
Setalah meninggalkan cafe aku langsung bergegas ke kantor berharap hari ini semua pekerjaanku selesai dengan cepat,tak terasa waktu berlalu begitu cepat sudah menunjukan pukul 9.00 malam kini tersisa tinggal aku dan Reno yang masih berada di kantor, setelah menyelesaikan semuanya Reno mengajak ku untuk pulang.
"Antar gw ke rumah malam ini gw pengen nginap di sana" kataku sambil melirik sekilas ke arah Reno.
Tanpa menjawab sepatah katapun dia mengantarku ke rumah sesampai di kediaman ku, aku bergegas turun dari roda empat itu ingin segera masuk dan beristirahat, aku baru menyadari klau Reno sedari tadi mengikuti, ketika aku sampai di ambang pintu sesaat aku membalikan badan untuk mencegah Reno yang akan ikut masuk, jika Reno masuk ia akan mengetahui klau di dalam sana ada orang lain selai aku, dan aku tak ingin hal itu di ketahui oleh sahabatku, jika itu terjadi, maka aku akan menjadi bahan olok kannya.
Setelah selesai dengan Reno aku bergegas masuk mencari wanita itu, aku tak melihatnya di mana pun sampai menuju taman belakang, ternyata benar sosok yang aku cari sekarang lagi duduk di kursi yang memang di sediakan di taman itu, aku ber dehem agar ia mengetahui keberadaan ku sontak saja dia membalikkan badan dan berdiri menghadap ku, aku yang memang tidak ingin berlama-lama segera meneliti hasil kerjanya, tanpa ada kesalahan sedikitpun, aku membolehkannya untuk pulang aku pun ingin segera merebahkan diri, badanku yang sudah sangat letih.
Malam itu aku memilih untuk menginap di rumah milik ku tak lupa aku memberi tau kepada ibu karena aku yakin jika aku tak memberi kabar ia akan mencari ku.
Author point of view
**Sudah hampir seminggu Kia bekerja di rumah Andara, ia tidak pernah lagi bertemu pria yang membuatnya sampai bekerja di rumah besar itu, entah kemana perginya pria dingin itu seperti biasa sore ini Kia melakukan tugasnya membersihkan rumah setelahnya ia kembali akan ke kost miliknya.
Kia yang awalnya berniat setelah gajian nanti akan meminta izin untuk bertemu kedua orang tuanya yang sudah lama tidak ia jumpai itu batal, kejutan yang sudah di rencanakan pun gagal mau tak mau Kia harus menelpon orang tuanya dan memberi kabar, klau ia baik² saja saat ini.
Di kediaman Pramana Andara baru saja memasuki ruang tamu dan ikut bergabung bersama orang tuanya.
"Baru pulang kamu nak ? " sapa sang ibu sambil menepuk sofa yang kosong tepat berada di sampingnya"
"Ya Bu kerjaan di kantor gak ada habisnya" ikut duduk di samping sang ibu
"Yah Bu Andara mau ngomong sesuatu, tapi jangan kaget ya, sebenarnya selain perusahaan itu yang Andara miliki saat ini ada rumah dan juga beberapa aset lainnya yang belum Andara beri tahu ke ibu dan juga ayah, bukan Andara tidak menghargai kalian tapi Andara tidak punya banyak waktu untuk memberitahukan ke pada ayah dan juga ibu.
Kedua orang tua itu tidak kaget lagi dengan hal itu mereka sudah menduga hal itu terjadi, mereka sangat terharu dan juga bangga dengan pencapaian sang putra yang tidak menyombongkan diri dan juga tidak memanfaatkan posisi sang ayah dan menggunakan kuasa dengan semena-mena.
"Nak ibu bangga sama kamu apa pun yang kamu lakukan ibu dan juga ayahmu akan selalu mendukung tapi ingat jangan pernah lupa dari mana kita berasal sejauh apapun kamu melangkah ingat penciptamu nak.
"Ya ayah juga bangga padamu." melirik sekilas ke arah sang anak lalu melanjutkan menonton tayangan tv.
"Apa kamu izinkan ibu untuk melihat rumah milik mu ?."
"Iya dong ibu ayah atau Andin bisa ke rumah itu, oh ya Bu jangan kaget klau nanti setiap sore ada maid yang datang untuk membersikan rumah itu.
"Loh mengapa harus sore gak pagi kan kasihan klau dia pulang ada apa-apa di jalan bisa bahaya An
"Di siang hari dia bekerja di cafe itu informasi yang aku ketahui Bu." Andara tidak memberitahukan yang sebenarnya terjadi ia sadar itu akan membuat ayah atau ibunya marah besar.
"Yah Bu Andara mau ke kamar dulu" ia berpamitan kepada ayah dan ibunya lalu bangkit meninggalkan ruangan itu yang tersisa kini hanya kedua orang tuannya..
Sang ayah tidak begitu menanggapi ia yakin anaknya sudah memprediksikan hal-hal yang mungkin akan terjadi, ia melirik punggung anak laki-lakinya itu yang Sudan menaiki anak tangga menuju di mana kamar miliknya berada.
__ADS_1
"Bunda ayah ? tumben belum tidur ini udah larut loh."Andin yang baru saja tiba entah dari mana berjala menhampiri kedua orang tuanya
"Kamu sendiri mengapa pulang larut ? anak perempuan gak boleh keluyuran malam Andin." kata sang ayah yang memperingati putrinya.
Andin hanya bisa menunjukan senyum lebar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Abang di mana Bu ? gak pernah kelihatan.
"Abang kamu ada di kamar baru saja pulang, besok kita ke rumah Abang kamu ya ibu mau lihat rumah itu, kata Abang kamu rumah itu berada di jln xxx kamu tau kan alamat itu besok kamu harus antar ibu.
"Tapi kan Bu, Andin mau ke cafe Dion, dan juga kita punya supir loh kok gak suruh supir aja sih Bu,
"Kan bisa selesai mengantar ibu kamu lanjut ke tempat Dion, sambung sang ayah yang tidak ingin ada penolakan.
"Ya baik lah," hanya bisa pasrah dengan permintaan sang ibu, Andin bangkit dan beranjak menuju kamar ingin segera membersihkan diri.
Mentari mulai menyapa pagi yang cerah, Kia yang sudah pagi buta berada di cafe itu kini masih berkutat dengan aktifitas seperti biasa, menyelesaikan tugasnya dengan teliti, setelah selesai dengan pekerjaannya ia menghampiri Rini yang juga baru menyelesaikan tugasnya.
"Rin kok Lisa gak pernah mau gabung dengan kita lagi ya ? gak kayak biasanya ?"
Rini melihat perubahan wajah Bobi dan menyenggol bahu Kia ketika kita menyebut nama Lisa yang memang terlihat seolah-olah menghindar dari mereka.
Kia yang mengerti maksud Rini langsung membungkam mulutnya agar tidak menanyakan hal yang akan menyinggung sahabatnya itu.
"Gak kok" spontan mereka menjawab dengan serempak.
Hal itu membuat Bobi gemas dengan tingkah keduanya ingin menjahili tapi niatnya ia urungkan ia sadar sekarang berada di tempat kerja, lalu iya melanjutkan apa yang harus ia kerjakan.
Waktu jam pulang telah tiba ia pun berpamitan dengan sahabatnya dan melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Andara, sesampainya di pelataran rumah ia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di garasi.
"Entah siapa yang datang semoga saja tidak ada masalah lagi bisa gak selesai aku lunasi hutang," Kia bergumam sambil berjalan dengan lemas memasuki rumah tersebut.
Dari arah luar samar-samar Kia mendengar suara wanita yang sangat ia kenal, yang membuat Kia penasaran dan langsung menghampiri asal suara tersebut.
Kia yang kaget, "Loh kok ada mbak Andin di sini" bergumam sambil menatap dua orang yang berada di hadapannya.
Andin yang duduk santai di sofa bersama sang ibu merasa ada sosok lain di antara mereka memalingkan kepalanya ke samping, sontak ia kaget dengan keberadaan Kia di sana.
"Loh kamu kok bisa ada di sini sejak kapan ?"Merasa heran mengapa bisa Kia ada di rumah sang Abang
"Kamu kenal dia nak ?"
__ADS_1
"Hmm iya Bun Andin kenal dia" hanya menjelaskan sekilas.
"Oh dia maid yang di pekerjakan abangmu, bukan Kia yang menjawab malah sang ibu yang sudah mengetahui waktu Kia akan datang dan melakukan tugasnya.
Kia yang dapat pertanyaan dari Andin ingin menjawab tapi malah ibu dari Andin yang menimpali ucapan si putri.
Andin hanya ber oh ria lalu melanjutkan memainkan handphone nya untuk berbalas pesan dari sang kekasih.
Ibu Andin berdiri, Kia yang melihat wanita paru baya di hadapannya sontak berjalan menghampiri" Maaf nyonya keberadaan saya mengagetkan anda, perkenalkan nama saya Adzkia Naila taleetha." Kia mengulurkan tangan
Hal itu di sambut baik oleh sang ibu dari majikanya itu, ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Kia, "Kamu jangan sungkan dengan saya ya panggil saya sepeti Andin memanggil saya bagi saya kalian sama gak ada yang beda."
"Baik nya ehh bunda, saya kebelakang dulu mau menyelesaikan tugas saya."
ibu Andin hanya mengangguk kan kepala, sepeninggalan Kia sang ibu berpamitan pada putrinya ingin segera pergi kerena sang supir yang di hubungi lewat pesan singkat sudah berada di halaman rumah mewah tersebut.
Andin yang tadinya berniat untuk menemui Dion ia urungkan rasa penasarannya terhadap kia sangat besar, pertanyaan yang sedari tadi mengisi kepalanya itu membuat ia mencari sosok Kia yang kini terlihat duduk di kursi yang berada di taman belakang rumah itu, hanya itu hal yang bisa Kia lakukan setelah selesai dengan pekerjaan untuk mengembalikan tenaganya yang sangat terkuras, melakukan aktifitas di dua tempat sangat membuatnya lelah.
"Eeem hy boleh gabung ?" Andin berdiri tepat berada di samping Kia
"Boleh silahkan asal mbak Andin tidak merasa keberatan bersama dengan saya di sini. Kia menjawab sambil menawarkan kursi yang kosong tepat berada di hadapannya.
Andin menuruti ucapan Kia lalu mendaratkan bok*ngnya di kursi tersebut.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu? Lebih tepatnya aku penasaran sih".
Kia hanya menggunakan kepala dan menatap wajah Andin dengan seksama.
"Sejak kapan kamu bekerja di rumah ini bagaimana kamu bisa bekerja di sini.
Kia mengulas senyum lalu menceritakan semua ia tidak ingin ada kesalahpahaman dari Adin atau arang tuannya Andara tersebut.
ya kini Kia sudah mengetahui klau Andin adalah adik dari Andara karena sewaktu ibu mengatakan klau Kia adalah maid yang di pekerjakan oleh abangnya.
Andin yang mendengar penuturan Kia seperti apa awal mula Kia bertemu abangnya ikut mengakui klau sosok abangnya adalah orang yang sangat dingin dan juga cuek, Andin yang awalnya acuh tak acuh terhadap kia kini merasa sangat bersalah pernah memarahi Kia, iya ingin meminta maaf tapi rasa gengsinya sangat besar.
Kia kamu jangan panggil saya mbak ya panggil aja Kaka karena umur saya lebih tua sedikit dari kamu," Andin memberikan senyum hangat agar Kia tidak merasa canggung dengan permintaannya.
Kia yang mendapat permintaan tersebut mengembangkan senyum dan menyetujui perkataan Bobi waktu itu klau Andin sebenarnya orang yang sangat baik.
"Baik lah skarang aku boleh panggil kak Andin kan ?
__ADS_1
"Iya seperti itu klau di panggil mbak kelihatan sangat tua banget ?" Andin membalas perkataan Kia dengan candaan**