
Sakura tak bersemangat. Pagi hari ini berangkat sekolah tanpa sarapan. "Aku berangkat!" Ucap Sakura dingin. " Hey, sarapan dulu Sakura!" Kata Ihsan Yang melihat Sakura keluar rumah begitu saja.
Ihsan tahu, Sakura masih marah padanya, masalah kepindahan mereka ke Surabaya.
Sakura mengendarai sepedanya dengan sangat cepat. Pikirannya melayang jauh entah kemana.
Hatinya terasa pedih dan kecewa. Akhirnya Sakura malah membelokkan sepedanya menuju rumah Kenzi.
Di dalam rumah Kenzi, Fumiko dan Hiroyuki sarapan bersama dengan Fumida. "Sebenarnya apa maksud kakak, memberikan hadiah berupa bongkahan batu hitam?" Tanya Fumiko sembari meletakkan piring di meja makan.
"Hadiah? Obasan bawa hadiah? buat siapa?" Tanya Hiroyuki.
"Aku membawa hadiah untuk Kenzi, titipan dari Rezukinawa, katanya itu bukan batu biasa, batu itu dia dapatkan dari lokasi kejadian Bom Hiroshima." Jawab Fumida sambil makan sarapannya. "Untuk apa? apakah batu itu bisa menyembuhkan Kenzi?" Tanya Fumiko. "Entahlah, menurutnya, batu itu memiliki efek menambah kekuatan mata hijaunya!" Jawab Fumida.
Hiroyuki dan Fumiko saling menatap, "Jadi, batu itu bisa membuat kekuatan mata hijau Kenzi kembali?" Tanya Hiroyuki tak yakin.
"Tok..Tok..Tok!" Sakura mengetuk pintu. "Iya, sebentar!" Jawab Fumiko dari dalam rumah.
"Loh, Sakura! bukankah seharusnya kamu ke sekolah jam segini?" Tanya Fumiko setelah membuka pintu.
"Tidak Tante! Aku lagi males ke sekolah! Kenzi ada di mana Tante?" Sakura masuk dan langsung menanyakan Kenzi.
"Ada, dia ada di kamarnya. Sakura kamu mau sarapan dengan kami?" Ajak Fumiko. Sakura tersenyum, "Terimakasih Tante, nggak usah!" Jawab Sakura segera naik ke atas menuju kamar Kenzi.
Fumida yang sedang duduk, lalu menegur Sakura. "Hai...Sakura! Apa kabar mu?" Tanya Fumida sambil melambaikan tangan.
"Wah...ada Obasan! kapan datang?" Sakura lalu turun kembali dan menghampiri Fumida.
"Obasan makin cantik aja!" Ucap Sakura memeluk Fumida. "Kamu juga Sakura, sudah bertambah tinggi dan cantik!" Jawab Fumida membalas pelukan Sakura.
"Bagaiamana kabar Ayah mu?" Tanya Fumida. Sakura terdiam, "Obasan main aja ke rumah, aku lagi males bicara sama Ayah!" Jawab Sakura tertunduk sedih.
__ADS_1
Fumiko, Hiroyuki dan Fumida menatap heran. Sakura lalu berbalik dan naik kembali ke atas menuju kamar Kenzi.
"Ada apa memangnya Sakura dengan Ihsan? Apa mereka bertengkar?" Tanya Fumida pada Fumiko. "Entahlah, terakhir bertemu Ihsan, beberapa bulan yang lalu, waktu ulang tahun Sakura yang ke 17 tahun." Jawab Fumiko.
"Pasti ada masalah! tidak biasanya Sakura seperti itu pada Ayahnya." Ungkap Hiroyuki.
"Kenzi...! Hai...Sayang, apakabar mu?" Sakura membuka pintu kamar Kenzi dan langsung menyapa Kenzi.
Kenzi yang masih terbaring di tempat tidurnya, perlahan membuka matanya.
"Sa..sa..kura..datang!" Ucap Kenzi pelan. Sakura tersenyum duduk di samping pembaringan Kenzi. Sakura memegang tangan Kenzi lalu meletakkannya di pipi. Perlahan air matanya menetes dan membasahi tangan Kenzi.
Kenzi kaget dan tahu kalau Sakura sedang bersedih, tapi dia tak bisa menghiburnya, tak bisa membuatnya tersenyum, Kenzi terdiam dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Sakura lalu melihat wajah Kenzi yang tampak sedih. "Sayang, kenapa kamu ikut sedih? Maafkan aku ya..seharusnya aku bisa lebih kuat dan tidak menangis!" Sakura berkata tak kuasa menahan air matanya. Lalu Sakura membaringkan diri di dada Kenzi, lalu Kenzi berusaha menggerakkan tangan nya untuk bisa membelai rambut Sakura.
Sakura yang tahu maksud Kenzi, segera membantu tangan Kenzi dan mendekatkan nya ke kepalanya sendiri, lalu dia mengusap-usap kan nya.
Fumiko melanjutkan obrolannya soal hadiah dari Fumida. "Oh iya, jadi bagaimana tadi, batu itu apakah kira-kira bisa menyembuhkan Kenzi?" Tanya Fumiko. "Ya menurut Rezukinawa, mungkin saja bisa!" Jawab Fumida. "Kok mungkin! berati belum pasti bisa?" Tanya Hiroyuki.
"Pokoknya, letakkan batu itu selalu di dekat Kenzi, hanya itu pesan Rezukinawa pada ku!" Jawab Fumida.
"Tidak ada salahnya kita coba, iya kan, Yuki?" Fumiko meminta pendapat Hiroyuki. "Ya, di coba saja dulu, semoga saja perkiraan Rezuki benar!" Jawab Hiroyuki.
"Dimana batu itu sekarang?" Tanya Hiroyuki. "Aku simpan di kolong tempat tidur Kenzi, batu itu masih berada dalam kotaknya." Jelas Fumiko.
Sakura masih dalam posisi yang sama sejak tadi, lalu Kenzi tiba-tiba mengucapkan sesuatu.
"Pergilah, jangan dekat aku lagi!" Ucap Kenzi. Sakura terkejut mendengar kata-kata itu. "Apa maksud mu?" Tanya Sakura setengah tak percaya dengan pendengarannya.
"Pergilah, kamu seharusnya sekolah!" Kenzi berusaha bicara lagi dengan terbata-bata. Sakura lega, ternyata itu maksud Kenzi barusan. "Aku lagi malas sekolah, biarkan aku main di sini bersama mu, ya?" Tanya Sakura memohon. Lalu Kenzi mendorong Sakura, "Pergi...Pergi...!" teriak Kenzi sambil meneteskan air mata. Sakura tak mengerti mengapa Kenzi bersikap seperti itu padanya, di saat Sakura sedang membutuhkan dukungan dari Kenzi.
__ADS_1
"Pergi...Pergi..!" teriak Kenzi lagi. Sakura berdiri dan menjauh, dirinya terlihat makin frustasi dan merasa sangat sedih.
Fumiko yang mendengar suara teriakan Kenzi, langsung berlari menuju kamar Kenzi. Begitu pula Hiroyuki dan Fumida.
"Ada apa? Ada apa Sakura, Kenzi?" Tanya Fumiko. Sakura menangis lalu keluar kamar Kenzi terburu-buru.
"Loh, ada apa ini?" Tanya Hiroyuki melihat Sakura berlari menuruni tangga. Fumida menatap heran pada Sakura.
"Pergi....Pergi!" Kenzi masih berteriak histeris. Fumiko mendekati berusaha menenangkan Kenzi. "Ssstt ...Ssssttt..tenang Kenzi, tenang sayang! ini mama nak, ini mama!" Fumiko segera memeluk Kenzi.
Hiroyuki segera menghampiri dan membantu menenangkan Kenzi. Fumida melihat ke arah Kenzi merasa prihatin.
Sakura berlari keluar rumah lalu mengendarai sepedanya tak tahu kemana.
Hari semakin sore, Ihsan menantikan kedatangan putri nya. Sesekali Ihsan melihat jam tangannya. "Kemana dia? sudah hampir gelap!" Ucap Ihsan resah.
Kenzi duduk di kursi rodanya sembari di suapi makan oleh Mamanya. "Kenapa tadi kamu marah pada Sakura, Kenzi? apa salah dia pada mu?" Tanya Fumiko sambil menyuapi Kenzi.
Kenzi terdiam tertunduk sedih, tak menjawab apapun. Fumiko lalu menarik nafas, bersabar dengan sikap diam Kenzi. "Ya sudah, kalau kamu tak mau memberi tahu alasannya pada Mama, semoga Sakura tidak terlalu bersedih dengan sikap mu tadi." Ungkap Fumiko.
Hari semakin malam, akhirnya Sakura pulang.
"Darimana saja kamu Sakura!" teriak Ihsan emosi melihat Sakura baru saja masuk ke dalam rumah. Sakura menatap Ayahnya kesal. Kemudian Sakura malah berbalik kembali ke luar rumah.
"Hey..Sakura! Tunggu...tunggu...Sakura Sayang, maafkan Ayah, tolong jangan pergi lagi!" Ucap Ihsan mengejar Sakura, menahannya dengan memegang erat tangan Sakura. Ihsan menangis, dia trauma tak mau lagi mengalami di tinggal oleh orang yang ia sayangi.
"Tolong jangan tinggalkan Ayah! Ayah minta maaf bila Ayah terlalu keras pada mu, Sakura, tolong jangan pergi!" Ihsan memohon.
Sakura berdiri terdiam lalu berbalik memeluk Ayahnya, "Maafkan aku Ayah..Maafkan! Ayah benar, ayo kita pergi dari sini, ayo kita pergi ketempat yang jauh!" Ucap Sakura sembari menangis.
Ihsan kaget mendengar Sakura, tiba-tiba menyetujui rencananya untuk pindah ke Surabaya.
__ADS_1