
"Reiz, Rin bagaimana bulan madu kalian?" Nyonya Tyas mengalihkan pandangan pada sepasang pengantin baru yang sedari tadi hanya terdiam itu.
"Bulan madunya sangat menyenangkan Mom, aku dan Reiz menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan juga menikmati berbagai kuliner seafood di sana. Makanan di sana sangat enak." Jawab Rin sambil tersenyum membayangkan makanan di pulau itu.
"Benarkah? Ya, makanan di sana memang sangat enak. Tapi kalian tidak hanya berjalan-jalan saja kan? Maksud Mommy tempat di sana juga kan sangat romantis." Reiz dan Rin saling pandang.
Pria itu malah mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mommy nya. Sementara Rin menundukkan wajahnya, ia sudah tau maksud Mommy Tyas.
"Reiz maksud Mommy apa kau seperti aku dan Tania atau tidak?" Sambar Tomi ketika melihat wajah bingung asistennya itu.
"Maksudnya?" Tanya Reiz yang rupanya masih tak mengerti.
"Astaga Reiz, kau selalu pintar dalam pelajaran apapun dan kau juga sangat pintar mengelola perusahaan, tapi kenapa kalau hal seperti ini kau menjadi sangat bodoh." Tomi menggelengkan kepalanya.
"Maksudnya, kalian membuat anak juga kan di sana?" Sambung Tomi. Seketika itu juga Reiz tersedak salivanya sendiri.
"Ini Reiz, minumlah." Rin menyerahkan segelas air pada suaminya yang terbatuk-batuk. Reiz segera menerima dan meminumnya.
"Mom tentu saja kami melakukannya, walaupun tak sesering Tomi dan Tania." Rin menjawab dengan kikuk. Reiz melirik sejenak kearah istrinya yang nampak salah tingkah itu.
"Baguslah kalau begitu, kalian harus lebih sering menghabiskan waktu berdua." Nyonya Tyas tersenyum sambil mengusap punggung Rin yang duduk di sampingnya.
"Mom, Daddy kemana?" Tanya Reiz mencoba mengalihkan pembicaraan dari hal itu.
"Daddy masih di kantor sayang." Jawab Nyonya Tyas.
"Ya sudah, kalian istirahat di kamar saja. Kalian pasti lelah bukan?" Lanjutnya.
"Mom, kami akan pulang ke apartemen sekarang." Reiz bangkit dari duduknya di ikuti Rin.
"Kenapa buru-buru sayang? Menginaplah di sini dulu." Nyonya Tyas nampak keberatan.
"Tidak Mom, kami akan pulang ke apartemen saja." Tolak Reiz, ia tak ingin berlama-lama tinggal di sana.
__ADS_1
"Mom, mungkin Reiz masih ingin melanjutkan bulan madunya..." Goda Tomi yang mendapat lirikan tajam dari Reiz. Nyonya Tyas menghela nafas panjang, sebenarnya ia masih ingin berbagi cerita dengan Rin.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati lah di jalan. Dan ingat Reiz, kau harus memperlakukan istrimu dengan baik." Ucap Nyonya Tyas dengan nada ancaman. Reiz hanya mengangguk.
"Ingat Reiz, Rinata adalah tanggung jawabmu sekarang." Sekali lagi Nyonya Tyas memperingati Reiz.
"Iya Mom, aku tahu." Jawab Reiz singkat.
************
Reiz dan Rin sudah tiba di apartemen. Rin terlihat hanya diam berdiri di tengah ruang tamu. Ia bingung mau masuk ke kamarnya yang dulu atau kamar Reiz.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Suara datar Reiz menyadarkannya.
"Em... Reiz, aku... aku..." Rin malah tergagap. Reiz yang hampir masuk ke dalam kamar berbalik menghampirinya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Reiz, aku tidur dimana?" Rin akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Ah, iya juga ya..." Rin nampak salah tingkah apalagi Reiz terus menatapnya dengan dingin.
"Aku ke kamar mu ya, Reiz?" Rin berjalan cepat menuju kamar suaminya, menghindari tatapan dingin yang membuatnya membeku.
Bukan tanpa alasan Rin bertanya seperti itu, selama seminggu ia bekerja di apartemen Reiz, belum pernah sekalipun ia masuk ke kamar pria itu. Ia selalu ingat pesan Reiz untuk tidak mengganggunya, jadi Rin tidak pernah berani masuk ke kamar Reiz.
"Lemari itu masih kosong, kau bisa memindahkan pakaianmu kesana." Reiz menunjuk sebuah lemari besar berwarna putih yang berada di sudut kamarnya.
Di dalam kamar itu terdapat dua lemari, Reiz hanya menggunakan satu dan satu lagi masih kosong.
"Iya." Rin mulai membuka isi kopernya dan memindahkannya.
"Kenapa lemari ini besar sekali? Padahal Reiz hanya tinggal sendiri?" Tanya Rin dalam hati.
__ADS_1
Reiz pergi meninggalkan Rin di kamarnya. Ia menuju dapur, ingin membuat minuman hangat. Setelah selesai, Reiz mendudukkan tubuhnya di ruang tamu. Reiz menyesap cokelat hangat yang baru di buatnya.
"Harus bagaimana aku menjalani pernikahan ini? Aku sama sekali tak menginginkan pernikahan ini. Karena aku takut, takut menyakiti Rinata. Aku tak ingin ada wanita lain yang bernasib sama seperti ibuku, apalagi karena perbuatanku sendiri. Seharusnya aku tak terlibat sejauh ini padanya." Pikiran Reiz berkecamuk. Kenangan pahit akan masa lalunya selalu menghantuinya. Reiz memejamkan mata, ia ingin melupakan semuanya.
"Hah, akhirnya selesai juga." Rin menghembuskan nafas lega setelah selesai memindahkan barang-barangnya ke kamar Reiz.
"Dimana Reiz?" Saking fokusnya, dia sampai tak sadar kemana suaminya. Rin keluar dari kamar, matanya berkeliling mencari Reiz. Pandangannya terpaku pada sosok pria yang sedang memejamkan mata di ruang tamu.
"Kenapa Reiz tidur di sini? Apa ia tidak mau tidur di kamar karena ada aku?" Gumam Rin.
"Tidak, Reiz pasti kelelahan dan ketiduran di sini." Gumamnya lagi.
"Haruskah aku bangunkan? Tapi nanti kalau dia marah karena aku menggangu tidurnya bagaimana?" Rin sibuk bermonolog sendiri.
"Tapi kasihan juga, Reiz tidur dengan posisi seperti ini. Hah, sudahlah biarkan saja, daripada ia marah." Rin akhirnya kembali ke kamar barunya.
**********
Tak terasa sudah dua bulan Reiz dan Rin menjadi pasangan suami istri. Dan selama tinggal bersama, ternyata Reiz masih seperti dulu. Begitu dingin, dan jarang mengajak Rin bicara. Hanya jika ada hal penting saja pria itu bicara, selebihnya selalu sibuk sendiri dengan pekerjaannya.
Reiz juga jarang sekali mengajaknya keluar jalan-jalan, mereka hanya pergi ke mansion utama jika di minta oleh Tuan Mark atau Nyonya Tyas.
Rin menyisir rambut panjangnya, tatapannya sendu melihat bayangan dirinya di depan cermin.
"Aku memang tidak cantik, aku juga bukan wanita yang kaya dan pintar. Tapi tak bisakah Reiz sedikit memberi sedikit perhatiannya terhadapku?" Lirihnya, tak terasa setitik air matanya jatuh mengingat sikap Reiz yang masih saja dingin terhadapnya.
Berbagai cara sudah ia lakukan, dari mulai memasak makanan kesukaan Reiz dan merapikan apapun yang berada dia apartemen itu, tapi tetap saja Reiz tak pernah mengatakan apapun. Ingin menggoda Reiz di tempat tidur, tapi ia takut malu sendiri kalau nanti Reiz malah mengabaikannya.
Rin menghembuskan nafas berat, kenapa dirinya jadi sensitif seperti ini.
Rin segera menghapus air matanya ketika ponselnya berdering, ponsel baru yang di belikan Reiz tiga hari sebelum pernikahannya. Ia tersenyum melilhat siapa yang meneleponnya.
"Halo."
__ADS_1
"Halo Rin, kau kemana saja? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?" Tanya Tania beruntun setelah panggilan itu terhubung.