
"Reiz, kau tersenyum?" Rin melebarkan matanya membuat senyum Reiz seketika menghilang.
"Apa kau pikir aku tidak bisa tersenyum?" Tanya Reiz datar.
"Ya ku pikir seperti itu, karena semenjak kita bertemu kau selalu memasang wajah datar. Aku tak pernah sekali pun melihatmu tersenyum, dan baru kali ini aku melihatnya." Jawab Rin dengan polosnya.
Reiz kembali menatap Rin dengan datar, kenapa wanita itu menyebalkan sekali?
"Aku mau tidur." Lelaki itu memejamkan matanya. Sadar akan suaminya yang kembali datar, Rin segera memeluknya.
"Ternyata suamiku ini lucu sekali." Rin mengecup singkat bibir Reiz, membuat lelaki itu kembali membuka mata.
"Jangan marah seperti itu, kau tahu? Kau semakin tampan jika tersenyum."
"Aku memang tampan." Ujar Reiz penuh percaya diri.
"Hahahaha..." Tawa Rin seketika pecah mendengar kepercayaan diri suaminya. Reiz menatapnya, ini pertama kalinya melihat Rin tertawa lepas seperti itu setelah menikah dengannya.
"Tetaplah seperti ini, karena yang ku tahu Rinata Andara adalah seorang gadis yang ceria."
Tawa Rinata terhenti, di tatapnya Reiz yang juga tengah menatapnya. Tatapan keduanya semakin dalam, dan entah siapa yng memulai keduanya kembali terlarut dalam ciuman dan percintaan diantara mereka kembali terjadi.
******
Semalam setelah kepulangan Daddy Drake, Reiz memutuskan untuk ke mansion dan menemui Rin. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Rin, apalagi saat tahu wanita itu ternyata masih sangat mencintainya setelah apa yang terjadi.
Reiz tahu kalau Rin memang mencintainya, tapi ia selalu menutup mata dan hatinya dan berpura-pura untuk tidak mengetahui semua itu.
Tapi setelah kecelakaan yang menimpa Rin dan juga kedua orang tuanya yang melarangnya untuk bertemu dengan istrinya membuat Reiz tersadar akan perasaanya sendiri.
Dan Reiz juga tak bisa lagi menyangkal lagi, kalau dirinya nyatanya telah jatuh cinta kepada wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut. Rin adalah satu-satunya wanita yang berhasil merebut hatinya.
Walaupun pada awalnya Tuan Mark dan Nyonya Tyas menolak kedatangannya, tapi Reiz berusaha meyakinkan kedua orang angkatnya. Bahkan Reiz sampai memohon kepada mereka agar bisa bertemu dengan Rin lagi.
"Aku tahu Mommy dan Daddy marah dan kecewa padaku. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahanku. Bagaimana pun Rinata masih istriku, dan aku ingin memperbaiki hubungan ini." Ucap Reiz sambil bersimpuh di bawah kaki kedua orang tuanya.
Untungnya saat itu Tomi dan Tania tidak ada di ruangan tersebut. Kalau mereka berdua ada, Reiz pasti sudah habis menjadi bahan ledekan sepasang suami istri tersebut.
Tuan Mark dan Nyonya Tyas saling memandang. Ini pertama kalinya Reiz memohon kepada mereka sampai seperti itu. Pada awalnya Tuan Mark dan istrinya memang sengaja memisahkan Reiz dan Rin karena mereka ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Reiz terhadap Rin dan seberapa pentingnya Rin dalam hidup Reiz. Dan malam ini mereka sudah mendapatkan jawabannya.
"Baiklah, kau boleh menemui Rinata." Ucap Tuan Mark akhirnya.
__ADS_1
"Terima kasih Dad, Mom..." Mata tajam itu terlihat berbinar.
"Tapi kalau Rinata tak ingin menemui mu, kau tidak bisa memaksanya."
Perkataan Nyonya Tyas membuat binar kebahagiaan di mata Reiz hilang seketika.
"Mom..." Reiz hendak melayangkan protes.
"Sudah, pergilah temui istrimu sana." Potong Nyonya Tyas.
**********
Rin mengerjapkan matanya karena silau cahaya matahari yang menembus jendela kamar.
"Jam berapa ini?" Gumamnya.
"Sudah jam tujuh?" Rin menggeser pelan tangan Reiz yang melingkar di perutnya agar tak membangunkannya. Baru saja ia akan bangkit, tangan itu kembali memeluknya.
"Mau kemana?" Tanya Reiz dengan suara seraknya.
"Sudah jam delapan Reiz, aku mau mandi." Rin kembali menggeser tangan Reiz, ia mendudukkan tubuhnya dengan selimut yang masih di pegangnya dengan erat untuk menutupi tubuh polosnya.
Ketika hendak melangkahkan kakinya, Reiz kembali memeluknya dari belakang. Tangan pria itu menyelinap masuk ke dalam selimut, menyentuh apa yang ingin ia sentuh dan memainkannya.
"Reiz, hentikan..." Rin mencoba mencegah tangan nakal itu, tapi malah membuatnya semakin merajalela.
"Hentikan Reiz, ini sudah siang." Rin mencoba mengembalikan kesadaraan dirinya dari sentuhan Reiz. Dan berhasil, Reiz berhenti membuat Rin menoleh padanya. Reiz bangkit dari duduknya, tanpa sepatah kata pun ia meraih tubuh istrinya ke dalam gendongannya.
Dengan tubuh yang masih sama-sama polos keduanya masuk ke dalam kamar mandi, dan terjadi kembali percintaan panas di antara mereka berdua. Rin tidak menolak, karena ia juga selalu menginginkan sentuhan Reiz. Padahal semalam mereka melakukannya hingga hampir pagi.
**********
"Wah... Wah... Wah.... Pengantin baru, sudah jam berapa ini?" Pertanyaan Tomi menyambut Reiz dan Rin yang baru saja menuruni tangga menuju meja makan. Tampak di sana keluarganya yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Selamat pagi Mom, Dad, Tomi, Tania..." Sapa Rin seperti biasanya.
"Pagi sayang..." Jawab Nyonya Tyas. Tuan Mark hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Sepasang suami istri itu duduk bersebelahan.
"Bagaimana?" Tanya Tania
__ADS_1
"Bagaimana apanya?" Rin balik bertanya.
"Bagaimana semalam? Pasti sangat seru kan? Mengingat kalian sudah dua bulan tak bertemu." Heboh Tania.
"Nona silahkan kembali ke kamar saja jika sarapannya sudah selesai." Jawab Reiz dengan datar.
"Hei, berani sekali kau mengusir istriku." Tomi seakan tak terima.
"Hah... Ternyata kau masih saja datar Reiz. Ku kira kau sudah berubah." Sambung Tania.
"Kalian ini selalu saja ribut jika sudah bertemu." Nyonya Tyas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dan menantunya.
"Reiz, Rin kalian makanlah." Lanjut Nyonya Tyas yang bangkit dari duduknya diiringi dengan Tuan Mark.
"Mommy dan Daddy mau kemana?" Tanya Rin.
"Kami sudah selesai sayang. Kalian sarapan berdua saja ya..."
"Tomi, Tania." Panggil Tuan Mark, dan pasangan suami istri itu pun sudah mengerti untuk tak mengganggu kedua pasangan itu.
Selesai sarapan.
"Rin, apa kau ingin kembali ke apartemen?" Tanya Reiz.
"Emm... Bisakah kita tinggal di sini dulu?" Rin bertanya pelan, takut suaminya akan marah.
Reiz memandang Rin yang menundukkan wajahnya, ia bisa mengerti jika istri belum mau kembali ke apartemen.
"Maaf." Ucap Reiz.
"Maaf untuk apa?" Rin memberanikan diri menatap mata tajam itu.
"Maaf, selama ini kau pasti kesepian tinggal di apartemen." Jawab Reiz, perasaan bersalah jelas terlihat di wajahnya.
"Hei, jangan pasang tampang menyebalkan seperti itu."
"Memang selama tinggal di apartemen aku kesepian karena kau jarang sekali mengajakku bicara. Tapi..."
"Kita akan tinggal disini." Belum sempat Rin melanjutkan ucapannya Reiz sudah lebih dulu memotongnya.
"Terima kasih Reiz."
__ADS_1
Keduanya kembali ke kamar setelah selesai sarapan. Hari ini hari libur, jadi Reiz tak pergi ke kantor.