
Mobil yang di kendarai Reiz baru saja memasuki halaman mansion. Di depan pintu sudah ada Rin yang menunggu kepulangannya.
"Reiz!" Sorak Rin ketika suaminya baru saja keluar dari mobil.
"Rin, kenapa kau di sini?" Reiz menghampiri istrinya, dikecupnya kening Rin.
"Aku menunggumu." Jawab Rin dengan senyumnya.
"Tapi kau kan bisa menunggu ku di dalam." Reiz merapikan beberapa anak rambut Rin yang terkena angin.
"Tapi aku ingin menunggumu di sini." Ucap Rin dengan manja. Reiz kembali mengecup keningnya. Mereka berdua memasuki mansion.
"Bagaimana junior kita? Apa dia rewel hari ini?" Reiz mengusap lembut perut Rin. Seperti biasa Reiz selalu menanyakan keadaan calon anaknya.
"No." Rin menggeleng.
"Anak kita sangat baik hari ini." Lanjutnya.
"Oh iya, mana Tomi? Biasanya Tomi selalu pulang lebih dulu daripada kau." Rin melihat ke arah luar, mobil Tomi belum menampakkan dirinya.
"Entahlah." Reiz mengangkat kedua bahunya, seketika wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa Reiz?" Tanya Rin yang melihat perubahan di wajah suaminya.
"Aku kesal padanya." Jawab Reiz.
"Kesal? Memang apa yang sudah Tomi lakukan?" Tanya Rin penasaran.
"Tidak, bukan apa-apa." Reiz menggeleng.
"Reiz?" Rin masih terlihat penasaran.
"Bukan apa-apa Rinata, ini hanya masalah kecil saja." Reiz mengusap lembut rambut istrinya.
"Ya sudah kalau begitu. Kau mandi dulu ya, aku sudah siapkan air hangat untuk untukmu."
"Terima kasih, istriku."
Keduanya berjalan beriringan menuju kamar mereka.
"Reiz kau sudah pulang? Mana Tomi?" Tanya Tania yang baru keluar dari kamarnya.
"Entahlah." Jawaban yang sama terlontar dari mulut Reiz.
"Bukankah biasanya Tomi pulang lebih dulu daripada kau?" Tanya Tania lagi.
"Aku tidak tahu, Nona. Lebih baik Nona telepon saja." Reiz dan Rin meneruskan langkahnya ke kamar mereka.
"Ke mana Tomi? Tak biasanya ia pulang terlambat." Tanya Tania dalam hati.
__ADS_1
Empat puluh menit kemudian Tomi baru tiba di mansion nya.
"Tom, kenapa kau baru pulang? Sedangkan Reiz sudah pulang dari tadi." Cecar Tania begitu Tomi masuk ke kamarnya.
"Aku tadi mampir dulu ke suatu tempat." Jawab Tomi sambil membuka dasi nya.
"Kemana?" Tanya Tania yang penasaran.
"Maaf Baby, aku tak bisa memberi tahu mu." Tomi mengelus pelan wajah Tania yang berubah cemberut.
"Kau ke tempat wanita lain?" Tanya Tania dengan nada curiga. Tomi membulatkan matanya.
"Aku tak seperti itu. Tadi aku ada urusan sebentar, Baby." Tomi mencoba menjelaskan, tapi wajah Tania masih belum berubah.
"Jangan curiga seperti itu, aku suami yang setia. Aku mandi dulu ya." Tomi mengecup singkat bibir merah Tania sebelum berlalu ke kamar mandi.
* * * * *
Makan malam tiba, masing-masing istri melayani suami mereka. Dan seperti biasa, Tania selalu meminta makanan milik Reiz yang baru saja di ambilkan oleh Rin.
" Terima kasih, Reiz." Ucap Tania begitu Reiz memberikan makanannya.
"Iya, Nona."
Rin kembali mengambilkan makanan untuk Reiz. Entahlah, rasanya Tania hanya ingin makan dari piring yang sudah di sentuh oleh Reiz terlebih dulu. Rasanya makanan itu lebih menggoda dan tentu saja rasanya jadi lebih lezat menurut Tania.
Sesekali Tomi melirik ke arah Reiz yang tengah menikmati makanannya. Ia jadi merasa tak enak karena ucapannya di kantor tadi.
"Semuanya, aku ingin menyampaikan sesuatu." Ucap Tania begitu makan malam selesai. Semua perhatian orang di meja makan tertuju padanya.
"Apa yang ingin kau sampaikan, Baby?" Tanya Tomi.
"Tom, diamlah dulu. Jangan menyela istri mu." Ujar Ny. Tyas.
"Maaf, Mom."
"Silahkan di lanjutkan Tania." Ucap Ny. Tyas lagi.
"Begini, aku... Ehm, Tomi aku..." Tania jadi gugup sendiri, padahal di hadapannya sekarang hanyalah anggota keluarganya saja. Tomi jadi semakin penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh istrinya.
"Aku hamil... Tomi, selamat... Kau akan menjadi ayah." Tania akhirnya dapat mengucapkan kata-kata yang sedari tadi seperti tercekat di tenggorokannya.
"Apa?" Tanya Tomi, sepertinya ia belum jelas mendengarnya.
"Istrimu sedang hamil, Tom." Ucap Tuan Mark.
"Hamil?" Ulang Tomi.
"Baby, kau hamil?" Tanyanya pada Tania.
__ADS_1
"Iya Tom, usianya kini empat minggu." Jawab Tania sambil mengusap perutnya yang masih datar.
"Baby..." Tomi bangun dari duduknya, ia langsung memeluk sang istri.
"Ya Tuhan, aku tak percaya ini..." Di kecupnya kening, pipi dan bibir Tania, tanpa peduli dengan keluarganya yang ada di sana.
"Terima kasih, Baby." Tomi kembali mengecup kening Tania, begitu dalam dan lama.
"Selamat untuk kalian." Ucap Tuan Mark dan juga yang lainnya.
"Ingat Tom, jaga baik-baik calon anakmu. Karena kami tidak ingin kejadian yang dulu terulang lagi." Nasehat Tuan Mark.
"Tentu Dad, aku akan menjaganya dengan sangat baik." Jawab Tomi.
"Baby, bagaimana kau bisa tahu kalau kau hamil?" Tanya Tomi.
"Aku juga tak tahu, Tom. Tapi Mommy yang menyadari itu." Jawab Tania.
"Kau ingat, saat kau bilang Tania selalu ingin makanan dan minuman milik Reiz? Di sana Mommy sudah menduganya. Maka dari itu tadi pagi Mommy membawa istri mu untuk di periksa, dan ternyata benar. Dokter bilang Tania sedang mengandung." Ny. Tyas menjelaskan.
"Jadi itu semua?"
"Itu semua bukan keinginan istri mu, Tom. Tapi karena perubahan hormon dalam tubuh istri mu. Jadi ya ia menginginkan sesuatu yang aneh-aneh." Jelas Ny. Tyas lagi.
"Oh, begitu." Tomi menganggukkan kepalanya. Ia melirik Reiz sejenak yang ternyata tengah menatapnya dengan dingin. Tatapan seolah berkata, 'Kau mengerti kan sekarang kenapa istrimu berubah? Dan itu bukan karena istri mu tertarik padaku."
*
Tomi tak henti-hentinya mengusap perut datar Tania bahkan sampai mereka masuk ke dalam kamar.
"Hentikan, Tom. Itu geli."
"Biar saja." Ujar Tomi tak peduli.
"Tom." Tania mencoba menepis tangan itu, tapi Tomi malah mengecup perutnya. Kemudian ia teringat sesuatu.
"Baby, aku punya sesuatu untukmu." Tomi kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci. Ia menyerahkan kotak kecil itu pada Tania.
"Apa ini?" Tanya Tania sambil menerima kotak itu.
"Bukalah."
Tania membuka kotak itu, nampak sebuah liontin berwarna perak dengan permata sebagai hiasannya.
"Wah cantik sekali. Ini untuk ku?" Tanya Tania dengan mata berbinar.
"Tentu saja, aku membelinya khusus untuk mu."
"Sebenarnya tadi aku ingin memberi kejutan untukmu. Makan malam yang romantis, tapi kau malah menolak. Jadi aku belikan kau itu." Jelas Tomi.
__ADS_1
"Kejutan? Kenapa kau ingin memberiku kejutan?" Tanya Tania.
"Ya, karena belakangan ini sikapmu berubah padaku. Aku fikir kau bosan padaku, jadi aku ingin memberi kejutan untukmu. Tapi nyatanya malah aku yang dapat kejutan." Ucap Tomi, lelaki itu tertawa.