Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku akan mengantarmu


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?" Rin terkejut mendengar suara di belakangnya, ia bahkan sampai terjatuh dari tempat duduknya karena ia duduk di sisi sofa.


"Aduh..." Rin mengusap bagian bawah tubuhnya yang membentur lantai. Reiz hanya menggeleng melihatnya tanpa mau membantunya.


"Tuan? Anda sudah pulang?" Tanya Rin yang masih terduduk di lantai.


"Kau seharusnya sudah tahu jam pulang ku bukan?" Reiz balik bertanya. Rin hanya tersenyum sambil menunjukan deretan giginya yang rapi.


"Tuan, tolong bantu aku berdiri." Rin mengulurkan tangannya pada Reiz. Tapi jangan harap Reiz menolongnya.


"Kau jatuh sendiri, jadi bangunlah sendiri." Ucap Reiz datar, ia mendudukkan dirinya di sebrang Rin. Rin mengerucutkan bibirnya sambil berusaha bangkit dari duduknya.


"Aku terjatuh juga karena suara Tuan yang mengejutkanku." Gerutu Rin pelan.


"Kau bilang apa?" Rin menoleh, Reiz sudah menatapnya dengan tajam. Padahal ia hanya menggumam pelan mana mungkin Reiz mendengarnya.


"Tidak Tuan, aku tidak bilang apa-apa.'' Rin menggeleng, lebih baik cari aman saja.


"Kau sudah makan?" Tanya Reiz, Rin menatapnya heran. Sejak kapan pria ini perhatian terhadapnya? Bahkan setiap makan malam pun selalu Rin yang meminta makan malam bersamanya. Karena Rin tak ingin makan sendiri, walaupun Reiz diam saja tapi Reiz tidak menolaknya.


"Apa kau sudah makan?" Reiz mengulang pertanyaannya. Rin menggeleng,


"Belum, Tuan."


"Makanlah, menangis pun cukup menguras tenaga." Rin melebarkan matanya, dari mana Reiz tahu kalau ia habis menangis.


"Tuan tahu darimana kalau..." Ucap Rin terputus.


"Apa yang membuatmu menangis? Apa kau tidak betah tinggal di sini? Aku bisa memulangkan mu sekarang juga." Rin menggeleng cepat, bagaimana mungkin ia tak betah tinggal di sana.


"Bukan Tuan, aku... Aku merindukan ibuku." Rin menunduk.


"Tuan, apa boleh aku mengunjungi makam ibuku?" Ucapnya ragu.


"Tentu saja, besok aku akan mengantarmu ke makam ibu mu." Rin tersentak, apa ia tak salah dengar Reiz mau mengantarnya?

__ADS_1


"Itu tidak perlu Tuan. Aku bisa pergi sendiri. Aku hanya ingin minta izin saja pada Tuan. Lagipula aku tak ingin menyusahkan Tuan." Rin mencoba menolak.


"Aku antar atau kau tidak usah pergi." Rin menelan saliva nya mendengar ucapan datar Reiz.


"Iya baiklah kalau memang Tuan mau mengantarku, selama itu tidak menyusahkan Tuan." Rin akhirnya pasrah. Reiz bangkit dari duduknya.


"Makanlah, aku tidak mau kau pingsan di tempatku karena terlambat makan." Reiz melangkah pergi meninggalkan Rin yang masih terpaku di sana.


**********


Keesokan harinya. Rin sudah bersiap-siap, setelah selesai sarapan mereka akan berangkat. Rin menatap pantulan dirinya di cermin, dengan mengenakan dress sabrina selutut di tambah riasan natural di wajah imutnya Rin tampak begitu cantik.


"Ibu, sebentar lagi Rin akan datang menemui Ibu. Ibu tunggu ya di sana." Ada rasa bahagia di hati Rin ketika Reiz mengizinkannya mengunjungi makam sang ibu, terlebih Reiz mau mengantarnya.


Senyum Rin terbit, tak bisa di pungkiri kalau ia sudah jatuh cinta pada Reiz. Walau baru seminggu ia mengenal Reiz, tapi pria itu sudah berhasil merebut hatinya.


Bagaimana tidak, Reiz sudah beberapa kali menolongnya dan Reiz juga sudah memberinya tempat tinggal. Reiz adalah pria yang baik walaupun terkesan dingin dan datar.


Tapi Rin tak ingin berharap lebih, biarlah perasaannya ia pendam sendiri. Ia juga harus sadar diri, dirinya tak pantas mendampingi Reiz, pria yang nyaris sempurna itu.


**********


Reiz berjalan di belakang Rin, ia memandangi pemakaman yang terbentang di kanan kirinya, tempat ini tidaklah asing baginya. Karena ia sendiri selalu pergi ke sana di saat ada waktu luang untuk mengunjungi seseorang yang sangat di dicintainya.


Rin berhenti di salah satu makam tempat ibunya beristirahat untuk selama-lamanya. Ia berjongkok di sisi makam sementara Reiz berdiri di sampingnya.


"Ibu... Rinata datang. Maafkan Rinata baru sempat datang kemari lagi...." Rin mengusap nisan sang ibu, dan mulai menangis terisak. Mengingat kenangan manis bersama ibu dan kejadian beberapa waktu lalu saat ayah tirinya berbohong dan malah menjualnya pada Edra.


Reiz membalikkan tubuhnya, melangkah menjauh. Ia ingin memberi ruang pada Rin untuk menumpahkan kesedihannya. Tapi tiba- tiba pandangannya terpaku pada seseorang yang berada tak jauh darinya.


Reiz melangkahkan kaki, ingin memperjelas pengelihatannya. Tidak mungkin ia salah lihat, pria itu... Edra William? Untuk apa Edra berada di sana?


Reiz terus saja memperhatikan Edra yang duduk di sisi salah satu makam. Wajah Edra  nampak sedih, ia juga terlihat bicara dengan salah satu makam yang sangat di kenalnya.


"Tuan, Tuan?" Rin mengibaskan tangannya di depan wajah Reiz membuat Reiz tersadar dari lamunannya. Tak terasa ia memperhatikan Edra sudah cukup lama.

__ADS_1


"Ada apa Tuan? Kenapa Tuan melamun?" Tanya Rin.


"Tidak apa-apa." Jawab Reiz singkat.


"Jangan melamun di pemakaman Tuan, itu tidak baik." Rin menasehati.


"Aku tidak melamun." Elak Reiz.


"Apa kau sudah selesai?" Lanjutnya.


"Iya Tuan. Aku sudah selesai."


"Ayo kita pulang." Ajak Reiz. Rin mengangguk, mereka berdua meninggalkan area pemakaman itu.


Seperti biasa, perjalanan mereka hanya di isi dengan kebisuan. Pikiran mereka berdua melayang entah kemana. Reiz yang masih bertanya-tanya kenapa dan untuk apa Edra berada di sana? Dan Rin dengan sisa-sisa kesedihan mengingat sang ibu.


**********


"Tuan, apa anda libur hari ini?" Tanya Rin begitu mereka berdua masuk ke dalam apartemen.


"Ya." Jawab Reiz singkat.


"Tuan ingin ku masakan apa?"


"Apa saja.'' Jawab Reiz sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Hmm... Masak apa ya hari ini...? Setidaknya aku harus masak yang spesial karena Tuan Reiz sudah berbaik hati padaku hari ini..." Rin menuju ke dapur, melihat-lihat persediaan bahan makanan yang masih tersedia.


Reiz menatap jendela kamarnya, pikirannya masih tertuju pada Edra. Tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering. Reiz tersenyum melihat siapa yang meneleponnya. Dengan segera ia mengangkat ponselnya.


"Halo Mom." Sapa nya.


"Reiz, kau kemana saja? Apa kau baik-baik saja? Kenapa tidak ada kabar selama satu minggu  ini?" Nyonya Tyas memberondongnya dengan banyak pertanyaan begitu panggilannya terhubung. Reiz kembali tersenyum, sang Mommy memang selalu mengkhawatirkannya padahal ia sudah dewasa.


"Aku baik-baik saja, Mom. Maaf aku belum sempat mengabari Mommy, aku sangat sibuk akhir-akhir ini. bagaimana kabar Mommy dan Daddy?" Tanya Reiz.

__ADS_1


"Mommy dan Daddy baik, sayang. Reiz, Daddy ingin bicara denganmu." Nyonya Tyas memberikan ponselnya pada suaminya yang duduk di sampingnya.


__ADS_2