
Tampak seorang pria memakai pakaian pelayan dengan gerak-gerik yang mencurigakan berdiri tak jauh dari sepasang pengantin itu.
"Reiz, ada apa?'' Tanya Rin saat Reiz tak beranjak dari tempatnya berdiri, bahkan Tomi dan Tania sudah agak jauh dari posisi mereka. Reiz diam tak menjawab, lelaki itu mempertajam pengelihatannya.
Mata tajam itu seketika melebar ketika melihat sesuatu. Secepat kilat Reiz berlari menuju pria itu, meninggalkan Rin berdiri mematung di sana.
"Hei, Reiz!" Seru Tomi saat Reiz tak sengaja menabraknya. Tapi Reiz tak mempedulikannya sama sekali, ia terus berlari ke arah pria itu.
Pria itu terkejut ketika Reiz tiba-tiba saja memegang lengannya dan hendak menguncinya, tapi sayangnya pria itu lebih dulu berhasil menarik pelatuk pistolnya.
DORR!!
Satu peluru menembus lengan kiri Reiz dan membuat gaduh seisi hotel.
"Mark, ada apa di sana? Kenapa ada suara tembakan?" Tanya Nyonya Tyas, wanita itu terlihat khawatir. Begitu juga yang lainnya. Melihat para tamu berlarian membuat mereka panik.
"Kalian para wanita keluarlah, biar kami yang melihat ke sana." Tuan Mark dan Tuan Drake bangkit dari duduknya untuk melihat apa yang terjadi.
"Ayo Nyonya Tyas, sebaiknya kita keluar dulu." Ajak Nyonya Eliza.
"Iya."
*
Reiz memegang lengannya yang terkena tembakan, darah segar nampak keluar dari lukanya.
"Hai menantu ku ." Sapa pria itu yang ternyata adalah Albert Rivers.
"Tak sopan sekali kau mau mengganggu rencanaku." Albert hendak mengangkat kembali senjatanya, tapi Reiz lebih cepat melayangkan tendangan ke wajahnya. Pria itu jatuh tersungkur, dan senjata apinya terlepas.
"Jangan bergerak!" Tomi mengambil senjata itu dan mengarahkannya pada Albert.
"Reiz, kau tak apa?" Rin terlihat khawatir apalagi ketika melihat luka Reiz. Reiz hanya menggeleng. Rin menatap ayah tirinya, lelaki jahat yang sudah menjebak dan menjualnya itu kenapa datang kembali?
"Rinata putriku, apa kau merindukan ku?" Tanya Albert dengan senyum mengembang, sementara Rin hanya menatapnya dengan tajam.
"Ayah?" Lirih Gwen yang sudah berdiri di sana bersama Edra.
"Hahaha... Lihatlah orang-orang ini." Albert tertawa lantang begitu Tuan Mark dan Tuan Drake datang mendekat.
"Kalian mau mengeroyokku?" Tanya Albert masih dengan tawanya.
"Albert Rivers, kau berani sekali membuat kekacauan di tempatku!" Geram Tuan Mark. Albert menatapnya dengan tajam.
"Bukan aku! Tapi dia!" Seru Albert menunjuk pada Edra.
"Dia yang sudah sengaja membuatku hancur dengan kelicikannya!"
__ADS_1
"Dan kau!" Albert menunjuk ke arah Gwen.
"Kau adalah anak pembawa sial! Seharusnya kau dan suamimu mati hari ini!" Serunya.
"Diam kau, Albert!" Bentak Tuan Drake.
"Keamanan! Seret pengacau ini ke kantor polisi!" Perintah Tuan Mark.
Beberapa security datang dan membawa Albert keluar dari sana.
"Rinata, Gwen aku tak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang!" Sumpah serapah keluar dari mulut lelaki itu. Rinata dan Gwen terdiam di tempatnya berdiri, mereka sama sekali tak menduga kalau ayah mereka akan berbuat senekat itu.
"Reiz, kau terluka?" Tanya Tuan Drake khawatir.
"Tidak apa-apa, Dad." Reiz masih memegangi lengannya.
"Tidak apa? Kau sudah berdarah seperti itu. Rinata, cepat bawa suamimu ke rumah sakit!" Seru Tuan Mark.
"I.. Iya, Dad."
**********
"Apa ini sakit?" Tanya Rin yang masih saja khawatir padahal peluru yang bersarang di lengan Reiz telah di keluarkan. Dan luka Reiz juga sudah di obati.
"Ya, sedikit." Jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Aku takut lukamu kenapa-kenapa." Sambung Rin.
"Aku baik-baik saja, Rinata. Tak perlu cemas begitu." Ucap Reiz seraya mengusap rambut istrinya.
"Tapi aku takut, bagaimana kalau tadi terjadi sesuatu yang tidak-tidak? Kenapa kau nekat sekali? Seharusnya tadi kau memberitahu Tomi dan..."
"Dan Albert lebih dulu menembak Edra dan Gwen, begitu?" Potong Reiz membuat Rin menatapnya dengan datar.
"Bukan begitu, maksudku..."
"Sudahlah Rinata, aku baik-baik saja . Okay? Jadi kau tak perlu khawatir begitu." Reiz mencoba menenangkan Rin. Ia tahu istrinya begitu terkejut dengan kejadian tadi, apalagi melihatnya tertembak tepat di depan matanya.
"Kenapa dia melakukan itu, Reiz?" Tanya Rin.
"Entahlah."
"Padahal Kak Gwen anak kandungnya." Tatapan Rin berubah sendu.
"Dia juga mengatakan tak akan membiarkan aku dan Kak Gwen hidup dengan tenang."
"Rinata, tenanglah. Albert sudah di kantor polisi sekarang. Dan aku yakin, ia akan berada di sana dalam waktu yang lama." Reiz membelai lembut pipi Rin sambil tersenyum menenangkan.
__ADS_1
"Apa yang lain sudah pulang?" Reiz mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum." Rin menggeleng.
"Mereka masih di kantor polisi." Lanjutnya.
"Hah, kasihan sekali pengantin baru itu. Menghabiskan malam pertamanya di kantor polisi. Lebih baik kita saja yang melakukan malam pertama..." Seringai tipis nampak di bibir Reiz yang mendapat lirikan tajam dari Rin.
"Jangan macam-macam! Kau sedang terluka." Tanpa sadar Rin menepuk lengan Reiz yang di balut perban.
"Auch... Ini sakit." Pria itu meringis membuat Rin kembali khawatir.
"Reiz, i'm sorry... Aku tak sengaja."
* * * * *
Keesokan harinya.
Tuan Mark, Reiz, Tomi dan Edra sedang berkumpul di ruang kerja Tuan Mark.
"Reiz, aku ingin minta maaf. Karena aku, kau jadi terluka seperti ini." Ucap Edra, wajahnya terlihat amat menyesal.
"Ya, gara-gara kau adikku jadi terluka." Sinis Tomi yang mendapat sikutan dari Reiz.
"Bukan salahmu, Kak." Jawab Reiz
"Lagipula bukankah sudah tugasku untuk melindungimu?" Sambungnya membuat Tomi tersedak salivanya sendiri.
"Hei, dia Kakakmu. Dia yang seharusnya melindungimu." Protesnya. Tomi masih memandang sinis pada Edra, ia seakan tak terima Adik kesayangannya terluka.
"Okey cukup, jangan ada perdebatan di pagi hari yang cerah ini." Reiz menjadi penengah, entah kenapa Tomi suka sekali mencari keributan antara dirinya dan juga Edra.
"Dad, kenapa Albert Rivers melakukan ini?" Tanya Reiz pada Tuan Mark yang sedari tadi diam menonton perdebatan ketiga pria muda itu.
"Albert Rivers melakukannya untuk membalas dendam." Tuan Mark membuka suara.
"Balas dendam?" Tanya Reiz lagi.
"Ya, balas dendam. Karena ia menganggap Edra telah sengaja membuatnya berhutang hingga perusahaannya bangkrut." Jelas Tuan Mark.
"Hutang? Bukankah aku sudah membayar hutang itu padamu?" Reiz mengalihkan pandangannya pada Edra.
"Ya memang. Dan aku juga sudah mengembalikan uang itu pada Albert. Dan setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi padanya. Dan dia bilang semalam, ternyata perusahaannya tetap bangkrut walaupun aku sudah mengembalikan uang itu. Entahlah, aku juga tak tahu." Edra mengangkat bahunya, matanya terlihat kosong. Mengingat kebodohannya dulu. Tak menyangka karena perbuatannya membuat perusahaan orang lain bangkrut.
"Lalu bagaimana dengan Albert?" Reiz kembali bertanya pada Tuan Mark.
"Daddy sudah menyerahkan kasus ini ke polisi. Biar saja polisi yang mengurusnya."
__ADS_1