
Pintu ruangan terbuka, nampak tiga orang security di sana.
"Kalian, cepat seret mereka berdua keluar dari perusahaan ini. Dan jangan pernah biarkan mereka berdua menginjakkan lagi kaki mereka di sini." Perintah Tomi.
Para security itu menarik paksa Lucas dan Frans.
"Tuan, kami mohon..." Dua pria itu masih berusaha untuk memohon.
"Kalian masih beruntung, karena kami tidak melaporkan ini pada polisi." Ucap Reiz dengan dinginnya, sebelum akhirnya mereka keluar dari ruangan itu.
Tomi menghempaskan kembali tubuhnya di kursi kerjanya.
"Kenapa masih ada saja orang-orang seperti mereka di perusahaan ini? Padahal Anderson Grup selalu membayar para pegawainya dengan bayaran lebih besar di bandingkan dengan perusahaan lainnya." Ujar Tomi. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Reiz yang kembali fokus pada komputernya.
"Hei, aku bertanya padamu." Seru Tomi.
"Ku kira Tuan bicara sendiri." Jawab Reiz tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau benar-benar menyebalkan." Tukas Tomi.
"Aku sedang sibuk, Tuan. Sebentar lagi kita ada rapat."
"Ck, kenapa selalu ada rapat?" Gerutu Tomi, ia paling malas dengan yang namanya rapat.
"Kalau Tuan mau, tidak usah ikut rapat ini." Ucap Reiz yang seakan menjadi angin segar untuk Tomi.
"Bolehkah?" Tanya Tomi dengan mata berbinar dan senyum mengembang.
"Ya, karena aku akan memecat Tuan detik ini juga." Jawab Reiz dengan datarnya. Senyum itu hilang seketika dari wajah Tomi.
"Cih, sejak kapan ada Bos yang di pecat asistennya sendiri?" Tomi berdecih.
"Sejak aku jadi asistenmu Tuan." Jawab Reiz singkat. Tomi hanya menatapnya datar tanpa berani menjawab lagi.
* * * * *
Mansion Anderson
Dengan lincah tangan Rin mengolah bahan makanan. Sesuai keinginan sang suami, ia memasak sendiri tanpa bantuan seorang pelayan pun.
"Rin, apa yang kau masak?" Tanya Nyonya Tyas begitu memasuki dapur.
"Mom, aku masak mi goreng seafood." Jawab Rin.
"Mi goreng seafood?" Ulang Nyonya Tyas.
"Ya Mom, Reiz memintaku mengantarkan makan siang ke kantornya. Ia ingin makan mi goreng seafood." Jelas Rin.
__ADS_1
"Sejak kapan Reiz suka mi goreng? Setahu Mommy, Reiz sama sekali tidak menyukai mi, apalagi mi goreng?" Nyonya Tyas mengerutkan alisnya, sementara Rin menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Emmm... Itu aku tak tahu, Mom. Reiz sendiri yang meminta ini." Jawab Rin dengan ragu.
"Mom, Rin... sedang apa di sini?" Tania ikut bergabung bersama mereka berdua.
"Aku sedang memasak untuk Reiz. Dia memintaku mengantarkan makan siang ke kantornya."
"Oh, kau mau ke kantor Reiz? Boleh aku ikut?" Tanya Tania.
"Tentu."
"Apa yang kau masak? Mi goreng?" Tanya Tania heran, ekspresinya sama seperti Nyonya Tyas tadi.
"Iya, Reiz sendiri yang memintanya." Jawab Rin, ia jadi bingung sendiri. Nyonya Tyas dan Tania saling melirik.
"Ya sudah, selesaikan masakanmu. Mommy mau ke kamar dulu."
"Iya, Mom." Jawab Rin dan Tania serentak.
"Tania, kau mau mengantar makan siang juga untuk Tomi?" Tanya Rin begitu Nyonya Tyas sudah meninggalkan dapur.
"Tentu, tapi kau ajari aku ya?" Pinta Tania, ia memang belum terlalu pandai untuk memasak, dan ia selalu meminta Rin untuk mengajarinya.
"Baiklah. Kita memasak bersama."
Reiz melangkah keluar dengan tergesa-gesa begitu rapat selesai. Ia langsung menuju ke ruangannya dan masuk ke toilet. Dan Tomi masih setia mengekorinya dengan ekspresi terheran-heran.
"Reiz, apa kau baik-baik saja?" Tanya Tomi yang sudah berdiri di depan pintu toilet, terdengar suara Reiz sedang memuntahkan isi perutnya.
Reiz menatap pantulan bayangan dirinya di cermin, ada apa dengan dirinya? Seharian ini ia merasa aneh. Tidak di rumah ataupun di kantor.
Tadi di rumah ia mual ketika mencium aroma nasi goreng, dan tadi ketika rapat ia mendadak mual kembali karena aroma pengharum ruangan.
Dirinya bahkan harus menahan mual hampir dua jam lamanya, karena tidak bisa meninggalkan rapat itu.
Reiz mencuci wajah dan mulutnya, setidaknya ia sudah lebih baik sekarang walaupun wajahnya masih terlihat pucat.
Reiz membuka pintu toilet, ia sedikit terkejut melihat Tomi yang berdiri di sana dengan wajah cemasnya.
"Apa yang Tuan lakukan di sini?" Tanya Reiz dengan datarnya.
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tomi menempelkan telapak tangannya ke kening Reiz, Reiz segera menepisnya.
"Aku baik-baik saja, Tuan." Jawabnya datar.
"Tapi kau tadi muntah-muntah?" Tanya Tomi lagi. Reiz menghembuskan nafas berat. Ia memijat keningnya, rasanya kembali pusing mendengar pertanyaan Tomi yang begitu mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Tuan." Ulangnya. Reiz berjalan menuju kursinya.
"Kau yakin?" Tomi masih terlihat khawatir.
"Tuan, aku baik-baik saja. Okay?" Reiz tahu kalau Tomi begitu peduli padanya, tapi tak perlu berlebihan seperti ini bukan?
"Aku akan bilang ini ke Mommy." Tomi mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Reiz membelalakan matanya, dengan cepat ia bangkit dari duduknya dan merampas ponsel Tomi. Akan menjadi masalah besar kalau Mommy Tyas sampai tahu hal ini.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Protes Tomi tak terima.
"Jangan bilang pada Mommy. Sudah ku katakan, aku baik-baik saja." Tukas Reiz. Tomi berusaha merebut ponselnya dari tangan Reiz.
"Kembalikan!" Serunya. Tomi masih berusaha meraih ponselnya.
"No!" Reiz tak mau kalah dan mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. Tomi menatap tajam pada Reiz, kemudian ia melompat untuk meraih ponsel itu.
BRUK
Keduanya jatuh tengkurap, dengan posisi Tomi di atas Reiz.
"Auch!" Pekik kedua pria itu, bersamaan dengan itu pintu ruangan terbuka. Nampak Rin dan Tania mematung di ambang pintu, kedua perempuan itu tercengang melihat kelakuan para suami mereka.
"Apa yang kalian sedang lakukan?" Tanya Tania melangkah menghampiri kedua lelaki itu.
"Tuan, menyingkirlah! Berat!" Ketus Reiz, karena Tomi tak kunjung bangun dari atas tubuhnya.
Tomi tersadar kemudian beranjak bangun dan meraih ponselnya dari tangan Reiz.
"Ehm, Baby. Kau di sini?" Tomi kembali memasang wajah coolnya, Reiz meliriknya dengan tajam. Ia membersihkan bajunya yang terkena lantai tadi.
"Apa yang kalian lakukan?" Ulang Tania, Rin berjalan mendekati.
"Reiz! Dia mengambil ponselku." Tomi mengadu. Tania dan Rin menatap bingung pada dua pria itu.
"Reiz, sebenarnya ada apa?" Tanya Rin pada suaminya.
"Tidak apa-apa. Apa kau kesini membawa makan siang untukku?" Reiz melirik sesuatu yang di bawa istrinya.
"Ehm, iya. Aku bawakan pesananmu." Rin menunjukkan tempat makan yang di bawanya.
"Memangnya apa yang Reiz pesan?" Sambar Tomi.
"Mi goreng seafood." Jawab Tania.
"Mi goreng seafood?" Tomi mengerutkan keningnya.
"Tidak perlu pasang tampang aneh seperti itu, Tuan." Celetuk Reiz, ia berjalan menuju sofa, di ikuti Rin di belakangnya.
__ADS_1
"Hei, sejak kapan kau suka mi goreng?" Tanya Tomi penasaran.