
"Hah, ternyata kedatarannya masih ada. Ku kira sudah habis." Sindir Tomi yang mendapat tatapan tajam dari Reiz.
"Sudah-sudah, kenapa kalian ini selalu saja ribut? Ayo sebaiknya kita sarapan." Seperti biasa Nyonya Tyas selalu jadi penengah di antara kedua lelaki itu.
Reiz menatap makanan yang terhidang di meja, nampak nasi goreng yang masih mengeluarkan uap panasnya. Ketika aroma nasi goreng itu sampai di indera penciumannya, Reiz mendadak mual kembali. Ia segera bangkit dari duduknya.
"Boy, kau kenapa?" Tanya Tuan Mark yang melihatnya menutup hidung dan mulut.
"Iya sayang, ada apa?" Sambung Nyonya Tyas. Reiz hanya menggeleng.
"Ehm, Mom Dad. Aku sarapan di kantor saja. Aku lupa masih banyak pekerjaan." Ucap Reiz yang masih menutup sebagian wajahnya.
"Sayang, pekerjaan kan bisa di kerjakan nanti. Sekarang duduk dan sarapan." Cegah Nyonya Tyas.
"Tidak Mom, aku berangkat sekarang saja." Reiz berjalan cepat meninggalkan ruang makan, diikuti Rin di belakangnya. Sementara Tomi dan Tania hanya menatap mereka dengan bingung.
"Reiz, kau tak apa? Apa kau mual lagi?" Tanya Rin, kini mereka berdua sudah di depan pintu. Reiz hanya mengangguk, rasa mualnya sudah berangsur berkurang.
"Apa kita ke dokter saja? Aku takut kau kenapa-kenapa."
"Aku baik-baik saja." Reiz menarik tubuh istrinya hingga merapat. Tangannya memegang erat pinggang ramping istrinya. Sedangkan tangannya lainnya yang bebas menyusuri rahang Rin. Segera ia melahap bibir merah muda yang sudah menjadi candu baginya itu.
Jemari Rin meremas rambut Reiz saat ciuman keduanya semakin dalam, sedangkan tangan Reiz sudah menjelajah kemana-mana di balik pakaian Rin.
Rin mencoba mengembalikan kesadarannya dari sentuhan Reiz, tak mungkin mereka berdua bercinta di depan pintu seperti ini. Ia terpaksa menghentakkan kepalanya ke belakang dan bibir mereka berdua terlepas.
Ditatapnya mata Reiz yang ternyata tengah menatapnya dengan datar.
"Ehm, apa kau marah?" Tanya Rin sedikit takut.
"Tidak, aku hanya tak rela jika berpisah denganmu." Jawabnya membuat Rin tercengang, kenapa suaminya jadi aneh seperti ini? Bukankah sudah biasa jika dari pagi sampai sore hari mereka berpisah karena Reiz pergi bekerja?
"Nanti siang datanglah ke kantor, bawakan aku makan siang." Lanjutnya.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Rin.
"Mi goreng seafood." Jawaban Reiz kembali membuat Rin tercengang, sejak kapan lelaki itu menyukai mi goreng?
"Kau yakin?" Tanya Rin ragu.
"Tentu saja, dan harus kau yang memasaknya. Aku tak ingin makan masakan orang lain."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarkan makan siang ke kantormu."
"Ya sudah aku berangkat dulu." Reiz kembali mengecup singkat bibir istrinya.
"Hati-hati di jalan, Reiz..." Rin melambaikan tangannya yang di balas senyum oleh Reiz.
Rin kembali ke meja makan setelah mengantarkan kepergian Reiz.
"Rin, ada apa dengan suamimu?" Tanya Tania.
"Entahlah, aku tak tahu." Rin mengangkat bahunya.
"Tapi Reiz baik-baik saja kan?" Nyonya Tyas terlihat khawatir. Rin memutar bola matanya, mencoba mencari jawaban yang tepat.
"Reiz baik-baik saja, Mom. Mom tidak perlu khawatir." Rin tersenyum menenangkan. Ia menarik kursi dan duduk kembali, menikmati sarapan yang tadi sempat tertunda.
*********
Anderson Grup
Reiz baru tiba di ruangannya, ia langsung mendudukkan tubuhnya di sofa yang di sediakan di sana.
"Bawakan aku jasmine tea." Ucap Reiz singkat, ia langsung menutup teleponnya kembali.
Sepuluh menit menit kemudian.
Tok. Tok. Tok.
Pintu ruangan terbuka, nampak seorang pria berseragam OB berdiri di sana.
"Permisi Tuan Reiz, saya membawakan teh anda." Ucapnya sambil meletakkan teh di atas meja Reiz.
"Apa Tuan butuh sesuatu lagi?" Tanyanya sopan.
"Tidak, terima kasih. Kau boleh pergi."
"Baik, saya permisi Tuan." Reiz mengangguk, ia meraih cangkir yang berisi teh panas itu. Nampak uap yang masih mengepul, Reiz menghirup aromanya. Terasa begitu menenangkan bagi pria itu.
Klek, pintu ruangan kembali terbuka. Tomi masuk ke ruangan tersebut. Seketika lelaki itu tercengang melihat asistennya.
"Reiz, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Tomi, dilihatnya Reiz sedang menghirup uap dari minumannya.
__ADS_1
"Apa Tuan tidak bisa melihat apa yang sedang ku lakukan?" Reiz balik bertanya.
"Minuman apa itu?" Tomi meraih cangkir itu yang seketika mendapat tatapan protes dari Reiz.
"Jasmine tea? Sejak kapan kau suka jasmine tea?" Tanya Tomi heran, karena setahunya Reiz memang tidak menyukai jasmine tea. Pria itu biasanya lebih memilih kopi atau cokelat panas.
"Sejak pagi ini." Jawab Reiz singkat, ia merebut kembali cangkir itu dari Tomi.
"Menyingkirlah Tuan, jangan ganggu pandanganku." Ucap Reiz setelah Tomi tetap berdiri di hadapannya tanpa bergeser sedikit pun.
"Hari ini kau aneh." Ujar Tomi menggelengkan kepalanya, ia melangkah menuju kursi kebesarannya.
"Reiz, apa kau sudah menerima laporan tentang siapa yang sudah melakukan kecurangan di perusahaan ini?" Tanya Tomi sambil membaca beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
"Ya, mereka akan datang sebentar lagi." Jawab Reiz sambil meminum jasmine tea yang hampir dingin.
Seminggu yang lalu, Reiz dan Tomi menerima laporan ada beberapa oknum di perusahaannya yang mencoba berbuat curang dengan membuat laporan keuangan yang sengaja di perbesar dari semestinya.
* * * * *
Reiz menatap tajam pada dua orang yang berdiri di hadapannya. Kemudian ia melemparkan berkas-berkas itu tepat di wajah dua pegawainya.
"Bisa-bisanya kalian melakukan kecurangan seperti ini!" Bentak Reiz.
"Apa gaji yang di berikan perusahaan ini masih kurang sehingga kalian harus melakukan kecurangan?!" Bentaknya lagi.
"Tuan Reiz, maafkan kami. Kami khilaf." Dua orang yang bernama Lucas dan Frans itu melipat kedua tangannya, memohon sambil berlutut.
Sedangkan Tomi yang berdiri tak jauh darinya, hanya menjadi penonton. Masalah seperti ini sudah biasa di tangani oleh asistennya.
"Maaf kalian sama sekali tidak berguna sekarang. Kalian sudah merugikan perusahaan ini. Dan seharusnya kalian tahu, kalau aku paling benci dengan seorang pembohong dan pengkhianat!" Tegas Reiz.
"Kalian juga pasti sudah tahu apa konsekuensi yang harus kalian tanggung." Lanjut Reiz dengan tatapan dinginnya.
"Tuan, kami mohon jangan lakukan itu. Kami benar-benar menyesal." Lucas memohon.
"Tuan Tomi, kami mohon maafkan kami. Beri kami satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami." Frans memohon pada Tomi.
"Percuma saja kau memohon padaku Frans, Reiz yang lebih berkuasa di sini di banding aku." Jawab Tomi dengan santainya.
Reiz memang terkenal dengan ketegasan di perusahaan itu, dia tak akan memaafkan siapapun yang berani berbuat curang. Walaupun ia hanya asisten dari Tomi. Tapi tak ada yang berani menentang keputusannya, walau Tomi sekalipun.
__ADS_1