Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
KIA SIUMAN


__ADS_3

Sudah sehari semalam Kia dan juga Andin berada di rumah sakit yang sama tetapi berbeda ruangan, Kia baru saja sadarkan diri tanpa memikirkan ke adaan nya sendiri Kia menanyakan keadaan Andin kepada suster yang memeriksanya.


Kia tidak menemukan jawaban pasti ia ingin bangkit dan mencari ruang di mana Andin di rawat, suster yang di tugaskan untuk mengganti infus menahan untuk tetap beristirahat karena luka di kepalanya masih sangat basah.


"Suster saya mohon antar saya ke ruangan kak Andin saya ingin mengetahui keadaannya saya mohon sus" Kia masih tetap kekeuh dengan permohonannya agar suster yang berada di ruangan tersebut mau mengantarnya bertemu dengan Andin.


Kia yang masih memaksa suster tersebut tidak menyadari jika seseorang telah masuk ke kamar di mana ia di rawat saat ini.


Pria itu berjalan mendekati brangkas di mana saat ini Kia berbaring, suster yang menyadari ada seseorang yang datang melepaskan kedua tangan Kia yang sedari tadi menggenggamnya dengan erat suster itu membalikkan badan hanya dengan lirikan mata saja suster itu mengetahui jiga pria itu menyuruhnya untuk segera keluar dari kamar inap tersebut.


Setelah Andara merasa bahwa suster tadi benar-benar telah meninggalkan ruangan tersebut ia melangkahkan kaki ke arah Kia dan mencengkram erat dagu Kia dengan satu tangannya.


"Kamu yang membuat adik saya pergi ketempat itu jika kamu tidak mengajaknya ketempat itu kecelakaan itu tidak akan terjadi, akibat ulah kamu adik saya mengalami koma dan kelumpuhan, sedangkan kamu tidak begitu parah Kamu hanya mengalami luka ringan." Andara melepas dengan kasar cengkraman dari dagu Kia hal itu sontak membuat kepala Kia kembali merasakan sakit, tapi hal itu berusaha ia tahan agar tetap terlihat baik-baik saja.


"Tapi pak saya benar-benar tidak tau dengan kondisi kak Andin saat ini, apa boleh saya menjenguknya." Kia merasa bersalah dia tidak mengetahui jika kondisi Andin sangatlah parah.

__ADS_1


"Untuk apa kamu jenguk adik saya ? Hah untuk apa ? Kamu pikir dengan kamu menjenguk adik saya kamu bakal buat dia siuman tau buat kaki adik saya sembuh dari lumpuhnya ? Kehadiran kamu di dekat Andin hanya membuat pengaruh buruk tidak lebih". Andara men jedah ucapannya menghirup udara sebanyak mungkin sebelum meneruskan perkataannya.


"Kamu yang sudah menyebabkan kecelakaan ini, kamu harus menanggung resikonya ingat itu." Andara ingin segera meninggalkan ruangan tersebut yang sudah membuat amarahnya semakin memuncak ketika berada di hadapan Kia sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu ia menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badan menghadap ke arah Kia.


"Satu lagi adik saya bukan kakak kamu, kamu tidak pantas memanggilnya dengan sebutan kakak apa lagi penyebab kecelakaan ini bermula dari ajakan kamu, dan mulai hari ini kamu berhenti di cafe itu tinggal di kediaman saya untuk membersikan rumah itu sampai Andin di nyatakan pulih." Tanpa menunggu jawaban dari Kia Andara pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Air mata yang sedari tadi Kia tahan kini mengalir deras membasahi kedua pipinya, demi kesembuhan Andin ia rela menjadi maid di rumah Andara tanpa sepeser gaji pun, soal ke dua orang tuanya ia akan menjelaskan nanti ketika sudah bertemu.


Tiba-tiba Kia terpikir tentang kedua orang tuanya walaupun sudah di berikan alamat yang lengkap Kia masih saja khawatir, karena Kia tidak bisa menyambut kedatangan mereka terlebih lagi ini kali pertama mereka datang ke kota tempat Kia mengais rezeki.


Tetapi sedetik kemudian rasa khawatirnya hilang ketika ia mengingat jika sebelumnya ia pernah berpesan ke pada pemilik kost jika nanti orang tuanya tiba dan mendapati Kia tidak berada di kamar miliknya ia meminta agar sang pemilik kost mengizinkan orang tuanya masuk mengunakan kunci cadang yang ada di si pemilik kost tersebut permintaan Kia di anggukan oleh sang pemilik kost itu.


kini ia merasa keadaan sudah sangat membaik meski masih sedikit merasakan sakit di bagian kepala, tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menemui Andin, perlahan ia bangkit dari pembaringan dan melepaskan infus yang masih melekat di pergelangan tangannya.


Lanjut ia menurunkan kedua kakinya berusaha menapakkan kaki kelantai setelah merasa telah menapakkan kedua kakinya Kia berusaha berdiri dengan sekuat tenaga, ia berjalan menuju pintu ia membuka perlahan agar pergerakannya tidak di ketahui oleh para perawat yang sedang bertugas.

__ADS_1


Keberuntungan berpihak ke padanya, saat ini terlihat di lorong rumah sakit tepat di depan ruangan Kia di rawat terlihat sepi karena waktu sudah menunjukan jam 11 malam yang artinya para pasien sudah beristirahat dan para pengunjung sudah meninggalkan rumah sakit dan yang tersisa tinggallah perawat yang berjaga dan juga beberapa orang keluarga dari setiap Pasian yang menginap di RS tersebut.


Berlahan tapi pasti Kia berjalan menyusuri lorong tersebut, mencari ruangan di mana Andin di rawat, Kia yang merasa kepalanya sedikit terasa nyeri berjalan sambil memegangi tembok untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak limbung.


Ia yang tidak mengetahui kamar milik Andin di rawat memutuskan menuju resepsionis untuk mencari informasi, perawat yang berjaga di meja resepsionis memberikan informasi mengenai Andin dengan alasan klau Kia ingin menjenguk kakaknya yang sudah mendapatkan izin dari sang Abang.


Alasan itu di percaya begitu saja oleh resepsionis tersebut, dengan langkah pasti Kia berjalan ke ruangan Andin sambil menahan rasa sakit di kepalanya, setelah sampai tepat di hadapan ruangan Andin Kia berdiri tepat di hadapan kaca yang memperlihatkan Andin di dalamnya terbaring dengan lemah bernafas di bantu dengan oksigen selang yang masuk ke dalam tenggorokan nya.


Perlahan air mata kia mengalir kembali hati siapapun akan hancur ketika melihat orang yang mereka sayang terbaring lemah di ranjang ruang ICU, Kia tidak menyadari sosok yang hadir di sampingnya saat ini ia masih menatap ke dalam ruangan tempat Andin berbaring lemah tersebut.


Dengan kasar Andara menarik tangan Kia menuju kamar rawat miliknya, tanpa memikirkan kondisi Kia saat ini sesampai di kamar pasien Andara menghempaskan Kia dengan kasar ke sofa yang ada di ruangan tersebut, sambil menundukkan badan Andara kembali mencengkram dagu Kia dengan sangat keras, sontak hal itu membuat Kia meringis kesakitan.


Andara tidak peduli hal itu,


"Saya sudah peringatkan kamu sejak awal jangan pernah menemui adik saya lagi, kali ini jika hal itu terjadi kamu tau akibatnya." Andara berdiri tegap dan melepas cengkraman dengan kasar.

__ADS_1


"Saya lihat kamu sudah bisa jalan jadi mulai besok kamu harus ke rumah saya mengerti ??"


Kia hanya mengangguk tanpa bantahan sedikit pun, Setelah selesai menyampaikan hal tersebut Andara meninggalkan ruangan itu, Kia meratapi nasibnya ke depan jika Andin tidak kunjung siuman dan menjelaskan pokok permasalahan akan membuat Andara larut dalam kesalahpahaman, dan membuat ia menanggung amarah dari Andara.


__ADS_2