
Sementara itu di kamar Reiz dan Rin para wanita muda sedang berkumpul.
"Rin, aku benar-benar minta maaf..." Ucap Gwen.
"Kak Gwen, sudah lupakan saja. Semua sudah berlalu." Jawab Rin sambil tersenyum lembut.
"Tapi aku terlalu jahat...." Gurat penyesalan nampak jelas di wajahnya.
"Aku bahkan tak tahu kalau ayah menjualmu pada Edra, dan aku malah menambah lukamu."
"Kak Gwen..." Rin menggeleng pelan.
"Semua sudah berlalu..." Sambungnya.
"Dan tentu di setiap kejadian pasti ada hikmahnya." Ujar Tania.
"Hikmah?" Tanya Gwen.
"Ya. Karena kau, Reiz jadi menyadari perasaannya pada Rin." Jawab Tania.
"Apa kau tahu? Dulu di awal pernikahannya sikap Reiz begitu dingin pada Rin?" Tania mulai bergosip, mencoba mengalihkan pembicaraan agar Gwen tak terus-terusan merasa bersalah.
"Benarkah?" Gwen seakan tak percaya.
"Ya, itu benar. Kau kan tahu bagaimana dinginnya Reiz dengan wanita." Lanjut Tania.
"Tapi Rinata bisa sampai hamil? Tidak mungkin jika Reiz bersikap dingin bisa sampai menghamili Rinata?" Tanya Gwen lagi.
"Ya mungkin saja Reiz dingin di luar, tapi panas di dalam. Bukan begitu Rin?'' Tanya Tania menggoda Rin.
"Ehm, kenapa kalian malah membahas masalah itu?" Pipi Rin terlihat merona.
"Hei lihat, kenapa pipimu jadi merah seperti itu?" Goda Tania lagi. Gwen tersenyum, ia ikut bahagia melihat sang adik.
"Kak Gwen, kapan kau akan menikah dengan Tuan Edra?" Rin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dua minggu lagi." Jawab Gwen.
"Dua minggu? Cepat sekali?" Tanya Tania tak percaya.
"Untuk apa menundanya? Edra sudah terlalu lama menunggu." Jawab Gwen, matanya terlihat menerawang.
"Apa kau mau mengadakan resepsi?" Tanya Gwen pada Rin.
"Aku? Bukannya Kak Gwen yang mau menikah?" Rin tak mengerti.
"Emmm... Bukankah kau belum mengadakan resepsi pernikahan dengan Reiz? Bagaimana kalau kita adakan resepsi bersama? Daddy Drake juga memintaku menanyakan hal ini padamu." Jelas Gwen. Rin terlihat berfikir sejenak.
"Aku rasa tidak perlu, lagipula pernikahanku dan Reiz sudah lama. Jadi tak perlu di adakan resepsi." Tolak Rin.
"Kau yakin?" Tanya Gwen.
__ADS_1
"Ya, aku rasa Reiz juga akan menolaknya. Lagipula ia tak suka keramaian." Jawab Rin.
"Ya, kau benar. Reiz memang tak suka keramaian. Dulu saja saat resepsi pernikahanku dengan Tomi, ia lebih memilih duduk sendiri di sudut ruangan." Tania ikut menambahkan.
Obrolan mereka bertiga terus berlanjut ke hal-hal yang tidak penting, dan tawa mereka bertiga pecah seakan memenuhi kamar.
Klek, pintu kamar terbuka. Nampak Reiz berdiri di ambang pintu.
"Hei Reiz, apa yang kau lakukan di sini?" Tania menghampiri Reiz.
"Keluarlah!" Usir Tania.
"Ini kamarku." Jawab Reiz datar.
"Ya ini memang kamarmu, tapi kami sedang meminjamnya. Kami sedang membahas masalah perempuan. Jadi keluarlah dan jangan mengganggu."
Tania mendorong tubuh pria itu hingga keluar kamar, dan juga mengunci pintu kamar itu. Sementara Rin dan Gwen hanya menahan tawanya melihat ekspresi Reiz yang di usir Tania.
"Aku di usir dari kamarku sendiri? Hah... Sulit untuk di percaya." Gerutu Reiz.
**********
"Mom, apa sedang Mommy lakukan?" Tanya Reiz, ia memilih menghampiri Mommy nya setelah 'keributan' di taman belakang dan terusir dari kamarnya sendiri.
"Mommy sedang menyiapkan makan malam, sayang." Nyonya Tyas terlihat menata beberapa hidangan di meja makan.
"Boleh aku membantu?" Tawar Reiz.
"Tentu." Jawab Nyonya Tyas diiringi dengan senyuman.
"Hei lihat, adikku rajin sekali." Suara Tomi kembali mengganggu.
"Adikku." Sela Edra.
Reiz hanya menatap datar keduanya. Kenapa mereka malah mengganggu lagi? Kedua pria itu duduk berhadapan di meja makan.
"Edra, kau dan Gwen makan malam di sini kan?'' Tanya Nyonya Tyas.
"Tentu, Aunty." Jawab Edra dengan senyum lebarnya.
"Kemana para wanita, Mom?" Tanya Tomi.
"Sepertinya mereka di kamar Reiz." Jawab Nyonya Tyas.
"Oh, pantas saja Reiz ada di sini. Pasti dia di usir dari kamar oleh para wanita." Ledek Tomi yang mendapat tatapan dingin dari Reiz.
"Kau jangan menggoda adikku." Bela Edra.
Nyonya Tyas hanya mengelengkan kepalanya, melihat kelakuan para pemuda itu.
"Mom..." Tania bersama Rin dan juga Gwen menghampiri meja makan.
__ADS_1
"Mom, sorry aku tadi tak membantu." Rin terlihat menyesal, karena terlalu larut dalam obrolan ia sampai lupa membantu ibu mertuanya.
"Tak apa, Rin. Lagipula ada Reiz dan para pelayan yang membantu Mommy."
"Kalian duduklah, Mommy mau memanggil Daddy dulu." Sambungnya.
"Ok, Mom." Jawab mereka serentak.
Makan malam berlangsung hangat, walau pada awalnya Gwen merasa canggung, tapi lama kelamaan ia jadi terbiasa. Apalagi Tuan Mark dan Nyonya Tyas tidak membeda-bedakannya.
"Edra, kapan kau dan Gwen akan menikah?" Tanya Tuan Mark, mereka telah selesai makan malam.
"Dua minggu lagi, Uncle." Jawab Edra.
"Kalian akan mengadakan resepsi di mana?" Tanyanya lagi.
"Kalau masalah itu, Mommy Eliza yang mengurusnya."
"Kalau kalian mau, kalian bisa mengadakan resepsi di Hotel Anderson." Tawar Tuan Mark.
"Terima kasih atas tawarannya, Uncle. Nanti saya akan bicarakan dengan orang tua saya." Jawab Edra sopan.
Gwen menatap orang-orang di sana secara bergantian, mereka semua orang baik juga calon mertuanya yang mau menerima dirinya apa adanya. Seandainya ia tahu kalau ada orang sebaik Edra yang mencintainya, ia tak akan melakukan hal bodoh itu pada Rin.
"Uncle, Aunty... Daddy meminta saya untuk menanyakan sesuatu." Ucap Edra ketika baru teringat pesan ayahnya.
"Apa itu?" Tanya Nyonya Tyas.
"Apa Reiz dan Rinata ingin mengadakan resepsi? Kalau iya, kami bisa mengadakan resepsi bersama?" Tanya Edra, menatap Tuan Mark dan Reiz secara bergantian.
"Itu benar, Reiz kau kan belum mengadakan resepsi." Sambar Tomi.
"Bagaimana Reiz?" Tanya Tuan Mark.
"Aku tak suka keramaian. Lagipula pernikahanku dan Rinata sudah hampir lima bulan yang lalu. Jadi ku rasa tak perlu di adakan resepsi." Tolak Reiz.
"Kau yakin? Kau bisa jadi raja sehari di resepsimu nanti?" Tanya Tomi.
"Aku tak ingin jadi raja." Tukas Reiz.
"Kau yakin?" Kali ini Edra yang bertanya.
"Tentu saja." Jawab Reiz.
"Kenapa tak kau tanyakan dulu pada istrimu?" Tanya Tomi lagi.
"Mungkin saja Rinata mau jadi ratu sehari?" Sambung Tomi. Reiz mengalihkan pandangannya pada Rin.
"Ku rasa Reiz benar, kami tidak perlu mengadakan resepsi." Jawab Rin dengan senyum manisnya.
"Baiklah kalau begitu, Reiz dan Rin tak mengadakan resepsi. Dan Edra jika kau memerlukan bantuan jangan sungkan untuk meminta tolong pada Tomi dan Reiz. Bagaimanapun kita adalah keluarga." Ucap Tuan Mark.
__ADS_1
"Tentu Uncle, dan terima kasih untuk semua." Jawab Edra dengan tulus.
**********