
"Rexy, kau baru pulang?" Tanya Tuan Drake begitu melihat putranya. Tapi Reiz diam saja, ia memilih untuk membuka pintu apartemennya. Meninggalkan Tuan Drake yang berdiri mematung di ambang pintunya.
"Masuklah." Ucap Reiz datar.
Tuan Drake mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, sementara Reiz masuk ke dalam kamarnya.
"Rexy sudah mau menerima kedatanganku, semoga ini awal yang baik. Dan aku berharap semoga hubunganku dan Rexy akan segera membaik." Ucap Tuan Drake dalam hati.
Setelah menunggu lima belas menit, Reiz kembali ke ruang tamu dengan dua botol minuman ringan. Pria itu sudah nampak segar setelah membersihkan tubuhnya.
"Minumlah." Reiz menyerahkan botol minuman itu pada Tuan Drake tanpa menatapnya.
"Terima kasih, Nak." Ucapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik." Jawab Reiz singkat.
"Bagaimana keadaan istrimu? Apa ia sudah sembuh?"
"Ya, Rinata sudah sembuh."
Keduanya terdiam. Suasana canggung tercipta, Reiz hanya menjawab pertanyaan Tuan Drake dengan singkat. Tapi Tuan Drake sudah cukup senang, karena putranya sudah mau berbicara lagi padanya. Selama delapan belas tahun, Reiz selalu menolak keberadaannya. Reiz tak mau menemui apalagi berbicara padanya.
"Daddy..." Kata itu terucap begitu pelan karena tenggorokan Reiz seakan tercekat saat mengucapkannya.
Sedangkan Tuan Drake terdiam menatap Reiz, seakan tak percaya apa yang di dengarnya tadi.
"Rexy.... Kau bilang apa, Nak?''
__ADS_1
"Daddy... Maafkan aku... " Lirih Reiz sambil menundukkan kepalanya.
Tuan Drake bangkit dari duduknya, pindah di samping Reiz yang sebelumnya mereka duduk berhadapan.
"Maaf untuk apa, Nak?"
"Maaf karena selama ini aku begitu egois, aku tak pernah memikirkan perasaan Daddy. Maafkan aku...."
"Rexy, kau tak perlu meminta maaf. Semua ini salah Daddy..." Tuan Drake memegang bahu putranya itu. Membuat Reiz menatapnya, tak ada lagi tatapan dingin dan datar seperti biasanya.
"Rexy, my boy.." Tuan Drake tak bisa lagi menahan untuk tak memeluk putranya itu.
Nyaman. Itulah yang di rasakan Reiz. Delapan belas tahun ia begitu merindukan pelukan sang ayah, tapi seakan ego menahannya. Kini semua pertahanan yang di bangunnya telah luluh. Reiz akhirnya menyadari bagaimana rasanya kehilangan seorang anak dan istri yang dulu di alami oleh ayahnya.
Katakanlah ayahnya tak mencintai ibunya, tapi mereka pernah terikat hubungan. Hubungan pernikahan hingga dirinya terlahir. Walaupun begitu, mereka selalu menghujani dirinya dengan kasih sayang.
Seperti dirinya yang mengatakan tak mencintai Rin, tapi dunianya seakan hancur ketika kehilangan calon anaknya dan juga istrinya yang koma selama dua minggu.
"Im sorry, Dad." Gumam Reiz pelan ketika pelukan keduanya terlepas. Tuan Drake hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Jangan katakan itu lagi. Kau adalah anakku, sampai kapanpun kau tetap anakku. Semua yang terjadi karena kebodohan Daddy yang tak pernah jujur terhadap ibumu."
Keduanya kembali larut dalam pelukan, pelukan kasih sayang seorang ayah dan juga anak laki-lakinya yang selama delapan belas tahun hanya bisa melihat dari jauh.
**********
Hari-hari Rin lalui dengan kehampaan. Walaupun kedua mertuanya dan juga Tomi dan Tania memperlakukannya dengan sangat baik, tak bisa di pungkiri kalau ia begitu merindukan suami dinginnya.
Kenapa Reiz tak pernah menemuinya? Apa lelaki itu memang sudah tak peduli dengannya? Sudah tak menganggap dirinya sebagai istri? Atau sudah membencinya? Lalu kenapa tak menceraikannya saja?
__ADS_1
Cerai? Apa Rin sanggup menerima seandainya Reiz menceraikannya?
Rin menghela nafas berat. Kemarin saat Nyonya Tyas bertanya tentang kepastian hubungannya dengan Reiz, Nyonya Tyas juga menceritakan tentang masa lalu Reiz.
Yang membuatnya terkejut, ternyata Reiz bukan anak kandung keluarga Anderson. Reiz adalah anak dari Drake William dan Marissa Fredric, dan juga adik tiri dari Edra William. Pantas saja mereka berdua terlihat seperti saling mengenal waktu itu.
Rin juga akhirnya tahu kenapa sikap Reiz begitu dingin dan datar terhadap perempuan. Semua karena masa lalunya, kematian sang ibu yang membuatnya seperti itu. Reiz tak ingin jatuh cinta dan juga tak ingin mencintai karena takut akan menyakiti seorang perempuan, dan berakhir seperti ibunya.
"Kami bertemu Reiz saat usianya tujuh tahun, waktu itu kami tak sengaja menabraknya saat ia tiba-tiba berlari ke tengah jalan. Kami membawanya ke rumah sakit karena Reiz mengalami luka-luka. Walaupun keadaannya tidak begitu parah, Reiz tetap harus di rawat di rumah sakit.
Saat Mommy bertanya tentang keluarganya, Reiz diam saja tak mau menjawab. Akhirnya setelah kami memaksanya, ia mengatakan kalau dirinya pergi dari rumah karena ibunya meninggal bunuh diri dan ayahnya malah membawa perempuan lain dan juga anak laki-laki ke rumahnya.
Tadinya kami tetap akan memberitahu ayahnya, tapi Reiz memohon agar kami tak memberitahu keberadaannya. Karena tak tega, akhirnya kami mengurungkan niat kami. Apalagi ketika melihatnya, kami teringat dengan Tomi karena usia mereka yang hampir sama hanya terpaut dua bulan saja.
Setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk membawa Reiz pulang bersama kami menjadikannya anak angkat kami. Kami mengganti namanya dari Rexy William menjadi Reiz Anderson.
Tomi sangat senang kala itu, karena akhirnya ia mempunyai seorang adik. Sudah lama Tomi meminta seorang adik, tapi Mommy tak bisa hamil lagi karena rahim Mommy sudah diangkat karena penyakit saat Tomi berusia tiga tahun.
Kehadiran Reiz adalah anugerah untuk kami. Ia anak yang penurut dan juga sangat cerdas. Mommy dan Daddy sangat menyayanginya dan tak pernah membedakannya dengan Tomi. Mereka berdua mendapat kasih sayang yang sama.
Saat Reiz beranjak remaja, kami melihat perbedaan dari dirinya. Ia menjadi pria yang dingin terhadap perempuan. Tak pernah Mommy melihatnya dekat dengan perempuan manapun. Walaupun Tomi selalu bercerita saat sekolah dan kuliah banyak perempuan yang menyukai Reiz, tapi Reiz tak pernah mau melihat mereka. Dan akhirnya kami tahu, semua itu karena masa lalunya.
Kami sempat merasa khawatir Reiz tidak akan pernah membuka pintu hatinya untuk perempuan. Maka dari itu, ketika kami tahu Reiz menolongmu dan bahkan membawamu ke apartemennya, kami langsung saja mengambil tindakan untuk menikahkan kalian berdua. Karena kau satu-satunya wanita yang bisa dekat dengannya. Dan berharap Reiz bisa membuka hatinya untukmu.
Tapi nyatanya kami salah, Reiz masih saja bersikap dingin dan itu membuat Mommy dan Daddy merasa bersalah padamu." Cerita Nyonya Tyas hari itu.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rin. Diliriknya jam yang terpasang di dinding, sudah pukul sepuluh malam. Siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya?
__ADS_1
Hari ini cuma update 1 bab ya... Author nya lagi kurang sehat 🙏