Reiz And Rin

Reiz And Rin
Aku tidak mau


__ADS_3

"Benar begitu Reiz?" Tanya Nyonya Tyas. Reiz hanya menjawab dengan senyum kaku.


"Sudah-sudah. Tomi sebaiknya kau kembali ke kantor. Dan Reiz kau istirahat saja di sini sampai kau benar-benar pulih." Ujar Tuan Mark yang di jawab anggukan oleh Reiz.


"Iya, Dad."


"Baby, kau ikut aku ke kantor ya? Temani aku bekerja?" Tanya Tomi pada istrinya.


"Tentu Honey..." Jawab Tania dengan senyum manisnya.


*****


Perusahaan Anderson Grup


Tania mendaratkan tubuhnya di sofa tamu begitu sampai di sana. Wajahnya terlihat murung.


"Baby, kau kenapa?" Tomi duduk di samping istrinya.


"Tom, Rinata dan Reiz akan punya anak lagi. Tapi kenapa sampai sekarang aku belum juga hamil?" Tanya Tania dengan tatapan sendu nya. Tomi menghela napas panjang.


"Baby, jangan pikirkan hal itu. Seharusnya kau senang Rinata hamil lagi."


"Aku senang Tom, tapi aku juga sedih. Aku belum bisa membahagiakan Mommy dan Daddy." Jawab Tania dengan lirih.


"Kau sendiri tadi melihatnya bukan? Mommy dan Daddy sangat bahagia saat dokter mengatakan kalau Rinata sedang mengandung." Lanjutnya.


"Tania, kebahagiaan Mommy dan Daddy bukan hanya sekedar mendengar tentang kehamilan menantunya. Dan aku yakin, Mommy dan Daddy tidak akan mempermasalahkan ini." Tomi mengusap rambut panjang istrinya. Kemudian mengecup singkat bibir Tania.


"Jangan sedih, aku tak mau kau stres karena memikirkan hal ini. Sebaiknya kau bantu aku sekarang. Aku sedang banyak pekerjaan." Ucap Tomi, Tania hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.


Sementara itu di rumah sakit


"Apa itu?" Tanya Reiz.


"Bubur beras dengan sayuran dan juga potongan daging." Jawab Rin yang sudah memegang mangkuk dan bersiap menyuapi suaminya. Seketika Reiz mual kembali mendengar nya.


"Aku tidak mau, aku tidak suka bubur. Aku juga tak suka makanan rumah sakit." Tolak Reiz sambil menutup mulutnya.


"Tapi kau belum makan apa-apa sejak pagi tadi."


"Rinata, makanan rumah sakit membuatku mual. Apa kau mau aku muntah lagi?" Reiz memelas.


"Lalu bagaimana? Apa kau mau aku belikan makanan di luar?" Tawar Rin.


"Aku ingin pulang saja, lebih baik makan makanan di rumah."


"Tapi Dokter Alvin belum memberimu izin pulang sebelum cairan infusnya habis." Rin menunjuk ke arah kantung infus yang cairannya masih berisi setengah. Reiz menghela nafas berat.

__ADS_1


"Aku tidak sakit, tapi kenapa di perlakukan seperti orang sakit?" Gerutunya.


"Tapi Dokter Alvin bilang kau mengalami dehidrasi, Reiz." Jawab Rin.


"Alvin benar-benar menyebalkan." Umpat Reiz


"Siapa yang kau bilang menyebalkan?" Dokter Alvin sudah berdiri di depan pintu. Kemudian masuk ke ruangan itu.


"Kenapa kau kembali lagi?" Sinis Reiz.


"Aku ingin memastikan keadaanmu. Tapi sepertinya kondisimu makin parah. Jadi lebih baik kau di rawat di sini saja, mungkin sampai satu minggu ke depan." Ujar Dokter Alvin sambil tersenyum miring. Reiz membelalakkan matanya.


"Hei, aku tidak sakit, untuk apa di rawat selama itu?" Protes Reiz.


"Karena kau tidak pernah mau di rawat di rumah sakit. Sekalipun sedang sakit parah." Jawab Dokter Alvin sekenanya.


"Aku tak pernah sakit parah." Sangkal Reiz.


"Tapi Aunty Tyas pasti akan setuju saja kalau kau di rawat lebih lama." Ujar Dokter Alvin yang mendapat tatapan tajam dari Reiz.


"Kau jangan libatkan Mommy ku."


Dokter Alvin hanya mengangkat bahunya santai. Kemudian beralih pada Rin.


"Nona cantik, sebaiknya kau pastikan suamimu untuk makan. Kalau tidak, aku tidak akan memberi izin dia untuk pulang." Ujar Dokter Alvin pada Rin sambil mengedipkan sebelah matanya. Dan itu tak luput dari perhatian Reiz.


"Kau tau Tuan Frozen, kau beruntung sekali memiliki istri secantik Rinata. Seharusnya wanita secantik dia menikah denganku, bukan dengan pria kaku sepertimu." Celoteh Dokter Alvin. Rin hanya menahan senyum.


"Apa kau mau ku pecat dari rumah sakit ini dan memblack list namamu supaya tidak ada rumah sakit yang mau menerimamu?" Ucap Reiz dengan tatapan membunuhnya. Dokter Alvin membelalakan matanya.


"Hei, aku cuma bercanda. Kenapa kau jadi membawa-bawa pekerjaan?" Protes Dokter Alvin.


"Kau tahu, itu hal sangat mudah bagiku." Ucap Reiz lagi dengan dinginnya.


"Kau jahat sekali. Kalau seluruh rumah sakit tidak mau menerimaku lalu aku bekerja di mana? Kalau aku jadi pengangguran, tidak akan ada wanita yang mau menikah denganku." Celoteh Dokter Alvin.


"Bukan urusanku." Jawab Reiz singkat.


"Rinata, suamimu kaku sekali. Dari dulu ia memang seperti itu, dan ku harap kau bisa sabar menghadapinya." Ujar Dokter Alvin sambil beranjak dari ruangan itu.


"Kenapa dari dulu ia menyebalkan sekali." Reiz menggerutu.


"Sudahlah Reiz, lebih baik kau makan sekarang." Rin kembali menyendok bubur itu.


"Rinata, aku tidak mau makan itu." Reiz kembali menolak. Rin membuang nafas berat.


"Ya sudah, aku belikan makanan di luar ya?" Tawar Rin lagi sambil meletakkan kembali mangkok bubur itu di atas meja.

__ADS_1


"Ya sudah." Pasrah Reiz.


Belum sempat Rin keluar dari sana, pintu ruangan kembali terbuka. Nampak Edra dan Gwen di sana.


"Kak Gwen, Kak Edra?" Sapa Rin.


"Hai Rin."  Sepasang suami istri itu melangkah masuk.


"Kau kenapa, Reiz? Aunty Tyas bilang kalau kau masuk rumah sakit." Tanya Edra yang terlihat khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Kak." Jawab Reiz.


"Kalau tidak apa-apa, tidak mungkin kau sampai masuk rumah sakit seperti ini." Ujar Edra lagi.


"Reiz mengalami sindrom kehamilan simpatik. Ia selalu mual dan muntah bahkan tadi pagi sampai pingsan di kamar mandi." Rin menjawab.


"Benarkah?" Tanya Edra.


"Oh iya, tadi kau bilang apa? Sindrom kehamilan simpatik? Itu artinya kau sedang hamil?" Sambung Edra beralih pada Rin.


"Iya Kak Edra, aku hamil lagi." Jawab Rin dengan senyum lebarnya.


"Selamat ya, Rin." Gwen memeluk singkat adiknya.


"Kenapa kita bisa sama?" Tanya Gwen. Rin mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Apa kau tahu? Aku juga sedang hamil.'' Ucap Gwen.


"Benarkah?" Tanya Reiz dan Rin bersamaan.


"Ya, aku baru tahu pagi tadi." Jawab Gwen, dengan senyum yang sedari tadi tak lepas dari wajahnya.


"Selamat Kak, aku turut senang." Rin kembali memeluk Gwen.


"Selamat Kak Edra. Sebentar lagi kau akan menjadi ayah."


"Selamat juga untukmu." Edra menepuk bahu adiknya.


"Apa Kak Edra mengalami sindrom kehamilan simpatik juga?" Tanya Reiz.


"Tidak." Edra menggeleng.


"Jadi bagaimana kalian tahu kalau Gwen sedang hamil?" Tanya Reiz lagi.


"Gwen sudah telat dua minggu, jadi kami putuskan untuk mengecek lewat testpack. Dan hasilnya positif. Kami juga baru selesai periksa di sini dan kebetulan Aunty Tyas tadi memberi tahu kami kalau kau ternyata di rawat di sini juga. Jadi kami sekalian menjenguk mu." Edra menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2