Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku terjatuh


__ADS_3

Rin kembali menatap Reiz, ia mengusap air matanya. Sepertinya amarah lelaki itu sudah berkurang. Rin berpikir sejenak, mencari cara agar tetap bisa bersama Reiz.


"Aku.... Aku mohon... Izinkan aku tetap tinggal di sini, Tuan. Aku akan bekerja untukmu agar aku bisa melunasi hutangku..." Ucapnya setelah akhirnya menemukan sebuah ide agar bisa tetap tinggal bersama Reiz.


"Aku tidak pernah menanggap semua itu hutang. Lagipula kau bisa bekerja apa untukku?" Reiz membalikkan tubuhnya membelakangi Rin.


"Hutang tetaplah hutang, Tuan. Dan aku akan berusaha membayarnya walau harus mencicilnya. Aku bisa menjadi asisten rumah tangga, dan membersihkan apartemen ini..." Jawab Rin.


"Aku juga bisa memasak untukmu, Tuan." Lanjutnya. Reiz memijat keningnya, ia merasa pusing. Kalau  Rin bekerja di apartemennya itu artinya Rin akan tinggal bersamanya dan setiap hari ia akan bertemu wanita itu.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan." Reiz akhirnya menyerah.


 "Tapi ingat jangan pernah menggangguku." Sambungnya seraya pergi meninggalkan Rin menuju kamarnya. Rin tersenyum lega, setidaknya kini ia punya tempat tinggal walau untuk sementara. Dan ia bisa tetap bersama Reiz, itu yang terpenting.


Rin masuk kembali ke kamar yang semalam ia tempati, Rin mendudukkan tubuhnya di sisi tempat  tidur.


"Tuan Reiz memang pria yang baik, dan dia juga sangat tampan walau selalu memasang tampang dingin dan datar. " Rin tersenyum sambil membayangkan wajahnya Reiz yang tampan.


Reiz mengganti pakaiannya, ia harus bersiap-siap ke kantor sekarang. Ada rapat penting dua jam lagi. Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin, entah kenapa Rin selalu saja berhasil membuatnya tak tega dan menuruti keinginan wanita muda itu.


Reiz menghembuskan nafasnya kasar,  jangan sampai ia terlibat lebih jauh dengan Rin. Biarlah gadis itu tinggal di tempatnya, toh ia juga hanya berada di sana dari malam hingga pagi saja sisa waktunya lebih banyak ia habiskan di kantor.


Rin keluar kamar bertepatan dengan Reiz yang akan pergi bekerja.


"Tuan, anda mau kemana?" Tanyanya yang melihat Reiz sudah rapi dengan setelan jasnya.


"Ke kantor." Jawab Reiz sambil melangkah pergi. Rin mengikuti langkah Reiz.

__ADS_1


"Tuan, apakah anda makan siang di sini? Anda ingin ku masak kan apa? Tapi di sini tidak ada bahan makanan...."


BRUK


Tubuh Rin menabrak punggung Reiz karena lelaki itu berhenti mendadak.


"Aw... Hidungku..." Rin mengusap hidung mancungnya yang terbentur punggung Reiz, Reiz membalikkan tubuhnya, membuat keduanya berhadapan.


"Tuan kenapa berhenti mendadak? Hidungku jadi terbentur." Rin mengusap hidungnya yang nampak memerah. Reiz memutar bola matanya, entah kenapa wanita ini sangat menyebalkan di matanya.


"Nanti akan ada orang yang mengantarkan bahan makanan, kau tunggu saja. Aku makan siang di kantor." Jawab Reiz. Rin hanya mengangguk sambil terus mengusap hidungnya. Reiz melanjutkan langkahnya, jangan sampai ia terlambat hanya gara-gara Rin.


"Hati-hati di jalan, Tuan." Rin tersenyum manis di depan pintu. Reiz menoleh.


"Kau jangan mengacak-ngacak tempatku." Ucapnya datar.


**********


Seminggu telah berlalu, Rin benar- benar bekerja dengan baik. Rin memang gadis yang rajin dan mandiri. Dulu ketika masih tinggal di rumah keluarganya pun Rin terbiasa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri, walau di rumahnya ada beberapa orang pelayan. Tapi ibunya selalu berpesan, kalau ia tak boleh manja dan mengandalkan orang lain untuk pekerjaan yang masih bisa kita kerjakan sendiri.


Dan selama seminggu pula Rin dan Reiz jarang bicara walaupun mereka tinggal satu atap, tepatnya Reiz yang hanya bicara seperlunya pada Rin. Apalagi Reiz yang selalu sibuk di kantornya, pekerjaannya jadi dua kali lipat. Karena Tomi, sang bos sedang cuti selama satu bulan. Ia sedang bulan madu dengan istrinya.


Rin tak masalah asalkan ia masih di izinkan tinggal di tempat Reiz, itu sudah lebih dari cukup baginya.


Kini Rin sedang berada di kamarnya. Semua pekerjaan rumahnya sudah beres, hanya tinggal menunggu Reiz pulang saja.


Makan malam pun sudah tersedia. Selama ini pria itu tak pernah protes, apapun yang Rin masak selalu di santap nya sampai habis.

__ADS_1


Rin duduk di tengah tempat tidurnya, sambil menyadarkan wajahnya di kedua lututnya.


"Ibu...." Rin teringat ibunya yang sudah pergi enam bulan yang lalu.  


"Rinata kangen..." Lirihnya, mata Rin berkaca-kaca. Sudah lama ia tak pergi mengunjungi makam sang ibu. Rin memejamkan matanya, air matanya mengalir. Rin menangis terduduk sambil memeluk lututnya sendiri.


Sungguh ia sangat merindukan ibunya. Kini bahkan ia tak memiliki foto ibunya, ponsel dan barang-barangnya semua tertinggal di rumahnya. Selama ini Rin selalu menyembunyikan kesedihannya sendiri di balik sikapnya yang ceria.


Reiz masuk kedalam apartemennya, ia sedikit heran tak mendapati Rin di sana. Biasanya gadis itu selalu duduk di ruang tamunya, menyambutnya pulang dengan senyuman walaupun ia selalu mengabaikannya.


Langkah Reiz terhenti ketika melintasi kamar Rin, tak sengaja ia mendengar isak tangis yang begitu lirih di dalam kamar Rin. Reiz hendak mengetuk pintu kamar Rin, tapi ia urungkan. Untuk apa ia tahu apa yang terjadi pada gadis itu? Reiz menggeleng, ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Reiz menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia beberapa menu makanan, Reiz mendudukkan tubuhnya, ia sudah sangat lapar dan entah kenapa masakan Rin selalu menggugah seleranya. Tak bisa di pungkiri kalau masakan Rin memang cocok dengannya.


***********


Rin keluar dari kamarnya, ia baru sadar sudah pukul tujuh malam sudah masuk jam pulang Reiz. Ia mendudukkan tubuhnya di ruang tamu, bermaksud menyambut kedatangan pria itu. Itu yang selama ini ia lakukan, walau Reiz selalu melewatinya begitu saja.


Rin menatap jam dinding di sana, sudah pukul 19.30 tapi kenapa Reiz belum pulang. Selama seminggu ini pria itu selalu pulang tepat waktu, apa mungkin Reiz lembur? Tapi kenapa Reiz tak memberitahu dirinya?


Tunggu, memang siapa dirinya sampai Reiz harus laporan kepadanya kalau ia pulang terlambat pulang? Hah... Rin menghela nafas panjang menyadari dirinya hanyalah seorang asisten rumah tangga di mata Reiz.


Bahkan selama ini ia tak tahu Reiz kerja apa dan dimana, mau bertanya pun wajah Reiz tidak bersahabat untuk di ajak bicara.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Rin terkejut mendengar suara di belakangnya, ia bahkan sampai terjatuh dari tempat duduknya karena ia duduk di sisi sofa.


 

__ADS_1


__ADS_2