Reiz And Rin

Reiz And Rin
Bekal makan siang


__ADS_3

"Halo Rin, kau kemana saja? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?" Tanya Tania beruntun setelah panggilan itu terhubung.


"Em... Aku sibuk, Tania." Jawab Rin.


"Sibuk apa? Sibuk produksi anak?" Tawa Tania terdengar di sebrang sana. Rin hanya tersenyum pahit. Membuat anak? Reiz bahkan jarang sekali menyentuhnya selama tinggal di apartemen itu.


"Rin, apa kau ada waktu?'' Lanjut Tania ketika tak mendengar jawaban dari Rin.


"Memangnya kenapa?" Rin balik bertanya.


"Aku bosan, bagaimana kalau hari ini kita ke kantor para pria tampan yang sudah menjadi suami kita?" Tanya Tania.


Rin menarik nafas panjang, Tania saja yanng tinggal di mansion yang banyak orang saja bosan, apalagi dirinya yang seperti tinggal sendiri di apartemen mewah itu.


"Ke kantor? Untuk apa?" Tanya Rin.


"Kita bawakan makan siang, dan makan bersama Tomi dan Reiz." Jawab Tania dengan penuh semangat.


"Bagaimana? Apa kau mau?" Sambungnya.


Ke kantor Reiz dan membawakan makan siang? Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Lagi pula selama ini Rin belum pernah ke tempat suaminya itu bekarja.


"Baiklah, aku akan mengabari Reiz dulu."


"Jangan Rin, kita beri mereka kejutan." Cegah Tania.


"Kejutan? Em... baiklah. Aku akan memasak dulu."


"Ya sudah kalau begitu, aku juga mau memasak. eh, maksudnya belajar masak. Hahaha... Nanti aku menjemputmu ke apartemen. Ya sudah aku tutup teleponnya ya?"


"Ok, baiklah." Rin mengakhiri panggilan itu.


********


"Bagaimana pernikahanmu dengan Reiz?" Tania membuka percakapan, kini mereka berdua sedang dalam perjalanan. Rin menoleh ke arah Tania yang sedang fokus menyetir mobilnya. Kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.


"Baik-baik saja." Jawab Rin dengan senyum yang di paksakan. Tania menoleh ke arah Rin sejenak.


"Apa ada sesuatu?" Tanya Tania. Rin menggeleng. Tania bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres diantara Reiz dan Rin.


"Ku harap kau bisa sabar menghadapi Reiz. Dia memang pria yang kaku, tapi Reiz pria yang baik." Ucap Tania yang seolah tau isi pikiran Rin.


"Reiz memang pria yang baik. Dan aku akan selalu bersabar." Jawabnya pelan.

__ADS_1


"Apa kau tahu Rin? Sebenarnya aku kagum padamu, karena kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil mendekati bahkan memiliki Reiz."


"Selama ini Reiz selalu bersikap dingin terhadap wanita. Dulu waktu sekolah dan kuliah banyak wanita yang mengejarnya, tapi Reiz tak pernah mau melihat mereka satu pun." Tania menggelengkan kepalanya mengingat saat kuliah dulu banyak wanita yang menaruh hati pada Reiz, tapi Reiz tidak pernah peduli sama sekali.


"Apa kau sudah lama mengenal Reiz?" Tanya Rin. Tania mengangguk.


"Ya cukup lama, dari sekolah menengah atas. Kelas tiga tepatnya."


"Oh jadi kalian sudah lama saling mengenal?"


"Ya, dulu aku baru pindah ke sekolah Reiz menginjak kelas tiga sekolah menengah atas. Tepat saat usia kami tujuh belas tahun." Tania menjeda ucapannya.


"Dulu saat aku baru bersekolah di sana dua minggu, tiba-tiba saja Tomi menyatakan cinta padaku di parkiran sekolah. Aku yang pada saat itu memang sudah menyukai Tomi saat pertama kali melihatnya pun langsung menerimanya. Dan hubungan kami terus berlanjut, kami kuliah bersama, dan akhirnya menikah." Tania tertawa mengingat masa lalunya dengan Tomi.


"Wah ternyata kisah cinta kalian berjalan mulus sekali. Aku jadi iri." Canda Rin di iringi tawanya.


"Aku pun tak menyangka bisa menikah dengan Tomi." Tania menggeleg-gelengkan kepalanya.


"Oh ya, pertama kali aku melihat Reiz aku takut padanya. Karena tatapannya yang selalu dingin. Tapi anehnya, itu malah membuat banyak wanita tergila-gila padanya. Pada saat menjalin hubungan dengan Tomi, akhirnya aku tahu bagaimana Reiz. Ia bersikap dingin seperti itu karena suatu alasan." Ujar Tania panjang lebar.


"Alasan? Alasan apa?" Tanya Rin yang terlihat penasaran.


"Yang ku tahu Reiz tak ingin jatuh cinta dan tak ingin membuat wanita jatuh cinta padanya. Tapi untuk apa dan kenapa, aku tak tahu." Tania mengangkat bahunya.


"Jadi Reiz tak ingin jatuh cinta? Ternyata memang tak ada harapan untukku meraih hati Reiz." Batin Rin.


*********


Setelah menempuh perjalan sekitar lima belas menit, mobil yang di kendarai Tania tiba di Anderson grup.


Tania dan Rin melangkah memasuki perusahaan besar itu.


"Perusahaan ini besar sekali." Rin tak bisa menyembunyikan kekagumannya.


"Dan kau seharusnya bangga, karena perusahaan sebesar ini ada di bawah kendali suamimu." Ujar Tania.


"Maksudnya?"


"Walaupun Tomi yang menjadi direktur utama di sini, tapi Reiz yang memegang semua kendali atas perusahaan ini." Rin hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Tania.


Sebelum sampai di meja resepsionis, mereka lebih dulu melihat Reiz yang sedang berbicara dengan beberapa orang.


"Itu Reiz, ayo kita kesana saja." Ajak Tania. Rin mengekor di belakangnya.

__ADS_1


"Reiz!" Panggil Tania membuat Reiz mengalihkan pandangannya.


"Nona Tania, Rinata?" Gumamnya. Reiz segera mengakhiri percakapan dengan orang-orang tadi dan mereka pun undur diri.


"Hai." Sapa Tania.


"Apa yang Nona lakukan di sini?" Tanya Reiz dengan datarnya.


"Ck, apa kami tak boleh mengunjungi kantor tempat suami kami bekerja?" Tanya Tania sarkastik.


"Mana Tomi?" Sambungnya.


"Tuan Tomi ada di ruangannya, Nona." Reiz sejenak menatap Rin yang hanya diam sambil menunduk.


"Ya sudah ayo kita ke sana, kami membawa makan siang untuk kalian." Tania menunjukan bekal makanan yang di bawanya.


"Mari Nona." Reiz berjalan lebih dulu, ikuti Tania dan Rin di belakangnya. Mereka bertiga memasuki lift khusus.


Dan terlihat beberapa karyawan wanita mulai berkumpul.


"Siapa wanita yang bersama Nona Tania tadi?" Tanya salah satu dari mereka. Para karyawan di sana memang mengenal Tania sebagai istri dari direktur mereka


"Entahlah. Mungkin istri Tuan Reiz? Ku dengar Tuan Reiz sudah menikah."


"Benarkah? Wah, beruntung sekali wanita itu bisa menikah dengan Tuan Reiz. Aku saja hanya bisa melihat Tuan Reiz dari jauh tanpa berani menatapnya."


"Ya benar, ku kira tak akan ada wanita yang berhasil meluluhkannya. Kalian tahu sendiri kan bagaimana dinginnya Tuan Reiz?"


Percakapan mereka terhenti ketika melihat atasannya yang berjalan mendekat.


"Hei, cepat kita bubar. Kalau tidak kita akan kena marah Nona Vina."


"Cepat-cepat."


Kumpulan karyawati itu pun membubarkan diri, kembali ke tempat masing-masing.


*****


"Apa kalian sedang sibuk?" Tanya Tania pada Reiz yang berdiri membelakanginya. Reiz menoleh.


"Tidak terlalu." Jawabnya singkat, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Hei Reiz, kau jangan terlalu kaku, di dalam lift ini hanya ada kita bertiga. Kau lihat, istrimu jadi ketakutan begitu karena mu."

__ADS_1


__ADS_2