Reiz And Rin

Reiz And Rin
Maafkan aku


__ADS_3

"Apa anda keluarga pemilik ponsel ini?" Suara asing terdengar menjawab panggilan itu membuat Reiz mengerutkan keningnya.


"Siapa ini? Aku suami pemilik ponsel ini." Jawab Reiz, perasaannya semakin tak tenang.


"Oh, anda suaminya? Kami dari rumah sakit, istri anda baru saja menjadi korban tabrak lari dan sekarang sedang di tangani di Walter Hospital."


DEG


Reiz membeku di tempatnya berdiri, detak jantungnya seakan terhenti.


"Lalu bagaimana keadaan istriku?" Tanya Reiz, suaranya terdengar bergetar.


"Istri Tuan masih di tangani oleh dokter, untuk lebih jelasnya sebaiknya Tuan segera kemari." Panggilan itu terputus.


Reiz mematung di tempatnya, wajahnya terlihat pucat. Pikiran buruk seketika melintas di pikirannya.


"Reiz, ada apa?" Tanya Tomi yang sudah berdiri di hadapan Reiz.


"Rin... Rinata kecelakaan, ia menjadi korban tabrak lari..." Lirih Reiz.


"Apa?!" Tomi tersentak.


"Lalu bagaimana keadaanya?" Tomi terlihat cemas.


"Aku... Aku tak tahu. Aku harus ke rumah sakit sekarang." Reiz langsung menyambar kunci mobilnya. Ia berlari secepat mungkin, pikirannya benar-benar kacau memikirkan nasib sang istri.


"Reiz, tunggu!" Tomi mencoba mengejarnya. Dan para karyawan di sana hanya bisa saling memandang heran melihat kedua bos mereka berlarian.


"Reiz...!" Tomi berhasil mengejarnya, mereka berdua sudah ada di parkiran mobil.


"Reiz, biar aku saja yang menyetir." Tomi merampas kunci mobilnya.


"Tuan, berikan padaku!" Bentak Reiz, ia mencoba merebut kunci mobil itu kembali.


"Reiz, kau sedang kacau seperti ini! Aku tak akan membiarkanmu untuk menyetir!" Tegas Tomi.


"Biar aku saja yang menyetir, aku tak ingin terjadi apa-apa dengan adikku." Sambungnya. Akhirnya Reiz mengalah, Tomi memang benar. Ia sedang kacau sekarang.


**********

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pikiran Reiz benar-benar kacau, memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada istrinya.


" Ya Tuhan, lindungi istriku. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, kalau sampai itu terjadi aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri..." Tak henti-hentinya Reiz merapalkan doa dalam hati.


Dalam waktu empat puluh lima menit mereka tiba di rumah sakit. Mereka tiba bertepatan dengan dokter yang baru saja selesai menangani Rin.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Reiz begitu dokter keluar dari ruangan tempat Rin berada. Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Pasien mengalami benturan keras di kepala dan juga perutnya. Akibat benturan itu pasien harus kehilangan janin yang di kandungnya, dan setelah di lakukan operasi kondisi pasien sekarang.... Koma." Jelas dokter pria paruh baya tersebut.


"Koma...?" Lirih Reiz, ketakutannya tadi menjadi kenyataan.


"Sebaiknya Tuan banyak berdoa, supaya istri Tuan bisa bertahan. Saya permisi." Dokter itu undur diri meninggalkan Reiz dan Tomi yang terpaku di sana.


Reiz menjatuhkan dirinya di lantai rumah sakit, dunianya seakan runtuh mendengar sang istri koma dan ia juga harus kehilangan calon anaknya.


"Reiz, sabarlah." Tomi berjongkok di depan Reiz.


"Semua salahku, andai saja semalam aku tak menolak keinginannya...." Ucapan Reiz terhenti, dadanya terasa sesak menahan tangis.


"Tenanglah Reiz..." Tomi merangkul bahu Reiz, ia sendiri merasa tak tega, untuk pertama kalinya Tomi melihat Reiz begitu terpukul seperti ini.


* * * * *


"Rinata... Maafkan aku.... Aku bersalah padamu...." Lirih Reiz seraya membelai wajah istrinya.


"Maafkan aku, karena ketidakpedulianku kita harus kehilangan anak kita..."


"Bangunlah Rin, berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku padamu..." Reiz memeluk tubuh Rin dan seketika itu tangisnya pecah.


"Maafkan aku... Maafkan aku..."


Karena terbelenggu masa lalu yang pahit, Reiz selalu berusaha menutup pintu hatinya untuk wanita manapun. Ia tak ingin jatuh cinta dan juga membuat wanita jatuh cinta terhadapnya. Karena takut akan menyakitinya. Maka dari itu Reiz selalu bersikap dingin pada siapapun.


Tanpa ia sadari sikapnya itu justru malah lebih menyakiti istrinya sendiri.


Rinata, istrinya yang ceria yang selalu tersenyum walaupun ia mengabaikannya, Rinata yang selalu perhatian terhadapnya walaupun ia tak mempedulikannya. Kini terbaring lemah tak berdaya karena kesalahannya.


* * * * *

__ADS_1


"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tuan Mark pada Reiz.


Tadi begitu keluar ruangan Rin, Reiz sudah di sambut oleh tatapan tajam dari Tuan Mark dan juga Nyonya Tyas yang ternyata sudah berada di sana.


"Maafkan aku, semua salahku." Jawab Reiz sambil menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap kedua orang tua angkatnya tersebut.


"Reiz, bukankah Mommy dan Daddy sudah mengatakan padamu agar memperlakukan istrimu dengan baik?" Nyonya Tyas ikut membuka suara.


"Mom, aku..."


"Kenapa kau malah memperlakukannya seperti ini?" Tanya Nyonya Tyas.


"Reiz, Rinata istrimu. Walaupun kalian menikah karena paksaan dari kami, tapi dia sudah menjadi tanggung jawabmu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rinata bisa sampai kecelakaan seperti ini?" Tanya Tuan Mark dengan tatapan tajamnya.


"Rinata memintaku menemaninya ke Anderson Land untuk makan seafood, tapi aku menolaknya. Lalu ia memintaku menemaninya ke restoran seafood di jalan walter...."


"Dan kau menolaknya juga? Hingga akhirnya Rinata pergi sendiri, dan mengalami kecelakaan. Begitu?" Potong Nyonya Tyas. Reiz mengangguk pelan.


"Reiz, apa susahnya kau menuruti keinginan Rinata untuk ke Anderson Land? Bukankah jet pribadi kita selalu siap sedia untuk mengantar kita pergi kemanapun?" Pertanyaan Nyonya Tyas semakin membuat Reiz menundukkan kepalanya.


"Mom..."


"Seandainya kami tahu kalau selama ini ternyata kau tidak peduli pada Rinata, kami tak akan mengizinkan kalian berdua tinggal di apartemen. Lebih baik Rinata tinggal bersama kami saja." Lanjut Nyonya Tyas.


"Bukankah kau sudah tahu, kalau kami sudah sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Tapi kau sebagai ayahnya bahkan tak bisa menjaga calon anakmu." Tekan Tuan Mark.


"Mom, Dad... Maaf...." Reiz tak sanggup untuk berkata lagi. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya.


"Aku akan memindahkan Rinata ke rumah sakit keluarga Anderson supaya bisa mendapatkan perawatan yang terbaik. Dan kau jangan harap bisa lagi menemui Rinata! Rinata akan menjadi tanggung jawab kami!" Tegas Tuan Mark. Reiz mengangkat wajahnya menatap tak percaya pada ayahnya.


"Maksud Daddy?"


"Aku rasa kau mengerti maksudku, Reiz." Tuan Mark dan istrinya bangkit dari duduknya.


"Daddy tak bisa melakukan itu. Bagaimana pun Rinata adalah istriku." Cegah Reiz.


"Sejak kapan kau menganggap kalau Rinata adalah istrimu? Kalau kau menganggap Rinata sebagai istrimu, kau tak akan bersikap seperti ini padanya. Kau tak akan mengabaikannya."


Ucapan telak Nyonya Tyas membuat Reiz terdiam, selama ini ia memang tak pernah mempedulikan istrinya sama sekali.

__ADS_1


Tuan Mark dan Nyonya Tyas pergi meninggalkan Reiz yang mematung di sana. Mereka akan mengurus kepindahan Rinata ke rumah sakit milik keluarga Anderson secepatnya.


__ADS_2