Reiz And Rin

Reiz And Rin
The wedding Edra & Gwen


__ADS_3

Dua minggu kemudian,


Sebuah resepsi mewah di adakan di Hotel Anderson, sepasang pengantin itu terlihat begitu bahagia. Menyalami setiap tamu yang datang, senyum tak pernah surut dari keduanya.


"Tuan Mark, terima kasih. Tanpa bantuan anda dan keluarga resepsi ini mungkin tidak bisa berlangsung seperti ini." Ucap Tuan Drake, kini para orang tua yang masih terlihat muda itu sedang duduk dalam satu meja.


"Tak perlu berterima kasih Tuan Drake, bukankah kita keluarga? Jadi jangan pernah ada rasa sungkan di antara kita." Jawab Tuan Mark diiringi dengan tawanya.


"Rexy sangat beruntung di asuh oleh keluarga anda. Di saat ia terpuruk, keluarga anda bersedia menerimanya. Terima kasih untuk itu." Ujar Tuan Drake lagi.


"Justru kami yang beruntung bisa mengasuh Reiz. Di saat aku tak bisa lagi memiliki anak, Tuhan mengirimkan Reiz untuk kami. Dia anak yang baik dan juga cerdas." Nyonya Tyas ikut membuka suara.


Obrolan mereka terus berlanjut, obrolan bagaimana tentang masa depan anak-anak mereka. Tuan Drake juga tak keberatan jika Reiz tetap bersama keluarga Anderson.


"Drake, aku ingin mengambil minum, kau mau sekalian aku ambilkan?" Tanya Nyonya Eliza pada suaminya.


"Em, tidak perlu, minum ku masih ada." Jawab Tuan Drake sambil menunjukan gelasnya yang masih terisi minuman.


"Baiklah kalau begitu. Tuan Mark dan Nyonya Tyas, saya permisi, mau mengambil minuman dulu." Pamitnya.


"Silahkan Nyonya." Jawab Tuan Mark dan istrinya secara bersamaan.


* * * * *


Nyonya Eliza menatap minuman dan makanan yang tersedia, rasanya begitu menggugah selera.


"Nyonya Eliza?" Panggil seseorang, mengurungkan niatnya untuk mengambil minuman.


"Ya?" Wanita itu membalikan badannya.


"Rexy?" Ucapnya ketika melihat seseorang berdiri di hadapannya.


"Bisa minta waktunya sebentar?" Tanya Reiz dengan sopan.


"Tentu." Jawab Nyonya Eliza.


Nyonya Eliza mengikuti langkah Reiz, menuju sudut ruangan yang jauh dari jangkauan orang-orang.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Rexy?" Nyonya Eliza membuka suara setelah keduanya diam beberapa menit. Reiz nampak terlihat bingung.


"Rexy, kau baik-baik saja?" Tanya Nyonya Eliza.


"Ehm, Nyonya. Aku.. Aku ingin minta maaf..." Jawab Reiz ragu-ragu.


"Minta maaf? Minta maaf untuk apa?" Kini Nyonya Eliza yang terlihat bingung.


"Maaf atas sikap saya selama ini." Reiz menundukkan wajahnya.


"Rexy?"

__ADS_1


"Maaf, jika selama ini saya sudah...." Ucapan Reiz terputus, Nyonya Eliza memegang kedua lengannya. Di tatapnya mata wanita paruh baya itu yang nampak berkaca-kaca.


"Rexy... Kau tak perlu minta maaf. Kau tak salah apapun, Nak. Justru aku yang harusnya minta maaf, karena telah membuatmu kehilangan ibumu." Air mata Nyonya Eliza mengalir.


"Tidak Nyonya, semuanya sudah takdir..." Ucap Reiz tertahan. Nyonya Eliza tersenyum simpul,


"Kau adiknya Edra bukan? Bukankah itu artinya kau juga putraku?" Tanya Nyonya Eliza. Reiz hanya mengangguk.


"Mau kah kau memanggilku Mommy?" Pinta Nyonya Eliza. Reiz mengangkat wajahnya, ditatapnya wanita berwajah teduh itu.


"Tentu." Jawabnya di iringi dengan anggukkan.


"Rexy... Anakku..." Nyonya Eliza tak kuasa untuk memeluk Reiz.


"Mommy, i'm sorry..."


"Jangan katakan itu lagi, Rexy..."


Keduanya pun larut dalam pelukan, pelukan kasih sayang antara seorang ibu dan anak laki-lakinya.


* * *


"Eliza, kau darimana saja? Kenapa lama sekali?" Tanya Tuan Drake begitu Nyonya Eliza kembali ke mejanya. Nyonya Eliza tersenyum, matanya terlihat memerah.


"Ada apa? Apa kau habis menangis?" Tanya Tuan Drake khawatir.


"Tidak Drake, aku..." Ucapan Nyonya Eliza terputus, ia mengalihkan pandangannya pada Tuan Mark dan Nyonya Tyas.


"Tidak, tidak... " Sergah Nyonya Eliza.


"Kalian tetap di sini saja." Sambungnya.


"Em... Tadi aku bertemu dengan Rexy. Lalu..." Nyonya Eliza menceritakan apa yang baru terjadi antara dirinya dan Reiz.


"Benarkah?" Tanya Tuan Drake seakan tak percaya. Nyonya Eliza mengangguk dengan mata berbinar.


"Kau tahu, malam ini aku benar-benar bahagia. Akhirnya Rexy bersedia memanggilku Mommy..." Binar kebahagian begitu nampak di wajah wanita paruh baya itu.


"Nyonya Eliza, aku turut senang." Nyonya Tyas tak kalah bahagianya.


"Terima kasih, tapi kau tak cemburu kan kalau Rexy memanggilku Mommy juga?" Tanya Nyonya Eliza merasa tak enak.


"Tenang saja Nyonya, aku tidak cemburu. Bukankah Reiz atau Rexy adalah anak kita?" Tanya Nyonya Tyas di selingi tawanya.


Dan mereka berempat akhirnya tertawa bersama. Dan itu tak luput dari perhatian Reiz.


"Reiz, apa yang kau lihat?" Tanya Rin yang melihat suaminya berdiri terpaku memandang pada satu arah.


"Kau lihat? Orang tua kita nampak begitu bahagia?"

__ADS_1


Rin mengikuti arah pandangan Reiz, dilihatnya para orang tua yang sedang tertawa itu.


"Kau benar, mereka terlihat bahagia." Rin tersenyum. Reiz melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.


"Kenapa dulu aku begitu bodoh?"


"Maksudmu?"


"Aku terjebak dalam masa laluku sendiri...Tanpa pernah melihat, ternyata ada banyak orang yang menyayangiku..." Lirih Reiz.


"Reiz..." Rin menggeleng pelan.


"Wajar jika kau merasa sakit hati, tapi jangan terlalu lama membiarkan dirimu larut dalam masa lalu. Bukankah kita hidup untuk masa kini dan masa depan?" Rin menatap dalam mata tajam pria itu.


"Terima kasih... Terima kasih karena telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya." Ucapnya tulus seraya melabuhkan kecupan di kening Rin. Rin memejamkan matanya, meresapi kecupan hangat suaminya.


"Hei... Hei... Pengantin baru ada di sana, tetapi kenapa malah kalian yang bermesraan di sini?" Suara Tomi selalu saja jadi pengganggu, merusak momen mesra keduanya.


"Kalian itu pengantin lama, jadi tidak perlu bermesraan di sini." Lanjut Tomi.


Reiz memutar bola matanya malas, melihat sepasang suami istri itu datang mendekat. Kenapa mereka berdua selalu mengganggu?


"Tak bisakah kalian berdua tak muncul di sini?" Sinis Reiz.


"Ini hotel keluarga kita, tentu saja aku berada di sini." Balas Tomi.


"Kalian berdua ini selalu saja ribut. Tapi kalau salah satu di antara kalian menghilang, pasti yang lain akan sibuk mencari." Celetuk Tania.


"Aku tak pernah mencarinya." Sangkal Reiz dengan datarnya.


"Aku juga tak pernah mencarinya, karena ia tak pernah menghilang." Sambung Tomi dengan santainya. Sementara kedua istri mereka hanya menghela nafas panjang.


"Kenapa kita tidak ke sana saja? Mengucapkan selamat pada pengantin baru itu?" Usul Rin.


"Kau benar, kita bahkan sampai lupa mengucapkan selamat pada mereka." Tania menepuk dahinya sendiri. Entah karena terlalu senang atau terlalu sibuk mereka sampai lupa mengucapkan selamat pada Edra dan Gwen.


"Ayo kita ke sana." Keempat orang itu melangkah menghampiri Edra dan Gwen, tapi mendadak langkah Reiz terhenti ketika melihat seseorang di sana.


Tampak seorang pria memakai pakaian pelayan dengan gerak-gerik yang mencurigakan berdiri tak jauh dari sepasang pengantin itu.


* * * * *


Visual




__ADS_1


Ini hanya sekedar halu authornya saja.


Kalau ada yang ga suka atau keberatan, silakan dm ya 🙏☺️


__ADS_2