
Ki maaf ya aku gak ngomong ke kamu terlebih dahulu,, hmmm kamu udah selesai ?? yuk kita jalan sekalian mampir ke ATM."
"Bentar ya kak aku ambil tas dulu di belakang.
Setelah memastikan semua pekerjaannya telah selesai Kia bergegas menghampiri Andin, kedua wanita tersebut berjalan menuju mobil milik Andin yang terparkir di pekarangan milik Andara.
Andin wanita itu mulai menghidupkan mobilnya dan mengemudikan secara perlahan meninggalkan pelataran rumah tersebut, tujuan Andin kali ini ingin ke butik miliknya.
Di dalam mobil Kia dan Andin berbincang ria canda dan tawa yang slalu menghiasi wajah kedua wanita tersebut, hal itu tentu saja membuat Andin sekejap lupa dengan kekasihnya yang akhir-akhir ini jarang memberi kabar, senyum lebar merekah di wajah keduanya sesekali Kia memalingkan wajah ke arah Andin yang terlihat sangat bahagia, ia tidak mengetahui klau sesungguhnya Andin menutupi rasa cemas dan sedih akibat perubahan Dion.
Di perjalanan Andin yang tadinya ingin mampir ke ATM untuk mengirim uang ia urungkan niatnya itu ia baru mengingat klau dirinya mempunyai aplikasi M-banking, Kia yang menyadari telah melewati ATM tersebut merasa heran.
Kak kok gak mampir aku kan mau ngirim duitnya."
Ih Ki kamu itu gimana sih kan bisa lewat M-banking tanpa harus ke ATM lagi gimana sih.
Ya aku kan gak punya M-banking kak mana bisa ngirim gak harus ke ATM dulu.
Pantas saja, biar nanti sampai di butik aku yang TF ya.
Tapi aku gak punya duit cash kak. nanti kirim ya nomor Rek kak Andik biar entar Kia TF ke kak Andin klau udah ketemu lagi ATM nya.
Gapapa Ki sewaktu di rumah Abang Andara tadi aku udah bilang aku bakal bantuin kamu jadi jangan menolak ya, aku udah anggap kamu sebagai adik aku sendiri jadi kamu jangan sungkan sama aku Ki." Andin tetap fokus mengemudi.
Andin dan Kia kini sudah sampai di butik, ia mengajak Kia untuk masuk kedalam butik tersebut, Kia merasa terpesona dengan butik yang di miliki Andin sangat elegan menampilkan gaun pengantin di setiap sudut dengan berbagai motif.
Hasil kerja keras Andi selama ini tidak sia-sia, membuat usaha butik yang ia rintis dari nol berkembang pesat, Andin melangkah menuju keruang operasional ingin memastikan pesanan gaun yang ia rancang sudah sampai tahap mana, ia tidak mengerjakannya sendiri terkecuali tingkat kesulitan itu tidak bisa di tangani oleh karyawan baru lah Andin menyelesaikannya.
__ADS_1
Iya hanya memeriksa dari hasil kerja para karyawan jika sesuai keinginan si pemesan maka Andin tidak akan merubahnya lagi, terkadang sudah sampai tahap akhir tiba-tiba pemesan meminta merubah rancangan mau tidak mau Andin harus melakukanya agar pemesan bisa merasa puas dengan hasil kinerjanya.
Setelah selesai dengan tujuannya andin bergegas menuju ke depan untuk mencari keberadaan Kia yang ia tinggalkan sejak tadi, Kia duduk santai di ruang tunggu yang kini asik dengan ponselnya dari arahnya ia bisa melihat raut wajah bahagia yang terpancar di wajah Andin setelah Andin keluar dari ruangan itu ia tidak mengetahui apa yang membuat Andin terlihat sangat bahagia.
Andi berjalan menghampiri Kia, dan menghempaskan bokongnya di sofa tepat di samping Kia, Andin mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi berada didalam tas jinjingnya, untuk melakukan transaksi yang telah ia janjikan kepada kia, ia ingin cepat menyelesaikan karena sudah pasti kedua orang dua Kia sedang menunggu uang tersebut.
Andin mencari aplikasi M-banking miliknya menekan tombol yang menunjukan password, sewaktu ingin transaksi Andin baru menyadari ia belum memiliki nomor Rek milik orang tua Kia.
"Astaga Ki aku gak punya nomor Rek ibu kamu,"sambil menepuk jidatnya.
"Kia kan belum kasih ke kak Andin" Kia tersenyum melihat tingkah Andin yang terkadang suka pelupa.
"kamu kok gak ngomong sih Ki, ya udah sini biar aku selesai in kan kasihan klau mereka menunggu lama dan juga ke buru siang Ki.
"Besok kamu gak usah turun kerja ya nanti aku minta izin sama Dion dia pasti gak keberatan kok, soal makanan biar aku yang pesan sama cemilan gitu ya Ki jangan nolak." Belum sempat Kia berbicara Andin sudah memberikan somasi agar Kia tidak menolak, mau tak mau Kia hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala.
Andin yang tidak pernah memilih untuk bergaul dengan kalangan manapun dan jarang mempunyai teman dekat setelah Andin mengenal Kia ia selalu berusaha mendekatkan diri dengan Kia, pertemuannya dengan Kia memang tidak begitu baik yang di pikiran Andin seorang Kia adalah karyawan yang sangat ceroboh ketika melaksanakan tugas, kini ia menepis persangkaan buruk sebelumnya terhadap Kia.
kini ia terlihat sangat bahagia bila bersama Kia jika sebelumnya bertemu Kia ia sangat tidak peduli dengan wanita itu tetapi tidak untuk akhir-akhir ini tanpa adanya Kia ia sangat kesepian ditinggalkan sang kekasih yang tak kunjung memberi kabar jika sudah berada di luar kota.
Andin menganggap Kia tidak hanya sahabat semata melainkan sudah sepeti saudaranya sendiri, ketika ada sesuatu yang mengganjal di hati Andi ia akan menceritakan kepada Kia entah itu tentang pekerjaan ataupun tentang kekasihnya, walaupun tidak semua ia ceritakan setidaknya hal itu sudah membuat hatinya sedikit tenang.
Setelah selesai melakukan transaksi M-banking Andin berniat mengajak Kia untuk sekedar jalan-jalan ke mall atau membeli sesuatu yang mereka butuhkan tentu saya untuk memuluskan rencananya itu ia akan membujuk Kia dengan mentraktirnya agar Kia mengikuti keinginannya ke mall.
"Ki kita ke mall yuk, aku bosan kali ajha ada mainan yang bisa kita mainin atau gak kita belanja sekalian makan, kamu gak usah khawatir kali ini aku yang traktir." Andin sengaja mengatakan kata traktir karena ia tau Kia akan menolak keras hal itu dan membuat niatnya ke mall batal.
"Emm tapi kali ini ajha ya kak jangan sering-sering Kia gak enak loh sama kak Andin." Kia melirik Andin menunjukan wajah memohon agar sahabatnya itu bisa mengerti.
__ADS_1
Andin mengangkat kedua jempolnya. "Iya klau aku gak khilaf ya tapi sekaran harus mau Ki."
"Iya iyaa kak, tapi perginya kapan ??" Andin bertanya dengan polos.
"Tahun depan Ki, ya skarang lah Ki gimana sih." Andin sangat gemas dengan tingkah Kia yang Lola itu
Andin bangkit dari duduknya dan menarik tangan Kia berlahan, Kia yang mendapat perlakuan Andin seperti itu sudah biasa terlihat agak kasar tapi menurut Kia atau Andin itu hal biasa.
Kini mereka berdua meninggalkan butik tersebut, sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang mengeluarkan sepatah kata pun hanya terdengar alunan musik.
Sampailah mereka di sebuah mall di kota tersebut, Andin memasuki parkiran khusus untuk para VIP setelah sampai di parkiran mall Andin mengajak Kia untuk masuk.
Ia sengaja hari ini tidak menggunakan heels, karena hari ini tujuannya untuk menghabiskan waktu di mall, biarlah ia terlihat sepeti anak-anak jika itu bisa membuatnya bahagia semua akan Andin lakukan.
Kia yang sedari tadi hanya mengikuti kemana arah langka kaki Andin berjalan ia tidak berniat sedikitpun untuk menghamburkan uang miliknya, karena bagi Kia untuk mencari pundi rupiah yang ia kumpulkan saat ini, ia harus sangat mengeluarkan ekstra banyak tenaga.
Andin berjalan menyusuri mall yang terbilang sangat besar itu, sampai pada salah satu tempat yang ia inginkan, di depan pintu masuk salah satu Game center tersebut, Andin menarik tangan Kia yang terlihat seperti kakak beradik yang takut akan tersesat ketika memasuki keramaian.
Andin tidak sedikitpun melepas jari jemari Kia yang sedari tadi ia pegang, hal itu seakan ia tidak ingin Kia pergi jauh Kia pun tidak berniat untuk melepaskan tangan Andin, mereka mengelilingi wahana permainan tersebut mencari yang cocok untuk mereka, setelah Andin menemukan apa yang ia mau, ia mengajak Kia untuk ikut bermain, tanpa penolakan Kia pun ikut bergabung dengan Andin.
Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam di tempat permainan itu, kini perut keduanya sudah terasa lapar meminta untuk segera di isi, Andin mengumpulkan tiket hasil dari permainannya di masukkan tiket itu kedalam kantong kresek agar tidak berceceran agar memudahkan ia untuk menukarnya nantin begitu pula dengan Kia.
Merekap berjalan meninggalkan Game center tersebut dan membawa dua kantong tiket yang belum mereka tukarkan karena tujuan mereka kali ini ingin segera memberi makan cacing-cacing yang sudah sangat berisik d dalam sana.
Andin mengajak Kia memasuki salah satu restoran di mall tersebut mereka menghampiri meja paling pojok yang memang masih kosong, Kia dan Andin memesan menu untuk mereka makan siang ini, setelah selesai memesan makanan tak butuh waktu lama makanan yang mereka penas sudah datang setelah semua di hidangkan Kia dan juga Andin langsung menyantap hidangan tersebut.
Tanpa mereka sadari waktu sudah menunjukan pukul 8 malam Kia dan juga Andin asyik dengan pekerjaan baru mereka yaitu menyenangkan hati yang tengah di landa gundah gulana tepatnya si Andin.
__ADS_1