
"Kau sangat cantik, pantas saja Edra begitu mencintaimu." Ucap Nyonya Eliza begitu pelukan keduanya terlepas.
"Mom... Mommy terlalu memuji." Ucap Gwen terputus-putus karena belum terbiasa memanggil Nyonya Eliza dengan sebutan Mommy.
"Tuan Drake, selamat siang." Sapa Gwen sedikit gugup.
"Panggil Daddy saja." Jawab Tuan Drake sambil tersenyum.
"Dad... Daddy. Terima kasih karena sudah mau menerima kedatangan saya."
"Tentu kami menerimamu, Nak. Karena kau adalah wanita yang di cintai putraku."
"Walaupun aku seorang pembunuh dan mantan narapidana?" Cicit Gwen. Tuan Drake dan istrinya saling memandang.
"Kami tak pernah memandang status orang lain, Gwen. Jika Edra saja bisa menerimamu, kenapa kami tidak? Bukankah kebahagian orang tua ada pada anak mereka?" Ujar Nyonya Eliza diiring senyum lembutnya.
Mata Gwen berkaca-kaca, ternyata kelurga Edra menyambutnya dengan hangat dan menerima kehadirannya.
"Tapi satu yang kami minta, minta maaflah pada keluarga Anderson." Ucap Tuan Drake seraya menatap Edra dan Gwen secara bergantian.
"Tentu Daddy, aku akan minta maaf pada keluarga Anderson. Tanpa di minta pun aku akan meminta maaf pada mereka." Jawab Gwen, terlihat gurat penyesalan di wajahnya.
Edra menggenggam tangannya, tersenyum menenangkan.
"Kita akan kesana bersama." Ucap Edra diiringi anggukkan dari Gwen.
"Ya sudah, sebaiknya kau beristirahat dulu Gwen. Kami sudah menyiapkan kamar tamu untukmu." Ujar Nyonya Eliza.
"Terima kasih, sekali terima kasih Mom, Dad..."
"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Edra, antarkan Gwen ke kamarnya."
"Baik, Mom."
**********
Keesokan harinya di mansion Anderson.
Tomi menatap sinis pada Edra, tak bisa di pungkiri ia masih kesal pada Edra. Karena Reiz dengan mudahnya memanggil Edra dengan sebutan 'Kakak'.
Padahal itu semua bukan salah Edra. Sementara Edra yang tak tahu apa-apa terlihat biasa saja, wajahnya terlihat polos seakan tanpa dosa.
"Ehm, selamat sore Tuan Anderson, Nyonya Anderson, Reiz, Rinata, Tomi dan Tania." Sapa Gwen pada setiap orang di sana dengan sedikit gugup.
"Sore." Jawab para wanita di sana, sementara para pria hanya mengangguk.
"Sebelumnya kami minta maaf kalau kedatangan kami mengganggu." Gwen menjeda ucapannya. Menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Tujuan saya datang kemari untuk meminta maaf. Saya Gwen Caroline atas nama pribadi memohon maaf atas apa yang sudah saya lakukan pada Rinata Andara, menantu di keluarga Anderson dan juga istri dari Reiz Anderson." Gwen kembali menjeda ucapannya.
"Saya merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah saya lakukan terhadap Rinata. Saya khilaf, hanya karena perasaan cemburu buta saya nekat berbuat jahat... Bahkan sampai membunuh nyawa yang tak berdosa..."
Nafas Gwen tercekat, ia menundukkan wajahnya. Air matanya mengalir begitu saja. Menyesali dengan apa yang sudah di lakukannya. Edra yang duduk di sampingnya mengusap lembut punggungnya. Memberi ketenangan untuk wanita yang di cintainya itu.
Rin menatap nanar pada Gwen, tak pernah dilihatnya Gwen seperti itu. Karena setahunya Gwen adalah seorang gadis yang ceria, sama seperti dirinya.
Keluarga Anderson terlihat saling memandang. Sampai akhirnya Tuan Mark membuka suara.
"Atas nama keluarga Anderson, kami memaafkanmu."
Gwen memberanikan mengangkat wajahnya.
"Benarkah Tuan?" Tanya Gwen seakan tak percaya.
"Iya. Tapi jangan pernah lagi kau mengulangi kesalahanmu." Lanjut Tuan Mark.
"Tentu Tuan, saya berjanji." Ucap Gwen dengan yakin. Binar bahagia nampak di matanya. Tak di sangka, keluarga Anderson begitu mudah memaafkan kesalahannya.
Dan dalam hati Gwen berjanji akan merubah sikapnya menjadi wanita yang jauh lebih baik lagi.
"Tuan Edra, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Reiz membuat Edra menoleh kearahnya.
"Tentu saja." Jawab Edra.
*****
"Apa yang ingin kau bicarakan, Tuan Rexy?" Tanya Edra.
"Kau jadi pergi?" Tanya Reiz.
"Tentu. Dua minggu lagi aku akan menikah dengan Gwen, dan setelah itu aku akan membawanya pergi. Ke tempat yang baru." Jawab Edra menatap kosong ke depan.
"Jangan pergi, tetaplah di sini." Ucap Reiz.
"Maksudnya?" Edra membalikkan badannya, menatap punggung Reiz yang masih membelakanginya.
"Tetaplah di sini, aku bahkan belum minta maaf padamu."
"Apa maksudnya Tuan Rexy? Minta maaf untuk apa?" Tanya Edra lagi.
Reiz membalikkan tubuhnya, berdiri menghadap Edra.
"Meminta maaf atas kesalahanku dulu. Aku membentakmu saat kau mengantarkan makanan ke kamarku."
Memori Edra berputar mengingat kejadian itu. Ia kira Reiz sudah melupakannya, ternyata tidak.
__ADS_1
"Maafkan aku..." Ucap Reiz pelan, sementara Edra terpaku mendengarnya.
"Maafkan aku, Kak Edra..." Reiz mengulang perkataannya, kali ini suaranya terdengar bergetar.
"Rexy... Kau tak perlu meminta maaf. Bukan salahmu jika kau tak bisa menerima kehadiranku."
"Tapi kau kakakku, dan aku sudah bertindak tidak sopan padamu." Reiz menundukkan pandangannya. Tak ada lagi tatapan dingin di sana. Reiz selayaknya seorang adik kecil yang sedang meinta maaf pada kakaknya. Dan Edra tak bisa berkata-kata lagi, ia menarik Reiz ke dalam pelukannya.
"Rexy, adikku... Terima kasih kau sudah mau menerimaku sebagai kakakmu."
Kedua pria muda itu melepas pelukannya, dan nampak canggung setelahnya.
"Jangan pergi. Aku ingin Kak Edra tetap di sini." Pinta Reiz.
"Apapun untukmu. Aku juga tak bisa meninggalkan adikku yang baru ku temukan." Edra menepuk bahu pria yang usianya terpaut dua tahun dengannya itu.
"Hei kalian! Apa yang sedang kalian lakukan?!" Seru Tomi, suaranya merusak suasana di sana.
"Kalian berdua laki-laki, tapi malah berpelukan. Apa kalian ingin istri-istri kalian salah paham?" Lanjut Tomi dengan tampang menyebalkannya. Reiz hanya memutar bola matanya.
"Kenapa Tuan Tomi? Apa salah kalau aku memeluk adikku sendiri? Lagi pula aku belum menikah." Edra balik bertanya.
"Adik? Hei, Reiz adikku!" Seru Tomi, ia tak rela jika Edra mengakui Reiz sebagai adiknya. Walau kenyataannya seperti itu.
"Rexy adikku!" Seru Edra tak mau kalah. Sementara Reiz menatap kedua pria itu dengan datar.
"Reiz adikku!" Seru Tomi lagi.
"Rexy adikku!" Balas Edra.
"STOP!" Seru Reiz.
"Kalian berdua kakakku, okay?" Reiz menengahi.
"Tapi kau tak pernah memanggilku dengan sebutan 'Kakak'." Protes Tomi. Reiz memijat pelipisnya, bisa-bisanya Tomi membahas hal itu lagi.
"Okey. Kak Tomi? Kau puas?" Reiz akhirnya mengalah. Terlihat senyum puas di bibir Tomi. Sementara Edra menatapnya dengan datar.
"Tapi Rexy adikku." Ujar Edra yang kembali mendapat tatapan tajam dari Tomi. Sementara Reiz hanya bisa membuang nafas kasar.
"Kalau kalian mau melanjutkan yang tadi, silahkan. Aku ke dalam dulu." Reiz melangkahkan kaki meninggalkan Edra dan Tomi. Kedua pria itu masih saling menatap sengit, namun tiba-tiba keduanya tertawa.
"Rexy adik kita berdua?" Tanya Edra setelah tawa keduanya terhenti.
"Tentu, Reiz adalah adik kita." Jawab Tomi, keduanya saling merangkul.
* * * * *
__ADS_1