Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku takut


__ADS_3

"Mom, bagaimana Mommy tahu kalau aku sedang hamil?'' Tanya Tania. Ny. Tyas tersenyum.


"Saat melihatmu kemarin." Jawab Ny. Tyas.


"Kemarin?" Tania mengerutkan keningnya.


"Memangnya kemarin aku kenapa, Mom?" tanya Tania.


"Kemarin saat kau meminta minuman Reiz. Dan juga saat Tomi mengatakan kalau kau selalu menginginkan makanan ataupun minuman milik Reiz." Ny. Tyas menjeda ucapannya.


"Dari sana Mommy sudah curiga. Maka dari itu Mommy mengajak kalian ke rumah sakit." Sambungnya. Tania terlihat berfikir.


"Jadi ternyata itu adalah keinginan dari anakku?" Tanyanya kemudian.


"Ya, bisa di bilang begitu. Kau tahu sendiri kan, kadang wanita hamil menginginkan sesuatu yang aneh-aneh." Ny. Tyas tertawa.


"Wah Mommy hebat, hanya dengan melihat sekali sudah tahu kalau Tania sedang hamil. Sedangkan kami yang selama seminggu melihat keanehan itu tak pernah berfikir tentang kehamilan sebelumnya." Puji Rin yang di iringi anggukan oleh Tania.


"Tapi Mom, kenapa yang aku inginkan malah makanan dan minuman milik Reiz?" Tanya Tania lagi.


"Kalau soal itu Mommy tak tahu, sayang."


Tania kembali mengusap perutnya,


"Tomi pasti akan sangat senang mendengar kabar ini." Senyum Tania mengembang, membayangkan seperti apa ekspresi suaminya nanti.


"Kau akan memberi tahu Tomi sekarang?" Tanya Rin.


"Tidak." Tania menggeleng.


"Aku akan memberinya kejutan nanti." Ucap Tania dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.


*****


Sementara itu di perusahaan Anderson Grup.


Layar komputer itu terus menyala, namun pandangan Tomi kosong. Pikirannya entah ke mana.


"Tuan, Tuan!" Seru Reiz.


"Kenapa Baby?" Tomi tersadar dari lamunannya. Di lihatnya Reiz yang berdiri di hadapannya.


"Aku bukan Nona Tania." Ucap Reiz datar.


"Aku tahu." Sahut Tomi.


"Tanda tangan di sini." Reiz menyerahkan beberapa berkas pada Tomi.


"Tuan kenapa?" Tanya Reiz.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Tomi sambil menandatangani berkas itu.


"Benarkah?" Tanya Reiz, satu alis nya terangkat.


"Ya." Jawab Tomi singkat. Reiz mengambil berkas itu dan kembali duduk di kursinya.


"Kau tahu, selama delapan belas tahun kita bersama. Ini pertama kalinya aku melihat Tuan melamun seperti itu." Ujar Reiz yang kembali fokus pada komputernya.


"Aku tidak melamun." Elak Tomi.

__ADS_1


"Tidak perlu mengelak." Ucap Reiz tanpa mengalihkan pandangannya. Tomi membuang nafas berat.


"Kau tahu, Tania sangat berbeda akhir-akhir ini." Jawab Tomi yang terdengar lesu.


"Dia menjadi sangat sensitif. Aku takut." Lanjutnya.


"Apa yang Tuan takut kan?" Tanya Reiz.


"Aku takut kalau Tania sudah bosan padaku." Jawab Tomi, wajahnya terlihat sedih. Reiz mengalihkan pandangannya sekilas pada Tomi.


"Jangan pasang tampang menyebalkan seperti itu." Celetuk Reiz.


"Nona Tania bosan padamu? Itu tidak mungkin." Imbuhnya.


"Tapi sikap Tania berubah padaku."


"Mungkin Nona Tania memang sedang ada masalah, tapi bukan berarti Nona Tania bosan padamu, Tuan."


"Masalah apa? Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Tomi.


"Kenapa Tuan tanya aku? Tuan kan suaminya. Aku juga tak pernah berurusan dengan wanita." Reiz balik bertanya.


"Tapi kan kau sekarang sudah menikah, kau seharusnya bisa memberiku saran." Ucap Tomi.


"Tuan sendiri kan tahu, aku bukan tipe pria yang romantis. Jadi aku tak tahu bagaimana caranya menghadapi wanita yang sedang ada masalah." Jawab Reiz.


"Apa aku beri kejutan untuknya?" Tanya Tomi.


"Mungkin." Jawab Reiz singkat.


"Aku ajak makan malam romantis saja ya?" Tanya Tomi lagi meminta saran.


"Terserah." Jawab Reiz sekenanya.


"Sudah ku bilang, aku bukan pria yang romantis. Jadi aku tidak tahu apa yang harus di lakukan."


Reiz mengambil pena itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di bawah mejanya.


"Hei, kenapa kau buang pena ku?" Tomi membelalakan matanya.


"Itu pena mahal. Kau tahu, aku membelinya di luar negeri." Tomi menghampiri meja Reiz.


"Aku tak peduli." Ucap Reiz dengan datarnya.


* * * * *


Tomi merapikan meja kerjanya, sudah saatnya pulang kerja. Ia meraih ponselnya di saku celana.


"Halo Baby." Sapa Tomi begitu panggilannya terhubung.


"Halo." Jawab Tania.


"Baby, bagaimana kalau malam ini kita berdua makan malam di luar?" Tanya Tomi.


"Makan malam di luar?" Ulang Tania.


"Iya Baby. Kau mau kan?"


"Tidak Tom, aku ingin makan di rumah saja." Tania menolak.

__ADS_1


"Kenapa Baby?" Tomi terdengar kecewa, padahal ia akan menyiapkan makan malam yang romantis untuk sang istri.


"Aku malas. Lagipula aku hanya ingin makan jika ada Reiz saja." Jawab Tania sekenanya.


"Reiz?" Tanya Tomi.


"Ya, kau kan tahu belakangan ini selera ku sama dengan Reiz. Jadi aku hanya ingin makan jika ada Reiz saja. Sudah ya Tom, aku sibuk." Tania mengakhiri panggilannya.


"Halo Baby. Di matikan?" Tomi menatap ponselnya.


"Reiz? Jangan bilang kalau Tania sudah bosan padaku dan tertarik dengan Reiz." Pikiran konyol itu tiba-tiba terlintas di kepala Tomi.


Klek. Pintu toilet terbuka, Reiz keluar dari sana.


"Reiz!" Panggil Tomi.


"Ada apa?" Tanya Reiz sambil berjalan ke mejanya.


"Apa kau..." Ucapan Tomi terhenti.


"Apa yang ingin Tuan katakan?" Sela Reiz.


"Reiz, apa mungkin..." Ucapan Tomi kembali terhenti. Wajahnya terlihat bingung.


"Apa yang sebenarnya ingin Tuan katakan?" Reiz menautkan kedua alisnya.


Tomi malah diam saja, dan itu membuat Reiz kesal.


"Aku pulang." Reiz memutar langkahnya.


"Hei Reiz." Tomi menarik lengannya.


"Tuan ini kenapa?" Reiz menepis tangan Tomi.


"Reiz, apa mungkin Tania..."


Lagi-lagi ucapan Tomi terhenti.


"Katakan!" Seru Reiz, mambuat Tomi terjingkat kaget. Ia kesal sedari tadi Tomi tak jadi bicara.


"Kau ini, buat aku terkejut saja!" Seru Tomi.


"Itu salahmu. Aku menunggu mu bicara dari tadi, tapi Tuan malah diam saja." Jawab Reiz dengan datarnya.


"Apa mungkin Tania sudah bosan padaku dan Tania tertarik padamu?" Tanya Tomi dengan wajah sedihnya. Sedangkan Reiz menatapnya tak percaya.


"Jadi itu yang sedari tadi ingin Tuan katakan?" Tanya Reiz. Tomi mengangguk pelan.


"Tuan, gi*la juga harus ada batasnya." Reiz kembali melangkah meninggalkan Tomi.


"Gi*la?" Gumam Tomi.


"Hei Reiz, aku tidak gi*la." Tomi menyusul langkah Reiz.


"Lalu apa namanya? Bisa-bisanya Tuan berfikiran seperti itu." Sinis Reiz.


"Memang aku salah jika berfikiran seperti itu? Lihat Tania sekarang, ia berubah sikapnya padaku. Dan sekarang seleranya malah sama denganmu." Tomi membela diri.


"Mungkin memang selera makan istri mu yang berubah. Tapi tidak berarti kalau Nona Tania menyukai ku." Ucap Reiz penuh penekanan.

__ADS_1


"Tapi..." Ucapan Tomi terhenti karena Reiz lebih dulu menyela nya.


"Buang jauh-jauh fikiran itu, Tuan. Kalau Nona Tania tahu kau berfikiran seperti itu, ia pasti akan marah padamu." Ucap Reiz dengan datarnya sambil berlalu pergi meninggalkan Tomi yang mematung di sana.


__ADS_2