Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Kekejaman Raida


__ADS_3

Di ruang penyekapan Ihsan dan Fumida berbaring tak berdaya. pengaruh obat penenang membuatnya tak mampu bangkit apalagi melawan.


"Hayo bangun!" teriak anak buah Raida. Mereka membawa paksa dengan menyeret tubuh Ihsan dan Fumida.


Raida pemimpin era baru pemburu green eyes berdiri di depan jendela berukuran besar di gedung markas besar.


"Tuan Raida, mereka sudah siap, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" salah satu anak buahnya bertanya.


"Biarkan saja mereka terikat, aku akan segera kesana nanti!" Jawab Raida tegas.


Ihsan mulai sadarkan diri berusaha bergerak tapi tubuhnya terikat kuat pada kursi.


Ihsan lalu menoleh ke arah samping, Fumida juga terikat seperti dirinya di kursi.


"Fumida..mida..bangun..sadarlah!" Ihsan berbisik-bisik membangunkan Fumida yang masih terpejam. Kemudian Fumida mulai bangun dan tersadar. "Ada dimana kita?" Fumida bertanya setengah sadar.


"Entahlah, aku juga tidak tahu kita ada dimana, kamu baik-baik saja Mida?" Ihsan berbicara sambil mencoba lagi menggerakkan tangannya, ingin melepaskan diri dari ikatan.


"aaakh.. ikatannya tak bisa lepas!" Ihsan mengeluh kesal tak bisa melepaskan diri. Fumida melihat sekeliling, ruangan yang gelap hanya memiliki satu jendela kecil. "Sudah berapa lama kita di sini? kepalaku pusing sekali!" Fumida menundukkan kepala.


Tak Lama kemudian masuklah Raida ke dalam ruangan yang gelap dan pengap itu.


"Apakabar sayangku Fumida?" Raida mendekati Fumida dan membelai rambutnya dengan tatapan sinis.


"aaakh..!" Fumida terlihat marah ketika rambutnya disentuh Raida. Rupanya Raida sempat jatuh cinta pada Fumida yang masih remaja dulu. Namun Fumida menolak cinta Raida karena tahu sifat jahat yang di miliki Raida.


"Lepaskan dia, kalau mau balas dendam, balas saja padaku, tidak usah bawa orang lain." Fumida meminta Raida melepaskan Ihsan.


"hahaha, kamu pikir aku mau balas dendam karena masa lalu kita? salah BESAR!" Jawab Raida yang menghampiri Ihsan lalu memukul wajahnya dengan keras.


"Bug..!" "aaakh..!" teriak Ihsan mengerang kesakitan. Darah pun keluar dari pelipis matanya.


"gila kamu, untuk apa kamu lakukan itu!" teriak Fumida yang tak tega melihat Ihsan di pukul.


"Kenapa? kamu menyukai pria ini!?" Raida bertanya sinis sambil menjambak rambut Ihsan kebelakang. "Aaaa..!" Ihsan menahan sakit. Raida melepaskan tangannya dari kepala Ihsan berjalan menghampiri Fumida.


Fumida menatap penuh kebencian pada Raida.

__ADS_1


"Fumida, Fumida..kamu masih terlihat cantik sama seperti dulu!" Ucap Raida sembari mengelus paha putih mulus Fumida.


"Lepaskan dia!" teriak Ihsan marah melihat sikap kurang ajarnya Raida.


"Waw..ternyata kalian saling suka ya, dua sejoli akan mati bersama, huu..cerita yang romantis sekali!" Raida berbicara sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Fumida.


"Tapi sayang hal itu belum bisa terwujud, karena yang aku butuhkan adalah Kenzi, Kenzi keponakan mu!" Raida menatap bibir Fumida penuh nafsu.


Fumida segera memalingkan muka merasa jijik dengan sikap Raida.


Raida marah karena Fumida memalingkan wajah. Tangan Raida mencengkeram rahang Fumida dengan kuat. "Sudah terikat seperti ini masih saja sombong kau !" Raida lalu mencium paksa bibir Fumida.


"TIDAAAKK..!" "Dasar bajingan!" teriak Ihsan marah meronta-ronta dengan tubuhnya yang terikat.


Fumida lalu mengigit bibir Raida sampai Raida mengerang kesakitan. "Aaaaaa.. lepas,lepas!" teriak Raida yang bibirnya di gigit kuat oleh Fumida. Raida akhirnya bisa melepaskan gigitan Fumida dengan mencekik leher Fumida.


"Brengsek, wanita ******!" Raida memegang bibirnya yang berdarah-darah sedangkan tangan satunya masih mencekik leher Fumida. "Mati saja kau!" teriak Raida emosi.


"Jangan..Jangan, lepaskan dia, lepaskan!" teriak Ihsan yang tak tega melihat Fumida kesakitan dan hampir kehabisan nafas.


Ihsan terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun tetap saja tidak bisa. Akhirnya kursi tempat duduknya Ihsan terguling kesamping.


Fumida lemas tak berdaya, karena kehabisan nafas.


Raida lalu keluar dari ruang penyekapan sembari tertawa namun kadang meringis perih karena luka di bibirnya.


"Fumida, Mida..Mida..kamu gak apa-apa Mida?" Ihsan bertanya sambil meneteskan air mata merasa kesal dan marah karena tidak bisa melindungi Fumida dari pelecehan dan penyiksaan Raida.


Fumida tak mampu menjawab, dia hanya menatap mata Ihsan sambil mengedipkan matanya tanda bahwa Fumida baik-baik saja.


Hari semakin gelap, terlihat dari jendela kecil yang tidak lagi memantulkan sinar matahari, Ihsan dan Fumida masih di posisi yang sama.


Hiroyuki terus mondar mandir berpikir bagaimana cara menghubungi Rezukinawa. Fumiko masih memeluk erat Sakura yang bersandar pada Fumiko sambil meneteskan air mata.


Sakura lalu bangkit. "kenapa kita diam saja di sini! ayo kita ketempat mereka, Om pasti tahukan tempatnya, ayo kita selamatkan Ayahku!" Sakura berkata sambil memgusap air matanya. Jiwa pemberani Sakura pun muncul.


Fumiko menatap Hiroyuki yang berdiri terdiam melihat keberanian Sakura.

__ADS_1


"Apa kamu tahu markas mereka, Yuki?" Fumiko bertanya pada Hiroyuki. "Tapi ini sangat berbahaya, kita belum tentu menang melawan mereka!" Jawab Hiroyuki merasa ragu.


"kita gak bisa diam begini terus kan Om, ini sudah dua hari! bagaimana kalau sampai besok Kenzi tidak juga kembali, bagaimana nasib Ayahku!?" Sakura meminta dukungan pada Hiroyuki sembari memegang tangan Hiroyuki kuat.


Di bukit bersalju.


Rezukinawa tetap fokus melatih Kenzi. Kenzi semakin hari semakin lihai dalam memanfaatkan kekuatan mata hijaunya. Rezukinawa berdiri memperhatikan Kenzi yang melatih kekuatan hipnotisnya untuk menggerakkan benda mati di depannya.


"Pusatkan pikiran mu, tatapan fokus ke gelas, rasakan kekuatan itu mengalir dan lepaskan!" Rezukinawa mengarahkan Kenzi dalam mengolah kekuatannya.


"Darr..!" Gelas meledak pecahannya berhamburan.


Rezukinawa menganggap itu sebuah kegagalan. "Olah kekuatanmu, jangan dilepaskan semuanya, bukannya bergerak malah di hancurkan!" Ucap Rezukinawa kecewa.


Kenzi terdiam merasa bodoh di hadapan Rezukinawa. "Maaf, namanya juga latihan!" Kenzi membela diri.


Kenzi lalu memperhatikan lagi gelas di depannya, dan mengulangi latihannya.


Hiroyuki duduk berfikir, dia tidak mau sampai salah mengambil keputusan. Fumiko mengikuti dan mendekat.


"Hiroyuki, biar bagaimana pun memang kita harus berusaha membebaskan mereka, ada atau pun tidak ada Kenzi, mereka tidak akan melepaskan Ayahnya Sakura dan Kakak ku begitu saja!" Jelas Fumiko memberikan pengertian.


Sakura menantikan dengan cemas keputusan Hiroyuki.


"Baiklah, Namun sebelum berangkat, kita harus mempersiapkan segalanya, Miko, mau tidak mau, kita harus menggunakan kekuatan mata kita!" Jawab Hiroyuki sambil memegang pundak Fumiko.


Fumiko mengangguk faham. Sakura mendengar itu langsung bersemangat untuk menyelamatkan Ayahnya.


Hiroyuki lalu berdiri membuka sebuah peti besar. Didalamnya terdapat beberapa baju dan senjata.


"Ini baju karate yang biasa di pakai zamanku dulu untuk berlatih!" Ucap Hiroyuki sambil mengeluarkan pakaian karate dan beberapa samurai.


Sakura langsung memilih baju karatenya, dan Fumiko memilih-milih samurai.


Sakura segera memakai baju karate pilihannya. Decak kagum Hiroyuki melihat Sakura yang terlihat cocok. memakai baju karate. "Wah..hebat, kamu memang cocok pakai itu!" ungkap Hiroyuki tersenyum.


"syiat..syiat..syiat..!" Sakura mempraktekkan jurus-jurus andalannya. Sakura memantapkan hati, " Kita pasti bisa mengalahkan mereka!" Ucap Sakura menyemangati.

__ADS_1


Fumiko ikut berdiri dan menghunuskan samurai pilihannya dengan tegap. "Hayt!"


__ADS_2