
"Reiz, bisa kau dan istrimu pulang hari ini?" Tanya Nyonya Tyas.
"Tentu. Pulang kerja kami akan ke sana. Mom sudah dulu ya, aku masih banyak pekerjaan.''
"Ok, see you boy..." Mereka berdua mengakhiri panggilan itu.
"Kau lihat Reiz, betapa senangnya Mommy saat tahu istrimu hamil. Seharusnya kau jauh lebih senang dari pada Mommy." Tomi mengambil kembali ponselnya dari tangan Reiz.
"Maksud Tuan, aku harus berteriak di jalanan karena istriku hamil, begitu?" Tanya Reiz sarkastik membuat Tomi menepuk dahinya.
"Ya tidak begitu juga Reiz. Akh, entahlah sulit sekali bicara denganmu." Tomi kembali ke mejanya.
***********
Sore harinya.
"Rin kau bersiaplah, sebentar lagi aku menjemputmu. Kita ke rumah Mommy." Ucap Reiz saat akan pulang meninggalkan kantornya.
"Ke rumah Mommy?" Tanya Rin di balik ponsel.
"Ya." Reiz memutus panggilannya.
"Halo Reiz...?" Rin menatap ponselnya.
"Sudah terputus? Apa Reiz tidak bisa mengucapkan kalimat yang lebih panjang?" Rin menghela nafas berat sambil menatap ponselnya.
"Bisa-bisanya aku menikah dengan pria kaku seperti dia, dan yang lebih parahnya lagi aku malah sangat mencintainya." Gerutu Rin.
"Akh sudahlah, lebih baik aku bersiap."
*
Reiz melangkah lebih dulu, meninggalkan istrinya yang masih di dalam mobil.
"Kenapa Reiz tak menunggu dan menggandeng tanganku?" Rin menatap tangannya dan punggung lelaki itu bergantian dari balik kaca mobil.
"Hah... Suamiku tidak peka, suamiku tidak romantis..." Rin menggerutu sambil keluar dari mobil dan berjalan menyusul suaminya.
"Reiz, kau sudah datang? Mana istrimu?" Pertanyaan Nyonya Tyas menyambut Reiz yang baru memasuki mansion.
"Istri...?" Reiz baru tersadar kalau sepertinya istrinya tertinggal di belakang.
"Ah iya, itu Rinata." Ucapnya sambil menunjuk Rin yang berjalan mendekat. Nyonya Tyas hanya menggeleng, bisa-bisanya Reiz lupa pada istrinya.
"Mommy." Sapa Rin seraya memeluk Nyonya Tyas.
"Bagaimana kabarmu sayang?" Nyonya Tyas mengurai pelukannya.
"Baik Mom. Mom sendiri bagaimana?"
__ADS_1
"Mommy juga baik sayang."
"Mom, mana Daddy?" Tanya Rin kepada Nyonya Tyas.
"Daddy di dalam sayang, ayo kita masuk."
"Sayang bagaimana keadaanmu? Tomi bilang kau sedang hamil? Apa itu benar?" Tanya Nyonya Tyas pada Rin. Kini mereka sudah berkumpul bersama di ruang keluarga.
"Tomi? Kenapa Tomi yang memberitahu kehamilanku pada Mommy?" Tanya Rin dalam hati.
"Em... Itu benar Mom, sekarang usianya kandunganku lima minggu." Jawab Rin.
"Selamat ya sayang, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua." Nyonya Tyas memeluk Rin dengan hangat.
"Selamat Reiz, Daddy harap kau bisa menjaga calon anakmu dengan baik."
"Aku akan menjaganya Dad." Jawab Reiz singkat.
"Apa sebaiknya kalian tinggal di sini saja? Setidaknya Mommy jadi bisa ikut merawat kehamilan istrimu? Kau tau kan kalau Mommy dan Daddy sudah sangat mengharapkan kehadiran cucu dari kau dan juga Tomi?" Tawar Nyonya Tyas.
Rin menatap Nyonya Tyas dan Reiz bergantian, berharap suaminya setuju untuk tinggal di mansion saja. Setidaknya ia tak akan kesepian di sana.
"Tidak Mom, kami tinggal di apartemen saja." Tolak Reiz, seketika raut kecewa terlihat di wajah Rin.
"Kenapa Reiz?" Tanya Tuan Mark.
"Tidak apa Dad, hanya saja aku lebih nyaman tinggal di apartemen." Jawab Reiz. Rin diam saja sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudahlah kalau begitu, sebaiknya kita makan malam dulu." Ajak Nyonya Tyas.
Acara makan malam hari itu terasa sangat berbeda bagi Rin, di mana ada Nyonya Tyas dan Tania yang mengajaknya bicara. Berbeda ketika di apartemen, ia dan Reiz selalu makan dalam keheningan.
Tania terlihat sama bahagianya dengan mertuanya, ia bahkan sangat antusias.
"Rin, bagaimana caranya agar bisa cepat hamil?" Tanya Tania di sela-sela makannya.
"Em itu..." Rin terlihat bingung, ia sendiri juga tak tahu.
"Caranya, jangan terlalu sering membuatnya."Jawab Nyonya Tyas. Seketika itu wajah Tania merah padam.
"Mom, itu adalah bukti cintaku pada Tania. Apalagi Tania selalu terlihat menggoda di mataku, jadi aku selalu tak tahan untuk menerkamnya." Sela Tomi.
"Uhuk... Uhuk." Rin tersedak mendengar ucapan frontal Tomi.
"Sayang pelan-pelan, Reiz ambilkan minum untuk istrimu." Nyonya Tyas mengusap punggung Rin.
"Tak bisakah Tuan menyaring ucapan Tuan?" Tanya Reiz datar setelah menyerahkan air minum untuk istrinya.
"Tak perlu. Lagi pula kita ini keluarga, jadi tak perlu saring menyaring. Kecuali kalau di kantor, itu beda lagi." Jawab Tomi dengan santainya yang mendapat tatapan tajam dari Reiz.
__ADS_1
"Sudah-sudah. Kalian ini selalu saja ribut." Nyonya Tyas kembali jadi penengah di antara kedua pemuda itu.
"Reiz, Rin malam ini kalian menginap di sini ya?"
Pinta Nyonya Tyas. Reiz melirik ke arah Rin yang ternyata tengah menatapnya.
"Ya, Mom." Jawabnya singkat. Rin tersenyum mendengarnya.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing.
Helaan nafas berat terdengar dari bibir Rin, melihat suaminya yang kembali sibuk dengan laptopnya.
"Tidak di apartemen, tidak di mansion selalu saja sibuk sendiri. Tak pernah ada waktu untukku. Aku juga perlu perhatianmu, suamiku." Keluh Rin dalam hati.
***********
Dua bulan telah berlalu, kini usia kandungan Rin menginjak tiga bulan. Dan selama itu hanya keluarga Reiz saja yang selalu peduli dan memberi perhatian padanya.
Reiz? Lelaki itu bahkan tak pernah sekali pun menanyakan tentang kandungannya. Rin tak ingin ambil pusing, biarlah suaminya itu melakukan apa yang ia inginkan.
Dan Rin hanya ingin menikmati masa-masa kehamilannya, beruntung Rin tidak mengalami morning sickness. Hanya sekedar pusing saja jika ia sudah merasa cukup lelah
Malam itu entah mengapa tiba-tiba Rin menginginkan makanan laut ketika ia berbulan madu dulu. Makanan seafood dengan berbagai macam menu.
"Em... Reiz..." Panggil Rin pelan.
"Ada apa?" Tanyanya singkat.
Rin terlihat bingung. Ia duduk di samping Reiz yang terlihat fokus pada laptopnya.
"Katakan." Ucap Reiz tanpa mengalihkan pandangannya.
"Reiz, apa kau ada waktu?" Tanya Rin ragu.
"Untuk apa?"
"Aku... aku..." Ucap Rin terputus. Reiz mengalihkan pandangannya menatap Rin.
"Katakan dengan jelas." Ucapnya datar.
"Aku ingin makan seafood bersamamu di pulau tempat kita berbulan madu dulu." Jawab Rin pelan.
"Anderson Land maksudmu?" Tanya Reiz, Rin menganggukan kepalanya.
"Kau tahu kalau tempat itu jauh bukan?" Tanya Reiz lagi.
"Dan kau ingin kesana hanya untuk makan seafood?" Sambungnya. Rin menganggukan kepalanya dengan semangat, sementara Reiz menghembuskan nafas berat.
"Aku sibuk, pekerjaanku banyak. Jadi aku tak ada waktu mengantarmu hanya untuk sekedar makan seafood." Jawab Reiz yang membuat Rin kecewa seketika.
__ADS_1
"Tak perlu kesana, kita makan di restoran seafood di sekitar sini saja." Rin masih berharap Reiz mau menemaninya.
Jangan lupa like & komen nya 😊 biar semangat update nya 😘