Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Tertawa bersama


__ADS_3

Sudah seminggu Sakura tidak bertemu dengan kenzi. Rencananya minggu depan, Sakura dan Ayahnya akan berangkat ke Surabaya.


Fumiko selalu memikirkan Sakura, “Sudah berapa hari ini Sakura belum berkunjung menjenguk Kenzi, ada apa ya?” Ucap Fumiko resah. Fumida dan Hiroyuki yang mendengarkan keluh kesah Fumiko, berusaha menenangkannya.


“Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan! Namanya juga anak-anak, nanti juga mereka baikkan lagi!” Kata Hiroyuki. Fumida berfikir sejenak, “Mmmm...bagaimana kalau aku ke rumah Sakura? Ya siapa tahu, Sakura mungkin sedang sakit, iya kan?” Ucap Fumida.


“Benar itu! Kamu mainlah ke rumah Ihsan sekarang, jadinya kita bisa tahu, mengapa Sakura tidak pernah main ke sini, iya kan Miko? Bagaimana menurutmu?” Ungkap Hiroyuki setuju dengan ide Fumida. “Aku ikut ya?” Ucap Fumiko. “Lebih baik kamu jangan kesana dulu Miko!” Jawab Fumida. Fumiko tak mengerti, dengan perkataan Fumida, “Loh kenapa Kak?”


“Sebaiknya kamu di rumah saja menemani Kenzi, biar aku saja yang kerumah Sakura, Oke!” Jawab Fumida sambil tersenyum. Hiroyuki lalu menepuk bahu Fumiko, meminta istrinya untuk menurut saja, dan menunggu dengan sabar, kabar dari Fumida.


Fumida berangkat ke rumah Sakura, “Kak, titip salam ya untuk Sakura!” Ucap Fumiko. “Iya, kamu tenang aja, pasti akan aku salami, aku juga nggak akan lama kok!” Jawab Fumida, lalu naik Taksi dan melambaikan tangan pada Fumiko. Hiroyuki berdiri di belakang Fumiko, ikut membalas melambaikan tangannya.


Sakura baru saja pulang Les. Dia masuk rumah lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Hari-harinya terasa hampa, tanpa melihat wajah Kenzi kekasihnya. Satu-satunya obat penawar rindunya adalah memandangi foto Kenzi di ponselnya.

__ADS_1


Ihsan memperhatikan dari belakang,  putrinya terlihat sangat lesu, tak bergairah. “Sakura..kamu mau makan apa Nak? Biar nanti Ayah buatkan!” Tanya Ihsan merasa khawatir. “Nggak usah Yah, aku tadi sudah makan bekal makan siang ku, jadi sekarang, aku belum lapar.” Jawab Sakura lalu bangkit dari sofa dan berjalan sambil menyeret tas punggungnya ke lantai. Ihsan mendesah resah, “Apakah aku salah, memintanya meninggalkan Kenzi?” pikir Ihsan.


Sakura naik ke ruang atas, masuk ke kamarnya, kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. “Aku kangen kamu, tapi....aku takut kamu masih marah dan menolak bertemu dengan ku!” Pikir Sakura.


Tak lama bel rumah Sakura berbunyi, “Siapa ya?” Ihsan melangkahkan kaki dan membukakan pintu. “Haiii..masih ingat aku!” Ucap Fumida begitu senang melihat Ihsan. Ihsan pun tak menyangka, kalau Fumida datang ke rumahnya. “Fumida...!” Ucap Ihsan terkejut. Fumida langsung memeluk Ihsan erat, “Aku kangen....banget sama kamu Ihsan!” Kata Fumida. Ihsan kaget dengan pelukan yang tiba-tiba ini.


Sakura sempat mendengar suara bel berbunyi tadi, “Apa ada tamu?” Sakura penasaran ingin tahu siapakah tamu yang berkunjung ke rumahnya. Perlahan Sakura membuka pintu, dan mencari tahu siapa tamunya. Ihsan lalu tertawa, “Hahaha...hei sudah dong, lepaskan dulu ini!” Ihsan merasa tak nyaman di peluk begitu erat oleh Fumida. “Eh iya, Sorry..sorry! Maaf ya Ustadz...!” Ledek Fumida. “Apa-apan sih kamu, hehe...aku bukan Ustadz, Aah..sudahlah ayo masuk, Mida..Mida..!” Ihsan menyambut Fumida sambil tertawa lucu karena di sebut Ustadz oleh Fumida.


Sakura setelah mendengarkan dari atas, merasa seperti mengenali suara tamu di rumahnya. “Seperti suara Obasan!” pikir Sakura. Fumida masuk ke dalam rumah Ihsan, sambil memperhatikan sekitar, Fumida lalu berkata, “Mana Sakura, kok nggak kelihatan?” tanya Fumida. Lalu Sakura segera turun. “Obasan....!” Teriak Sakura senang melihat Fumida berkunjung ke rumahnya.


“Silahkan duduk Obasan!” Sakura dengan ramah mengajak Fumida duduk di ruang tamu, Ihsan pun ikut duduk. Sakura lalu segera sibuk menyiapkan cemilan dan minuman. “Bagaimana kabarmu Ihsan?” Tanya Fumida. “Alhamdulillah...aku baik-baik saja, lalu bagaimana kabarmu? apa Cafe mu berjalan lancar?” Jawab Ihsan dan berbalik bertanya. “Cafe ku sekarang tambah ramai, karena ada Rezukinawa! Dia mendadak bosan tinggal sendirian di pondok, hehehe...!” Jelas Fumida.


“Hmm..aku kira Sakura sakit, karena sudah seminggu ini Sakura tidak menengok Kenzi. Kata Fumiko, biasanya Sakura setiap pulang sekolah, selalu mampir menemani Kenzi. Apalagi kemarin, pas jadwal terapi! Menurut cerita Fumiko, Sakura tidak pernah telat untuk ikut membantu Kenzi melakukan terapinya di rumah sakit!” Ungkap Fumida. Ihsan tertunduk mendengar cerita Fumida. Lalu Sakura keluar dari dapur membawakan minuman dan cemilan untuk Obasan.

__ADS_1


“Nah..ini minum dulu Obasan, cemilan ini enak loh! Ayah yang buat tadi, iya kan Yah!” Ucap Sakura tersenyum. “Iya, sebenarnya ini saya buatkan untuk Sakura, tapi dia tadi nggak nafsu makan katanya! Ayo Mida, di coba buatan saya ini, hehe..maaf saja ya, kalau buatanku kurang enak!” Kata Ihsan malu-malu menawarkan makanan buatannya. Ihsan berbisik, “Semoga saja, dia suka masakan buatanku!” Ihsan khawatir masakannya tidak cocok dilidah Fumida.


Fumida lalu mencicipi roti bakpao isi bluberry yang Ihsan buat. Fumida mengunyah roti itu perlahan,meresapi dan menikmati setiap gigitannya. “Hmmm...Mmmm..nyam-nyam..MMmm..!” Ekspresi Fumida ketika makan bakpao. Ihsan memandangi Fumida yang sedang makan sambil berharap-harap cemas, dia merasa gugup dan takut kalau bakpao nya kurang enak.


Sakura tertawa melihat raut wajah Ayahnya yang pucat, “Hahaha...Ayah! Wajah Ayah kenapa sih? panik amat! Takut ya...Obasan tidak suka Roti buatan Ayah?” Tanya Sakura meledek Ayahnya. Fumida berhenti makan dan ikut tertawa setelah melihat wajah lucu Ihsan jika panik, lalu ihsan pun jadi tertawa juga, setelah melihat ada selai bluberry di pinggir mulut Fumida, membentuk seperti kumis.“Hahahaha....!” Mereka akhirnya tertawa bersama.


Ihsan senang sekali bisa mendengar tawa Sakura lagi, begitu pula Fumida merasa bahagia bisa berada di tengah-tengah mereka, seperti sebuah keluarga. Lalu Fumida nulai menanyakan tentang ketidak munculan Sakura selama satu minggu, di rumah Kenzi. “Sakura..apa kamu masih marah dengan kenzi? Maafkan sikap Kenzi waktu itu ya...Obasan yakin, Kenzi tidak bermaksud kasar padamu, apalagi mengusirmu, Ya Sakura?” Ucap Fumida lembut. Sakura tertunduk sedih, sebenarnya bukan hanya karena perkataan Kenzi yang begitu tiba-tiba menyuruhnya pergi, tapi karena ucapan Ihsan tentang masa depannya, itulah yang membuatnya goyah.


Ihsan berucap, “Memangnya Kenzi bilang apa pada Sakura? Apa mereka bertengkar?” Tanya Ihsan. Fumida tak menyangka, dia pikir Sakura pasti menceritakan masalah itu pada Ihsan Ayahnya. “Ooo..jadi kamu nggak tahu ya, aku kira Sakura sudah cerita sama kamu.” Jawab Fumida menyesalkan, mengapa harus bicara sejujur tadi di depan Ihsan. “Tidak ada apa-apa Yah! Aku dan Kenzi tidak bertengkar!” Sakura langsung menjelaskan. Sakura menunduk sedih, “Aku mungkin tidak akan ke rumah Kenzi lagi, Obasan.” Ucap Sakura.


Fumida terkejut mendengar perkataan Sakura, “Apa maksud mu, Sakura? Kamu marah atau tersinggung dengan sikap Kenzi?” Tanya Fumida tak percaya. “Aku rasa bukan karena itu Fumida, minggu depan kami akan pindah ke Surabaya, dan menetap di sana!” Jelas Ihsan.


Fumida kaget mendengar penjelasan Ihsan. Sakura terdiam sambil meneteskan airmata.

__ADS_1


 


__ADS_2