz dulu, fokuslah pada kesembuhanmu Rin."


Rin hanya mengangguk lemah, rasanya benar-benar sakit. Ia sudah kehilangan anaknya dan juga sikap suaminya yang ternyata masih sama, tak pernah peduli padanya.


**********


Rumah Keluarga William.


"Dad, bagaimana keadaan Rexy?"  Tanya Edra.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja." Jawab Tuan Drake.


"Benarkah? Syukurlah kalau dia baik-baik saja." Edra menghembusakan nafas lega. Beberapa hari ini ia terus saja memikirkan keadaan adiknya itu, setelah mengetahui kalau Rin mengalami kecelakaan dan koma. Dan juga mengetahui tentang orang tua angkatnya yang melarangnya menemui Rin.


"Daddy ke kamar dulu."


"Iya Dad."


Edra melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar di rumah itu, kamar lama Reiz tepatnya. Di pandanginya kamar yang masih sangat terawat itu walaupun pemiliknya sudah pergi belasan tahun yang lalu dan tak pernah kembali.


Barang-barang yang masih tersusun rapi tak ada satu pun yang kurang ataupun berubah tempatnya.


"Rexy, kapan kau akan bisa menerimaku sebagai Kakak mu?"


Edra menghembuskan nafas panjang mengingat saat pertama kali ia datang ke rumah itu, Rexy kecil menyambutnya dengan wajah yang tidak bersahabat, padahal ia ingin sekali dekat dengan adiknya itu.


Edra sangat senang saat ayahnya memberitahunya kalau ia ternyata mempunyai seorang adik. Dan akan tinggal bersamanya. Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya bermain bersama adiknya. Pasti sangat menyenangkan.


Tapi sayangnya Rexy malah tak menyukai kehadirannya, Rexy bahkan mengurung diri di kamar setelah bertemu dengannya.


"Mom, apa Rexy tak ingin berteman denganku?" Tanyanya kala itu.


"Tidak sayang, Rexy pasti mau berteman denganmu. Kau coba saja dekati dia pelan-pelan." Ucap Eliza dengan lembut.


"Mom, kenapa Rexy diam saja di kamar? Apa Rexy tak ingin bermain denganku?"


"Edra, Rexy mungkin belum terbiasa dengan kehadiran kita. Tapi Mommy yakin, nanti Rexy mau berteman dan bermain bersamamu."


"Tapi Mom, Rexy sudah lama di dalam kamar. Apa ia tak lapar?" Karena setahunya Rexy sudah berjam-jam di dalam kamarnya.


"Em... bagaimana kalau kau bawakan makanan untuknya? Ia pasti akan senang." Saran Eliza, dan Edra pun mengangguk.


Edra sudah berdiri di depan kamar Rexy dengan sepiring penuh makanan, dengan penuh semangat anak lelaki berusia sembilan tahun itu mengetuk pintu kamar.


Rexy yang mendengar suara ketukan, segera membuka pintu.


"Rexy, dari tadi kau mengurung diri kamar. Kau pasti lapar, ini aku bawakan makanan untukmu." Ucap Edra dengan senyuman sambil menyerahkan piring yang penuh makanan tersebut. Rexy hanya menatapnya dengan datar tanpa menerimanya.


"Ini terimalah, atau bagaimana kalau kita makan bersama saja?" Tanya Edra masih dengan senyum di wajahnya, tanpa peduli tatapan datar dari Rexy.


"Jangan sok akrab denganku! Kau bukan siapa-siapaku!" Seru Rexy membuat Edra sedikit terkejut.

__ADS_1


"Tapi, Daddy bilang kau adikku..." Gumam Edra pelan.


"Aku bukan adikmu, dan sampai kapan pun aku tak pernah mau memiliki kakak seperti mu!" Ketus Rexy dengan tatapan tajamnya membuat Edra menundukkan kepala. Tubuhnya sudah bergetar menahan tangis.


"Ada apa ini?" Tanya Drake diikuti Eliza di belakangnya, membuat kedua anak laki-laki itu menoleh.


"Tidak apa-apa, Dad." Jawab Edra.


"Rexy. Ada apa, Nak?" Tanya Eliza. Rexy diam saja, ia menatap datar pada orang-orang itu.


"Rexy, Mommy Eliza bertanya padamu."


"Dia bukan Mommyku dan dia juga bukan Kakakku!" Seru Rexy.


"Rexy, jaga bicaramu Nak. Kau harus sopan pada orang yang lebih tua!" Tegas Drake. Rexy menatap ayahnya, matanya sudah berkaca-kaca.


"Gara-gara Daddy Mommyku meninggal. Dan sekarang Daddy malah membawa orang asing ke rumah ini. Aku benci Daddy! Daddy jahat! Aku benci Daddy!" Teriak Rexy, anak lelaki berusia tujuh tahun itu membanting pintu kamarnya. Membuat mereka terkejut.


"Drake tak seharusnya kau bersikap seperti itu pada Rexy. Ia masih sangat terpukul karena kehilangan ibunya. Lebih baik aku dan Edra kembali saja ke rumah lama kami."


"Jangan Eliza, kalian tetap di sini. Soal Rexy biar aku yang mengurusnya nanti."


"Tapi Drake..."


"Mom, kenapa Rexy marah padaku?" Suara kecil Edra menghentikan perdebatan mereka.


"Tidak sayang, Rexy tak marah padamu. Ia marah pada Daddy." Jawab Drake.


"Kenapa Rexy marah pada Daddy?" Tanya Edra lagi.


"Karena Daddy nakal. Ayo Edra sebaiknya kau kembali ke kamarmu saja." Drake meraih tangan kecil itu, menuntunnya untuk kembali kamar.


Eliza memnghembuskan nafas berat, ia sungguh merasa tak nyaman dengan keadaan di sana.


Dua hari setelah kedatangan Eliza dan Edra, Rexy nekat untuk kabur dari rumahnya. Dengan bekal tabungan sisa uang saku sekolahnya.


Drake, Eliza dan Edra yang mengetahui Rexy kabur segera mencarinya. Namun sayang setelah beberapa hari mencari, mereka tak kunjung menemukannya.


Rexy selalu bersembunyi saat tak sengaja melihat mereka, Rexy tak ingin kembali lagi ke rumah lamanya. Ia memilih untuk hidup sendiri walaupun itu hidup di jalanan.


Setelah beberapa minggu, Rexy kecil tanpa sengaja bertemu dengan keluarga Anderson. Kemudian keluarga Anderson mengangkatnya sebagai anak dan mengganti namanya menjadi Reiz Anderson.

__ADS_1


**********


__ADS_2