
Suara dering ponsel terdengar begitu mengganggu. Tuan Mark mengangkat panggilan itu. Seketika wajahnya berubah setelah mendengar apa yang di sampaikan seseorang dari balik ponsel itu.
"Apa?! Bagaimana bisa dia melarikan diri dari penjara?!" Bentak Tuan Mark.
"Aku tidak mau tahu, kalian harus menemukannya." Tuan Mark menutup teleponnya. Wajahnya nampak memerah karena marah.
"Mark, ada apa?" Tanya Ny. Tyas yang duduk di sampingnya.
"Albert Rivers melarikan diri dari penjara." Jawab Tuan Mark.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah penjagaan di sana sangat ketat?" Ny. Tyas terkejut.
"Aku juga tak tahu. Tapi sekarang polisi sedang mencarinya."
"Dia orang yang berbahaya. Jangan sampai ia terlalu lama di luar sana." Ucap Ny. Tyas khawatir.
"Tenang saja, dia tak akan berani menginjakkan kakinya di sini." Tuan Mark mencoba menenangkan istrinya.
"Mom, Dad." Sapa Tomi yang baru pulang dari bekerja. Kemudian ikut duduk bergabung di sana di ikuti oleh Tania.
"Dad, ada apa?" Tanya Tomi yang melihat wajah Daddy nya terlihat berbeda.
"Albert Rivers melarikan diri dari penjara." Jawab Tuan Mark.
"Apa? Melarikan diri?" Tomi terkejut begitu juga dengan Tania.
"Ya, Daddy juga tak tahu bagaimana cara dia melarikan diri. Padahal penjagaan di sana begitu ketat." Geram Tuan Mark.
"Lalu di mana dia sekarang, Dad?"
"Polisi masih mencarinya."
*
Tak henti-hentinya Rin memandang foto Reiz yang ada di ponselnya. Sambil duduk bersandar di tempat tidurnya, ia terus saja mengusap-usap foto suaminya.
"Reiz aku sangat merindukanmu... Padahal baru kemarin kau pergi..." Lirihnya.
"Apa lebih baik aku telepon saja? Ini juga sudah sore, Reiz pasti sudah selesai bekerja."
Baru saja Rin hendak menekan nomor Reiz, ponselnya lebih dulu berdering. Nomor asing tertera di layar ponselnya.
"Nomor siapa ini?"Gumamnya. Rin kemudian mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Halo Rinata Andara." Suara yang tidak asing terdengar dari balik ponsel itu.
"Siapa ini?" Tanya Rin.
"Kau sudah melupakan aku?"
Rin membulatkan matanya, menyadari pemilik suara adalah orang yang sangat di kenalnya.
"Albert?"
"Oh, ternyata kau masih mengingatku. Apa kau tak mau memanggilku 'Ayah' lagi?" Albert terkekeh, namun itu terdengar menyeramkan bagi Rin.
"Bagaimana kau bisa meneleponku? Bukannya kau di dalam penjara?" Tanya Rin dengan suara gemetar.
"Ck, ck, ck Rinata.." Albert berdecak
"Ternyata kau masih saja bodoh, penjara bukan apa-apa untukku." Lanjutnya. Rin diam membeku, ia seakan tak dapat berkata apa-apa lagi.
"Oh ya, sebentar lagi aku akan kembali untuk menghantui hidupmu. Bersiaplah." Albert menutup panggilannya.
__ADS_1
"Halo, halo?!" Rin menatap layar ponselnya dengan wajah memucat.
Secepatnya ia turun dari tempat tidur dan berlari menghampiri keluarganya yang masih berkumpul di ruang keluarga.
"Mommy... Mommy...!" Rin berteriak sambil berlari.
"Rinata, kenapa berlari seperti itu? Apa kau lupa kalau kau sedang hamil?" Ny. Tyas terlihat cemas.
"Mommy... Albert... baru saja... meneleponku..." Ucap Rin terbata-bata.
"Apa? Berani sekali dia! Apa yang di katakannya?" Tuan Mark bangkit dari duduknya.
"Dia bilang... Dia akan... Datang kembali... Mommy, Daddy aku takut..." Rin memeluk erat ibu mertuanya. Ia merasa takut pada Albert, karena lelaki itu yang sudah menjualnya, lelaki itu juga yang sudah menembak Reiz tepat di depan matanya.
"Rinata, tenanglah. Kau aman di sini." Ny. Tyas membelai lembut rambut Rin sambil mengecup keningnya.
"Albert benar-benar kurang ajar!" Umpat Tomi yang sama emosinya dengan sang ayah.
"Bagaimana Albert bisa meneleponku, Dad?" Tanya Rin yang masih dalam pelukan Ny. Tyas.
"Daddy baru saja mendapat kabar kalau Albert berhasil melarikan diri dari penjara." Jawab Tuan Mark.
"Albert melarikan diri?" Lirih Rin.
"Rinata, tenanglah." Tania yang berada di sampingnya ikut membantu menenangkan Rin.
"Kita harus tetap berhati-hati. Kita tidak tahu apa yang akan di lakukan Albert. Daddy akan meminta penjaga untuk memperketat keamanan di mansion ini. Supaya kejadian dulu tak terulang lagi."
* * * * *
Reiz menatap ponselnya, sudah berulang kali ia mencoba menghubungi Rin tapi tak di angkat. Akhirnya ia menghubungi Daddy Mark.
"Halo Dad." Sapa nya begitu panggilannya terhubung.
"Halo Reiz. Bagaimana Reiz pekerjaanmu di sana?" Tanya Tuan Mark.
"Baguslah kalau begitu. Selesaikan pekerjaanmu dan cepatlah kembali." Ucap Tuan Mark.
"Tentu, Dad. Kalau semua sudah selesai, lusa aku akan kembali. Oh ya, bagaimana Rinata? Apa dia baik-baik saja? Aku tadi meneleponnya, tapi tidak di angkat." Tanya Reiz yang terdengar khawatir.
"Istri mu..." Ucapan Tuan Mark terputus.
"Kenapa Dad? Apa terjadi sesuatu pada Rinata?" Tanya Reiz cepat.
"Tadi Albert Rivers menelepon Rinata." Jawab Tuan Mark, seketika mata tajam Reiz melebar.
"Albert? Bagaimana bisa? Bukankah dia di penjara?" Tanya Reiz heran.
"Daddy baru menerima kabar, kalau Albert melarikan diri dari penjara. Dan tak lama kemudian dia menelepon Rinata."
"Kurang ajar sekali dia. Apa Daddy sudah tahu di mana keberadaannya?" Tanya Reiz lagi.
"Polisi masih mencarinya. Daddy juga sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaannya."
"Apa aku harus pulang sekarang? Rinata pasti ketakutan."
"Tidak Reiz, selesai kan saja pekerjaanmu. Biar Rinata kami yang menjaganya. Dia aman di sini."
"Kau tenang saja, Albert tak akan berani datang ke sini." Ucap Tuan Mark lagi.
"Baiklah, Dad. Aku titip istri ku."
"Tentu, kami akan menjaganya. Kau fokuslah pada pekerjaanmu di sana."
* * * * *
__ADS_1
Sementara itu di sebuah ruangan temaram yang jauh hiruk pikuk perkotaan. Tiga orang sedang berkumpul di sebuah meja.
"Bagaimana reaksinya?" Tanya Lucas.
"Dia ketakutan. Rinata memang wanita lemah." Jawab Albert dengan senyum miringnya.
"Jika kita tahu kalau istri dari Reiz itu begitu lemah, kita sudah melakukan ini dari awal." Ucap Frans.
"Tapi bukankah sekarang lebih baik? Ada Tuan Albert bersama kita. Kita akan lebih mudah menghancurkan Reiz dan Tomi." Ucap Lucas.
"Ya, kau benar. Reiz dan Tomi si*alan itu sudah membuat hidup kita jadi begini." Frans menggenggam erat botol minumannya. Matanya memancarkan amarah dan dendam, begitu juga dengan Lucas.
"Kita akan menghancurkan hidup mereka, bagaimana mereka telah menghancurkan hidup kita." Ucap Frans lagi.
"Aku juga ingin membalaskan dendamku pada Edra William. Dia yang sudah menghancurkan perusahaanku." Geram Albert.
Albert Rivers memang sudah merencanakan akan kabur dari penjara, di saat para penjaga lengah ia langsung melancarkan aksinya.
Setelah berhasil keluar dari sana, tanpa sengaja ia bertemu dengan Lucas dan Frans di jalan. Frans dan Lucas yang mengetahui tentang Albert ketika Albert menyelinap masuk ke pesta pernikahan Edra dan Gwen langsung membantunya untuk menyembunyikan diri.
Dan akhirnya mereka bekerja sama untuk membalas dendam pada orang-orang yang sudah menghancurkan hidup mereka. Reiz dan Tomi yang sudah membuat Lucas dan Frans tidak bisa bekerja di manapun karena nama mereka telah di black list dan bahkan mereka berdua di usir oleh keluarganya sendiri. Dan juga Edra yang telah membuat perusahaan Albert bangkrut.
* * * * *
Rin berdiri di depan jendela kamarnya. Pandangannya kosong, kata-kata Albert seakan masih terngiang di telinganya. Kondisinya yang sedang hamil membuatnya tak dapat mengendalikan perasaannya. Rasa takut dan cemas seakan mendominasi dirinya sekarang.
"Rin..." Panggil Tania, namun Rin tak bergeming.
"Rin..." Tania memegang bahu Rin, membuat wanita itu terkejut.
"Tania!" Pekik Rin.
"Kau jangan melamun terus. Itu tidak baik untuk kandunganmu."
"Aku hanya takut..." Lirihnya.
"Apa yang kau takut kan? Daddy sudah memperketat keamanan di sini."
"Tapi dulu dia bisa masuk ke pesta pernikahan Edra dan Gwen."
"Rin..." Ucapan Tania terhenti karena ponsel Rin berdering. Tania meraih ponsel itu. Nama Reiz tertera di sana.
"Lihat? Suamimu menelepon. Kau jangan seperti ini. Nanti Reiz akan bertambah khawatir." Ucap Tania sebelum menyerahkan ponsel itu pada Rin.
"Halo Reiz..."
"Rinata, bagaimana keadaanmu?" Tanya Reiz yang terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Kau jangan pikirkan apapun. Okay? Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan juga junior kita."
"Iya Reiz."
"Aku baru akan jalan pulang. Mungkin sekitar dua jam lagi aku sampai." Ucap Reiz sambil membuka pintu mobilnya.
"Kau pulang sekarang? Tapi ini sudah malam, kenapa tidak besok saja?" Tanya Rin, ia sedikit terkejut mengetahui suaminya akan pulang.
"Aku merindukanmu. Tunggu aku, aku ingin segera memelukmu." Jawab Reiz.
"Aku juga merindukanmu." Ucap Rin. Reiz tersenyum tipis mendengarnya.
"Aku mencintaimu, sangat."
Panggilan itu terputus. Kata terakhir yang Reiz ucapkan, entah mengapa Rin malah sedih mendengarnya.
__ADS_1
"Rin, kau kenapa?" Tanya Tania yang melihat mata Rin nampak berkaca-kaca.
"Aku tidak apa-apa." Rin menepiskan senyumnya. Namun hatinya tak dapat berbohong, ia takut terjadi sesuatu terhadap Reiz.