
“Selamat pagi semuanya..!” Kenzi nampak bersemangat pagi ini. “Ehem...cie cie yang sudah sehat, sepertinya tambah berwarna sekolahnya karena sekelas dengan Sakura ya!” Ucap Hiroyuki.
“Oh iya dong Pa, aku nggak akan semudah itu menyerah dan melepaskan Sakura begitu saja!” Jawab Kenzi sembari memakai sepatunya. “Mama ..Papa.., aku berangkat ya!” Ucap Kenzi berpamitan.
Sakura malah terlihat sebaliknya, “Ayah...hari ini aku izin ya nggak masuk sekolah!” Ucap Sakura nampak lesu. Ihsan mengusap punggung Sakura, “Kamu itu sudah kelas 9, sebentar lagi akan ujian kelulusan, kamu yakin? Nanti kalau ada ulangan bagaimana?” Kata Ihsan.
“Hmmm...Iya sih, bener juga kata Ayah, tapi aku pusing! Aku nggak sanggup sekelas dengan Kenzi, terus tambah lagi mendengar rumor tentang aku dan Rivan!” Keluh Sakura.
Ihsan tersenyum, “Kamu tidak perlu pusing, Ayah sudah memutuskan tidak akan memaksa kamu untuk pindah sekarang! Kita bisa pindah setelah kamu lulus SMP! Jadi, silahkan kamu bergaul seperti biasa dengan Kenzi!” Jawab Ihsan.
Sakura menarik nafas lega.
“Ayah berangkat dulu ya, untuk masalah rumor, kamu pacaran dengan Rivan, tidak usah di pikirkan! Nanti juga rumornya akan hilang sendiri!” Ucap Ihsan sambil pergi meninggalkan rumah.
Sakura melambaikan tangan ke arah Ayahnya yang berangkat mengajar.
Di sekolah, Rivan senyum-senyum sendiri dia merasa nyaman sekali dengan rumor tentang dirinya sempat beredar, justru sekarang dia ingin memanfaatkannya untuk bisa mendekati Sakura.
Ketika Rivan sedang berjalan di koridor menuju kelasnya, ada gosip terbaru yang sedang ramai di bicarakan anak perempuan di sekolahnya.
“Hai..kamu nggak dengar kalau ada anak baru, tampan dan bermata hijau dikelas 9D?”
Rivan mendengar suara beberapa anak perempuan yang sedang bergosip di depan kelas mereka.
“Hmm..tampan? Bermata hijau?” Rivan berpikir sambil berjalan.
Tak sengaja bahu Rivan bertabrakan dengan bahu Kenzi. “Duh..kalau jalan pakai mata dong!” Ucap Rivan kesal.
__ADS_1
Kenzi berbalik dan menatap Rivan. “Makanya kalau jalan jangan sambil bengong, sampai nggak sadar kalau di depan ada orang lewat!” Jawab Kenzi, yang sebenarnya sengaja menabrak Rivan.
“Kamu...!” Rivan terkejut, kini dia faham anak 9D yang tadi di bicarakan adalah Kenzi pacar Sakura.
“Akhirnya sadar juga, ya ini aku! Kenzi, pacar Sakura yang asli!” Jawab Kenzi tegas.
“Hahaha...masih ngotot ngaku pacarnya Sakura! Heh...kamu itu sudah di tolak sama Sakura! Sadarlah, JANGAN maksain!” Kata Rivan sinis.
Kenzi memandang Rivan kesal, “Aku memang pacarnya, dan kamu, jangan mimpi bisa pacaran sama Sakura! Dia itu milik ku!” Jawab Kenzi sembari mendorong tubuh Rivan sampai terjatuh.
“Kenzi!” Teriak Sakura, marah melihat tindakan kasar Kenzi pada Rivan.
Semua mata kembali tertuju pada Sakura.
Sakura membantu Rivan berdiri, “Kamu nggak apa-apa Rivan?” Tanya Sakura.
Di belakang perpus. Sakura menengok kanan kiri, khawatir ada prang yang mendengarkan pembicaraannya dengan Kenzi.
“Aman...!” Ucap Sakura. Tiba-tiba Kenzi mencium pipi Sakura. “Eh...ngapain sih kamu, Kenzi!” Sakura kaget, wajahnya sampai memerah.
“Kan kata kamu aman, ya aku cium aja! Kenapa, kamu nggak suka aku cium?” Kenzi lalu mendekap pinggang Sakura.
“Lepaskan Kenzi! Kita ada di sekolah, nanti ada guru yang lihat!” Ucap Sakura berusaha membebaskan diri dari dekapan Kenzi.
Namun kekuatan Kenzi yang sudah kembali, membuat Sakura tak mampu menyingkirkan dekapan kuat tangan Kenzi.
“Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum kamu jujur dengan perasaan mu pada ku, Sakura!” Jawab Kenzi menatap mata Sakura.
Sakura menyerah, “Oke..oke! Kita bisa bicarakan itu! Tapi lepaskan aku dulu!” Ucap Sakura.
__ADS_1
Kenzi perlahan melepaskan dekapannya, dan Sakura bukannya bicara tapi malah ingin melarikan diri dari Kenzi.
“Hei..mau kemana kamu!” Kenzi menarik kembali Sakura yang berusaha kabur.
“Aaaahhh..!” Sakura terjebak, tubuhnya di rapatkan ke dinding oleh Kenzi, kini wajah mereka saling berhadapan.
“Kenapa kamu menghindariku terus? Apa salahku sama kamu Sakura? Tolong jelaskan!” Ucap Kenzi. Tangan kiri Kenzi menempel di dinding, dan tangan kananya memegangi tangan Sakura.
Sakura tertunduk, tak sanggup menatap mata Kenzi yang indah itu.
“Aku malu pada diriku sendiri Kenzi, aku sempat berputus asa ingin meninggalkan mu, saat kamu benar-benar tak ada harapan untuk sembuh dulu!” Ucap Sakura mulai mengungkapkan isi hatinya.
“Tapi aku sekarang sudah sembuh, dan kamu nggak perlu berpikir untuk meninggalkan ku lagi!” Jawab Kenzi.
Sakura merasa malu, dan meneteskan airmata. “Cinta ku tak sekuat itu dan tak tulus lagi Kenzi, aku baru sadari itu! Aku malu...saat kamu sakit, aku malah berpikir akan pergi jauh bersama Ayah ku ke Surabaya!” Ungkap Sakura.
“Aku wanita berpikiran picik, yang mulai lelah mencintai pria cacat! Dan bila sekarang aku menerima cinta mu lagi setelah kamu sembuh, aku seperti wanita licik! Tidak ada ketulusan dalam hatiku untuk mu Kenzi! Tidak ada!” Sakura menangis tersedu-sedu.
Lalu Kenzi memeluk erar tubuh Sakura. “Sakura sayang ku, bukankah kamu sudah ikut berjuang denganku cukup lama, wajar bila kamu merasa lelah dan perasaan mu pada ku mulai melemah, tapi aku yakin itu bukan karena kamu tidak mencintaiku lagi! Tapi hanya ingin istirahat sebentar saja!” Ucap Kenzi.
Hati Sakura terasa teduh, bagaikan tanah gersang yang tiba-tiba menjadi subur karena tersiram air hujan.
“Maafkan aku Kenzi, maafkan aku!” Ucap Sakura sembari membalas pelukan kenzi dengan mendekap erat tubuh Kenzi.
__ADS_1