
Rin menatap keluar jendela kamar, tatapannya kosong. Kemarin Rin sudah di izinkan pulang oleh dokter karena keadaannya sudah membaik setelah hampir satu bulan dirinya di rawat di rumah sakit.
Sekarang Rin tinggal di mansion Anderson, dan menepati kamar lama Reiz. Ia tak ingin kembali ke apartemen. Untuk apa kembali kesana, Reiz bahkan tak pernah menjenguk dirinya ketika berada di rumah sakit. Suaminya itu sudah benar-benar tak peduli lagi dengannya.
Rin menghela nafas panjang, bukankah dari dulu cintanya memang bertepuk sebelah tangan?
"Rin..."
Rin menoleh, nampak Tania masuk ke kamar dengan sepiring buah-buahan yang sudah siap santap.
"Tania..." Rin tersenyum tipis.
"Aku membawakan buah untukmu, ayo dimakan."
"Terima kasih." Rin menyuapkan potongan buah itu ke dalam mulutnya. Ia senang, keluarga Anderson begitu baik dan perhatian terhadapnya tanpa pernah memandang siapa dirinya.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Tania
"Aku baik-baik saja, kenapa memangnya?" Rin balik bertanya.
"Kau terlihat tak bersemangat." Jawab Tania.
"Aku memang biasa seperti ini."Jawab Rin sekenanya.
"Apa kau merindukan suamimu?" Tanya Tania lagi. Rin menghentikan gerakan tangannya yang akan mengambil potongan buah.
"Entahlah. Aku tidak tahu." Rin mengangkat kedua bahunya, kemudian menyuapkan lagi potongan buah itu ke dalam mulutnya.
**********
Sudah sebulan ini Rin tinggal di mansion, dan itu artinya sudah dua bulan Reiz dan Rin tak bertemu. Reiz, pria itu menghabiskan waktunya hanya bekerja dan melamun. Ingin rasanya ia pergi menemui Rin, tapi tiap kali ia baru sampai gerbang mansion ada saja penjaga yang menghalanginya. Para penjaga itu bahkan tak membuka gerbang sama sekali. Tuan Mark dan Nyonya Tyas pun seakan tak mempedulikanya lagi.
Sementara Gwen sudah mendapat balasan yang setimpal, wanita itu mendekam di penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana. Dan Rinata sama sekali belum mengetahui tentang itu semua.
Sedangkan Albert Rivers, pria itu tak pernah di ketahui di mana keberadaannya. Ia menghilang bagai di telan bumi.
* * *
Perusahaan Anderson Grup
Tomi sudah selesai merapikan mejanya, di lihatnya asistennya yang masih saja melamun.
__ADS_1
"Reiz!" Seru Tomi membuat asistennya itu tersadar dari lamunannya.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Reiz datar.
"Ini sudah lewat dari jam pulang, apa kau mau menginap di kantor?" Tanya Tomi yang sudah bersiap untuk pulang.
"Benarkah?" Reiz melihat ke arah jam tangannya. Ternyata benar sudah hampir pukul tujuh malam.
"Kau ini mengapa melamun terus? Memikirkan istrimu?" Tanya Tomi, pria itu malah mendudukkan dirinya di sofa ruangan yang berada di sana.
"Adikku, kemarilah." Tomi menepuk tempat kosong sebelahnya. Reiz menghembuskan nafas berat, ia duduk di samping Tomi.
"Ada apa lagi, Tuan?" Tanyanya malas.
"Bagaimana hubunganmu dengan istrimu?" Tanya Tomi.
"Entahlah..." Jawab Reiz sekenanya.
"Entahlah? Reiz kau ini bagaimana, Rinata itu istrimu. Kau..."
"Rinata memang istriku. Tapi apa yang harus ku lakukan ketika keluargaku sendiri melarangku untuk menemuinya?" Potong Reiz.
"Itu semua juga karena salahmu sendiri." Jawab Tomi yang mendapat lirikan tajam dari Reiz.
"Tidak." Jawab Reiz singkat membuat Tomi tercengang.
"Tidak? Kau tidak mencintainya, tapi kau selalu memikirkannya."
"Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Reiz." Lanjut Tomi.
"Aku memikirkannya karena dia istriku." Sangkal Reiz.
"Jadi hanya karena status? Bukan karena perasaan?" Tomi terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa yang sebenarnya ingin Tuan katakan?" Reiz menatapnya dengan dingin.
"Lebih baik kau lihat ini." Tomi menyerahkan ponselnya. Di sana nampak sebuah video yang memperlihatkan Rinata dengan Nyonya Tyas.
"Rin, jadi bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan?" Tanya Nyonya Tyas dalam video itu.
"Keputusan? Keputusan apa, Mom?"
__ADS_1
"Tentang hubunganmu dengan Reiz? Kau ingin mengakhirinya atau mempertahankannya?"
Rin terlihat terkejut mendengar pertanyaan Nyonya Tyas.
"Sayang, kau tenang saja. Jika kau ingin mengakhiri hubunganmu dengan Reiz tak apa. Selama ini Reiz tak pernah memberi perhatian dan juga peduli denganmu, kami bisa memahaminya jika kau ingin mengakhiri hubungan kalian. Kami akan menerima keputusanmu, dan kami akan tetap menganggapmu sebagai putri kami. Kau tetap bagian dari keluarga ini, dan kau akan tetap tinggal di sini." Jelas Nyonya Tyas. Terlihat kebimbangan di wajah Rin.
"Mom, bagaimanapun sikap Reiz terhadapku aku akan selalu bisa menerimanya. Karena ia suamiku dan aku sangat mencintainya." Jawab Rin setelah beberapa saat terdiam.
"Setelah apa yang Reiz lakukan padamu, kau masih mencintanya?" Tanya Nyonya Tyas lagi.
"Semua yang terjadi bukan salahnya, tapi salahku yang begitu egois dan tak pernah memikirkan perasaannya." Ucap Rin dengan mata berkaca-kaca.
"Reiz mau menikah denganku saja sudah sebuah keberuntungan bagiku. Dan aku tak bisa memaksanya untuk menerimaku sebagai istrinya. Apalagi untuk mencintaiku.
Aku akan selalu mencintainya, Mom. Aku tak ingin mengakhiri hubungan ini. Tapi kalau Reiz yang ingin mengakhirinya, aku akan menerimanya. Dan aku akan pergi dari kehidupannya."
Tayangan video itu berakhir, Tomi mengambil alih ponselnya kembali. Semalam Nyonya Tyas memang sengaja meminta Tomi untuk merekam percakapannya dengan Rin, tanpa di ketahui oleh Rin sendiri.
"Kau lihat? Setelah apa yang kau lakukan pada Rinata, nyatanya Rinata masih saja mencintaimu."
"Kalau aku jadi Rinata, aku akan meminta cerai darimu. Karena secara tidak langsung kaulah penyebab Rinata kehilangan calon bayinya." Lanjut Tomi dengan emosi tertahan, mencoba memancing reaksi Reiz. Namun Reiz hanya menatap datar pria itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Tomi ketika melihat Reiz bangun dari duduknya tanpa mempedulikan ucapannya.
"Pulang." Jawab Reiz singkat. Pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dan juga Tomi yang menatapnya tak percaya.
"Pulang? Aku bahkan tak mendengar tanggapan apapun darinya. Padahal aku sudah bersusah payah merekam tanpa ketahuan oleh Rin." Tomi menggerutu.
* * * * *
Reiz termenung di dalam lift yang menuju apartemennya, perkataan Rin sedari tadi terngiang di telinga.
"Bagaimanapun sikap Reiz terhadapku aku akan selalu bisa menerimanya. Karena ia suamiku dan aku sangat mencintainya.
Aku akan selalu mencintainya. Aku tak ingin mengakhiri hubungan ini. Tapi kalau Reiz yang ingin mengakhirinya, aku akan menerimanya. Dan aku akan pergi dari kehidupannya."
Reiz memejamkan matanya, mencoba menekan perasaan yang menyeruak dalam hatinya. Tak bisa di pungkiri lagi kalau ia pun sudah jatuh cinta pada istrinya.
Ting.
Pintu lift terbuka, menyadarkan Reiz dari lamunan. Segera ia keluar dari sana.
__ADS_1
Langkah Reiz terhenti ketika melihat seorang pria berdiri di samping pintu apartemennya.
"Rexy, kau baru pulang?" Tanya Tuan Drake begitu melihat putranya. Tapi Reiz diam saja, ia memilih untuk membuka pintu apartemennya. Meninggalkan Tuan Drake yang berdiri mematung di ambang pintunya.