Reiz And Rin

Reiz And Rin
Kau mau kabur?


__ADS_3

Rin mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Pandangannya mengedar memandangi setiap sudut kamar itu.


"Kamarnya cantik, dan suasananya sangat romantis. Tapi sayang, Reiz begitu kaku. Hah, memang apa yang ku harapkan? Reiz mau menikahiku dan keluarga Reiz menerimaku saja sudah suatu keberuntungan bagiku. Sadar dirilah wahai Rinata... " Rin menghela nafas berat.


Klek, pintu kamar mandi terbuka, nampak Reiz keluar dari sana dengan lilitan handuk di pinggangnya. Rin menelan salivanya, ini pertama kalinya ia melihat tubuh pria secara langsung.


Astaga, kenapa tubuh Reiz begitu sempurna. Kulit yang putih bersih, dadanya yang bidang dan roti sobek di perutnya.


Rin mendadak salah tingkah, dari pada terus memandangi pemandangan yang akan merusak mata sucinya lebih baik ia masuk ke kamar mandi.


"Reiz, kenapa kau menggoda sekali?" Rin menatap pantulan dirinya di cermin, memegang kedua pipi.


"Astaga, Rinata! Apa yang sudah kau pikirkan?" Rin menepuk dahinya sendiri.


"Mandi, sebaiknya aku mandi dari pada otakku makin berpikiran yang tidak-tidak." Rin mencoba melepaskan gaun pengantinnya.


"Ini kenapa susah sekali?" Rin kesulitan meraih resleting gaunnya.


Sementara itu, Reiz sudah selesai berpakaian. Ia menghela nafas berat. Haruskah dirinya dan Rin melakukan malam pertama? Reiz menggeleng. Tidak, sebaiknya jangan lakukan hal itu.


Mendadak pikiran Reiz melayang jauh, teringat masa lalu tentang ibunya. Bagaimana sang ibu yang terus menagis karena ayahnya yang sudah menyakitinya.


Tidak, Reiz tak ingin seperti itu, Reiz tak ingin seperti ayah kandungnya yang sudah menyakiti ibunya.


Reiz memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lebih baik ia keluar saja, menikmati dinginnya angin malam.


Baru saja Reiz membuka pintu, ia di kejutkan dengan seorang wanita cantik yang berdiri di hadapannya dengan senyum manisnya.


"Hai Reiz." Tania melambaikan tangannya.


"Nona Tania? Sedang apa Nona di sini?" Tanya Reiz.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya?"


 


Tania balik bertanya, membuat Reiz menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya?" Tanya Reiz.


"Kau mau kemana, Reiz? Bukannya sekarang malam pengantinmu dengan Rinata?" Tania melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku..."

__ADS_1


"Oh iya, mana Rinata?" Potong Tania.


"Rinata sedang mandi." Jawab Reiz singkat.


"Ck...Ck...Ck...." Tania berdecak, melipat tangannya di depan dada.


"Istri sedang mandi malah mau kau tinggalkan, Reiz?" Tania menggeleng dengan tatapan tajamnya. Reiz hanya diam saja.


"Baby..." Panggil Tomi menghampiri istrinya.


"Sedang apa di sini?" Tanya Tomi sambil melingkarkan tangannya di pinggang Tania.


 


Tania tersenyum, Tomi mengecup singkat bibirnya,


Reiz yang melihat hanya menatap mereka dengan datar, sudah sering mereka melakukan hal seperti itu di depan Reiz. Bahkan jika Tania datang ke kantor, mereka berdua malah bermesraan di depan Reiz.


"Aku sedang mengawasi Reiz supaya tidak kabur, sayang." Jawab Tania, pandangannya terarah pada Reiz.


"Kau mau kabur Reiz?" Tomi menatap tajam pada Reiz.


"Tidak Tuan." Jawabnya datar.


"Kalau tidak kabur, lalu kau mau kemana? Padahal istrimu sedang mandi, tapi malah mau kau tinggal pergi." Lanjut Tania dengan tatapan mengintimidasinya.


"Reiz sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Oh ya, jangan lupa cek ponselmu. Daddy dan Mommy mengirim pesan untukmu." Ujar Tomi.


"Aku permisi Tuan, Nona." Reiz membalikkan badannya, masuk kembli ke dalam kamarnya.


"Reiz, jangan lupa kunci pintu kamarmu. Kau tidak mau kan kalau aku menerobos masuk dan menyaksikan aksi kalian?! Hahahaha....'' Teriak Tomi dari balik pintu.


Reiz kembali mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur sambil menghela nafas berat. Memaki pasangan suami istri itu dalam hati. Kenapa mereka menyebalkan sekali? Selalu muncul di saat yang tidak tepat. Ia kemudian meraih ponselnya dari atas nakas, apa benar Daddy dan Mommynya mengirim pesan?


Reiz mengerutkan keningnya membaca pesan yang tertera di ponselnya.


"Boy, malam ini kau harus melakukan kewajibanmu sebagai suami. Kalau tidak, Daddy tidak mau lagi menganggapmu sebagai anak Daddy." Tuan Mark.


"Reiz, lakukan malam pertamamu malam ini, supaya Mommy bisa cepat punya cucu. Dan ingat! Jangan berani untuk kabur, karena Mommy sendiri yang akan menyeretmu kalau kau sampai berani untuk kabur." Nyonya Tyas.


"Reiz, aku sudah menyiapkan sesuatu yang sexy untuk Rinata pakai malam ini." Tania.


Mulut Reiz menganga membaca pesan dari keluarganya.

__ADS_1


Astaga, haruskah sampai seperti ini? Kenapa keluarganya ingin sekali ia melakukan 'hal' itu dengan Rin? Reiz mengusap kasar wajahnya.


Sementara itu, setelah bersusah payah akhirnya Rin berhasil membuka gaunnya dan membersihkan tubuhnya. Ia sudah nampak lebih segar sekarang.


Dengan berbalut bathrobe Rin keluar dari kamar mandi, dilihatnya Reiz sedang fokus dengan ponselnya. Dengan langkah pelan Rin berjalan menuju lemari untuk mengganti pakaiannya.


Mata Rin terbelalak begitu melihat isi lemari tersebut, bagaimana tidak? Di dalam sana hanya ada pakaian tidur yang kurang bahan.


"Kenapa pakaiannya jadi berubah seperti ini? Dan di mana pakaian ku?" Batin Rin. Rin segera menutup kembali pintu lemarinya, jangan sampai Reiz melihatnya. Bisa-bisa nanti dia yang akan di sangka mau menggoda Reiz.


"Kenapa kau berdiri di sini?" Suara datar Reiz mengejutkan Rin yang sedang mematung, lelaki itu sudah berdiri di belakangnya.


"Eh, Reiz... Aku..." Rin menunduk, ucapannya terputus.


"Ada apa?"  Reiz menatap Rin yang nampak ragu-ragu seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Katakan!" Serunya. Rin terjingkat, takut-takut ia menatap Reiz.


"Em... Boleh aku pinjam bajumu?" Jawabnya pelan. Reiz mengerutkan keningnya.


"Memangnya ke mana pakaianmu?" Tanya Reiz.


"Pa..Pakaianku telah berubah." Cicit Rin.


"Apa maksudmu?" Reiz menautkan keduanya alisnya. Rin menghembuskan nafas berat. Ia terpaksa membuka pintu lemarinya.


"Itu...." Rin menunjukan pakaian yang tergantung di sana. Reiz membulatkan matanya, tidak salah lagi ini pasti ulah Tania. Tadi Tania sempat mengirim pesan padanya tentang pakaian itu.


Reiz mengusap wajahnya, kenapa Tania malah menyiapkan baju kurang bahan untuk Rin? Sepertinya keluarganya memang ingin sekali ia melakukan malam pertama dengan Rin.


Reiz menatap Rin dengan tatapan yang tak terbaca.


"Bukankah ini malam pertama kita? Jadi kau tak memerlukan pakaian bukan?" Tanya Reiz membuat Rin tercengang.


Sesaat kemudian ia mengangkat tubuh Rin hingga membuat gadis itu terkejut.


"Reiz, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Rin berteriak di dalam gendongan Reiz.


"Apa kau yakin ingin aku menurunkanmu? Aku bisa saja menghempaskan tubuhmu ke lantai." Rin melihat ke arah bawah, ia malah memeluk leher Reiz.


"Tidak, jangan." Rin menggeleng.


Reiz meletakan tubuh Rin di tengah tempat tidur, ia kemudian membaringkan dirinya di samping Rin dan menatap Rin dengan tatapan datarnya.

__ADS_1


"Reiz, kau mau apa?"


Jangan lupa like & komennya ya 😘


__ADS_2