Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku tidak mencintainya


__ADS_3

Hari berganti hari, kini sudah dua minggu telah berlalu. Rin masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dan selama itu pula Reiz benar-benar tak bisa menemui Rin sama sekali. Ruang rawat istrinya di jaga ketat, hanya dirinya yang di larang untuk menemui Rin.


"Reiz, kau baik-baik saja?" Tanya Tomi melihat tampang kusut asistennya, kini ia berada di apartemen Reiz. Sudah dua hari pria itu tak pergi ke kantor dan hanya mengurung diri di tempat tinggalnya.


"Menurutmu Tuan? Apa ada suami yang baik-baik saja sementara istrinya sedang terbaring koma?" Tanya Reiz sarkastik.


"Dan ironisnya aku tak bisa menemani istriku sendiri."Lanjut Reiz, tertawa hambar mengingat nasibnya.


"Reiz, seandainya dari awal kau memperlakukan istrimu dengan baik dan semestinya, semua ini mungkin tak akan terjadi." Tomi menepuk-nepuk bahu pria yang sudah di anggap seperti adik kandungnya itu. Ia sebenarnya tak tega melihat keadaan Reiz yang terlihat sangat kacau, tapi mungkin ini semua bisa menjadi pelajaran untuk pria itu.


"Aku memang bodoh." Lirih Reiz.


"Apa kau mencintai Rinata?" Tanya Tomi tiba-tiba membuat Reiz menoleh padanya. Ia kemudian menggeleng pelan.


"Aku tak mencintainya." Jawabnya pelan.


"Benarkah?" Tomi tak percaya. Reiz mengangguk.


"Kalau kau tak mencintainya, kau tak akan seperti ini di buatnya. Kau begitu mengkhawatirkan keadaannya, hingga tak mempedulikan dirimu sendiri. Kalau kau tak mencintainya, kau tak mungkin menyentuhnya sampai ia hamil anakmu. Kalau kau tak mencintainya, kau..."


"Diamlah Tuan." Potong Reiz. Ia sungguh pusing mendengar ocehan Tomi.


"Kenapa? Kau masih berusaha menyangkal perasaanmu pada Rinata?"


"Aku tak mencintainya, aku hanya merasa bersalah padanya...." Tatapan mata tajam itu terlihat menerawang.


"Reiz, aku tau bagaimana dirimu. Sudah delapan belas tahun kita hidup bersama. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya."


"Aku seperti ini karena Rinata istriku." Sangkal Reiz.


"Teruslah menyangkal perasaanmu, Reiz." Tomi beranjak bangun dari duduknya.


"Ingat, kau akan menyadari betapa pentingnya seseorang saat kau kehilangannya." Tomi melangkahkan kakinya, sebelum membuka pintu ia kembali berucap.


"Besok kau harus datang ke perusahaan, ada rapat penting."

__ADS_1


"Ya." Jawab Reiz singkat. Tomi hanya menggelengkan kepalanya, ia meraih handle pintu. Tomi sedikit terkejut melihat ada seseorang yang berdiri di sana.


"Tuan Drake William?" Gumamnya pelan.


"Apa Rexy ada?" Tanya Tuan Drake yang selalu menyebut Reiz dengan nama kecilnya. Tomi mengangguk.


"Silahkan masuk, Tuan." Tomi membuka pintu itu lebih lebar.


"Aku permisi, Tuan Drake." Pamit Tomi, Tuan Drake mengangguk sambil tersenyum. Ia masuk ke dalam walaupun sebenarnya sang pemilik tempat belum mengetahui kedatangannya.


Tuan Drake menghentikan langkahnya ketika melihat Reiz duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ia duduk di samping Reiz, menatap pria itu dengan sendu.


"Kenapa Tuan kembali lagi?" Tanya Reiz mengira Tomi yang duduk di sampingnya, ia masih menutup wajahnya.


Tuan Drake tak bisa menahan ketika tangannya mengusap pelan bahu Reiz. Ia sungguh merindukan putranya itu.


Reiz yang merasakan sentuhan di bahunya seketika menoleh, sejenak ia terkejut. Tatapan mereka bertemu. Dimana Tuan Drake menatapnya dengan sendu tapi Reiz menatapnya dengan tajam.


"Tuan Drake? Apa yang anda lakukan di sini?" Reiz bangun dari duduknya.


"Rexy...."


"Pergi dari sini." Ucap Reiz dingin sedingin tatapannya.


"Rexy... Daddy hanya ingin melihat keadaan mu..."


"Rexy sudah mati delapan belas tahun yang lalu. Dan sejak saat itu kau bukan lagi Daddy ku, Tuan Drake." Sinis Reiz.


"Rexy, aku tahu kau membenciku. Tapi sekali ini saja izinkan aku untuk melakukan tugasku sebagai seorang ayah...." Tuan Drake menatap Reiz, terlihat ada banyak kerinduan di sana. Ia yang seharusnya memberikan kasih sayangnya pada Reiz, justru malah memberikan luka yang sangat dalam.


Reiz menatap datar pria paruh baya di hadapannya. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun. Reiz mendudukkan kembali tubuhnya. Tuan Drake tersenyum dalam hati, setidaknya Reiz mau duduk berdua dengannya.


"Tugas seorang ayah? Apa yang Tuan ketahui tentang tugas seorang ayah?" Tanya Reiz dengan sarkas.

__ADS_1


"Rexy, maafkan aku. Aku baru tahu kejadian yang di alami istrimu..." Tuan Drake membuka suara, sementara Reiz membuang pandangannya. Ia tak mau menatap pria yang duduk di hadapannya itu.


"Rexy, semua yang terjadi pada dirimu adalah kesalahanku. Seandainya saja sejak awal aku jujur pada ibu mu, mungkin semua ini tak akan terjadi." Ucap Tuan Drake, gurat menyesal tampak di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.


"Rexy, bagaimanapun kau tetap anakku. Sekeras apapun kau menolakku, aku tetap ayahmu. Maafkan aku, walaupun aku tak pantas menerima maaf darimu." Ucapnya sendu.


Reiz memejamkan matanya menahan sesak di dadanya, sebenci apapun ia pada seorang Drake William ia tak bisa menyangkal kenyataan kalau pria itu adalah ayah kandungnya. Ia menyanyangi pria itu tapi juga membencinya.


Memorinya berputar, mengingat saat kenangan pahit itu di mulai.


Kaki kecil itu melangkah memasuki kamar orang tuanya yang pintunya sedikit terbuka. Di lihatnya sang ibu yang sedang menangis.


"Mom, kenapa Mommy menangis?" Tanya Reiz yang ketika itu berusia tujuh tahun.


"Dimana Daddy? Bukankah Mommy mau memberi kejutan pada Daddy?" Tanyanya lagi, karena setahunya ibunya pergi ke kantor ayahnya karena ingin memberi kejutan, hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.


Marissa, ibu kandung Reiz tak menjawab. Wanita cantik itu malah meraih tubuh kecil itu dan memeluknya dalam tangis.


Reiz yang saat itu belum mengerti apa-apa hanya diam saja, ia mengadahkan kepalanya melihat ibunya yang masih menangis.


**********


Siang itu Marissa memutuskan untuk ke kantor tempat suaminya bekerja, ia ingin membuat kejutan sederhana membawakan makan siang untuk Drake, pria yang sangat di cintainya. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka.


Marissa sempat kecewa ternyata Drake tak ada di ruangannya, ia sedang pergi keluar untuk makan siang. Begitu informasi yang ia dapat dari resepsionis.


Marissa memutuskan untuk menunggu Drake di restoran yang tak jauh dari kantor. Masih terus mencoba menghubungi suaminya, tapi sayangnya ponselnya tidak aktif.


Wanita itu melihat sekeliling untuk mencari meja yang kosong. Pandangannya terpaku melihat seseorang yang sedang duduk di sana.


"Drake?" Dilihatnya sang suami yang duduk tak jauh dari sana bersama dengan seorang wanita dan juga anak laki-laki. Marissa segera menghampirinya.


Sepertinya mereka belum menyadari kehadiran Marissa karena terlalu fokus pada makan siangnya.


"Daddy, makanannya lezat sekali...." Ucap anak laki-laki itu dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak, Edra..." Ujar Drake sambil mengusap kepala anak laki-laki yang bernama Edra itu.


"Daddy?" Gumam Marissa pelan, ia sudah berdiri di belakang Drake.


__ADS_2