
"Kenapa kau tidak tidur lagi?" Tanya Reiz, ia duduk di sofa kamar.
"Aku tak mengantuk."
"Kemarilah." Pinta Reiz. Rin berjalan menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.
"Duduklah di sini." Reiz menepuk pahanya, meminta istrinya duduk di pangkuannya, Rin menurut saja.
"Suapi aku." Pinta Reiz manja sambil menyerahkan cokelat yang di bawanya pada Rin.
"Kenapa suamiku sangat manja belakangan ini?" Tanya Rin sambil membuka bungkus cokelat.
"Memangnya kenapa? Aku manja pada istriku sendiri, bukan pada istri orang lain." Jawab Reiz sambil menerima suapan cokelat dari istrinya.
"Awas saja kalau kau sampai berani manja pada perempuan lain." Sorot mata Rin terlihat mengancam.
"Dekat dengan perempuan lain saja aku tidak pernah, apalagi bermanjaan." Reiz meraih tangan Rin yang nampak sisa-sisa cokelat yang menempel. Di kecupnya jemari itu.
"Bagaimana aku menyuapimu kalau tanganku seperti ini?" Protes Rin, sementara Reiz nampaknya tak peduli ia masih sibuk dengan jemari istrinya.
"Hentikan Reiz..." Rin mencoba menarik tangannya.
Reiz tersenyum miring, ia menarik tubuh sang istri hingga keduanya terjatuh di atas sofa.
*****
Rin mengerjapkan matanya, sepertinya hari sudah pagi. Rin menatap sekeliling, kemudian teringat ia tertidur di sofa semalam setelah Reiz mengajaknya bercinta di sana.
Rin beranjak bangun dari tidurnya, mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Di mana Reiz?" Gumamnya. Rin melangkah menuju kamar mandi. Di bukanya pintu kamar mandi yang terlihat terbuka sebagian.
"Reiz!" Pekik Rin yang terkejut melihat suaminya tergelatak di atas lantai.
"Reiz, kau kenapa?" Di raihnya tubuh Reiz, wajah lelaki itu nampak begitu pucat.
"Mommy! Mommy! Mommy!" Rin berteriak sambil berlari keluar kamar.
"Rinata, ada apa?" Nyonya Tyas menghampiri Rin. Di ikuti Tomi dan Tania di belakangnya.
"Mommy, Reiz..." Jawab Rin sambil menangis.
"Reiz kenapa, Rin?" Tanya Tomi.
"Reiz pingsan di kamar mandi..."
__ADS_1
"Pingsan?" Tanya ketiganya serentak.
*****
Reiz mengerjapkan matanya, cahaya dari lampu ruangan itu terasa begitu menyilaukan.
"Di mana ini?" Gumamnya sambil menatap sekeliling. Sepertinya ini bukan kamarnya.
Reiz beranjak dari tidurnya, melihat jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.
"Rumah sakit? Kenapa aku bisa ada di sini?"
Reiz mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Seingatnya tadi ia bangun tidur dan kembali muntah-muntah, setelah itu... Gelap. Ia tak ingat apa-apa lagi. Reiz memijat kepalanya yang kembali terasa pusing.
Klek. Pintu ruangan terbuka.
"Reiz, kau sudah sadar?" Tanya Rin begitu masuk ke ruangan itu.
"Rinata, kenapa aku bisa ada di sini?" Reiz balik bertanya.
"Tadi kau pingsan di kamar mandi. Jadi kami membawamu kemari." Jelas Rin.
"Pingsan?" Tanya Reiz, Rin mengangguk.
"Tuan Frozen, anda sudah sadar?" Seorang dokter masuk ke ruangan itu di ikuti Tuan Drake, Nyonya Tyas, Tomi dan Tania. Reiz menatap dingin pada dokter tersebut.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Tanya Nyonya Tyas.
"Aku baik-baik saja, Mom." Jawab Reiz dengan senyum tipisnya.
"Kalau baik-baik saja, kau tak akan pingsan di kamar mandi." Celetuk Tomi.
"Kau tahu, tadi kami begitu cemas karena Rinata berteriak dan menangis gara-gara kau pingsan." Lanjutnya.
"Ini pasti akan menjadi bahan gosip yang menarik jika kita masih kuliah. Seorang Reiz Anderson pingsan di kamar mandi, hahaha..." Sambar Dokter Alvin, tertawa lepas. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang berada di sana.
"Apa kau bisa diam?" Sinis Reiz.
"Hei, Tuan Frozen jangan kaku begitu. Memang ini akan menjadi bahan gosip yang menarik, 'Seorang suami yang dingin pingsan karena sindrom kehamilan simpatik'." Celoteh Dokter Alvin.
Sementara Rin hanya menahan senyum mendengar panggilan Dokter Alvin untuk suaminya.
"Tuan Frozen? Memang pantas sekali panggilan itu untuk Reiz." Batin Rin.
"Apa kau bilang? Sindrom apa?" Reiz menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Tuan Frozen, istrimu sedang hamil. Dan semua yang kau alami adalah couvade syndrom atau sindrom kehamilan simpatik." Jelas Dokter Alvin. Reiz melebarkan matanya.
"Rinata hamil?" Tanyanya.
"Ya Reiz, istrimu sedang hamil." Nyonya Tyas menjawab di iringi senyum lebarnya. Reiz mengalihkan pandangannya pada istrinya yang juga tengah tersenyum.
"Rin, kita akan punya anak lagi?"
"Ya Reiz, kita akan punya anak lagi."
Diraihnya Rin ke dalam pelukannya. Dikecupnya perut datar Rin.
"Terima kasih Rinata, aku mencintaimu." Reiz memeluk kembali istrinya.
Dokter Alvin tercengang melihat adegan di depannya.
"Wah Tuan Frozen, ternyata kau sudah benar-benar berubah." Celetuknya.
Tadi Reiz langsung di bawa ke rumah sakit oleh keluarganya. Dan saat di lakukan pemeriksaan, dokter Alvin tidak menemukan tanda penyakit apapun dalam tubuh Reiz.
Hingga akhirnya dokter Alvin bertanya pada Rin, tentang apa saja yang sudah di alami Reiz belakangan ini. Dan Rin menjawab apa adanya.
Setelah mendengar penuturan Rin, Dokter Alvin menduga Reiz mengalami couvade syndrom. Dan menyarankan Rin melakukan tes kehamilan, ternyata dugaannya benar. Rin tengah mengandung. Kandungannya bahkan sudah berusia dua bulan.
* * * * *
Suasana ruangan mendadak menjadi mencekam setelah Dokter Alvin keluar dari sana.
Tuan Mark dan Nyonya Tyas menatap tajam pada Reiz. Sedangkan Tomi dan Tania sudah siap menjadi penonton, menunggu adegan yang sebentar lagi akan terjadi.
Reiz menelan salivanya, kedua orang tua angkatnya pasti akan marah.
"Kenapa kau tak mengatakan pada kami apa yang sudah terjadi padamu belakangan ini?" Nyonya Tyas bertanya.
"Aku..." Reiz melirik Mommy dan Daddy nya bergantian. Sementara Tomi dan Tania terlihat menahan tawanya.
"Kau tahu, betapa khawatirnya kami saat Rinata mengatakan kalau kau pingsan di kamar mandi?" Sambung Nyonya Tyas.
"Mom, aku baik-baik saja. Bukankah tadi dokter juga bilang begitu?" Tanya Reiz yang terlihat memelas.
"Ya, sekarang kau baik-baik saja karena yang kau alami adalah sindrom kehamilan simpatik. Tapi bagaimana jika tadi dokter mengatakan hal lain?" Nyonya Tyas balik bertanya. Sementara Reiz hanya menunduk.
"Dengar Reiz, juga Rinata, Tomi dan Tania. Kalau di antara kalian ada yang merasa sakit tolong beri tahu Mommy dan Daddy. Kami tidak ingin terjadi sesuatu pada anak-anak kami. Karena Mommy dan Daddy sangat menyayangi kalian, apa kalian mengerti?" Nyonya Tyas menatap satu-satu anak dan menantunya.
"Iya Mom.'' Jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Kemarin juga Reiz muntah-muntah di kantor, dan aku ingin memberitahu Mommy. Tapi Reiz malah merebut ponselku." Tomi mengadu dengan tampang polosnya, yang seketika mendapat lirikan tajam dari Reiz.
"Benar begitu Reiz?" Tanya Nyonya Tyas. Reiz hanya menjawab dengan senyum kaku.