Reiz And Rin

Reiz And Rin
Kau yang salah


__ADS_3

Rin melirik jam yang terpasang di dinding.


"Ini sudah malam, ayo kita kembali ke kamar." Ujarnya.


"Ya, kau benar. Ibu hamil tak baik tidur malam-malam." Sambung Tania.


"Tapi Edra dan yang lainnya belum kembali." Ucap Gwen.


"Mereka pasti masih di pantai, ayo kita susul mereka." Ajak Tania yang di jawab anggukan oleh Gwen dan Rin.


Ketiga wanita berjalan menuju pantai. Dan mereka tercengang begitu sampai di sana, melihat suami mereka sedang terbaring di atas pasir dengan pakaian yang berantakan.


"Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi sini?" Tanya Gwen.


Ketiga pria itu bangkit menyadari kedatangan istri mereka.


"Baby, kenapa kemari?" Tanya Tomi menghampiri istrinya.


"Ini sudah malam, kenapa kalian malah tidur di sini?" Tania balik bertanya.


"Lihat? Baju kalian jadi berantakan dan penuh pasir seperti itu." Lanjutnya sambil menunjuk pakaian Tomi.


"Semua gara-gara suamimu." Sambar Edra.


"Kenapa kau jadi menyalahkan aku?" Tomi tak terima.


"Ya, gara-gara kau tadi mendorongku sampai aku terjatuh." Edra mengadu.


"Benarkan Reiz?" Sambung Edra, meminta dukungan dari adiknya.


"Ya. Kak Tomi menarik ku dan Kak Edra mendorongku." Jawab Reiz datar tanpa ekspresi. Sepertinya ia masih kesal karena tadi Edra dan Tomi membuatnya bergulingan di atas pasir pantai itu.


"Kenapa kalian malah menganiaya suamiku?" Tanya Rin menatap tajam pada Edra dan Tomi tangannya bertolak pinggang.


Edra dan Tomi menelan saliva nya, ibu hamil itu tampak menyeramkan.


"Reiz, kenapa kau malah menyalahkan aku?" Tanya Edra tak terima.


"Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya bicara berdasarkan fakta saja." Jawab Reiz sekenanya. Rin masih menatap tajam pada Edra dan Tomi.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita kembali ke kamar. Ini sudah malam." Gwen menghentikan perdebatan itu. Kemudian ia menarik suaminya.


Para istri yang lain juga melakukan hal yang sama, menarik suami mereka masing-masing menuju kamar.


*


"Reiz, sebaiknya kau mandi lagi." Ucap Rin begitu sampai di kamar mereka.


"Ini hampir tengah malam, kau menyuruhku untuk mandi?" Tanya Reiz.


"Tapi badanmu kotor, dan aku tidak mau tidur seranjang denganmu kalau kau kotor begitu." Ucap Rin lagi.


Reiz hanya menatap datar istrinya.


"Mandi atau kau tidur di luar?" Ancam Rin. Mata tajam milik lelaki itu melebar, sang istri sudah berani mengancamnya.


"Iya, aku mandi." Ucap Rin pasrah.

__ADS_1


"Aku akan siapkan air hangatnya."


"Tidak perlu, kau istirahat saja. Aku bisa sendiri." Jawab Reiz sambil berlalu ke kamar mandi.


*


Pagi harinya.


"Selamat pagi semua." Sapa Tania yang baru datang bersama Tomi.


"Pagi..." Jawab Rin dan Gwen. Tania mengalihkan pandangannya pada Reiz yang nampak fokus dengan makanannya.


"Reiz, apa yang kau makan?" Tanya Tania.


"Salad buah." Jawab Reiz singkat. Tania menelan saliva nya melihat Reiz mengaduk salad buah itu.


"Boleh aku memintanya?" Tanya Tania yang menghentikan gerakan tangan Reiz.


"Baby, aku pesankan saja ya?" Ujar Tomi.


"No, aku ingin makanan itu." Tania menunjuk mangkuk makan Reiz.


"Tapi itu punya Reiz." Ujar Tomi lagi.


"Tapi aku ingin itu..." Tania memelas.


"Baby, kau ini kenapa? Sejak semalam selalu ingin makanan milik Reiz?" Tanya Tomi heran. Sedangkan yang lain hanya menatap pasangan suami istri itu bergantian.


"Kenapa memangnya? Apa ada yang salah?" Suara Tania sudah naik satu oktaf. Tomi menelan salivanya.


"Baby..."


"Baby, bukan begitu..." Tomi menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia merasa jadi serba salah. Kenapa istrinya jadi sensitif seperti ini?


"Ini Nona, silakan di makan. Kebetulan aku juga belum memakannya." Reiz kembali menyerahkan makanannya pada Tania. Menghentikan perdebatan suami istri itu.


"Aaa... Terima kasih Reiz." Sorak Tania. Ia langsung menikmati salad buah itu.


Dan yang lain hanya menatap heran pada Tania.


*


Setelah sarapan, mereka berenam pergi berjalan-jalan mengelilingi pantai.


"Wah, cantik sekali pemandangan di sini. Ayo kita berfoto." Ajak Tania. Dan para wanita itu pun berfoto bersama. Sedangkan para suami mereka hanya memperhatikan dari jauh.


"Kau kenapa?" Tanya Edra yang melihat Tomi seakan tak semangat.


"Tania sepertinya masih marah padaku." Jawab Tomi dengan lesu.


"Gara-gara sarapan tadi?" Tanya Edra lagi.


"Ya, dia tak bicara apapun padaku setelah sarapan tadi." Tomi membuang nafas berat.


"Itu salahmu sendiri." Celetuk Edra.


"Kenapa jadi menyalahkan aku?" Tomi protes.

__ADS_1


"Sudah jelas itu salah Reiz." Tambahnya. Reiz mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau menyalahkan aku?" Reiz tak terima.


"Karena kau selalu makan apa yang di inginkan istriku." Jawab Tomi dengan entengnya.


"Mana ku tahu kalau istrimu menginginkan makanan yang sama denganku?" Timpal Reiz.


"Kau yang salah, kenapa jadi menyalahkan Reiz?" Edra kembali membela adiknya.


"Karena Reiz yang salah, bukan aku." Jawab Tomi lagi yang mendapat tatapan tajam dari Edra dan Reiz.


"Hei, kalian para pria. Kemari lah." Teriakan Gwen menghentikan perdebatan mereka.


"Lihat? Istrimu memanggil." Tomi menunjuk ke arah Gwen.


"Dia memanggil kita. Bukan aku saja." Edra menarik Tomi dan juga Reiz menghampiri para wanita itu.


"Ayo kita berfoto bersama." Ajak Rin sambil menggandeng lengan suaminya.


"Aku tidak mau." Tolak Reiz, ia memang paling malas dengan kamera.


"Kau harus mau, lagi pula kita belum punya foto berdua selain foto pernikahan kita." Paksa Rin.


"Aku tidak suka berfoto, Rinata." Ucap Reiz lagi yang mendapat tatapan datar dari Rin.


"Sudah, ikuti kemauan istrimu. Kalau tidak, kau akan tau sendiri akibatnya." Timpal Edra. Mau tidak mau Reiz menuruti keinginan istrinya.


Sementara itu Tomi masih berusaha membujuk istrinya.


"Baby, kau masih marah denganku?" Tanya Tomi pada Tania.


"Tidak." Jawab Tania singkat.


"Baby, aku minta maaf. Aku tak bermaksud..."


"Sudahlah Tom, aku sedang tak ingin bicara denganmu." Tania pergi begitu saja. Ia lebih memilih bergabung dengan Rin dan Reiz yang sedang berfoto.


"Kenapa dengan istriku? Kenapa ia jadi sensitif begitu?" Tomi bertanya-tanya dalam hati.


* * * * *


Satu minggu kemudian....


Waktu liburan telah habis, sudah saatnya kembali bagi para suami istri itu.


Mansion William


"Gwen, Edra..." Ny. Eliza menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Mommy..." Gwen langsung memeluk ibu mertuanya. Rasanya ia begitu merindukan wanita yang sudah di anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu.


"Bagaimana liburannya?" Tanya Ny. Eliza.


"Sangat menyenangkan, Mom. Di sana pemandangannya sangat indah sekali. Oh iya, kami juga membawa oleh-oleh untuk Mommy dan Daddy." Jawab Gwen begitu antusias.


"Tidak perlu repot-repot sayang, kalian sudah pulang dengan selamat itu sudah cukup bagi kami."

__ADS_1


"Sama sekali tidak, Mom. Dan Mommy harus lihat ini... Aku sudah memilih yang terbaik untuk Mommy dan Daddy." Gwen menunjukkan barang-barang yang dibelinya.


__ADS_2