Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku mencintaimu, Rinata


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rin. Diliriknya jam yang terpasang di dinding, sudah pukul sepuluh malam. Siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya? Kalaupun Mommy Tyas biasanya akan langsung masuk setelah mengetuk pintu. Atau mungkin saja salah satu pelayan di sana?


Dengan langkah gontai Rin bangun dari duduknya dan membuka pintu. Rin terpaku melihat siapa yang berdiri disana.


"Reiz...?" Lirihnya. Matanya berkaca-kaca menatap lelaki yang sangat di rindukannya itu.


Reiz berdiri tepat di hadapannya, kali ini tatapan matanya berbeda. Tak ada lagi sorot mata dingin dan datar seperti biasanya. Yang ada hanya tatapan sendu di mata tajam lelaki itu. Tanpa sepatah kata pun Reiz menarik Rin ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku..." Ucap Reiz. Rin tak menjawab, ia hanya mempererat pelukannya dan menangis terisak di sana.


"Maafkan aku yang selama ini tak pernah peka dan selalu mengabaikanmu. Maafkan aku karena ketidakpedulianku, kita harus kehilangan anak kita..." Lanjutnya. Rin menggeleng pelan sambil mengangkat wajahnya.


"Semua itu bukan salahmu Reiz...." Ucap Rin diiringi isakan. Reiz mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya, dan kembali memeluknya.


"Ku kira kau marah padaku, karena keegoisanku yang menyebabkan kita harus kehilangan anak. Aku bahkan berfikir kalau kau membenciku." Ucap Rin yang masih terisak di pelukan Reiz.


"Aku tak pernah marah apalagi membencimu. Semua yang terjadi adalah akibat kebodohanku."


Reiz mengecup kening Rin, begitu dalam dan lama seakan mengalirkan kerinduan di antara keduanya.


"Ehm..." Suara deheman merusak momen haru mereka berdua.


"Sebaiknya kalian lanjutkan di dalam kamar, jangan di depan pintu seperti itu."  Ujar Tuan Mark dengan suara beratnya. Reiz dan Rin langsung melepas pelukannya. Karena terlalu larut oleh suasana, mereka jadi tak sadar kalau sedari tadi masih berdiri di depan pintu kamar dan menjadi tontonan oleh keluarganya.


Tuan Mark, Nyonya Tyas, Tomi dan juga Tania berdiri tak jauh dari kamar itu dan menyaksikan adegan haru keduanya. Rin menundukkan wajahnya yang nampak memerah.


"Kami harap kalian berdua bisa mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian ini. Dan Reiz, kalau kau sampai menyakiti Rinata lagi, Daddy benar-benar tak mau mengakui kau sebagai anggota keluarga ini lagi." Tegas Tuan Mark.


"Daddy tenang saja, aku janji akan memperlakukan istriku dengan baik dan itu semua bukan karena ancaman dari Daddy, tapi karena aku mencintainya." Jawab Reiz dengan yakin.


Semua orang tercengang mendengar ucapan pria itu, tak terkecuali Rin. Wanita itu menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Apa aku tak salah dengar? Seorang Reiz Anderson menyatakan cinta pada seseorang di hadapan keluarganya?" Tanya Tomi tak percaya, sedangkan sudah berkali-kali ia menanyakan tentang perasaan Reiz terhadap istrinya tapi Reiz selalu menyangkalnya.


"Apa aku salah menyatakan cinta pada istriku sendiri di hadapan keluargaku?" Reiz balik bertanya.

__ADS_1


"Oh Reiz, ternyata kau itu romantis sekali..." Puji Tania.


"Hei, kenapa kau malah memujinya?" Protes Tomi.


"Sudah-sudah.... Rin sebaiknya kau ajak suamimu masuk ke kamar, dan kita kembali ke kamar masing-masing." Nyonya Tyas kembali menengahi. Reiz segera menarik tangan istrinya ke dalam kamar, tak lupa juga ia mengunci pintu.


"Hei Reiz, kenapa di kunci? Apa kau takut kalau kau menerobos masuk?" Tanya Tomi dari balik pintu.


"Tom..." Suara Tuan Mark membuat Tomi terdiam dengan senyum tertahan.


Reiz duduk di sisi tempat tidur diikuti dengan Rin yang duduk di sampingnya.


"Reiz..." Rin ingin menanyakan kembali ucapan Reiz tentang perasaannya tadi. Tapi ia malu.


"Kenapa?" Tanya Reiz lembut sambil menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah imut istrinya.


Rin yang untuk pertama kali di perlakukan lembut oleh suaminya hanya bisa menundukkan wajahnya yang merona. Reiz mengangkat dagu istrinya, nampak jelas wajah Rin yang memerah. Ternyata wanita itu menggemaskan sekali, karena tak tahan Reiz mengecup lembut bibir Rin.


Rin sempat terkejut mendapat serangan mendadak, tapi kemudian ia menikmatinya juga. Reiz mendorong pelan tubuh Rin hingga berbaring. Ciuman keduanya terlepas, Reiz membelai pelan wajah Rin dengan jemarinya.


Rin menitikan air matanya. Betapa bahagianya ia malam ini. Kata-kata yang dari dulu ia nantikan akhirnya terucap juga dari mulut pria yang dicintainya itu.


"Jangan menangis lagi. Kita akan memulai semuanya dari awal, dengan cinta bukan karena terpaksa." Reiz mengecup air matanya, dan ciuman itu terus turun sampai ke bibir. Rin begitu menikmati sentuhan itu. Reiz melakukannya dengan begitu lembut dan penuh cinta, tak kaku lagi seperti dulu.


Tanpa sadar pakaian yang membalut keduanya sudah terlepas. Dan malam itu untuk pertama kalinya Reiz menghujani Rin dengan cintanya. Memperlakukannya dengan begitu lembut, sentuhan dan kecupan yang membuat Rin merasa sangat di cintai.


**********


Selimut tebal berbulu lembut menutupi tubuh polos keduanya setelah melakukan aktivitas yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Reiz memeluknya, menyandarkan kepala Rin di dadanya sambil mengusap lembut rambutnya.


Ada rasa bahagia tersendiri di dalam hati Reiz ketika ia bisa kembali memeluk istrinya.


"Reiz, apa kau sudah tidur?"


"Belum, tidurlah ini sudah malam."

__ADS_1


"Reiz, boleh aku tanya sesuatu?" Rin mengangkat wajahnya, menatap mata tajam itu.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Em... kenapa kau tak pernah menemuiku selama dua bulan ini?"


Reiz mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rin.


"Apa kau tidak tahu? Aku berkali-kali datang untuk menemuimu baik itu ketika di rumah sakit ataupun di mansion ini tapi mereka selalu melarangku untuk bertemu denganmu?"


Rin nampak terkejut mendengarnya, karena setahunya Reiz tak pernah datang untuk menemuinya dan beranggapan Reiz memang tak ingin bertemu dengannya lagi.


"Benarkah?" Reiz mengangguk.


"Mereka siapa, Reiz?"


"Para pengawal yang di sewa oleh Mommy dan Daddy."


"Pengawal?"


"Ya, Mommy dan Daddy melarangku untuk menemuimu, mereka sangat marah dan kecewa terhadapku karena kecelakaan itu. Mommy dan Daddy bahkan menyewa beberapa pengawal untuk menjagamu." Jelas Reiz.


"Tapi aku tak pernah tahu soal itu. Ku pikir, kau yang tak mau lagi menemuiku..."


"Aku ingin sekali menemuimu dan meminta maaf." Reiz menjeda ucapannya.


"Hidupku seakan hancur saat tahu kau kecelakaan dan semua karena kesalahanku yang tak pernah peduli padamu..." Lirihnya.


"Ssst... Reiz tak perlu di bahas lagi, bukankah sudah ku bilang kalau semua itu bukan salahmu."


Reiz tersenyum saat melihat jari telunjuk Rin ada di bibirnya.


"Reiz, kau tersenyum?" Rin melebarkan matanya membuat senyum Reiz seketika menghilang.


"Apa kau pikir aku tidak bisa tersenyum?"

__ADS_1


__ADS_2