
Kenzi mencoba berbicara pada Sakura. “Maafkan sikapku waktu itu, aku terlalu kasar padamu.” Ucap Kenzi. Sakura mendengarkan sambil berfikir, “Apakah aku yang sedang bermimpi? Atau memang Kenzi saat ini sedang menelpon dan berbicara padaku tanpa terbata-bata!” Pikir Sakura merasa aneh.
“Hallo..Sakura...apa kamu mendengarkan ku?” Kenzi bingung karena Sakura sejak tadi tak bersuara. “Oh iya! Aku mendengarkan, Kenzi...apa kamu baik-baik saja saat ini?” Sakura bertanya penasaran.
“Aku baik-baik saja! Bagaimana dengan mu, apa kamu masih marah padaku?” Kenzi cemas. “Aku juga baik-baik saja! Dan aku tidak marah pada mu Kenzi!” Sakura semakin yakin bahwa Kenzi benar-benar sudah membaik, “Apa yang terjadi padanya, sampai dia sekarang bisa berbicara lancar kembali seperti dulu?” Pikir Sakura.
“Boleh aku bertemu dengan mu, Sakura?” Tanya Kenzi. “Hmmm..ini sudah malam Kenzi, sebaiknya kamu beristirahat, aku juga sudah mengantuk, karena aku harus mengurus surat pindah ku di sekolah!” Jawab Sakura.
“Selamat malam Kenzi !” Sakura segera mematikan ponselnya. “Tunggu ..!” Kenzi tidak di berikan kesempatan untuk bicara lagi. Kenzi memikirkan kata-kata Sakura barusan, “Surat pindah? Memangnya Sakura mau pindah kemana?” Kenzi jadi tidak merasa tenang.
Sakura tak bisa berhenti untuk memikirkan Kenzi. “Apa yang aku lakukan! Ngapain aku masih mencemaskan Kenzi, seharusnya aku senang, karena dia kini kondisinya semakin membaik! aku harus belajar untuk tidak mengkhawatirkannya terus!”
Lampu kamar tidur di matikan Sakura, dia berusaha untuk memejamkan matanya. Sakura terus membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri. “Kenapa aku tidak bisa tidur? Aku sudah memaafkannya, aku nggak marah sama dia, lalu kenapa aku merasa resah? Apa karena tiba-tiba dia bisa berbicara lancar?” Sakura meremas kepalanya merasa kesal sendiri.
“Apa seharusnya tadi aku bilang, kalau kita bisa ketemuan? Haaaahh..ngomong apa sih aku!” Sakura sebenarnya merindukan Kenzi dan kini hatinya semakin resah setelah mendengar suara Kenzi.
Perasaan Kenzi tak enak. “Aku harus ketemu dengan Sakura sekarang!” Ucap Kenzi. Pintu kamar, Kenzi dibuka perlahan, “Apakah semua orang sudah tidur?” Bisik Kenzi. Sambil mengintip, Kenzi mencoba keluar tanpa menggunakan kursi rodanya. Pelan-pelan Kenzi berjalan, berpegangan pada dinding.
__ADS_1
Kenzi berhasil menuruni tangga, kemudian dia berjalan menuju pintu depan. Ketika melewati kamar Fumida, Kenzi menghentikan langkahnya. Pintu kamar Fumida mulai terbuka. Fumida keluar dengan matanya masih setengah terpejam.
Kenzi panik dan segera berbalik mencari tempat untuk sembunyi. Karena terburu-buru, Kenzi tak bisa mengimbangi langkah kakinya. “Gubraak!” Kenzi terjatuh ke lantai. Fumida mendengar suara, dia kaget lalu berusaha membuka matanya lebar-lebar.
“Siapa itu?” Teriak Fumida ketakutan. Fumida perlahan mendekati sumber suara. Kenzi berusaha menarik kakinya agar tidak terlihat Fumida. “Hai...siapa di situ! Cepat jawab, atau aku akan memukulmu!” Fumida bersiap memukul, dengan membawa sapu di tangannya.
Kenzi langsung berdiri, “Ini aku Obasan...Ini aku, Kenzi!” Ucap Kenzi. “Yaa ampun Kenzi! Kamu ngapain malam-malam begini? Bikin kaget orang aja!” Kata Fumida menghela nafas lega. “Hehehe..maafin aku Obasan!” Kenzi tersenyum malu.
Kenzi lalu berjalan ingin meninggalkan Fumida dan kembali ke kamarnya. “Eeett..tunggu dulu!” Teriak Fumida mencegah Kenzi dengan menarik lengannya. Langkah Kenzi pun tertahan. “Ada Apa Obasan?” Tanya Kenzi.
Fumida memandangai Kenzi, lalu mengelilinginya sambil berfikir. “Mana kursi roda mu, Kenzi? Jangan bilang, kalau kamu berjalan kaki dari kamarmu lalu turun ke sini!” Ungkap Fumida terkejut.
“Aku berangkat Ayah!” Ucap Sakura. Ihsan melihat ke arah meja makan. Semua makanan yang dia buat nampak masih utuh, belum terjamah sedikit pun. Ihsan menghela nafas. “Sakura masih marah padaku!” Pikir Ihsan.
Di kantor Administrasi, “Ini suratnya, sekarang kamu tinggal minta tanda tangan Wali kelas dan kepala sekolah, oke!” Ucap petugas Adminstrasi sekolah. “Terimakasih banyak Pak!” Jawab Sakura.
Begitu berat rasanya kaki Sakura melangkah ke ruang guru, untuk meminta tanda tangan Wali kelasnya. “Kamu pasti bisa Sakura, kamu pasti bisa!” Bisik Sakura menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Ketika Sakura hendak membuka pintu ruang guru, tiba-tiba surat yang di pegangnya, di tarik oleh seseorang dan dibawa kabur oleh seorang laki-laki. “Haiii...siapa kamu!” Teriak Sakura kaget sambil mengejar laki-laki itu. “Kembalikan suratku!”
Sampailah mereka di belakang gedung sekolah. Nafas mereka berdua sampai tak beraturan. Sakura menunduk kelelahan, dia melihat tangan laki-laki ini masih menggenggam erat suratnya. “Berikan surat ku!” Ucap sakura marah.
Kemudian laki-laki ini berbalik. Sakura tertegun, ternyata itu adalah Rivan, laki-laki yang pernah meminjamkan payung kepadanya. “Kamu!” Sakura segera menarik suratnya sampai terlepas dari genggaman Rivan.
“Maafkan, aku hanya tak ingin kamu menyesal!” Ucap Rivan menatap Sakura. “Apa maksudmu?” Tanya Sakura tak faham. “Aku tahu, kamu berdiri di depan ruang guru, karena mau minta tanda tangan untuk surat pindah itu kan?” Ucap Rivan dengan nada seakan-akan tak rela Sakura pindah sekolah.
“Jangan ikut campur urusan orang lain!” Teriak Sakura berbalik dan meninggalkan Rivan. “Tidak! Kamu nggak boleh pindah dari sekolah ini!” Ucap Rivan sembari menghalangi jalan Sakura dengan merentangkan tangannya.
Sakura terlihat geram. Surat yang ada di genggamannya, diremas. “Jangan main-main denganku, aku lagi nggak pingin bercanda!” Kata Sakura menahan dirinya agar tidak terbawa emosi.
Tapi Rivan tak juga menyingkir dari jalan Sakura. Justru dia semakin tegap berdiri menghalangi Sakura. “Bener-bener nih anak!” Sakura nampak kesal, dia sudah tak bisa bersabar lagi. “Hyyaaaattt...!” Sakura dengan cepat meraih tangan rivan, lalu Sakura membalikan badan dan membanting tubuh Rivan ke tanah. “Braaakk!”
“Aaaakh...!” Rivan mengerang ke sakitan. Sakura menatap ke bawah, “Sudah aku peringatkan tadi, jangan-jangan main-main dengan ku!” Sakura pergi melangkahi tubuh Rivan yang terbaring di tanah.
“Tunggu....Aaaakh! Jangan pergi Sakura!” Ucap Rivan sambil merintih. Sakura menoleh lalu mengabaikan teriakan Rivan, dia tetap berjalan kembali menuju ruang guru. Rivan berusaha bangkit, meski badannya terasa sakit. “Kamu nggak boleh pindah Sakura! Tidak boleh!” Ucap Rivan, kembali bertekad menggagalkan rencana Sakura.
__ADS_1
“Permisi pak..!” Sakura mendekati meja Wali kelasnya. “Iya, ada apa Sakura?” Tanya Wali kelas 9.