
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama tiga jam pesawat mereka mendarat di tempat tujuan. Lagi-lagi Rin di buat terpana. Sebuah pulau pribadi milik Anderson Grup lengkap dengan landasan pribadi dan juga beberapa resort.
"Selamat datang Tuan Tomi, Tuan Reiz, Nona Tania, dan Nona Rinata." Sambut kepala pelayan resort di sana. Tomi dan Reiz hanya mengangguk sementara Tania dan Rin membalasnya dengan senyuman.
"Kamarnya sudah kami siapkan, dan kami akan merapikan barang-barang Tuan dan Nona." Sambung kepala pelayan itu lagi. Dengan segera para pelayan yang berbaris di belakangnya meraih barang-barang bawaan mereka dan merapikan di kamar mereka masing-masing.
"Tuan Reiz, Nona Rinata kami sudah selesai. Silahkan Tuan dan Nona beristirahat. Jika perlu sesuatu panggil kami saja." Ujar salah satu pelayan.
"Terima kasih."Jawab Rin dan Reiz hanya mengangguk.
"Kami permisi." Para pelayan itu meninggalkan kamar.
"Reiz, kamarnya bagus sekali. Berapa hari kita akan menginap di sini?" Tanya Rin yang memandangi setiap sudut kamar, kamar yang indah dan juga sangat nyaman yang di dominasi warna putih.
"Entahlah." Jawab Reiz singkat sambil melangkah ke kamar mandi. Rin menatap punggung Reiz sebelum hilang di balik pintu, ia menghembuskan nafas berat.
Reiz selalu saja dingin terhadapnya, bahkan selama di perjalanan tadi Reiz tak bicara satu kata pun padanya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur sampai mereka tiba di tempat tujuan.
Lain halnya dengan Reiz dan Rin, lain pula dengan Tomi dan Tania. Mereka berdua malah terlibat percintaan panas setelah para pelayan selesai merapikan barang-barang mereka.
*****
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Rin bingung harus melakukan apa, di lihatnya Reiz sedang tertidur lelap. Mungkin suaminya lelah setelah menempuh perjalanan panjang, sedangkan dirinya sudah tidur selama perjalanan tadi.
Pergi keluar melihat pemandangan? Rin belum ingin keluar, lagi pula ia tak ada teman untuk keluar. Tania dan Tomi pun tak nampak lagi setelah masuk kemar.
Rin akhirnya memutuskan untuk berbaring di samping Reiz. Di pandanginya pria yang sudah memiliki dirinya seutuhnya itu.
"Kau begitu tampan Reiz, dulu aku selalu ingin dekat denganmu karena kau satu-satunya pria membuatku merasa aman dan nyaman. Dan sekarang rasanya bagai mimpi aku sudah menikah denganmu, walaupun kau masih dingin terhadapku. Tapi kau sudah memiliki diriku seutuhnya. Dan aku yakin suatu saat nanti kau bisa menerimaku sebagai istrimu, walaupun kau tak bisa mencintaiku." Lirih Rin dalam hati.
Karena terlalu larut dalam suasana hatinya tanpa sadar Rin membelai pelan wajah Reiz dengan jemarinya. Reiz yang merasa ada sentuhan di wajahnya segera membuka matanya. Dilihatnya Rin sedang membelai wajahnya sambil menunduk. Ia bahkan tak sadar jika Reiz sudah terbangun.
"Apa yang kau lakukan?" Suara datar itu mengejutkannya. Rin melebarkan matanya melihat sang suami yang sudah membuka matanya dan menatapnya begitu dingin. Secepat kilat ia menarik tangannya dari wajah Reiz.
__ADS_1
"Ma... Maaf... Apa aku mengganggu tidurmu?" Rin bangun dari tidurnya dan duduk di samping Reiz.
"Aku lelah, jangan ganggu aku." Jawab Reiz dengan dinginnya, ia membalik tubuhnya membelakangi Rin.
"Maaf..." Ucap Rin pelan.
**********
Sudah hampir dua minggu Tomi, Reiz, Tania dan Rin menghabiskan waktu di pulau pribadi itu. Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi keindahan pulau dan laut dan juga menikmati berbagai kuliner seafood di sana.
Ini malam terakhir mereka menginap disini, barang-barang bawaan mereka sudah di terkemas rapi karena besok pagi mereka akan pulang.
Di suatu kamar dengan cahaya temaram sepasang suami istri sedang melakukan kegiatan panas mereka. Reiz dan Rin. Walaupun Reiz masih saja kaku, tapi tak bisa di pungkiri Rin sangat menikmati sentuhan suami dinginnya itu.
Walaupun hampir dua minggu berbulan madu, tapi malam ini adalah malam ketiga bagi Reiz dan Rin melakukan kegiatan panas itu.
Lain halnya dengan Tomi dan Tania yang melakukannya setiap hampir setiap hari tak peduli siang ataupun malam.
Rin membalikkan tubuhnya lagi menghadap Reiz, di lihatnya Reiz sudah memejamkan matanya.
"Reiz, apa kau sudah tidur?" Tanyanya. Seketika itu juga Reiz membuka matanya.
"Belum." Jawabnya.
"Tidurlah, ini sudah malam." Sambungnya sambil menatap istrinya dengan datar.
"Reiz, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Rin seraya menatap Reiz dengan dalam.
"Katakan."
"Kenapa kau mau menikah denganku?" Tanya Rin. Reiz nampak terdiam sejenak mendengar pertanyaan istrinya.
"Karena permintaan Mommy dan Daddy." Jawabnya singkat. Rin nampak tersenyum getir mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau aku hamil bagaimana?" Lanjutnya.
"Memangnya kenapa kalau kau hamil? Bukankah Mommy dan Daddy sudah ingin memiliki cucu dari anak-anaknya." Kembali Rin tersenyum getir, bukan itu jawaban yang ia inginkan.
"Tidurlah." Reiz menarik Rin ke dalam pelukannya. Tapi Rin segera menahan dengan tangannya.
"Reiz, bisa kita ulangi yang tadi?" Pintanya. Reiz mengerutkan keningnya. Dan tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Rin mendaratkan ciuman pada bibir Reiz dengan tangannya yang menahan tengkuk suaminya itu.
Reiz sedikit terkejut mendapat ciuman mendadak dari Rin. Tapi Rin tak peduli, ia terus saja memperdalam ciumannya hingga kini tubuhnya polosnya berada di atas Reiz.
"Aku ingin Reiz bisa merasakan cintaku. Aku tak berharap Reiz membalas perasaanku, aku hanya berharap Reiz tahu kalau aku mencintainya." Ucap Rin dalam hati.
Dan malam itu kembali terjadi percintaan panas di antara mereka berdua dengan Rin yang memegang kendali.
**********
Nyonya Tyas tersenyum lebar melihat kedatangan anak-anaknya.
"Anak-anak Mommy sudah pulang...." Sambut Nyonya Tyas ketika Reiz, Tomi, Rin dan Tania sampai di mansion. Wanita paruh baya itu memeluk mereka satu persatu.
"Bagaimana? Apa bulan madunya menyenangkan?" Tanyanya begitu antusias. Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Sangat menyenangkan Mom, tapi Tomi lebih sering mengurungku di kamar." Adu Tania sambil melirik kearah Tomi dengan bibir yang mengerucut.
"Baby, aku mengurungmu kan supaya kita bisa secepatnya memberikan pesanan Mommy." Tomi membela diri.
"Iya kan Mommy?" Sambungnya dengan tatapan meminta dukungan sang Mommy.
"Ya tapi tidak perlu setiap saat juga kau melakukannya, Tom." Jawab Nyonya Tyas. Tomi hanya tersenyum saja menunjukan deretan giginya.
"Reiz, Rin bagaimana bulan madu kalian?" Nyonya Tyas mengalihkan pandangan pada sepasang pengantin baru yang sedari tadi hanya terdiam itu.
Jangan lupa like & komennya ya 😘
__ADS_1