Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku hamil


__ADS_3

Sementara itu di Mansion Anderson


"Bagaimana liburan kalian?" Tanya Ny. Tyas Mereka baru saja tiba.


"Seperti biasa, Mom. Aku selalu tak rela jika harus meninggalkan Anderson Land." Tania menjawab.


"Kau masih bisa mengunjunginya lain waktu, Tania." Ujar Ny. Tyas.


"Tapi nanti kami harap, Mommy dan Daddy bisa ikut serta." Rin menjawab.


"Ya, itu benar Mom. Pasti akan lebih seru kalau ada Mommy dan Daddy dan juga Uncle Drake dan Aunty Eliza." Tambah Tania.


"Ya, kami akan mengusahakannya." Jawab Ny. Tyas.


Dua orang pelayan datang mengantarkan minuman.


"Permisi, Nyonya, Tuan. Ini minumannya." Pelayan itu meletakan minuman di atas meja.


"Ya, terima kasih." Jawab Rin dan Tania bersamaan. Masing-masing dari mereka mengambil minumannya.


"Reiz, apa yang kau minum?" Tanya Tania.


"Cokelat panas." Jawab Reiz.


"Aku ingin itu, boleh untukku?" Tanya Tania lagi dengan wajah memelas. Semua perhatian orang di sana tertuju padanya.


"Tentu, Nona."


Seperti biasa, Reiz kembali memberikan minumannya pada Tania. Bahkan selama di Anderson Land, Tania selalu meminta makanan atau minuman milik Reiz. Dan tak ada yang berani melarangnya, karena jika itu terjadi Tania akan marah.


"Terima kasih, Reiz." Tania mengambil cangkir itu, dan segera menyesapnya. Kemudian meraih minumannya.


"Ini untukmu saja." Tania menyerahkan jasmine tea nya pada Reiz. Sedangkan Ny. Tyas menatapnya dengan heran.


"Tania, kalau kau ingin cokelat panas kau bisa minta pada pelayan membuatkannya untukmu." Ucap Ny. Tyas.


"Tidak perlu, Mom. Aku hanya ingin minuman punya Reiz saja." Tania kembali menikmati cokelat panas itu.


"Apa Mommy tahu, selama di Anderson Land Tania selalu menginginkan makanan ataupun minuman milik Reiz." Ujar Tomi mengadu.


"Kenapa memangnya? Reiz saja tidak keberatan." Tukas Tania.


"Tentu saja, Baby. Tidak apa-apa." Tomi tersenyum kaku, jangan sampai Tania marah lagi dengannya. Sementara Tania sudah menatap tajam padanya.


"Kau selalu menginginkan makanan atau minuman milik Reiz?" Tanya Ny. Tyas.


"Ya Mom." Jawab Tania.


"Kenapa?"


"Entahlah." Tania mengangkat bahunya.


"Aku hanya ingin saja." Tania kembali meminum minumannya. Ny. Tyas terlihat berfikir sejenak.


"Emmm. Ya sudah kalian istirahat lah. Kalian pasti lelah." Ujarnya kemudian.

__ADS_1


*


Reiz memeluk Rin dari belakang, membelai lembut perut Rin, seakan mengajak anaknya bermain.


"Bagaimana dengannya?" Tanya Reiz.


"Baik-baik saja." Rin menikmati sentuhan lembut Reiz pada perutnya.


"Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya." Reiz mengeratkan pelukannya.


"Bersabarlah, kurang dari lima bulan lagi kita akan bertemu dengannya."


Reiz mengecup singkat bahu Rin yang terbuka.


"Kau tau Rin, aku tak pernah membayangkan hidupku seperti ini sebelumnya. Dulu aku hanya memikirkan pekerjaan saja. Karena ku pikir itulah satu-satunya cara untuk membalas kebaikan keluarga Anderson padaku." Reiz menjeda ucapannya.


"Tapi sekarang, aku punya dirimu sebagai istriku. Kak Edra dan juga Gwen. Daddy Drake dan Mommy Eliza. Dan juga anak kita." Reiz kembali mengecup bahu istrinya.


"Dulu aku selalu menolak untuk mencintai dan dicintai. Karena ku fikir itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Tapi nyatanya aku salah." Ucap Reiz lagi. Rin membalikkan tubuhnya, keduanya saling memandang.


"Reiz, wajar jika kau merasa terluka karena kehilangan Mommy Marisa. Tapi yang harus kau ingat, kau punya banyak orang yang menyayangimu." Rin mengusap pelan rahang pria itu. Reiz terdiam sejenak, kemudian berkata,


"Rin, seandainya aku tak lagi di sisi mu, apa kau akan sedih?" Tanya Reiz. Kedua alis Rin bertaut.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Rin balik bertanya.


"Tidak apa-apa." Reiz menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.


"Jangan pernah berkata seperti itu. Kau adalah hidupku, aku sangat mencintaimu. Kau akan selalu berada di sampingku. Dan aku tak akan pernah mengizinkanmu pergi dariku." Ucap Rin penuh penekanan.


*


Keesokan harinya,


"Tania, Rinata, ayo ikut Mommy." Ajak Ny. Tyas pada kedua menantunya.


"Kemana Mom?" Tanya Tania.


"Sudah ikut saja." Ny. Tyas berjalan lebih dulu, di susul oleh Tania dan Rin yang berjalan di belakangnya.


"Mommy mau mengajak kita kemana?" Tanya Rin setengah berbisik.


"Entahlah." Tania mengendikkan bahunya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, ketiganya sampai di Anderson Hospital.


"Rumah sakit? Untuk apa kita ke sini? Apa Mommy sakit?" Tanya Rin, ia terlihat khawatir. Ny. Tyas menggeleng,


"Tidak sayang, kita akan periksa kandungan mu." Jawab wanita paruh baya itu.


"Tapi Mom, jadwal periksa ku masih satu minggu lagi." Ujar Rin.


"Tak apa sayang, Mommy ingin melihat cucu Mommy."


Walaupun merasa heran, Tania dan Rin tetap mengikuti ibu mertuanya.

__ADS_1


*


Sebuah monitor menampakkan gambar janin yang belum terbentuk sempurna.


"Baby Nyonya Rinata sehat. Pertumbuhannya juga normal." Ujar dokter wanita tersebut.


"Syukurlah." Ucap Ny. Tyas. wanita paruh baya itu terlihat bahagia melihat calon cucunya. Sementara Tania hanya menatap monitor itu, seketika perasaan merasa sedih.


"Apa Nyonya Rinata ingin mengetahui jenis kelaminnya?" Tanya dokter itu.


"Tidak perlu, dok. Kami ingin ini menjadi kejutan untuk kami." Rin menolak, ia dan Reiz memang sudah memutuskan untuk merahasiakan jenis kelamin bayi mereka sampai lahir nanti.


"Baiklah." Jawab dokter itu. Rin merapikan lagi pakaiannya.


"Dokter, tolong periksa juga Tania." Pinta Ny. Tyas.


"Aku? Aku tidak sakit, Mom. Kenapa harus di periksa?" Tanya Tania heran.


"Tidak apa-apa sayang. Periksa saja." Ny. Tyas sedikit memaksa. Tania menurut saja. Ia berbaring di tempat Rin tadi.


Dokter itu tersenyum ketika gambar kantung janin terlihat di monitor itu.


"Selamat Nyonya Tania. Sesuai dengan dugaan Nyonya Tyas, anda sedang mengandung." Ucap dokter itu di iringi dengan senyumnya.


"Apa?" Tania mengerutkan keningnya, ia masih belum mengerti maksud dari dokter itu.


"Nyonya Tania. Selamat, anda sedang hamil. Usia kandungannya sudah empat minggu." Dokter itu kembai menjelaskan.


"Aku hamil?" Pikiran Tania mendadak kosong. Ia hanya terdiam saja.


"Selamat sayang, dugaan Mommy benar ternyata." Ny. Tyas memeluk Tania yang masih mematung.


"Tania, kenapa diam saja?" Ny. Tyas melerai pelukannya.


"Mom, aku..."


"Kau hamil sayang."


"Aku hamil, Mom?"


"Ya, sayang."


Senyum Tania perlahan terbit, ia seakan baru tersadar.


"Selamat Tania. Kau akan menjadi seorang ibu." Sorak Rin yang berdiri di sampingnya.


"Aku hamil...Aku hamil..." Gumam Tania.


*


Ny. Tyas dan yang lainnya kini dalam perjalan pulang, senyum tak lepas dari wajah ketiga wanita itu. Tania terus-terusan mengusap perutnya yang masih datar.


"Mom, bagaimana Mommy tahu kalau aku sedang hamil?'' Tanya Tania. Ny. Tyas tersenyum.


"Saat melihatmu kemarin." Jawab Ny. Tyas.

__ADS_1


__ADS_2