Reiz And Rin

Reiz And Rin
Wedding Day


__ADS_3

"Mommy tahu?" Rin terbelalak, ia sama sekali tak menyangka.


"Ya, selama ini Mommy dan Daddy selalu mengawasi Tomi dan Reiz dari jauh, walaupun mereka berdua sudah dewasa. Jadi kami tahu apa yang terjadi malam itu. Dan itu adalah pertama kalinya Reiz peduli dengan wanita lain selain Mommy dan Tania." Jelas Nyonya Tyas.


"Dan kami juga tahu tentang kejadian di stasiun beberapa hari lalu." Nyonya Tyas tertawa kecil.


"Mommy... Itu hanya..." Rin tergagap, wajahnya memerah mengingat kejadian itu.


"Kau tahu? Kau wanita pertama yang berani memeluk Reiz seperti itu." Terang Nyonya Tyas masih dengan tawanya. Rin membulatkan matanya mana mungkin Reiz tidak pernah berpelukan.


"Itu tidak mungkin, Mom..." Rin tak percaya.


"Pasti kau tidak percaya. Asal kau tahu Reiz belum pernah dekat dengan wanita apalagi berpacaran. Kalian sudah tinggal bersama selama seminggu, kau pasti sudah tahu bagaimana sikap Reiz bukan?"


Rin terdiam, baginya Reiz memang pria yang kaku dan dingin. Jadi tak heran jika Reiz belum pernah dekat dengan wanita sebelumnya.


"Tapi kau tenang saja, sayang. Reiz adalah pria yang baik." Nyonya Tyas tersenyum lembut.


"Tuan Reiz memang baik." Ucap Rin pelan.


"Panggil Reiz saja, tidak perlu pakai Tuan. Bukankah sebentar lagi kalian akan menikah?"


Rin menghela nafas berat, dirinya tidak pernah membayangkan sebelumya akan menikah dengan Reiz walaupun sudah tinggal bersama.


"Mom, aku...."


"Ada apalagi Rin? Bukankah Reiz juga sudah setuju untuk menikahimu?" Tanya Nyonya Tyas.


"Aku... Aku hanya takut kalau Reiz tak bisa menerimaku..." Lirih Rin.


Nyonya Tyas mengusap rambut panjang Rin.


"Kau tenang saja Rinata, Reiz pasti bisa menerimamu, apalagi kalau kau terus menghujaninya dengan cintamu..." Rin mengerutkan keningnya menatap Nyonya Tyas.


"Kau mencintai Reiz bukan?" Mata Rin melebar, mendengar pertanyaan itu. Bagaimana wanita paruh baya itu tahu kalau dirinya mencintai Reiz.


"Mommy, tau dari mana kalau aku..." Ucapnya terputus. Nyonya Tyas tertawa kecil sambil menggeleng pelan.


"Rin, dengan sekali lihat saja sudah terlihat jelas kalau kau mencintai Reiz. Ketika menatap Reiz, matamu tidak bisa berbohong, Rin." Ujarnya.

__ADS_1


Rin menundukkan wajahnya yang terlihat merona.


"Jadi, tidak ada alasan lagi bukan untukmu menolak pernikahan ini?" Lanjut Nyonya Tyas.


Rin diam saja, apa memang benar jika dirinya terlihat jelas sudah jatuh cinta pada Reiz? Apa lelaki itu juga menyadarinya? Hah, mana mungkin?


"Oh iya, kau ingin pernikahan yang seperti apa Rin?" Tanya wanita itu lagi. Rin menangkat wajahnya, ia terlihat bingung.


"Aku... Aku tidak tahu, Mom..." Jawab Rin.


"Emm... kau ingin pernikahan di dalam gedung atau di luar ruangan?" Tanya Nyonya Tyas lagi. Rin berfikir sejanak.


"Mom, bisakah pernikahannya sederhana saja?" Rin balik bertanya.


"Kenapa sayang? Apa kau tak ingin pernikahan yang mewah?" Rin menggeleng pelan mendengar pertanyaan Nyonya Tyas.


"Tidak Mom, aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan yang mewah. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan lagi pula pernikahan ini terkesan mendadak." Jawab Rin.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, Mommy akan tanyakan dulu pada Reiz. Kalau Reiz setuju, Mommy akan siapkan sesuai keinginanmu."


"Aku sangat merepotkan Mommy." Ucap Rin merasa tak enak dengan calon mertuanya.


"Sama sekali tidak sayang, Mommy justru sangat senang karena akhirnya Reiz bersedia menikah."


Sementara Rin begitu di manjakan oleh Nyonya Tyas dan juga Tania selama tinggal di mansion Anderson. Dua wanita itu yang mengurus segala keperluan pernikahannya dengan Reiz. Walaupun awalnya Rin merasa canggung, namun lama kelamaan ia jadi terbiasa. Dan semakin akrab dengan Tania.


*****


Seminggu kemudian....


Janji suci telah di ucapkan. Reiz dan Rin sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Pernikahan mereka di gelar dengan sederhana sesuai dengan keinginan Rin. Pernikahan yang di adakan di hotel milik keluarga Anderson itu hanya di hadiri orang terdekat saja.


Rin nampak cantik dengan gaun A-line dengan lengan panjang bernuansa putih tulang. Dengan rambut model loose chignon di hiasi tiara di atasnya, dan riasan natural membuat Rin bertambah cantik.


"Menantu Mommy cantik sekali." Puji Nyonya Tyas.


"Terima kasih, Mom." Rin nampak tersipu malu.


"Selamat atas pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan." Ucap Tuan Mark seraya menepuk bahu Reiz.

__ADS_1


"Terima kasih, Dad." Ujar Reiz.


Kini giliran Tomi dan Tania yang mengucapkan selamat.


"Adikku, selamat atas pernikahanmu." Tomi merangkul bahu Reiz, tapi lelaki itu hanya diam saja memasang wajah datar.


"Reiz, beruntung sekali kau memiliki istri secantik ini. Ingat Reiz, jangan pernah kau sakiti Rinata, kalau kau sampai berani menyakiti Rinata sedikit saja, kau akan berurusan dengan kami." Ucap Tomi dengan nada mengancam yang di iringi anggukan oleh Tania. Sementara Reiz hanya menanggapi dengan wajah datarnya saja.


"Tapi sayang, bukankah nanti malam Reiz akan menyakiti Rin saat melakukan malam pertama?" Tanya Tania menatap suaminya dengan tampang polosnya, Tomi menepuk dahinya.


"Oh iya aku lupa, kecuali nanti malam. Kau boleh menyakiti Rinata. Tapi ingat, jangan bermain kasar." Tawa Tomi pecah seketika. Sementara Rin menundukkan wajahnya yang memerah, dan Reiz menatap tajam pada Tomi.


"Apa ada yang lucu Tuan Tomi?" Sinis Reiz.


"Ck, Reiz kau ini." Tomi berdecak.


"Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali di hari pernikahanmu." Sambungnya.


"Sudah-sudah kalian berdua jangan ribut." Nyonya Tyas menengahi.


"Istri kalian saja akur, masa kalian berdua ribut terus." Lanjut wanita paruh baya itu yang selalu nampak cantik walau usianya tak muda lagi.


**********


Malam harinya...


Reiz dan Rin berjalan beriringan menuju kamar pengantin mereka yang sudah di siapkan pihak hotel. Rin melihat ke arah tangannya, sambil menghela nafas pelan. Seharusnya mereka berjalan sambil bergandengan tangan, tapi lagi-lagi Reiz bersikap sangat dingin. Bahkan selama pernikahan mereka tadi, Reiz tak bicara apapun padanya. Hanya menatapnya saja dengan tatapan datarnya.


Tak bisakah pria ini bersikap manis sedikit dengan istrinya sendiri?


Tunggu, istri? Rin tertawa dalam hati, bahkan tak percaya kalau sekarang dirinya sudah menikah dengan pria dingin itu.


Rin tercengang begitu memasuki kamar pengantin mereka. Kamar yang sangat cantik, dengan hiasan bunga mawar di setiap sudutnya dan juga aroma terapi yang sangat menenangkan.


"Aku benci bunga." Gumam Reiz pelan. Rin menoleh kearahnya.


"Kenapa Reiz?" Tanya Rin yang memang tak mendengarnya. Reiz balik menatapnya.


"Aku mau mandi." Jawabnya datar sambil melangkah ke kamar mandi meninggalkan Rin.

__ADS_1


Rin mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Pandangan mengedar memandangi setiap sudut kamar itu.


Jangan lupa like & komennya biar semangat ☺️


__ADS_2